Terminator Warrior

Terminator Warrior
Menyusup


__ADS_3

Alpha menjajari Gage. “Apa keputusanmu kemarin untuk membiarkan rekanmu pergi dari wilayah Darkotry ini seorang diri adalah pilihan tepat? Tidakkah lebih aman jika dia bersama kita, Gage.”


“Tidak apa-apa. Dia orang yang cepat. Intuisinya juga bagus. Aku yakin dia bisa menemukan jalan keluar yang tidak akan membahayakan dirinya. Lagian, dari awal aku percaya bahwa dia memang berniat keluar dari sini secepatnya, karena kalau tidak maka tidak mungkin dia menyerahkan informasi lokasi mencurigakan yang harus diselidiki kepada kita.”


“Menurutku itu malah membuatnya seperti seorang pengecut. Sikapnya itu menunjukkan kalau dia tidak ingin terlibat dengan hal buruk dan menyerahkannya begitu saja kepada kita.” Youis menimbrung pembicaraan mereka.


“Dia memang seorang pengecut, padahal sendirinya adalah Guardian.” Gage tidak menyangkal sama sekali. “Yah, aku tidak bisa menyalahkannya karena dia hanya seorang pengganti.”


“Pengganti?” Alis Alpha bertautan, tanda bahwa ia bingung.


“Dia salah satu yang terpilih sebagai Guardian sebagai ganti rekan-rekan Luxco yang tewas. Dia memang tidak jago dalam bertarung. Kekuatan cahaya juga tidak hebat-hebat amat. Namun, intuisinya tidak bisa diremehkan, hampir semua yang dirasakannya itu benar,” jawab Gage.


“Kalau begitu kau percaya seratus persen kita akan menemukan sesuatu jika pergi ke atas bukit—tempat yang menurutnya mencurigakan itu,” kata Youis.


“Hanya tujuh puluh persen, tapi setidaknya lebih dari setengah. Kita juga tidak memiliki gambaran apa pun, jadi kurasa ini adalah jalan yang memang harus kita ambil,” pungkas Gage.


Pemuda itu meraup air menggunakan tangannya untuk diminum. Ia juga menyeka wajahnya supaya terasa lebih segar. Kemudian ia menjauh dari tepian sungai diikuti oleh Alpha dan Youis. Setelah menanyai apakah teman-temannya sudah siap melanjutkan perjalanan atau belum mereka kembali bergerak. Tujuannya adalah titik sentral dari wilayah Darkotry tersebut, sebuah bukit kecil yang memiliki batu-batuan raksasa di puncaknya.


Tidak butuh waktu yang lama bagi mereka untuk sampai ke puncak bukit tersebut. Tidak ada yang menghalangi jalan. Mereka juga benar-benar berhati-hati agar tidak harus bertarung dengan ramplite yang ditemui. Pengalaman dari teman-teman Alpha benar-benar membantu mereka meloloskan diri dengan aman.


Puncak bukit merupakan tanah landai yang gersang. Tepat di tengah-tengahnya adalah batu-batu purba berukuran raksasa. Batu-batu itu memiliki rongga-rongga dan ruang-ruang layaknya sebuah bangunan. Banyak ramplite yang berkumpul di sana, dan mereka semua adalah golongan satu.


“Itu adalah markas mereka,” gumam Alpha.


“Apakah mungkin kita bisa melawan mereka? Kurasa tidak. Lawannya terlalu banyak.” Youis berspekulasi.


“Kita mungkin bisa menang,” kata Arta. “Lihat di sana,” tunjuknya, “mereka tengah berlatih menggunakan kekuatan cahaya, yang artinya mereka belum lama memiliki kekuatan tersebut, mungkin mereka tidak terlalu kuat.”


Mendengar pendapat-pendapat itu membuat Kirimi tersenyum geli. Ia pun ikut bicara. “Kenapa yang pertama kali kalian pikirkan adalah bertarung, hm? Dasar laki-laki! Kita akan menyusup. Yang kita butuhkan adalah informasi, baru setelah itu kita pikirkan tindakan selanjutnya,” tegurnya.


Alpha dan Youis tertawa kering, sedang Arta, ia berpaling malu.


“Siapa yang akan masuk ke sana kalau begitu?” Ursa bertanya.


“Aku tidak keberatan,” ucap Joa dengan begitu santai. “Siapa pun yang mau ikut denganku, aku tidak masalah. Dan—oh, Kirimi, maafkan aku, sebenarnya aku oke-oke saja bila harus menghadapi mereka, jadi bukan masalah kalau kita semua masuk ke dalam sana.”


