Terminator Warrior

Terminator Warrior
Mengompori


__ADS_3

“Berapa lama lagi sampai pemukiman itu selesai dibangun sepenuhnya, Okul?”


“Mungkin...” Okul berpikir sejenak untuk memperkirakan, “sekitar empat hari lagi.”


“Baiklah. Setelahnya kita akan langsung pergi dari sini.”


“Bagaimana dengan kesehatanmu?”


“Aku sudah membaik meski belum sembuh total. Tapi, aku tidak ingin berlama-lama di sini,” jawab Algol.


“Kenapa?”


“Kurasa Sir Aldebaran tidak terlalu menyukai kehadiran kita di kotanya.”


“Ah...” Okul mendesah paham.


Mendengar respons tersebut membuat Algol mengerutkan dahinya. Dengan penasaran ia bertanya, “Kau tahu akan sesuatu?”


“Ketika aku memintanya untuk mengurusi para manusia campuran itu ia keberatan. Namun, Sir Puppis muncul tiba-tiba dan memerintahkannya untuk menuruti kemauanku, termasuk mengurusi keperluan kita dan perawatanmu. Diminta seperti itu oleh Sir Puppis pastinya tidak bisa membuatnya menolak. Mungkin gara-gara itu.”


“Begitu rupanya. Sekarang aku paham kenapa dia menghasut Alpha agar kabur dari kita.”


“Eh?”


“Makanya, Okul, terus awasi mereka berdua. Pastikan mereka tidak merencanakan sesuatu di belakang kita.”


“Baik.”


...***...


Pada hari terakhir mereka di sana Algol ikut ke pemukiman baru manusia campuran. Ia ingin tahu seperti apa tempat tinggal baru mereka. Dan di sana ia disambut sangat baik. Mab mewakilkan orang-orangnya berterima kasih.


“Ah, karena ini adalah hari terakhir kalian, maka akan kutunjuki kalian sesuatu,” katanya. “Kumohon, ikutlah denganku.”


Mab membawa mereka berenam ke sebuah rumah yang sudah di bangun. Rumah itu cukup besar. Letaknya berada di tengah-tengah pemukiman tersebut.


“Ini adalah pondokan. Bukan milik siapa pun. Kami membuatnya supaya orang-orang yang mampir ke pemukiman ini bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak. Sebenarnya ini dibuat khusus untuk kalian. Jika kalian berada di dekat sini lagi jangan sungkan mampir ke pemukiman kami,” ungkap Mab.


“Terima kasih, Mab,” ucap Okul mewakili kegembiraan rekan-rekannya.


“Tidak, Sir. Kalianlah yang pantas menerima ucapan terima kasih dari kami. Mulai dari melindungi kami hingga membuatkan kami pemukiman, kalian sudah berbuat terlalu banyak untuk kami. Kami bahkan tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa.”


“Mr. Mab,” sebut Algol, “kami adalah prajurit. Sudah sepantasnya kami membantu kalian. Lagian, setelah ini kami akan meninggalkan kalian dan kalian harus melanjutkan hidup kalian tanpa bantuan siapa pun. Kami tidak berbuat banyak. Kami hanya berbuat apa yang kami bisa.”


“Sir.” Mab terharu.


“Ah, aku dengar dari Okul kalau sebagian dari kalian berlatih menggunakan kekuatan cahaya. Bagaimana hasilnya?” tanya Algol mengalihkan dari pembicaraan mengharu biru.


“Sangat menyenangkan, Sir. Kami masih belum mahir, tetapi kami banyak belajar dari Sir Okul,” jawab seorang pemuda.


“Bagus. Teruslah berlatih. Jika kalian hebat maka kalian bisa melindungi pemukiman kalian sendiri.”


“Baik, Sir!”


“Kami harus segera kembali ke kota kami sendiri. Semoga kalian baik-baik saja mulai sekarang. Selamat tinggal,” kata Algol. Ia bersalaman dengan Mab, yang mana dijabat erat olehnya.


Selepas bercengkerama dengan Algol, Mab langsung menghampiri Okul. Ia menghentikannya untuk mengucapkan segala rasa terima kasih atas seluruh bantuan yang telah diberikan.


“Sir, tanpa kalian kami—”


“Tidak perlu banyak mengatakan terima kasih, Mab. Pimpinlah mereka dengan benar dan pastikan kalian hidup damai, itu sudah cukup sebagai balasan atas kebaikan kami.”


Mab tersenyum tulus. “Ya, Sir.”


“Selamat tinggal, kalau begitu.”

__ADS_1


“Semoga kau dan regumu baik-baik saja selalu, Sir.”


Okul mengangguk. Ia kemudian pergi dari sana bersama dengan rekan-rekannya yang lain. Sebelum sempat terlalu jauh, sekali lagi Alpha meneriakkan perpisahan dengan kencang sambil melambaikan tangannya.


