
Pagi menjelang. Algol kaget ketika tidak menemukan Alpha di kamar mereka, namun ternyata pemuda itu berada tak jauh dari pondokan. Habis jalan-jalan, katanya.
Semalam mereka sempat memutuskan kalau ekspedisi ke desa tersebut cukup sampai di sana saja. Alpha dan Ursa tidak mengingat banyak, menunggu lama di desa itu juga tidak menjamin keduanya akan mengingat sesuatu yang lain. Dan entah diketahui oleh Alpha dan Ursa atau tidak, mereka berempat sebenarnya mencuri dengar pembicaraan mereka, mengetahui nama-nama rekan dua pemuda itu juga sudah menjadi informasi berharga. Maka dari itu Algol memutuskan kalau mereka harus segera kembali dan melapor.
Alpha dan Ursa menghentikan kuda mereka selepas melewati gerbang masuk Desa Mayall, mereka menengok sekali lagi ke desa mereka yang telah hancur, lalu dengan berat hati keduanya kembali memacu kuda mengikuti Algol dan yang lain. Formasi mereka tetap sama, Algol dan Okul memimpin di depan, Alpha dan Ursa di tengah, sedangkan Kraz dan Diphda mengawal di belakang. Bentuk itu merupakan pencegahan apabila Alpha dan Ursa mencoba kabur.
Tapi kedua orang itu menurut. Berbeda dari perkiraan mereka semua di mana Alpha dan Ursa setidaknya akan mencoba kabur sekali atau dua kali, mereka justru tidak melakukan apa-apa.
Okul tiba-tiba mengerutkan keningnya. Ia seperti mendengar suara ribut jauh di depan mereka, tetapi ia tak mengatakan apa pun sampai ia yakin mendengar suara itu justru semakin jelas ketika mereka mendekat.
“Kapten!”
“Ya. Aku juga dengar,” balas Algol. “Kalian semua—”
“Kami juga mendengarnya, Kapten! Kami sudah siap sejak tadi jika tiba-tiba akan ada serangan!” seru Kraz dari belakang.
“Bagus! Tetaplah waspada! Tetapi sebisa mungkin hindari untuk bertarung melawan ramplite!”
“Perintah diterima!” jawab mereka semua.
Ketika sudah mendekati sumber keributan mereka melihat pertarungan di depan mereka. Sebuah pertarungan yang tidak adil. Seorang manusia bintang melawan sekumpulan ramplite golongan dua tingkat rendah—manusia-manusia dengan sebagian anggota tubuhnya berbentuk tubuh binatang. Mereka sempat cemas dan berpikir untuk memberikan bantuan, namun apa yang terjadi selanjutnya membuat mereka semua terkejut.
Laki-laki yang mereka lihat itu justru mampu mengalahkan para ramplite dengan mudah. Ia bahkan tak menggunakan armor untuk melindungi tubuhnya. Para ramplite pun tidak ada yang bisa mendekat ke arahnya karena laki-laki itu akan menghabisi mereka dengan sekali serang sebelum mampu menjangkaunya.
Ia menggunakan rantai berlapis cahaya kuning sebagai senjatanya, memutar-mutarkannya di atas kepala, lalu dengan sekali ayunan ia telah memenggal banyak kepala ramplite. Laki-laki tersebut kemudian membuat ujung rantainya membulat menyerupai bola besi, dengan itu ia menghantamkannya pada ramplite yang menyerangnya dan membuat tubuh mereka luluh lantak. Teknik-teknik lain yang mematikan silih berganti ia gunakan.
“Mengerikan,” gumam Diphda.
“Hebat!” Alpha berujar kagum.
Ursa yang mendengar itu hanya terkekeh kecil. Temannya yang satu itu memang terobsesi dengan teknik-teknik hebat karena menurutnya sangat keren. Tapi tidak salah... hebat, keren, kuat, mengerikan, memang kata-kata yang paling pas untuk menggambarkan sosok laki-laki yang tengah bertarung itu.
‘Akan sangat merepotkan kalau dia menjadi musuh untuk desa, tapi kalau sebaliknya justru sangat menguntungkan,’ batinnya. ‘Hm...?’
