
“Dia hebat.”
“Dia juga cepat dalam bertindak. Lumayan juga untuk seorang manusia biasa.”
“Mari lihat sampai sejauh mana ia bisa bertahan.”
Ursa mungkin tidak mendengar pembicaraan para prajurit yang menonton dari atas itu, tapi ia bisa memperkirakan apa tanggapan mereka. Ia tersenyum sinis.
“Aku tidak akan bertahan, karena akulah yang akan menang.”
“Percaya diri sekali, huh?” Diphda meremehkannya.
“Aku percaya diri karena aku memiliki kemampuan yang dibutuhkan,” balas Ursa.
Ia lalu berlari menyerang. Okul menyerangnya dengan Blast Ball yang sama. Meski tahu menyerang bola-bola cahaya itu dapat menciptakan ledakan, namun Ursa tidak punya pilihan lain, lagian bola cahaya itu tetap akan meledak jika mengenainya.
Untuk mengakali ledakan itu Ursa menggunakan perisai sebagai pelindung. Tombak yang digunakannya untuk menghalau bola cahaya Okul cukup panjang, sehingga ledakannya tidak langsung mengenai tubuhnya. Dengan cara itu ia bisa bertarung.
Syuuut! Syuuut! Syuuut!
Ursa menyerang dengan tombaknya ke arah Diphda dan Okul. Kecepatannya mengagumkan. Serangan itu bisa mendesak kedua manusia bintang yang dilawannya menghindar dan melangkah mundur. Bahkan setelah serangannya menggores Okul, prajurit tersebut langsung menggunakan armor cahaya.
Ursa menyengir senang.
Tusukan-tusukan tombaknya dihalau, baik oleh Diphda menggunakan pedangnya yang berselimut cahaya berapi atau oleh Okul dengan armor cahayanya. Namun hal itu tidak menyurutkan serangannya. Lewat kontak senjatanya Ursa tahu bahwa kekuatan cahaya itu bisa ditembusnya.
“Coba terima serangan ini, Wakil Kapten Okul!”
Dengan tajam Ursa menusukkan tombaknya sekuat tenaga. Okul menahannya dengan kedua lengan yang menghadap keluar. Armor-nya menahan ujung tombak itu. Namun tidak lama, karena tekanan dari Ursa meretakkan armor cahaya tersebut sehingga mata tombak langsung menusuk lengannya.
Beruntung, Okul mengambil loncatan cepat ke belakang sehingga lukanya tidak semakin dalam. Ia berdecak kesal.
“Boleh juga.”
“Beta Ceti : Fire Slash!”
Diphda melancarkan serangannya. Ursa melakukan gerakan kayang untuk menghindarinya. Diphda menyerang lagi dengan segera.
“Beta Ceti : Big Cross!”
Dengan dua kali tebasan Diphda membuat tanda silang. Api yang cepat mengarah kepada Ursa. Dengan keterampilannya bermain tombak Ursa menghunjam api silang yang semakin membesar ketika meluncur tersebut dengan cekatan. Alhasil api besar itu terpecah-pecah menjadi lebih kecil. Hal itu menyelamatkannya dari kebakaran.
__ADS_1
Ursa menggerakkan tombaknya memutar, membuat api-api yang tersisa di udara kembali menyatu dan membesar akibat angin yang ia timbulkan. Ursa mengambil langkah ke belakang. Dengan cepat ia mendorong api tersebut menggunakan perisai ke arah Diphda.
“Cerdik juga,” gumam Diphda.
Akan tetapi prajurit perempuan itu tak gentar sedikit pun.
“Slash!” Diphda menebas api itu dengan pedang yang sudah tidak dilapisinya dengan kekuatan cahaya.
Ia melakukannya karena api serangan Ursa lebih besar daripada yang menyelimuti pedangnya. Jika ia melakukan serangan dengan pedang berbalut kekuatan cahaya berapi itu maka serangan api milik Ursa justru akan merebut apinya dan malah membuatnya semakin besar. Itu bisa merugikannya.
Ursa lagi-lagi berlari menerjang dengan tombak menghunus ke arah Diphda. Tapi Diphda tak kalah gesit. Ia menyiapkan serangan yang berbeda.
“Beta Ceti : Blaze Slash!”
Ia menyabetkan pedangnya ke dada Ursa. Pemuda itu menghalau dengan perisai. Namun sayang, perisainya terbelah dua lalu terbakar. Ursa membuang perisainya seraya melompat mundur.
“Blaze Slash adalah serangan mematikan. Selain menyayat dengan tajam, serangan itu juga akan membakar apa yang dikenainya,” jelas Diphda.
“Serangan yang lebih tajam daripada Fire Slash, huh? Bahkan perisai besi juga bisa ditebas, ya. Keren.”
“Dan kalau serangannya mengenai tubuh manusia maka efeknya cukup besar. Karena luka dari tebasan akan langsung terbakar.”
“Kedengarannya menyakitkan. Terima kasih atas penjelasannya, aku tidak akan membiarkan diriku terkena serangan itu.”
Kali ini Diphda yang maju lebih dulu. Ia berlari sambil melancarkan serangan Fire Slash-nya secara beruntun.
Ursa menghindarinya. Namun gara-gara melakukan itu fokusnya ke Diphda berkurang, prajurit perempuan itu sudah berada satu meter di hadapannya dan melancarkan serangan lain.
