Terminator Warrior

Terminator Warrior
Berkelahi


__ADS_3

Tiga hari sudah mereka berada di pinggiran Kota Andromeda. Algol benar-benar diistirahatkan. Pria itu bahkan tidak meninggalkan kamarnya. Keadaannya sudah membaik, tapi Okul masih memintanya untuk istirahat sehari penuh untuk memastikan.


Untuk Alpha dan Ursa, keduanya telah usai dari tugas mereka membantu di istal sebab urusan-urusan Mr. Sinope telah rampung. Sisa waktu itu digunakan mereka tidak lain dan tidak bukan untuk jalan-jalan berkeliling kota. Satu hal yang mencolok dari kota itu kecuali kemewahannya adalah kesombongan orang-orangnya yang tinggi, itulah yang didapati oleh dua pemuda Desa Mayall tersebut.


Mereka yang makan dengan uang pas-pasan di kedai paling sederhana pun tak ayal diejek miskin oleh pelanggan lain. Pakaian mereka yang hanya seragam prajurit lusuh dipandangi dengan risi. Dan akibat Alpha dan Ursa yang tak henti-hentinya kagum dengan kota itu mereka dilirik dengan mata sinis.


Tetapi, lagi dan lagi, keduanya benar-benar tidak ambil pusing dengan pendapat orang-orang kepada mereka. Malahan, Alpha menertawainya dengan santai.


“Lucu rasanya! Kita dianggap layaknya kutu pengganggu di sini. Ini adalah sebuah pengalaman baru untukku,” katanya gemas.


“Maaf saja, tapi tidak ada yang senang dianggap sebagai kutu pengganggu kecuali kau, Alpha.”


“Ayolah, Ms. Diphda...! Ini hanya perumpamaan, jangan serius begitu! Menjadi kutu tidaklah begitu buruk.”


“Oh, ya?!” Perempuan itu berkacak pinggang dengan mata mendelik. Diphda menyingkir dari jalan karena dari arah berseberangan tampak kereta kuda dengan bak terbuka mendekati mereka. “Coba jelaskan.”


“Diperlakukan layaknya kutu pengganggu masihlah mendingan daripada ditatapi dengan pandangan mem—”


Syuuu!


Alpha menunduk ke depan dengan refleks ketika melihat ayunan pedang tak terduga mengarah langsung ke kepalanya dengan kecepatan tinggi. Kepalanya berhasil terhindar dari tebasan maut tersebut. Namun, malang untuk rambut gondrongnya yang tak sempat turun sebelum pedang itu melintas. Alhasil, rambutnya yang sebagian memiliki warna biru aqua itu terpotong.


Alpha tercengang kaget. Dan begitu pula yang lain.


“—bunuh! Kau berniat membunuhku, hah!?” teriaknya kalap pada seseorang yang mengayunkan pedang dari kereta kuda tadi.


“Ups. Maaf, tanganku tergelincir,” ujarnya tak berdosa. Bahkan, permintaan maafnya sama sekali tidak mengandung penyesalan.


“Dusta,” Ursa menyahut, “aku melihatmu sempat melirik pada kami sebelum kau mencoba pedang yang ditawarkan padamu oleh paman itu.”


Pemuda dengan rambut merah ferarri itu tersenyum miring dengan alis terangkat. “Benarkah? Matamu sangat jeli kalau begitu,” tukasnya tak gentar.


“Kurang ajar kau!” geram Alpha marah.


“Hei, Alpha! Jangan—”


Terlambat. Peringatan Diphda datang terlalu lama sehingga tak sempat menghentikan aksi Alpha yang telah menarik tangan si pemuda dan menjatuhkannya dari kereta kuda ke tanah. Alpha langsung menarik dan mencengkeram baju laki-laki yang seumuran dengannya itu.


“Kau...! Apa niatmu, hah?!”


“Hei, hei... bukankah balasanmu ini terlalu berlebihan atas ketidaksengajaanku tadi?”