Dengan terperangah Ursa menyadari kalau kalung kristal ajaib yang dipakainya menyala redup. Ia lalu meminta Alpha untuk melihat kalungnya juga, dan memang, milik pemuda itu juga menyala. Mereka saling tatap lalu mengedarkan pandangan. Tidak ada orang lain kecuali mereka dan laki-laki yang tengah bertarung itu.
“Jangan-jangan orang itu—”
Tiba-tiba saja empat ramplite yang tak berdaya terpental mengarah pada mereka. Kraz langsung menggunakan teknik kubahnya untuk melindungi mereka. Ramplite-ramplite itu menabrak dan terpental. Karena tidak mendapatkan serangan lagi Kraz segera membatalkan tekniknya. Setelah itu laki-laki tadi mendekat dengan cepat hanya dalam kedipan mata.
“Jadi kau sudah tahu tentang kami, ya?”
“Tentu saja. Aku merasakan pandangan mengganggu saat sedang menghabisi makhluk-makhluk itu—”
“Luxco!” seru Alpha dan Ursa bersamaan.
__ADS_1
Mereka mendekat kepada lelaki itu.
“Jadi, ternyata itu kau.” kata Ursa. ‘Pantas kalung kami bercahaya,’ tambahnya tanpa disuarakan.
“Huh? Bagaimana kalian tahu nama—oh! Bukankah kalian Alpha dan Ursa? Lama tak berjumpa. Kalian...” sorot matanya yang sempat melembut tadi kembali berubah dingin, “kenapa berseragam prajurit?” tanyanya waswas.
“Jangan salah paham!” Ursa menyergah. “Kami hanya tawanan mereka!”
“Kenapa tidak kabur?”
“Aku mendapatkan segel yang mengikatku dengan mereka. Aku tidak bisa melarikan diri,” ungkap Alpha sambil menunjukkan tanda di lehernya.
“Dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja,” sahut Ursa.
“Beta Corvi : Dome.”
Seketika kubah kuning transparan menyelimuti Alpha, Ursa dan Luxco. Kraz yang melakukannya.
“Yang seperti ini tidak akan mengurungku,” kata Luxco santai.
Ia lalu menyabetkan rantai besi yang telah dilapisinya dengan cahaya warna kuning miliknya ke dinding kubah Kraz. Kubah itu langsung hancur dari dalam.
“Dibandingkan kalian semua aku jauh lebih kuat.”
“Kapten, aku memang belum pernah melihatmu bertarung dengan serius, tetapi senior kami, Luxco, dia sangat kuat,” tutur Ursa.
“Ho-o. Mari kita bukti—”
Luxco memotong. “Kalian prajurit, kan? Daripada berurusan denganku mending ikut denganku ke suatu tempat.”
“Jika kami menolak?”
“Kalian tidak akan menolak. Karena yang akan kita tuju adalah Kota Bode. Di timur desa itu ada sebuah pemukiman pinggiran, di sana terdapat seseorang yang sangat pintar, dan ramplite yang kukejar sampai ke sini memberitahu bahwa orang itu diincar oleh mereka.”
“Diincar? Kenapa?” tanya Algol.
“Karena dia bisa menciptakan obat—semacam doping, yang dapat meningkatkan kekuatan ramplite secara pesat. Bahkan ramplite golongan tiga tingkat rendah pun bisa memiliki kecerdasan jika mengonsumsi obat itu. Aku pernah menghadapi mereka dan itu sangat merepotkan,” jawab Luxco.
“Kenapa kau memberitahu kami tentang ini?” tanya Okul.
“Kenapa, kau bilang? Tentu saja karena kalian adalah prajurit. Kalian menyebut diri kalian terminator warrior, orang-orang yang melindungi sisi terang dari sisi gelap, kan? Kau pikir aku seorang diri akan bisa menghentikan serangan musuh dan menyelamatkan penduduk? Yang ada mereka tidak akan mempercayaiku jika tahu aku berasal dari Desa Mayall. Tapi kalian prajurit, seragam kalian saja sudah memiliki kekuatan.”
“Luxco, aku mengira kau orang yang suka berbuat seenaknya dan sembrono, tapi ternyata kau cukup peduli juga. Apakah aku salah menilaimu?” ujar Alpha.
