
Drap! Drap! Drap!
“Jangan lari! Kau tidak bisa kabur!”
Diphda mendengus sambil terus berlari. “Kabur? Jangan bodoh. Aku hanya memancing kalian supaya menjauh dari ruang bawah tanah pengungsian.”
Prajurit perempuan itu berbalik cepat secara tiba-tiba. Dari kedua telapak tangannya muncul cahaya oranye kemerahan yang membentuk seekor naga. Naga cahaya yang berapi-api itu menyambar ramplite-ramplite yang mengejar, mengikat mereka dengan tubuh panjangnya lalu membakar mereka sampai hangus.
“Rasakan itu.”
Diphda kembali berlari. Ia melewati gang-gang kecil di pemukiman sambil berteriak, “Masihkah ada orang di sini? Cepat keluar! Aku akan membantumu menyelamatkan diri!”
Karena tidak mendapati jawaban atas teriakannya Diphda segera pergi dari sana dan mencari ke gang-gang lain, mengantisipasi kalau-kalau masih ada penduduk yang tertinggal. Di area yang dicarinya ia tidak menemukan seorang pun. Perempuan tersebut lalu menuju ke sumber keributan yang diperkirakannya disebabkan oleh para ramplite.
Ternyata benar, ada pertarungan antara ramplite dan prajurit.
“Menunduk!” perintahnya pada dua prajurit yang kewalahan menghadapi seorang ramplite. Mereka kemudian berjongkok.
“Beta Ceti : Fire Slash!” seru Diphda melancarkan serangannya.
Ramplite dengan lidah panjang mirip lidah katak tadi ikut menunduk. Serangan Diphda berhasil dihindarinya. Ramplite itu tertawa-tawa.
“Kau harusnya mengecualikanku dalam perintahmu, dengan begitu aku pasti akan kena seranganmu. Bodoh. Bodoh.”
Diphda mengernyitkan kening mendengar olok-olok yang ditujukan padanya. Ia mengamati ramplite itu untuk menilai, tetapi ia diserang dengan cepat menggunakan lidah panjang si Ramplite Katak. Perempuan itu melompat ke atas. Si Ramplite Katak tak mengalah, ia menjulurkan lidahnya yang begitu panjang untuk menggapai Diphda. Diphda melompat-lompat menggunakan atap-atap rumah sebagai pijakannya. Keduanya tak kalah gesit dalam menyerang dan menghindar.
“Lidahku sangat panjang. Bisa menjangkaumu ke mana pun kau bergerak. Rasakan. Rasakan.”
Juluran lidah katak itu menyambar-nyambar cepat di udara, layaknya tengah memangsa seekor lalat. Tak mau menjadi satu-satunya yang diserang Diphda menyabetkan pedangnya di udara, menghasilkan serangan cahaya oranye kemerahan yang berkobar-kobar melesat menuju si Ramplite Katak. Tetapi si Ramplite Katak melompat dengan gesit.
Diphda mendarat di tanah. Pertarungan di udara kurang menguntungkannya jika lawannya memiliki lidah panjang seperti itu. Ia melirik dua prajurit yang ada di belakangnya. Mereka mengistirahatkan diri. Ternyata kondisi mereka tidak begitu bagus, sekujur tubuh mereka penuh luka, seseorang memegangi bahu kirinya dengan wajah kesakitan, kemungkinan besar patah tulang.
‘Kukira ramplite ini tidak terlalu kuat, tapi ternyata dia cukup tangguh. Dua prajurit itu sudah tidak bisa bertarung maksimal. Jika tetap berada di sini hanya akan menghalangiku.’
Diphda menilai situasi.
“Kalian berdua segeralah pergi dari sini! Pergi ke tempat pengungsian dan jaga penduduk! Biar aku yang menangani ramplite ini!” serunya.
Wajah keduanya berubah semringah. Mereka bangkit berdiri dengan segera. “Te-terima kasih banyak! Semoga kau selamat!” teriak mereka lalu berlari pergi.
“Dasar tidak punya harga diri. Tidak punya harga diri,” ejek si ramplite. “Kubunuh mereka! Kubunuh!”
Ramplite katak tersebut menjulurkan lidahnya sangat cepat. Diphda segera menghentikannya sebelum lidah itu mencapai dua prajurit yang tengah melarikan diri. Lidah itu menghantam tembok cahaya yang dibentuk Diphda. Kemudian si ramplite kembali menarik lidahnya secepat tadi.
“Lawanmu sekarang adalah aku.”