Alpha tak menggubris itu dan malah menghantam wajah si pemuda. Ia mengerang kesakitan. Sudut bibirnya sobek dan mengeluarkan sedikit darah. Mata pemuda itu tampak berang.


“Alpha—”


“Keterlaluan...!” murka si pemuda.


Menggunakan tangannya yang bebas, ia memukul Alpha dengan sangat keras. Bukan pukulan biasa, melainkan dengan tinju yang sudah dilapisi kekuatan cahaya. Akibatnya Alpha terpental menabrak pagar besi dari sebuah mewah megah hingga gembok pada gerbang itu hancur.


Pemuda itu meludah. “Rasakan itu.”


“Oi!”

__ADS_1


Diphda segera menahan Ursa yang hendak menghampiri pemuda itu. Ia menggeleng tegas padanya. Dan begitu pula Kraz. Laki-laki itu meminta agar Ursa diam saja.


“Anu, Mr. Arcturus,” ucap Kraz.


Pemuda bernama Arcturus itu menoleh cepat dengan wajah jengkel. Dilihat dari perubahan sorot matanya ia mengenali kalau Kraz dan Diphda adalah orang-orang yang ditemuinya sewaktu di Kota Bode.


“Maafkan sifat kasarnya. Dia—”


Zuuut!


Belum sempat Kraz selesai bicara sebuah tali cahaya melesat ke kaki Arcturus dan mengikatnya. Setelah mendapatkan targetnya tali itu langsung ditarik cepat, membuat Arcturus terseret, dan setelah itu melontarkan pemuda itu ke udara sebelum dijatuhkan ke tanah dengan sangat keras. Bunyinya terdengar menyakitkan telinga.


“Oh... gawat! Setelah apa yang dilakukan Alpha barusan tidak mungkin Mr. Arcturus mengampuni Alpha.” Diphda mendesah cemas.


Mereka pun bersegera masuk halaman luas dari rumah megah yang gerbang besi tingginya telah rusak itu. Di sana Arcturus sudah berhadap-hadapan dengan Alpha dengan tatapan sengit. Kraz berdecak pasrah.


“Mr. Kraz, kita harus menghentikannya sebelum mereka berkelahi lebih dari ini,” kata Ursa.


“Setelah melihat mereka begitu, apa kau pikir kita bisa menghentikannya? Tidak mungkin. Pemuda itu sudah benar-benar berang dengan perbuatan Alpha.”


“Ya, ampun! Lagi pula apa sih yang dipikirkan Alpha? Padahal dia tidak sampai terluka. Kalau saja ia mengalah dan tidak mendahulukan amarahnya maka perkelahian ini tidak perlu,” tukas Diphda.


“Sangat jelas kalau Alpha marah. Dia sangat menjaga rambutnya karena itu satu-satunya warisan gen dari ibunya selain mata kirinya. Dia sangat sensitif terhadapnya.” Ursa menjelaskan. “Ah, mereka mulai!”


Alpha dan Arcturus sama-sama maju menyerang. Keduanya siap dengan pedang cahaya masing-masing di tangan kanan. Begitu jarak sudah dekat mereka saling serang. Menebas, menusuk, atau bertahan, kedua-duanya bergerak sangat gesit tanpa bisa diikuti oleh mata amatir.


‘Lawannya orang yang hebat,’ puji Ursa dalam batin.


Crack!


Arcturus menyeringai unggul. Tiba-tiba ia menambahkan kekuatan cahaya di pedangnya hingga membuat mata pedang itu membesar. Pedang cahaya Alpha hancur seketika gara-gara tak kuat menahan beban yang diberikan Arcturus. Alpha melakukan kayang ke belakang agar tak tertebas. Pertahanan yang terbuka itu tak disia-siakan Arcturus. Ia menghantam perut Alpha dengan tendangan.


“Arrrgh!”


