
Joa tidak merasa dirinya adalah orang bodoh. Tentunya ia sadar kalau sejak dipanggilnya dirinya oleh Algol ia terus-menerus diamati oleh anggota-anggota mereka. Setelah pergi meninggalkan mereka pun ia tahu kalau sedang dibuntuti oleh dua dari mereka.
‘Laki-laki semua. Kelihatannya kuat. Kalau kulawan sendirian aku akan kesulitan. Mereka pasti sudah mengetahui kalau aku adalah penduduk Desa Mayall. Mungkin juga sadar kalau aku mengenal Alpha dan Ursa. Ah, ini sudah risiko yang kuperkirakan jika aku menemui mereka berdua, maka tidak ada pilihan lain...’
Joa membatin sambil melirik ke kanan-kiri. Ia mencari jalan yang tidak ramai. Jalur kabur yang menurutnya paling tepat untuk digunakan. Sejak membututinya Kraz dan Okul tidak berbuat sesuatu yang mencolok, tapi cepat atau lambat dua pria itu pasti akan menghadangnya.
Joa kuat. Ia percaya dengan kemampuannya. Namun bertarung dengan lawan-lawan yang tidak dikenalnya bukanlah keputusan bijak. Ia hanya datang untuk mengecek kondisi Alpha dan Ursa, memastikan kalau mereka benar-benar orang yang ia kenal, juga mencari tahu apakah keduanya telah mengkhianati desa atau tidak.
Tadi, saat ia melihat ekspresi Alpha dan Ursa yang kaget ketika melihat wajahnya Joa tahu bahwa keduanya masih setia terhadap desanya. Semua itu Joa ketahui karena kekagetan mereka diiringi raut gembira, bukan penyesalan atau rasa bersalah. Ia lega mengetahui hal tersebut. Tetapi ia masih belum tahu informasi apa saja yang telah prajurit itu dapatkan dari mereka. Serta, negosiasinya untuk mencari tahu ditolak tegas oleh Algol.
‘Kuharap mereka berdua tidak mengatakan macam-macam.’
Joa berbelok ke persimpangan yang mengarahkannya semakin ke pinggir kota. Itu adalah jalan yang ia gunakan untuk masuk ke Kota Milky Way beberapa hari yang lalu. Jalanan itu tidak memiliki banyak pengunjung, prajurit yang berpatroli juga jarang berada di jalan tersebut. Dengan menambah kecepatan langkahnya Joa segera berbelok.
Okul dan Kraz yang menyadari kalau mereka sudah ketahuan tidak sungkan-sungkan lagi. Mereka menampakkan diri dan dengan segera mengejar Joa. Tapi yang terjadi selanjutnya adalah mereka disambut dengan serangan kejutan tepat ketika mereka berbelok ke arah Joa menghilang.
“Heh. Aku tahu kalau kalian akan terpancing dengan gerakanku. Menjadi panik dan melakukan serangan kejutan cukup efektif untuk memancing mata-mata menunjukkan diri,” ujarnya bangga.
“Bagus kalau kau sudah tahu. Itu membuat kami tidak perlu kesusahan menjelaskan maksud kami. Menurutlah dan ikut ke markas. Katakan semua informasi yang kau punya.”
“Aku menolak,” tukas Joa. “Kalau boleh tahu, bagaimana kalian sadar kalau aku mengenal Alpha dan Ursa?”
“Karena kau baru berteriak-teriak tentang Desa Mayall saat kami berada di dekatmu. Semua itu hanya dugaan, tetapi saat kau menunjukkan wajahmu dan melihat bagaimana reaksi kaget mereka, kami jadi tahu, sepandai-pandainya mereka menutupi sesuatu tetap akan terkejut juga melihat teman lama mendadak muncul. Kau juga merepotkan dirimu memberitahu kondisi penduduk pada kami yang mana sudah kami ketahui, tetapi Alpha dan Ursa tidak. Kau ingin mengetes apakah mereka berdua berkhianat atau tidak, benar begitu?”