“Bodoh. Bodoh. Kenapa kau menghentikanku, hah?!”
“Sejak tadi aku penasaran... kau ini hanya ramplite golongan dua tingkat rendah, tapi entah kenapa banyak bicara, lalu aku sadar kalau kau hanyalah ramplite bodoh yang cerewet.” Diphda memprovokasi agar ramplite itu melupakan dua prajurit lain.
“Bodoh! Bodoh! Jangan menghinaku!”
“Benar, kan? Apa kubilang, kau ini benar-benar bodoh—ah, bukan, tetapi *****.”
“Sial! Sial! Tidak akan kumaafkan kau! Tidak akan!” jeritnya kesal dan frustrasi.
Ia lalu menarik nafas dalam-dalam, membuka mulutnya lebar, lalu berteriak kencang.
Suaranya begitu keras dan berdengung. Perlahan-lahan tanah dan bangunan sekitar mulai bergetar. Tembok cahaya yang dibuat Diphda tadi pecah berkeping-keping. Pedang Diphda yang berselimut cahaya pun, cahayanya menghilang akibat suara teriakan sang ramplite, kekuatan cahayanya terserap suara tersebut.
Diphda kaget dengan efek dari suara teriakan si Ramplite Katak, namun Diphda hanya bisa menutup erat-erat kedua telinganya yang kesakitan.
“A-apa?! Dia hanya berteriak tapi efeknya sangat besar—”
Serangan dari lidah panjang sang ramplite datang menyerbu.
Hop. Hop.
Diphda bersalto ke belakang sebelum lidah si Ramplite Katak tadi menangkapnya. Ia berniat menyerang menggunakan pedang berlapis cahaya, namun sayang... kekuatan cahaya yang melapisi pedangnya lenyap begitu saja saat si Ramplite Katak tadi mulai berteriak.
Diphda mencoba dengan serangan lain. Hasilnya pun tidak berbeda. Setiap kali Diphda mau membebtuk serangan si Ramplite Katak akan berteriak, dengan begitu kekuatan cahaya milik perempuan itu yang sudah terkonsentrasi akan langsung lenyap begitu saja.
“Cih!” Dipha merasa kesal. Kalau begini terus dia tidak akan bisa mengeluarkan serangan, pikirnya. “Kalau begitu tidak ada cara lain kecuali menghadapimu tanpa kekuatan cahaya. Aku akan bertarung secara langsung!”
Tanpa kekuatan cahaya yang melapisi senjata maupun tubuhnya Diphda menerjang maju dengan dua pedang terhunus. Lidah si Ramplite Katak terus menyerangnya. Diphda menghindar, melompat, menebas, dan terus berlari mendekat. Tidak mudah mendekati lawannya karena ia menggunakan lidah panjangnya untuk menghalau. Diphda tidak berhenti meski serangannya kerap kali digagalkan.
Syuuuu!
"Ukh!"
Kaki Diphda tertangkap. Ada sensasi terbakar di kulitnya. Dengan segera Diphda mengarahkan pedangnya untuk menebas lidah itu, namun sedetik sebelum pedangnya mengenai lidah tersebut si Ramplite Katak telah menarik lidahnya kembali.
"Itu racun. Akan menyebar di kulitmu dan melukaimu seperti luka bakar. Seperti luka bakar."
"Kalau begitu aku hanya perlu mencegahnya menyebar."
Diphda meletakkan tangannya di tempat yang terluka. Dari tangannya keluar kekuatan cahaya miliknya yang mana langsung membakar luka tersebut beserta daerah di sekitarnya.
__ADS_1
"Kau gila! Kau sudah gila!"
Diphda tak menanggapi olok-olok tersebut. Perhatiannya tersita pada kondisi tubuhnya saat ini. “Staminaku mulai berkurang. Bertarung tanpa menggunakan kekuatan cahaya merugikan manusia bintang sepertiku," katanya.
“Hahaha...! Bodoh! Bodoh! Harusnya kau sadar dari awal!”
“Diamlah! Teriakanmu yang diulang-ulang membuatku sakit kepala!”
“Eh?! Benarkah? Kalau begitu aku akan diam mulai sekarang. Akan diam.”
“Hm?”
Diphda memiringkan kepalanya bingung. Ia teringat dengan kalimat pertama yang diucapkan oleh ramplite itu padanya, yang mana ramplite itu akan menuruti yang diperintahkannya. Ia pun berinisiatif mencoba sesuatu.