“Kalau kita semua pergi ke sana namanya bukan penyusupan, melainkan penyergapan. Kalian bertiga,” Sega memandangi Alpha, Youis, dan Arta dengan mata mendelik, “lalu Joa juga, jangan merasa sok hebat. Walaupun mereka masih belum bisa menggunakan kekuatan cahayanya bukan berarti mereka tidak kuat, mengerti? Mereka telah menjadi golongan satu, itu bukan hal yang bisa disepelekan.”


“Ha-ha. Kena kalian berempat. Inilah ceramah Sega yang lama tidak kudengar.” Ursa mengolok-olok. “Kalau begitu, Sega, kau saja yang ikut bersama Joa ke dalam sana. Berbeda dengan mereka bertiga, kau lebih tenang dalam bertindak.”


“Kau mengejek kami, tapi masih menyertakan Joa?! Yang benar saja!” protes Alpha.


“Berbeda denganmu atau Youis, Joa masih bisa lebih diandalkan,” tukas Ursa.


“Kalau begitu aku juga bisa ikut masuk.” Arta menawarkan diri, tapi hal itu ditolak oleh Ursa dan Sega, alasannya karena mereka khawatir dengan jumlah yang terlalu banyak. “Baiklah, tidak masalah, aku hanya akan mengawasi di luar,” dengusnya kecewa.


“Ayo pergi, Sega.”

__ADS_1


“Ya.”


“Hati-hati!” pesan Kirimi.


Dua muda-mudi itu melompat turun dari pohon tanpa menimbulkan suara gaduh. Mereka berlari berjingkat agar tak menimbulkan suara menuju markas yang berjarak kurang dari seratus meter dari tempat teman-temannya mengawasi dan menunggu di atas sebuah pohon berdahan besar.


Karena fokus para ramplite sedang penuh kepada rekan-rekan mereka yang berlatih menggunakan kekuatan cahaya baru, mereka tidak terlalu menyadari kehadiran dua penyusup di markas besar mereka, memang sempat ada yang menoleh kepada Joa dan Sega, tetapi keduanya berhasil menyembunyikan diri dengan cepat. Berkat banyaknya rongga dan ruang di markas itu membuat Joa dan Sega bisa bergerak aman dari satu tempat ke tempat lain. Mereka mengedarkan mata mencari-cari di manakah kiranya kristal-kristal yang direbut dari penduduk desa mereka disimpan. Mereka bahkan sempat memisahkan diri.


“Sudah ketemu?” bisik Joa kepada Sega yang kembali ke tempat di mana mereka sepakat untuk bertemu lagi, yaitu sebuah rongga kecil yang berada di atas sebuah ruangan.


Sega menggeleng. “Tapi aku menemukan sesuatu yang lain. Di tempat ini ada seorang ramplite yang tampaknya begitu dihormati.”


“Orang yang berbahaya?”


“Tidak tahu. Namun, saat ini dia sedang dalam kondisi kurang baik. Aku ingin mengajakmu melihat, mungkin kita bisa tahu sesuatu.”


“Baiklah,” jawab Joa disertai sebuah anggukan.


Mereka turun dari rongga batu yang berada di atas sebuah ruang. Sega memimpin jalan. Mereka masih tetap berjalan dengan mengendap-endap, sangat berhati-hati, tapi karena banyaknya ramplite di tempat itu maka mustahil jika mereka tidak ketahuan. Secara tidak sengaja Joa dan Sega berpapasan dengan seorang ramplite di lorong. Tapi mereka membuat ramplite tersebut pingsan secepat kilat, tubuhnya diatur agar bersandar di dinding dan tampak seolah-olah tidur. Mereka mengerjakan pekerjaannya dengan rapi.


Sega kembali menunjukkan arah. Ia naik ke sebuah rongga kecil yang hanya bisa dimasuki dengan cara merayap. Ia dan Joa bersembunyi di sana. Dari tempat itu mereka bisa melihat ke sebuah ruangan dengan pencahayaan cukup, terdapat sebuah ranjang kayu yang diisi degan jerami, di atasnya terbaring sesosok ramplite laki-laki yang tampak seperti pesakitan. Ramplite itu terus terbatuk, setiap kali batuk tubuhnya terguncang, dan dari mulutnya keluar darah. Meski demikian, ramplite-ramplite yang berada di dekatnya melayaninya dengan sangat baik.


Tap. Tap. Tap.


“Keadaanmu menyedihkan seperti biasanya, Metis.”