“Tepat,” jawabnya terhadap Okul.
“Seperti yang kukatakan tadi, mereka benar-benar tak berguna sebagai tawanan. Mereka tak mengatakan apa pun dan malah mengaku tidak ingat dengan detail kejadian hari itu. Yang mereka ingat malah hanya pemandangan hitam dan putih yang tak terjelaskan,” ungkap Kraz.
Kening Joa mengerut dalam mendengar hal tersebut. “Tidak ingat dengan penyerangan hari itu? Dan apa-apaan pemandangan hitam putih yang kau maksudkan itu? Tidak ada kejadian seperti itu."
“Tidak ada!?”
Ganti Okul dan Kraz yang saling tatap dengan bingung. Alpha dan Ursa jelas-jelas selalu mengatakan hal tersebut. Tidak mungkin dua pemuda itu membohongi mereka selama lima tahun tanpa melakukan kesalahan sedikit pun. Alpha dan Ursa juga tidak mengada-ngada, mereka tahu sendiri, bahkan di dalam tidurnya keduanya sering mengigau mengenai pemandangan hitam dan putih yang mereka lihat itu.
“Begitu... jadi Alpha dan Ursa memegang informasi yang bahkan tidak kalian ketahui,” ucap Kraz.
__ADS_1
Joa berkacak pinggang. Dengan wajah congkak ia meremehkan dua pria di hadapannya. “Itu tidak penting. Tidak berguna apa yang Alpha dan Ursa ketahui sedangkan kami tidak. Kami mengetahui siapa musuh kami dan apa yang perlu kami lakukan, hanya itu sudah cukup. Tahu kalau Alpha dan Ursa tidak mengkhianati desa sangatlah melegakan. Bagaimanapun mereka berdua adalah orang-orang penting untuk desa kami, kehilangan mereka akan disayangkan.”
“Apa maksudmu mengatakan kalau mereka adalah orang penting?” Okul bertanya tajam.
Joa tersentak mendengarnya. Lalu ia menyeringai senang. Tidak disangkanya kalau Alpha dan Ursa mampu menjaga identitas mereka yang sebenarnya hingga selama ini, padahal sudah lima tahun mereka berada di markas militer. “Tanyakan saja pada mereka sendiri. Memberitahu kalau mereka adalah orang penting adalah kebocoran informasi yang tak sengaja kukatakan. Kembalilah dan anggap diri kalian beruntung telah mendengar itu.”
“Sayangnya aku ingin dengar lebih banyak informasi daripada itu. Tapi kelihatannya kau tidak akan bicara jika tidak dipaksa, maka tidak ada pilihan lain kecuali melawanmu.”
Selesai dengan perkataannya Kraz yang sudah siap dengan kuda-kuda sejak tadi maju menyergap Joa. Namun aneh, ketika jaraknya dengan gadis itu sudah dekat ia terpental ke belakang, seperti menabrak tembok.
Okul yang paham dengan keadaan langsung mengamati sekitar mereka. Sekilas ia melihat cahaya kuning keputihan yang menyerupai kubus di sekelilingnya. Warna cahaya itu tak begitu jauh berbeda dengan cahaya matahari sore itu jadi ia tidak segera menyadarinya.
Ia dan Kraz tengah berada di dalam kotak cahaya itu. Mereka telah dijebak oleh Joa sejak mereka berbelok untuk mengikuti gadis tersebut. Okul mencoba menebas dinding dari kotak yang memenjarakan mereka namun hasilnya nihil.
“Teknikku ini lumayan kuat. Para ramplite golongan dua tingkat atas bahkan tidak bisa melarikan diri dari teknik yang kusebut Magic Box ini.”
“Itu hanya karena mereka terlalu sayang nyawa dan takut melarikan diri dengan mempertaruhkan nyawa,” kata Okul. “Kraz, gunakan armor. Aku akan meledakkannya.”
“Kotak ini tidak akan hancur hanya dengan Blast Ball-mu.”
