Terminator Warrior

Terminator Warrior
Seseorang Dari Desa Mayall


__ADS_3

Seluruh regu Algol mendatangi orang misterius dengan penampilan tertutup yang tengah menawarkan batu-batu cahaya yang katanya berasal dari Desa Mayall. Hanya kalimat sederhana saja sudah memancing Algol dan rekan-rekannya mencurigai orang tersebut.


“Bisa ikut kami sebentar?”


Pertanyaan Algol tidak seperti sebuah permintaan, melainkan perintah. Malahan Kraz dan yang lain sudah memosisikan diri mengitari orang tersebut dan menggiringnya ke jalan yang lebih sepi. Orang itu yang sadar akan situasinya menurut dengan damai.


“Ada apa? Apakah kalian benar-benar tertarik dengan batu cahaya yang kubawa dari Desa Mayall? Tentunya, kan, karena batu cahaya dari desa itu sudah jadi barang langka sejak desanya hancur lima tahun lalu.”


“Pertama-tama, bisakah kau menampakkan wajahmu?” pinta Kraz.


“Tidak masalah,” jawab orang tersebut. Ia lalu menurunkan tudung yang menutupi kepalanya, yang juga menghalangi orang-orang dari melihat wajahnya. “Sudah.”


Namun sayang, setelah tudung itu tersingkap pun wajahnya tidak kelihatan karena orang itu mengenakan penutup wajah, hanya rambut berwarna kuning pucat pendek di bawah telinga dan sebagian kulit pucatnya yang tampak. Sebuah kain membungkus bagian hidung dan mulutnya. Tapi dari pancaran matanya bisa terlihat kalau orang itu tengah tersenyum.


“Penutup itu—”


“Ah, maaf, aku punya luka yang tidak enak dilihat di balik penutup ini. Yang satu ini, kumohon untuk dimaklumi.”


“Sayangnya kami tidak bisa,” ucap Okul dingin. “Kami adalah prajurit, kami memiliki hak mencurigai orang yang terlihat mencurigakan, dan kau berada di wilayah di mana wajib mematuhi perintah dari kami.”


Orang itu berdecak jengkel. Sama sekali tidak menyembunyikan keengganannya. Ia menggerutu seorang diri sambil berusaha melepaskan penutup wajahnya. Dan ketika terbuka, wajahnya yang putih pucat itu dihiasi bekas luka yang sangat mencolok di bagian rahang kiri, tiga goresan akibat tebasan yang dalam.


“Kau—”


“Iya, iya, aku tahu! Rupaku menyeramkan, bukan!?” sergahnya memotong keterkejutan Alpha dan Ursa yang disuarakan secara bersamaan. “Padahal aku seorang gadis,” lanjutnya lagi seraya melepaskan mantelnya, membuat siluet tubuh bagian atasnya terlihat.


Diphda memperhatikan dada gadis tersebut. “Kupikir tadi dia adalah seorang laki-laki,” gumamnya yang diiyakan oleh Kraz.


Gadis itu mencondongkan tubuh mendekati Alpha dan Ursa. Lalu dengan tatapan mata yang memicing tajam berkata pada keduanya. “Jangan mengatakan apa-apa terhadap wajahku, atau kalian akan melukai perasaanku, dan aku tidak suka itu,” katanya dingin dan penuh ancaman.


Algol menilai gadis itu terlalu berani mengancam dua pemuda berseragam prajurit yang berada di tengah-tengah regunya. Ia memperhatikan gadis tersebut dengan teliti dan seketika ia tahu kalau ia bukan gadis biasa. Ia memberikan lirikan mata pada Okul, ketika melihat bagaimana tanggapan wakilnya itu Algol tahu kalau Okul juga berpikiran sama dengannya.


“Nona, katakan namamu dan siapakah kau sebenarnya,” perintah Okul.


“Joa. Namaku adalah Joa. Dan aku adalah seorang pengembara yang menjual apa yang ditemuinya dalam perjalanan.”

__ADS_1


“Apa maksudmu dengan kau memiliki batu cahaya dari Desa Mayall, padahal desa itu sudah hancur lima tahun yang lalu,” selidik Okul lebih jauh.


“Kubilang aku adalah pengembara. Aku hanya pergi ke desa itu untuk mengambil batu-batu cahaya dari sana karena kudengar desa itu tidak diduduki oleh para ramplite, habisnya kualitas batu di sana adalah yang terbaik, jadi sayang kalau aku tidak mengambilnya.”


Joa memamerkan batu-batu yang ia bawa di kantongnya. Di sana juga terdapat beberapa kristal cahaya dengan warna yang unik namun begitu cantik.


“Namun di luar kejutan, ternyata desa itu jauh lebih aman daripada yang kubayangkan. Saking amannya malah membuatnya membosankan. Aku yang berharap mendapatkan satu atau dua informasi mengenai mengapa desa itu diserang agar bisa dijual kepada para pencari info gagal mendapatkan apa-apa. Setidaknya aku mendapatkan beberapa batu, jadi tidak begitu rugi.”