Seseorang datang ke ruangan tersebut. Seorang laki-laki muda dengan rambut biru muda. Dia adalah seorang manusia bintang. Untuk apa seorang manusia bintang berada di markas para ramplite, pikir mereka sangat kebingungan. Joa dan Sega terkejut saat berhasil melihat wajah dari pemuda itu. Mereka mengenal wajahnya.


“Dia—”


“Orang yang kita kejar pagi tadi.”


Pagi tadi, setelah mereka keluar gua, mereka tidak sengaja bertemu dengan pemuda yang namanya disebut sebagai Castor tersebut. Castor memiliki tiga kalung kristal ajaib di lehernya, makanya mereka mengejarnya, tapi Castor lebih cepat sehingga ia bisa lolos dan mereka memutuskan untuk tidak mengejar pemuda itu lagi.


“Kalung di lehernya sudah tidak ada,” gumam Joa.


Sega tetap diam mengamati dengan serius.


“Ah, kalau soal itu, Metis...”


“Ada apa?”


“Kristal ajaib yang kubawakan untukmu telah dicuri oleh seseorang dalam perjalanan kemari. Aku gagal merebutnya kembali. Dan lagi, semua kristal ajaib yang kita miliki telah habis digunakan. Dengan kata lain kita tidak memiliki kristal ajaib yang tersisa untuk memulihkan keadaanmu.”


“Apa katamu?!” Ia berteriak berang, tapi sedetik kemudian terbatuk parah.


“Haha. Jangan khawatir begitu. Kau akan sembuh, keadaanmu akan pulih, dan kau akan bisa bertarung seperti sebelumnya. Sebentar lagi.”

__ADS_1


“Tapi kita butuh kristal ajaib itu.”


“Aku tahu.”


“Dan kita telah kehabisan itu.”


“Aku juga tahu,” sahut Castor. “Tetapi kita telah menemukan solusinya.”


“Apa?”


“Ada delapan orang Desa Mayall yang berada di wilayah ini.”


“Kau bilang mereka berhasil keluar dari tempat ini.”


“Memang. Tapi ada delapan bocah bodoh yang mencoba mencari-cari kristal ajaib itu. Kita bisa rebut kristal mereka dan lalu menyembuhkanmu.”


‘Apa yang dikatakannya? Apa maksud pembicaraan mereka?’ Sega membatin bingung.


“Hahaha. Baguslah kalau begitu! Siapa yang kau perintahkan untuk menghabisi mereka, Castor?”


“Megaclite dan Taygete.”


“Mereka itu lamban. Kenapa tidak kau saja yang pergi?”


“Karena aku tidak mau. Aku bukan pelayanmu, Metis, aku tidak akan membantu jika bukan karena kemauanku,” jawab Castor dingin. “Omong-omong, ada para prajurit di sini, entah apa yang mereka lakukan sampai jauh-jauh ke sini.”


“Bukan masalah. Setelah aku berhasil pulih menggunakan kristal-kristal ajaib itu aku akan langsung mulai perburuan orang-orang Desa Mayall. Tidak peduli di mana pun mereka bersembunyi, aku hanya perlu menyerang ke setiap tempat, aku tidak peduli jika harus menghancurkan seluruh negeri ini. Dengan kekuatanku itu bukan hal mustahil.”


Castor menyeringai. “Semoga berhasil. Tapi pertama-tama kau harus mendapatkan kristal-kristal ajaib dari para bocah itu.”


“Megaclite dan Taygete akan mendapatkannya.”


“Percaya diri sekali.”


Metis tidak berkata apa-apa soal sindiran tersebut karena dia sudah lebih dulu terbatuk-batuk. Mulutnya memuntahkan darah. Ia kesakitan. Seorang pelayannya memberikan minum.


“Kristal ajaib... aku tak pernah menyangka hal semenakjubkan itu ada. Dan, siapa yang menduga kalau benda semacam itu bisa sangat berguna untuk kita, para ramplite,” ujarnya dengan suara lirih. “Kalau saja kita mendapatkan sumber kristal ajaib itu dari Desa Mayall, maka kita bisa membuat seluruh ramplite menjadi sempurna dengan mudah.”


“Apa?!”


Duk!


Joa membekap mulutnya sendiri. Ia kelepasan menyuarakan kekagetannya. Terlebih lagi ia membuat suara dengan secara tidak sengaja membenturkan kepalanya ke langit-langit rongga batu. Ia dipelototi oleh Sega. Ketika mereka kembali menoleh ke ruangan pandangan mereka bertatapan dengan Castor dan Metis.


“Gawat...”


...***...

__ADS_1


__ADS_2