Arcturus tidak melepaskan kakinya dari atas perut Alpha, tapi malah semakin menekannya. Tangan Alpha yang memukuli kaki Arcturus tidak membuat pemuda itu lantas memindahkan kakinya. Justru tangan Alphalah yang berdarah akibat ia menghantam kaki Arcturus yang dilapisi armor secara terus-menerus. Dari sudut pandangnya yang rendah Alpha menatap sengit Arcturus. Telapak tangannya dihadapkan ke tanah, Alpha mengalirkan kekuatan cahayanya.


“Delta Velorum : Drill,” ucapnya.


Sedetik kemudian bor dari cahaya muncul di bawah Arcturus dari dalam tanah. Arcturus melompat tinggi untuk menghindarinya. Alpha kemudian bangkit berdiri dengan cepat. Tekniknya Drill-nya ia gagalkan. Namun, secara tangkas ia menembakkan Alpha Beam miliknya pada Arcturus yang belum sempat mendarat.


Menghadapi serangan itu Arcturus membuat perisai cahaya yang memantulkan serangan dari Alpha. Dengan begitu tembakan-tembakan Alpha terpental ke segala penjuru, termasuk ke arah Kraz dan yang lainnya. Beruntung, laki-laki itu sigap membuat kubah pelindung.


“Kraz! Buka kubahmu! Serangan itu juga mengarah ke jalan di mana ada orang-orang masih berlalu lalang!” seru Diphda panik.


“Ck! Merepotkan!”


Kraz menghilangkan kubahnya. Diphda melesat cepat keluar. Ia membentuk perisai-perisai untuk menghalau tembakan-tembakan nyasar itu keluar halaman rumah supaya tidak mengarah ke jalanan.


“Kalau memilih teknik setidaknya lihat-lihat keadaan sekitar. Sangat berbahaya menggunakan serangan seperti itu di tengah kota, tahu!” gerutu Diphda. Ia lalu kembali memperhatikan perkelahian Alpha dan Arcturus. “Mereka itu...”


Arcturus membuat busur crosbow di tangannya. Hanya dengan mengalirkan kekuatan cahayanya panah-panah tajam terbentuk dan melesat cepat ke tempat yang di arahkannya. Rentetan tembakan panah itu menghunjam Alpha.


Alpha melindungi dirinya dengan memutar pedang cahayanya. Panah-panah Arcturus terpental. Sebagiannya memang lolos dan menggores kulit Alpha, tapi tidak dihiraukan oleh pemuda itu. Pedang cahaya Alpha retak-retak setelah menahan panah-panah tadi. Alpha lalu mencabut pedang di pinggangnya, melapisinya dengan cahaya birunya, dan ia menyabetkannya ke udara, membuat cahaya itu lepas dari bilah pedang dan memusnahkan serangan panah susulan milik Arcturus.

__ADS_1


“Delta Velorum : Wind Slash!”


Lagi-lagi Alpha mengirim tebasan itu untuk menghancurkan panah cahaya Arcturus sebelum jatuh menusuknya. Ia melakukannya sambil berlari menghindar dari panah-panah yang lolos dari halauannya.


Karena serangannya berhasil dipatahkan lagi Arcturus menggantinya dengan sebuah teknik baru. “Alpha Bootis : Cannon Shooter!”


Sebuah meriam tangan terbentuk dari cahaya merah oranye Arcturus. Ia menembakkan bola-bola meriam pada Alpha yang masih berlari. Karena serangan yang diberikan padanya terlalu cepat, Alpha tak sempat mengganti senjatanya untuk menahan serangan meriam tersebut. Alhasil ia terkena ledakan lalu terpental menabrak salah satu pilar rumah megah yang besar. Pilar itu retak-retak. Alpha jatuh tak berdaya dengan luka bakar.


Kesakitan dan belum sanggup berdiri sedangkan lawannya tak henti menyerang dengan tembakan meriam, Alpha hanya bisa bertahan dari tempatnya berada sambil bersandar pada dinding pilar. Ia mengarahkan kedua tangannya ke depan. Dari sama muncul tembakan cahaya acak yang ia maksudkan untuk menghancurkan bola meriam yang diarahkan padanya.