“Aku tidak akan memintamu untuk menyerah. Kau boleh melawanku saat aku menyerangmu. Gunakan semua kemampuan yang kau miliki, tetapi jangan pakai teriakan yang menyakitkan telinga itu.”
“Baiklah. Baiklah. Aku mengerti. Aku mengerti.”
Diphda tersenyum geli. Ia tidak seratus persen yakin, tetapi ia mencoba apa yang telah diperintahkannya pada ramplite katak itu. Ia mengeluarkan kekuatan cahaya, melapisi pedangnya dengan kekuatan tersebut, lalu menyerang dengan Fire Slash. Si Ramplite Katak tidak mengeluarkan teriakan yang memusnahkan kekuatan cahaya, ia hanya melompat menghindari serangan.
‘Ups! Dia patuh! Ramplite ini benar-benar ***** rupanya!’ katanya dalam hati. ‘Oh, atau jangan-jangan kecerdasannya yang menurun itu digantikan oleh kemampuan bicaranya yang lancar. Ya, ampun! Ini lucu sekali! Ini kasus yang unik!’
Diphda tidak berlama-lama dengan monolog dalam hatinya. Ia melompat cepat ke arah ramplite katak tadi dengan kedua pedang berlapis cahaya. Ia menebas silang.
“Beta Ceti : Big Cross Fire!”
Api silang yang dikeluarkan Diphda membesar hingga memenuhi gang tersebut. Api silang itu bergerak cepat mengejar si Ramplite Katak yang berlari dan melompat layaknya katak. Tapi di depan sana Diphda membentuk tembok cahaya, membuat katak itu menabrak lalu terlahap apinya yang menyala-nyala.
“Tamat sudah,” ucap Diphda lirih.
...***...
Di sisi lain pemukiman Okul menghadapi empat ramplite jenis binatang sekaligus. Mereka tidak begitu kuat. Laki-laki itu mengalahkan mereka dengan ledakan andalannya.
Ia bertemu Kraz yang juga baru menamatkan lawan-lawannya. Bersama-sama mereka mencari ramplite-ramplite lain yang tersisa dan membunuhnya dengan cepat.
Diphda bergabung dengan mereka di tengah-tengah jalan setelah secara tak sengaja bertemu.
Kraz naik ke atap bangunan paling tinggi untuk melihat situasi. “Kapten Algol dan Alpha sedang menghadapi musuh di utara. Mereka berhadapan satu lawan satu. Situasi mereka baik, tidak perlu bantuan,” lapornya.
“Selain itu?” Diphda bertanya.
“Oh. Aku melihat Ursa. Ia tengah mengevakuasi penduduk. Dan... tidak jauh darinya tiga orang prajurit berusaha menghadapi seorang ramplite.”
“Bagaimana keadaan di tempat lain?” tanya Okul.
Okul dan Diphda menyusul naik ke atas atap bangunan dan memperhatikan tempat yang ditunjuk Kraz.
“Kemungkinan dia adalah orang yang kita cari,” ucap Okul.
“Anser Vulpecula? Jadi, dia bukan manusia bintang melainkan makhluk yang bisa terbang itu?” tanya Kraz.
“Tidak. Dia adalah manusia. Penampilannya itu mungkin disebabkan oleh doping,” cakap Okul.
“Itu sudah kelewatan. Kita tidak bisa membiarkan Anser begitu saja. Kita harus menangkapnya,” kata Diphda.
“Ya. Ayo pergi ke sana!”
...***...
“Kyaaaah!”
Ursa berhenti mendadak. Matanya melebar sempurna ketika mengetahui wanita yang menggendong bayi di belakangnya tertangkap oleh ramplite yang menyergap tiba-tiba. Wanita itu memberontak sekuat tenaga, namun apa daya, ramplite itu jauh lebih kuat darinya.
“Sial!”
Ursa melemparkan cakram ke arah ramplite itu, namun dihalau cukup gampang dengan tangannya yang memiliki cakar panjang. Ursa berlari mendekat tetapi ramplite itu malah melompat ke atas atap sebuah rumah. Ramplite tersebut membuka rahangnya lebar dan lalu menggigit bahu si wanita dan menyesap darahnya.
“Aaaaargh! Sakit! Sakiiit! Aa...aakh!”
“Sial! Akan kubunuh kau—”
“Ti-tidak... biarkan saja aku... ku-kumohon tolong selamatkan... bayiku...”