“Sama sekali tidak. Aku meminta bantuan kalian karena aku memiliki tujuan lain. Nanti kalian yang tangani penduduk desa dan aku yang akan urus orang pintar itu,” katanya.
__ADS_1
“Apa tujuanmu?” tanya Algol menyelidik.
“Tidak akan kuberitahu,” jawabnya santai.
Luxco lalu naik ke kuda Alpha, mendorong pemuda itu ke belakang dan mengambil alih kemudi. Ia lalu melajukan kuda tersebut dengan cepat. Yang lain segera mengikuti di belakang.
“Apakah kita bisa memercayainya, Kapten?”
Pertanyaannya Diphda tidak dijawab oleh Algol, melainkan Ursa, “Tenang saja Ms. Diphda, walaupun seperti itu Luxco bukan seorang pembohong. Dia juga orang yang baik. Aku yakin dia benar-benar peduli dengan penduduk itu. Tapi aku tak menyangkal kalau tujuan lain yang diincarnya itu memang ada.”
“Kau tahu apakah itu, Ursa?”
Pemuda itu menggeleng. “Bagi kami pun Luxco adalah orang yang sulit dimengerti.”
“Dan kalian tetap percaya padanya?”
“Setidaknya dia tidak pernah dan tidak akan mengkhianati desa. Aku yakin itu,” jawab Ursa.
“Kami akan menangkapnya setelah semua ini selesai. Tidak akan kubiarkan ia lolos. Bagaimanapun semua penduduk Desa Mayall adalah buronan.”
Ursa tertawa mendengarnya meskipun sedikit tersinggung mendengarnya. “Coba saja, Wakil Kapten. Itu akan jadi pertunjukan yang memukau kalau benar-benar terjadi.”
“Ngomong-ngomong, bukankah dia terlalu cepat akrab dengan kita? Bahkan sampai meminta bantuan kita segala,” kata Kraz.
“Karena seperti itulah dia. Luxco memang orang yang seperti itu. Dia kuat, pemberani, pantang menyerah, tapi sedikit aneh dan misterius. Walaupun begitu semua orang menyukainya. Dan untukku serta teman-temanku Luxco adalah sosok idola kami.”
“Kalian memiliki idola orang aneh, kalau begitu.”
“Tapi setidaknya dia benar-benar kuat dan cerita mengenai kehebatannya bukan omong kosong,” balas Ursa. “Katanya dia pernah menghabisi hampir seratus ramplite golongan dua tingkat tinggi habis-habisan dalam semalam.”
“Kalau hanya itu aku juga bisa,” sahut Algol, “dengan kerja keras, tentunya.”
“Tidak sesederhana itu, Kapten, memang kalau menghadapi mereka yang dari satu jenis bukan hal yang terlalu sulit. Tapi yang dihabisi oleh Luxco adalah sekumpulan ramplite golongan dua tingkat tinggi dari berbagai jenis dan spesies.”
“Bagaimana itu mungkin? Padahal ramplite golongan dua biasanya hanya mau bekerja sama sesama spesies mereka saja,” sergah Diphda.
“Kata Luxco, seseorang memimpin para ramplite itu,” jawab Ursa. “Mengejutkan, bukan? Kejadiannya sudah lama, sekitar enam tahun yang lalu. Aku memiliki pemikiran bahwa para ramplite itu adalah sebuah pasukan yang dikirim untuk menghancurkan desa kami. Tapi sialnya mereka bertemu dengan Luxco sebelum mencapai desa dan tewas di tangannya.”
Kraz meneguk ludahnya mendengar cerita tersebut. Tapi ia tersenyum miring kemudian. “Kelihatannya orang bernama Luxco ini benar-benar kuat.”
‘Dan pertarungan itulah yang membuat ketiga rekan Luxco yang setara dengannya tewas semua. Sejak saat itulah Luxco berubah menjadi seseorang yang sedikit misterius. Hanya dengan melihatnya aku tahu kalau Luxco tidak berubah menjadi orang jahat, tetapi... kadang-kadang saat aku melihat matanya aku merasa ngeri. Luxco memiliki sebuah ambisi membara yang akan dikejarnya bahkan meskipun ia harus mati sekalipun,’ batin Ursa.
"Ya. Sangat kuat. Akan bijak jika tidak menjadikannya musuh," sahut Ursa.
...***...
__ADS_1