“Ini adalah versi yang berbeda,” balas Okul. Ia mengonsentrasikan pikirannya, membentuk armor di seluruh tubuh, dan dengan perintahnya sebuah bola bercahaya biru terbentuk di antara kedua tangannya. Bola itu lebih besar dari Blast Ball yang hanya sebesar bola kasti. Warnanya lebih pekat, menunjukkan kalau kepadatannya berbeda dengan bola cahaya yang biasa ia gunakan. “Pi Capricorni : Solid Blast Ball.”
Dari balik asap tebal Kraz langsung melesat ke depan. Ia menebaskan pedang berbalut cahaya kuning miliknya ke arah Joa. Gadis itu menangkis dengan belati di tangan. Hanya dengan sebuah belati kosong dan bukannya berlapis kekuatan cahaya, namun bentrokan itu malah membuat lapisan cahaya di pedang Kraz terkoyak.
Kraz cukup kaget. ‘Lumayan’, pikirnya. Kraz jadi semakin bergairah menyerang Joa. Tapi gadis itu tangkas. Ia tidak tersudut dengan mudah meski menerima tebasan-tebasan pedang Kraz yang cepat dan mumpuni. Malahan gadis itu bisa kembali merusak lapisan cahaya di pedang Kraz.
Melihat itu Okul tak mau ketinggalan. Ia mengirimkan bola-bola ledaknya dengan kecepatan tinggi kepada Joa. Tetapi gadis itu dapat menghindarinya dengan lihai. Anehnya, bola-bola Okul seperti menempel pada udara di belakang Joa. Seolah-olah bola-bola itu mendarat di atas permukaan yang lembut dan begitu fleksibel sehingga Blast Ball tersebut tidak meledak. Kemudian seperti ditarik oleh ketapel bola-bola itu kembali dikirimkan ke arah Okul dan Kraz.
“Gamma Virginis : Sticky Wall. Slingshot.”
Akibat gaya pegas bola-bola tadi meluncur dengan kecepatan berlipat dari sebelumnya. Okul yang hendak membatalkan tekniknya mampu dibaca dengan baik oleh Joa. Gadis itu melancarkan serangan susulan agar bola-bola itu bisa tetap meledak.
“Gamma Virginis : Needle Shot!”
Jarum-jarum ditembakkan begitu cepat bersama bola-bola cahaya itu. Beberapa detik sebelum Okul berhasil membatalkan teknik andalannya jarum-jarum Joa sudah menggores dan menusuk bola-bola itu sehingga ledakan beruntun tak dapat dihindarkan. Armor lengkap yang menyelimuti Okul dan Kraz mulai retak akibat menerima dampak ledakan kuat beruntun dalam jarak dekat. Joa yang mengetahui kerusakan itu tidak tinggal diam.
__ADS_1
“Gamma Virginis : Gigantic Needle!”
Sisa jarum-jarum yang masih melayang di udara membesar secara tiba-tiba. Jarum-jarum itu berubah arah menghadap Okul juga Kraz. Lalu dengan gerakan tangannya Joa mengarahkan serangan tersebut pada mereka berdua. Kraz bergerak cepat dengan membuat kubah kebanggaannya.
“Oh. Serupa dengan tekniknya Alpha, tapi jauh lebih kuat." Joa bergumam menilai. “Aku sudah berkali-kali menghadapi teknik tersebut sejak kecil, aku sudah memikirkan cara mudah mengalahkan teknik tersebut. Mau kuat atau lemah, itu tidak masalah buatku.”
Joa mengarahkan kedua tangannya ke atas. Muncul sorotan cahaya menyilaukan berwarna kuning keputihan miliknya tepat di atas kubah Kraz. Cahaya itu membentuk pemberat timbangan besar seberat 100 kilo yang lalu dijatuhkan ke atas kubah Kraz. Joa terus menambah angka pemberat itu hingga mencapai berton-ton.
Joa mendekat ke kubah Kraz.