“Beta Ceti : Fire Claw!”
Dari pedang Diphda muncul dua refleksi mata pedang yang terbuat dari kekuatan cahayanya. Kedua refleksi tersebut setajam pedang asli. Keduanya juga berkobar layaknya pedang yang terbakar. Diphda menyabetkannya pada Ursa yang lengah.
Tiga tebasan sekaligus mengenai dada Ursa. Lukanya tidak dalam karena ia berhasil menghindarinya di saat-saat terakhir. Tapi akibat tebasan itu kulitnya tersayat dan mendapatkan luka bakar. Darah mengalir cukup banyak.
Belum sempat Ursa berdiri ia sudah dikejutkan dengan serangan Okul yang datang secara tiba-tiba. Okul melemparkan bola-bola biru yang memantul ke arahnya. Ursa berusaha melarikan diri dari bola-bola itu, tapi bola-bolanya tetap mengejar dengan cara memantul.
“Pi Capricorni : Bounce Ball. Explosion.”
Seluruh bola-bola di sekitar Ursa meledak. Pemuda itu terpelanting ke belakang terkena daya ledaknya. Ursa terkapar di tanah. Darah juga mulai keluar dari mulutnya.
Ursa berdiri menggunakan lututnya. Ia memegangi dadanya yang sesak. “Ughh... sialan!”
__ADS_1
Tanpa memberinya belas kasihan Okul kembali menyerang Ursa. Ia berlari ke tempat Ursa berada, degan sekuat tenaga menendang tubuh pemuda itu ke samping, membuat Ursa terpental beberapa meter.
Ursa mendengus kasar. Badannya terasa ngilu semua. Tulang-tulangnya belum patah apalagi retak, tapi rasanya berita buruk itu bisa terjadi kapan saja jika ia terus-menerus menerima serangan beruntun dari mereka berdua.
Ursa bangkit berdiri dengan bertumpu pada lengannya. Ia melihat Diphda dan Okul berwajah serius. “Sepertinya pertarungan yang sesungguhnya baru dimulai, huh.”
“Majulah, Ursa.”
Ursa mengambil ancang-ancang untuk melempar. Ia melontarkan tombaknya ke atas sekuat tenaga menuju Okul. Bersamaan dengan itu Ursa berlari dengan dua belati di tangan. Larinya cepat. Lebih cepat dari tombak yang ia lontarkan. Kecepatannya hampir menyamai kecepatan seorang manusia bintang yang menggunakan kekuatan cahaya di kakinya.
Ia berduel dengan Okul menggunakan teknik bermain belati. Pria itu menangkisnya menggunakan perisai cahaya yang hanya diterapkan di lengannya. Perisai itu lebih kuat daripada armor sebelumnya, terdengar dari suara benturan ketika belati dan armor cahaya itu beradu.
Menyelinap ke dalam duel tersebut, Diphda berniat menyerang dari samping. Tapi Ursa menyadarinya.
Ursa menggigit belati di tangan kirinya. Tepat saat itu juga tombak yang ia lempar tadi menghunjam dari atas, Ursa menangkapnya dengan tangkas, dan sebelum Diphda menebaskan pedangnya padanya Ursa menusuk perut perempuan tersebut dengan tombak.
“Aaaakh!”
Ursa mendorong tombak yang masih menancap di tubuh Diphda, membuat perempuan itu tersungkur. Ia lalu lompat beberapa langkah ke belakang.
Klontang!
Diphda menekan lukanya yang mengucurkan darah setelah ia mencabut dengan kasar tombak di perutnya. Ia memandang Ursa jengkel.
“Ini pertarungan yang mempertaruhkan kondisi hidup dan mati, jadi jangan salahkan aku,” kata Ursa datar.
“Me...mang..." balas Diphda terbata-bata. Ia mengarahkan kedua tangannya pada Ursa. Tatapan matanya terfokus. “Beta Ceti : Dragon Fire.”
Naga yang berapi-api muncul dari kekuatan cahaya Diphda. Naga itu meluncur cepat mengejar Ursa. Kecepatan Ursa kalah. Naga itu melahapnya.
Walau secara harafiah Ursa tidak dimakan, melainkan hanya dilewati oleh naga api itu, namun ia merasakan panas di sekujur tubuhnya. Setelah naga api itu selesai melahapnya ekornya menyabet tubuh Ursa yang belum berdaya hingga melemparkan pemuda itu ke kolam besar di pusat lapangan.
Byuuur!
“Ursaaa!” Alpha yang tidak sengaja melihat kejadian itu berteriak khawatir. Namun sensasi benturan di lengan kirinya dan bunyi retak membuatnya kembali melihat lawannya.
“Sialan!” umpatnya saat melihat perisai cahaya di tangannya mulai hancur.
“Sekarang bukan saatnya untukmu mengkhawatirkan orang lain, Alpha. Karena kau juga sedang terdesak,” ujar Kraz.
Alpha menghadap Kraz dan Algol, sebelum membantu Ursa ia harus mengalahkan kedua orang itu lebih dulu. Mereka juga bukanlah lawan yang mudah dihadapi.
__ADS_1
‘Aku tahu kau kuat, Ursa. Bertahanlah. Lalu, menanglah.’
...***...