Tangan wanita itu lemas. Bayinya terjatuh dari gendongannya begitu saja. Ursa menangkapnya dengan sigap. Ia memandang nanar wanita yang sudah mulai hilang kesadarannya tersebut. Ia tak mampu berbicara lagi, namun Ursa masih bisa membaca gerak bibirnya mengatakan tolong. Menanggapi itu Ursa mengangguk mantap.
Ursa kembali pada rombongan yang dibawanya. “Ayo. Kita harus segera kembali melanjutkan perjalanan. Ruang bawah tanah itu sudah dekat.”
“Tetapi...”
“Tenang, Tuan. Segera setelah mengantarkan kalian ke tempat aman aku akan membalaskan dendam ibu bayi ini,” kata Ursa sungguh-sungguh. “Mari pergi.”
Mereka kembali berlari. Kali ini Ursa lebih waspada. Ia selalu menengok ke belakang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Bayi yang digendongnya menangis sejak tadi. Tangisannya semakin dan semakin keras. Hati Ursa trenyuh mendengar jeritan bayi laki-laki tersebut. Ia bisa merasakan teriakan kehilangannya.
“Kau anak yang beruntung, ibumu sangat tabah dan pemberani. Jadilah laki-laki yang kuat dan lindungilah mereka yang telah melindungimu saat kau besar kelak,” ucapnya lirih kepada sang bayi.
Ursa memandang ke depan. Seorang prajurit yang berjaga di depan pintu masuk tempat pengungsian melambaikan tangan agar mereka lebih bersegera.
__ADS_1
“Teruslah berlari! Sebentar lagi kita akan sampai!”
“Baik!”
“Akhirnya... akhirnya... kita selamat!” ucap sang ibu dari keluarga kecil tadi. “Terima kasih, Prajurit! Kau telah menyelamatkan nyawa kami.”
“Terima kasih banyak! Terima kasih banyak!”
Ursa tersenyum lembut. “Tuan. Nyonya. Maukah kalian mendengarkan permintaanku?”
“Katakan, Prajurit! Kami akan memenuhinya selagi kami bisa!” ucap sang ayah.
“Bayi ini telah kehilangan ibunya, ini mungkin merepotkan kalian, tapi maukah kalian merawatnya demi ibu dari bayi ini dan juga aku?”
Si ibu menerima bayi yang diulurkan Ursa. Ia mengangguk. “Akan kubesarkan dia. Akan kuanggap dia sebagai anakku juga.”
Uraa tersenyum lega. Ia lalu mendekati kakak beradik yang lainnya. “Kumohon, jagalah adik baru kalian.”
“Baik.”
“Aku akan melindunginya sebagaimana kau melindungi kami, Tuan Prajurit,” ucap si anak yang kakinya keseleo.
“Terima kasih banyak,” balas Ursa tulus. “Nah, sekarang masuklah ke ruang bawah tanah dan berlindunglah di sana sampai pertarungan di sini usai.”
“Ya! Sekali lagi terima kasih.”
Ursa mendekati prajurit yang berjaga. “Sepertinya semua penduduk telah diamankan. Kau tetaplah berjaga. Ada berapa prajurit di sini?”
“Dua di dalam. Aku dan seorang lagi yang sedang mengantarkan penduduk tadi masuk berjaga di luar.”
“Bagus. Aku akan pergi dan melawan musuh—”
Baam!
Ursa menoleh ketika mendapati suara terjatuh di belakangnya. Raut wajahnya mengeras saat mengetahui yang mendarat dari atas atap tadi ternyata adalah ramplite yang telah membunuh ibu dari si bayi tadi. Darah segar wanita tadi masih menetes dari sudut bibirnya.
“Mundur, Prajurit. Tetap bersiaga dengan tugasmu menjaga pintu masuk ruang bawah tanah. Dia adalah lawanku,” kata Ursa dingin.
“Baik!”
Ursa melangkah maju, namun ia berhenti tatkala menyaksikan perubahan pada ramplite di hadapannya. Perlahan-lahan tangan dan kaki ramplite yang menyerupai harimau itu berubah menjadi kaki-tangan manusia seutuhnya. Tidak ada lagi tangan dan kaki berbulu dengan cakar tajam, melainkan berubah menjadi halus dengan jari-jari normal tanpa kuku panjang sama sekali. Ramplite itu telah bertransformasi.
“Akhirnya! Akhirnya aku menjadi golongan satu!” teriaknya senang. Ia tertawa terbahak-bahak. Lalu memandang Ursa sengit. “Kau, manusia biasa, akan kukalahkan kau, lalu aku akan meminum darah manusia bintang itu dan kemudian aku akan jadi sempurna!”