“Delta Velorum : Alpha Beam.”


Duaar! Duuar! Duuar!


Benturan dua teknik itu mendendangkan ledakan beruntun. Asap-asap mengepul di antara mereka. Namun, serangan tetap tidak berhenti. Bola-bola meriam yang ditembakkan pada Alpha muncul dari balik asap tanpa bisa ia duga arahnya. Dengan tekniknya ia hanya bisa menyerang asal-asalan. Tentu saja hal itu mengakibatkan banyak tembakan meriam Arcturus yang lolos.


Boom! Duaar! Boom! Duaar!


Boom! Duuar! Boom! Duaar!


Bola meriam itu menghantam pilar-pilar rumah, juga temboknya. Mungkin karena keberuntungan Alpha masih belum terkena serangan langsung sejak ia tergeletak bersandar pada pilar yang ditabraknya tadi.


Crack. Crack.


Namun, sial. Pilar-pilar yang rusak akibat meriam Arcturus mulai runtuh. Langit-langit teras mewah megah yang sudah tak karuan itu akan jatuh menimpa Alpha. Pemuda itu berusaha berdiri, sayangnya tidak sempat.


DBUUUMM! BRRAAAKK!


Alpha tertimbun.


BLAR!


Ledakan cahaya terjadi. Ternyata berasal dari Alpha yang berhasil menyelamatkan diri dengan membuat kubah, lalu untuk menyingkirkan bahan bangunan yang menimpanya Alpha membuat kubahnya meledak. Reruntuhan langit-langit teras rumah tadi terpencar ke mana-mana.


Hal itu dimanfaatkan Alpha. Ia melapisi bongkahan reruntuhan itu dengan kekuatan cahayanya dan menimpakannya pada Arcturus. Arcturus membuat perisai kuat yang mengambang di atas kepalanya. Sementara itu tangannya terus menembakkan meriam kepada Alpha.


Secepat yang ia bisa, Alpha membuat bongkahan-bongkahan tadi menyatu menyerupai tembok yang menghadang tembakan meriam Arcturus. Penghalang itu tidak tahan lama dan langsung hancur berkeping-keping. Satu tembakan lolos. Alpha melompat ke samping untuk menghindarinya. Akibatnya bola meriam tadi menghantam rumah di belakangnya, menyebabkan temboknya hancur berbentuk lingkaran tak rapi.


Alpha melirik lega ke belakangnya. ‘Syukurlah... kelihatannya rumah ini tidak ada orangnya.’


Arcturus yang melihat bahwa Alpha mengalihkan perhatiannya langsung melompat cepat ke hadapan pemuda itu. Tanpa aba-aba ia menendang Alpha keras hingga lawannya jatuh tersungkur. Tak berhenti, Arcturus terus menendangi Alpha, sama sekali tidak simpati dengan pemuda yang tak bisa melawannya itu.


Alpha yang terpelanting setelah tendangan Arcturus yang bertubi-tubi memuntahkan darah. Ia mengumpat berkali-kali dalam hati. Ia tidak mengira kalau Arcturus yang tak beda usia jauh darinya memiliki kemampuan sehebat itu.


‘Aku tidak akan kalah!’ tekadnya sambil berusaha berdiri.


...***...


Author Notes :


Pengumuman-pengumuman...!


Hai, pembaca budiman sekalian ^_^

__ADS_1


Maaf sebelumnya, dikarenakan kesibukan author di dunia offline author memutuskan untuk mengganti jadwal up, bukan setiap hari lagi, melainkan cuma enam hari dari Senin hingga Sabtu, hari Minggu libur. Sekian pengumuman saya.


Terima kasih selalu sudah mampir dan membaca karya tulis ini. Terima kasih juga atas dukungannya. Terus semangati author dengan memberikan tanggapan kalian ya, baik itu komentar, kritik & saran, like, maupun vote. Terima kasih sebelumnya. Sampai jumpa di AN selanjutnya, bye!


__ADS_2