“Pemberatku tidak akan menghancurkan kubah ini, tapi seiring berat dan ukurannya bertambah maka kubahnya akan semakin mengalami tekanan. Itu berpengaruh pada kalian. Tekanan dari dalam kubah akan menyiksa kalian sampai-sampai rasanya ingin segera keluar, namun.... bam! Pemberat itu akan menimpa kalian hingga tergencet. Pengecualian kalau kalian mampu menghindarinya secepat kilat.
Aku percaya kalian bisa. Tapi saat itu juga aku akan menyerang kalian dengan teknik lainnya. Tuan-tuan Prajurit, aku tahu kalian sebenarnya kuat, tetapi aku sudah membuat jebakan sebelum pertarungan ini dimulai, aku telah mencuri start dari kalian. Itu menguntungkanku. Sangat disayangkan juga kalian menahan diri karena berpikir aku adalah seorang gadis dan informan yang penting sehingga kalian tidak ingin sampai membuatku sekarat.
Kalian mungkin biasa menggunakan cara ini kepada Alpha maupun Ursa. Tapi kasihan, kalian telah salah menakar kekuatanku. Aku jauh lebih kuat dari mereka berdua karena selama lima tahun ini aku selalu mengalami pertarungan yang sesungguhnya.”
“Ini benar-benar memberi kami sebuah pelajaran,” tukas Kraz dongkol.
Joa tiba-tiba tertegun ketika mendengar derap langkah kaki menuju ke tempat mereka. Keributan ini pasti menarik perhatian prajurit patroli. Ia harus segera pergi.
“Sampaikan pesanku kepada Alpha dan Ursa. Katakan pada mereka kalau seluruh kandidat Guardian telah resmi menjalankan tugas sejak lima tahun lalu. Oh, dan satu hal penting lagi, ini juga adalah informasi yang paling kalian inginkan,” ungkap Joa. Ia terdiam sebentar untuk terlihat misterius. “Seluruh ramplite yang ada di Earthland kemungkinan besar sudah terorganisir dengan baik dan mereka dipimpin oleh seseorang yang sangat kuat dan ditakuti.”
“Keuntungan apa yang kau dapatkan dari memberitahu kami?” tanya Okul sengit.
“Jangan menuduh sembarangan. Penduduk Desa Mayall adalah orang-orang baik hati, sekalipun kami telah diperlakukan tidak adil oleh penduduk negeri ini kami tidak menyimpan dendam kepada mereka, kami hanya tidak ingin desa atau kota lain mengalami nasib serupa. Berdasarkan perkiraan kami daya tempur para ramplite yang dipimpin oleh pemimpin mereka yang sekarang sudah melebihi militer Negeri Earth. Waspadalah karena mereka sudah bukan sekelompok makhluk-makhluk bodoh yang hanya mengincar kesempurnaan semata.”
“Alasan mengapa desa kalian yang mereka serang pertama kali adalah karena desa kalian memiliki sesuatu yang diinginkan oleh para ramplite itu, kan, apakah itu?”
Joa mengedikkan bahu. “Entahlah. Bahkan aku pun tidak tahu sejauh itu.”
“Desamu tidak memberitahu tapi kau tetap mati-matian melindunginya. Konyol. Bodoh sekali.”
“Loyalitas, Tuan. Bahkan kau juga memilikinya terhadap negeri yang tidak begitu adil ini,” balas Joa tak kalah menghina. “Omong-omong, ada sesuatu yang aku ingin kalian berikan pada Alpha dan Ursa. Hanya belati khas tempaan desa kami. Kuharap dengan belati ini mereka tidak begitu merasa kesepian karena jauh dari rumah. Selamat tinggal.”
Joa pergi dari sana secepat kilat setelah meletakkan dua buah belati bersarung di luar kubah Kraz. Hanya dalam hitungan detik gadis itu sudah mencapai luar kota Milky Way. Begitu ia menginjak luar perbatasan kota tersebut ia membatalkan tekniknya, memberikan kebebasan untuk Okul dan Kraz.
__ADS_1
“Aku harus segera menemui Nona Vela dan memberitahukan kalau putranya dan Ursa masih hidup,” gumam Joa dengan gembira.
...***...