“Hiii!” Prajurit tadi bergidik ngeri.
“Coba saja.” Ursa menantang.
Pemuda dari golongan manusia biasa itu mengeluarkan kedua belati yang tersimpan di pinggangnya. Ia menyamankan pegangannya. Baru kemudian ia berlari cepat menghadapi sang ramplite.
Ramplite tersebut menumbuhkan cakar-cakar panjang dari tangan manusianya. Malahan cakar-cakar itu lebih panjang dari sebelumnya akibat darah manusia campuran yang dikonsumsinya.
Keuntungan bagi ramplite setelah meneguk darah manusia dengan kekuatan cahaya adalah naik status menjadi satu golongan lebih tinggi. Mereka akan memiliki kekuatan cahaya dari si manusia yang dimangsanya dan hal itu juga dapat meningkatkan kekuatan mereka.
Mereka sudah saling berhadapan.
Ursa awas mengamati pergerakan ramplite yang menyerangnya sambil menghindar dan berusaha menyerang. Cakar-cakar itu sangat tajam, sudah seperti bilah-bilah pedang. Ini seperti dua belati melawan sepuluh pedang sekaligus, batin Ursa.
Ia tak gentar. Dengan lihai Ursa menunduk, melompat, atau bahkan bersalto untuk menghindari cakar-cakar itu. Belatinya mungkin tidak semematikan cakar-cakar panjang nan tajam itu, namun hal itu tidak memengaruhi kehebatannya, karena senjata sesederhana apa pun akan tetap hebat di tangan orang yang andal.
Crack. Crack.
Ursa menahan kedua tangan penuh cakar itu menggunakan belati-belatinya. Bunyi-bunyi yang ditimbulkan mengganggu telinga, namun tidak sampai membuat ketenangan Ursa hancur.
“Si-sial...! Padahal cuma pakai belati, tapi kenapa sekuat ini?!”
“Karena aku ahli menggunakannya,” balas Ursa.
Ia terus menahan cakar-cakar tersebut. Sambil melakukannya Ursa berusaha mendorong si ramplite ke belakang. Memang tubuhnya kalah besar, tetapi kekuatannya tak bisa ditandingi dengan mudah hanya oleh tubuh kekar berotot.
Ursa tiba-tiba melepaskan tahanannya terhadap cakar-cakar sang ramplite. Ia menunduk cepat ke bawah, memanfaatkan keterkejutan ramplite tersebut Ursa mengayunkan belati-belatinya ke perut dan jantung sang ramplite.
Ursa menusuk jantungnya. Merobek perutnya. Darah memuncrat mengenai wajahnya. Tetapi lagi dan lagi, jerit kesakitan serta darah anyir itu tak merusak ketenangannya sama sekali. Masih dengan mata yang menyorot tajam Ursa mendekati sang ramplite yang melangkah mundur dengan kesakitan. Ramplite itu tersungkur, ia tersengal-sengal, nyawanya sudah di ujung tanduk.
Sayangnya Ursa tak menunjukkan belas kasih sama sekali. Masih dengan mata dingin dan wajah datar ia mendekati ramplite tersebut. Lalu dengan kejam ia menginjak luka di perutnya dan menekannya sekuat tenaga. Pemandangan terakhir dari ramplite tersebut sudah pasti adalah Ursa yang kejam sebagai malaikat mautnya.
"Untung dia belum sempat menggunakan kekuatan cahayanya," gumamnya.
Prajurit di belakangnya yang menyaksikan itu sejak awal menelan ludahnya. Tubuhnya bergetar takut. Ursa adalah seseorang yang mengerikan, pikirnya.
Setelah tak mendengar rintihan apa pun dari ramplite di bawahnya Ursa memejamkan matanya. Ia diam sambil menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan perlahan.
Yang dilakukannya barusan adalah sisi buruknya. Ia mempunyai karakter kejam bila itu menyangkut membalaskan dendam dari orang tak bersalah yang dikenalnya. Dalam mode tersebut ia akan sangat tenang, namun di kepalanya hanya penuh dengan pikiran-pikiran untuk melenyapkan lawannya dengan kejam.
Begitu Ursa membuka mata ia dikejutkan dengan apa yang dilihatnya di sisi lain pemukiman. Yaitu seseorang dengan kulit merah, tanduk, serta sayap kelelawar yang terbang tinggi di udara.
...***...
__ADS_1