Joa memperhatikan prajurit itu satu persatu. Dia mendengus geli. “Wajah kalian terlihat kecewa, hampir-hampir putus asa,” oloknya. “Dari yang kudengar kalian mendapatkan tawanan dari desa itu, tidak bergunakah mereka sampai-sampai kalian ingin mencari informasi dari orang asing sepertiku?”


“Haha... kau benar sekali. Mereka tidak begitu berguna. Tapi juga bidak yang penting. Makanya kami masih menyimpannya. Dan tidak akan pernah melepaskannya.” Ucapan Kraz yang mula-mula mengandung sindiran mengejek berubah dingin ketika mengatakan kalimat terakhir. Alpha yang mengerti jelas maksud tersebut bergidik merinding.


“Nah, Tuan-tuan dan Nona, maukah kalian bertukar informasi denganku? Jika kalian bersedia mengatakan apa saja yang telah dibocorkan oleh tawanan itu padaku maka aku akan memberikan kalian informasi yang tidak kalian ketahui, bagaimana?”


“Kami tidak ingin.” Algol menolak mentah-mentah. Ia bahkan tidak bersusah-susah memikirkannya.


“Kenapa? Mungkin saja hal ini akan menguntungkanmu, Tuan Prajurit.”


“Sederhana. Karena kami tidak percaya padamu.”


“Itu malah menguntungkan kami kalau seandainya mereka benar-benar datang ke sini, karena kami tidak perlu repot-repot mencari mereka.”


“Ah... tentu saja, jika para buronan menampakkan diri maka kalianlah yang untung.”


“Buronan?” Ursa mengernyitkan kening. “Apa maksudnya itu?”


“Oh, kau tidak tahu? Karena penduduk Desa Mayall memegang kunci rahasia penyerangan yang misterius itu mereka semua ditetapkan sebagai buronan selama ini. Namun sayang, prajurit militer yang berniat menangkap mereka tak bisa mendapatkan hasil memuaskan karena penduduk desa itu sangat pandai untuk tak membuat masalah.”


Alpha menatap Algol dengan tajam, menuntut kenapa informasi itu tidak diberitahukan kepada mereka. Algol berpura-pura tak menyadarinya.


“Baiklah, karena kalian tidak mau membeli batu cahaya atau bertukar informasi denganku maka urusan kita telah selesai. Aku mau pergi. Harus ke kota lain secepatnya.”


"Tunggu sebentar, Nona." Okul mencegahnya pergi. Ia tak segan-segan menguarkan kecurigaannya pada Joa yang telah kembali menghadapnya. "Dari cara bicaramu terdengar kalau kau begitu berpihak kepada mereka. Kenapa?"


Joa mendengus santai, tidak terpengaruh dengan tuduhan memojokkan tersebut. "Karena mereka sumber informasi yang paling dicari-cari saat ini. Mengetahui banyak tentang mereka dapat membuatku kaya. Itu saja. Selamat tinggal."

__ADS_1


Joa meninggalkan mereka dengan langkah ringan.


Algol melirik Okul dan Kraz. Mereka berdua langsung paham. Mengikuti gadis itu dan dapatkan informasi lebih darinya, itulah yang Okul dan Kraz tafsirkan dari raut wajah kapten mereka setelah lama saling bekerja sama.


“Kita juga kembali ke markas.”


“Baik. Ayo, ayo...! Kita harus segera kembali.” Diphda mendorong punggung Alpha dan Ursa untuk segera beranjak.


“Huh? Secepat ini? Bahkan hari baru mau menjelang sore. Aku masih mau melihat-lihat.”


“Perintah kapten adalah mutlak.”


“Aku tahu itu, tapi...” Alpha menoleh ke belakang. Dua orang dari mereka tidak berada di sana. “Bagaimana dengan Mr. Kraz dan Mr. Okul? Mereka tidak bersama kit—”


“Aku memberi tugas kepada mereka.” Algol tiba-tiba berhenti berjalan dan berbalik.


“Tugas?” ulang Ursa.


Algol mencondongkan tubuhnya hingga benar-benar berada di hadapan wajah Alpha dan Ursa. “Ya. Untuk menyelidiki gadis itu.”


“U-um... Kapten, kau terlalu dekat...” gumam Ursa tak nyaman.


“Sengaja. Karena aku ingin mengamati ekspresi kalian ketika aku memberitahukan apa tugas Kraz dan Okul. Bagaimana reaksi kalian, seperti apa perubahan ekspresi kalian, aku ingin melihatnya dengan jelas.”


“Ke-kenapa?” tanya Alpha gugup.


“Untuk membuktikan kecurigaanku.”


“Kecurigaan... apa?”


“Bahwa gadis itu memang benar-benar penduduk Desa Mayall yang sengaja datang untuk menemui kalian.” Algol berbalik. Ia kembali memimpin jalan menuju markas.


Alpha dan Ursa saling lirik. Mereka berwajah masam setelah meneguk ludah masing-masing. Keduanya sama-sama tidak suka mendengar kalimat tak menyenangkan dari Algol barusan. Sebagian besar dari ekspresi yang ditunjukkan dua pemuda itu adalah perasaan cemas dan khawatir.


Joa adalah penduduk Desa Mayall, teman mereka. Gadis itu dalam bahaya!

__ADS_1


...***...


__ADS_2