Mereka kembali ke kota. Hari sudah malam, jadi besok pagilah mereka baru akan berangkat. Malam itu mereka menyelesaikan urusan formalitas dengan orang-orang berkepentingan di markas militer, seperti Sir Aldebaran dan juga dokter yang mengurusi Algol. Lalu, tidak lupa juga kepada wali kota Kota Bode.


“Akhirnya... kita akan kembali ke Milky Way. Yah, bukannya aku tidak suka di kota ini, tapi selama di sini aku bekerja sangat keras. Padahal sebelumnya kita hanya bermalas-malasan mengawasi Alpha dan Ursa.”


“Aku mengerti yang kau rasakan, Kraz. Lebih baik aku bertarung melawan orang yang kuat daripada melakukan kerja buruh seperti itu,” sahut Diphda.


“Kau benar,” balas laki-laki itu.


“Kalau begitu... Mr. Kraz, Ms. Diphda, maukah kalian mengawal kami untuk malam ini? Aku dan Ursa berencana berkeliling pemukiman manusia bintang,” ucap Alpha.


“Di hari terakhir kita kau masih ingin jalan-jalan? Setidaknya istirahatlah. Besok kita akan menempuh perjalanan panjang lagi,” tegur Diphda.


“Tidak, Ms. Diphda. Kami tidak asal jalan-jalan. Alpha hanya mau menyelesaikan apa yang telah dimulainya,” tutur Ursa.


Kraz dan Diphda berpikir sejenak untuk mengingat apa yang telah Alpha lakukan. Keduanya tersentak geli menyadari kalau niat asli pemuda itu adalah untuk mengompori masyarakat di pemukiman manusia bintang.


“Aku ikut,” balas Kraz semangat.


“Aku tidak punya pilihan lain selain mengawal kalian,” jawab Diphda pasrah.


Algol yang mendengarkan pembicaraan itu ikut berdiri. “Aku juga turut serta kalau begitu. Aku ingin melihat bagaimana cara kalian memprovokasi mereka,” katanya dengan senyum menantang.


Tidak sudi ditinggal sendirian di markas militer tempat mereka menginap, Okul pun turut serta ke dalam tur kecil malam itu. Mereka menyusuri jalanan di pemukiman manusia bintang yang terang. Batu-batu cahaya yang diletakkan di titik-titik tertentu menyala warna-warni sebagai ganti lentera minyak yang membuat polusi. Batu cahaya tak hanya terang, tapi juga indah, fungsinya pun dapat sebagai hiasan untuk mempercantik kota.


Mereka tidak masuk ke tempat-tempat yang nyaman dengan kesan mewah, melainkan malah mencari kedai makan sederhana, yang mana menjadi tempat berkumpulnya banyak orang. Mereka dipandangi risi gara-gara membawa Alpha dan Ursa masuk ke kawasan mereka. Seperti sebelumnya, mereka acuh tak acuh.


Algol memilihkan meja untuk mereka. Tak tanggung-tanggung, ia memilih meja yang berada di tengah-tengah. Sekalian biar jadi pusat perhatian, katanya. Berhubung mereka sudah makan malam, maka mereka hanya memesan minuman dan makanan ringan.


“Alpha. Kau bisa memulai provokasimu. Aku akan melihatnya.”


Mendapatkan tantangan dari Algol tidak membuat Alpha minder. Ia hanya membalas, “Tunggu saja, Kapten,” dengan nada tengil.


“Aaah! Enaknya! Setelah seharian penuh bekerja keras membangun pemukiman baru untuk manusia campuran itu memang paling enak menghabiskan malam dengan minum-minum kan, Ursa?”


“Ya. Kau benar!”


“Mereka itu... sebenarnya aku khawatir terhadap mereka,” kata Alpha lagi, masih dengan suara keras.


“Kenapa? Kau sudah membangunkan mereka tempat tinggal. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi seharusnya.”


“Tidak, tidak! Tidak bisa begitu! Kau tahu sendiri kalau aku ini mudah bersimpati pada orang lain. Sedangkan mereka, para manusia campuran, mereka tidak memiliki orang-orang yang bisa melindungi mereka. Karena kudengar mereka tidak disukai oleh penduduk kota ini,” ujar Alpha. Lalu, tanpa aba-aba ia membalikkan badan ke meja di sampingnya. “Hei, benarkah itu?” tanyanya.


“U-uh, ya,” jawab seorang laki-laki gelagapan.


“Kau dengar sendiri kan, Ursa?” Alpha menatap Ursa. Sahabatnya itu mengangguk. Lagi, Alpha memutar badannya ke meja seberang. “Bagaimana menurutmu dengan manusia biasa?”


Laki-laki yang ditanyai Alpha berwajah bingung. “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”


“Aku bertanya apakah mungkin manusia biasa mau membantu mereka?” ulang Alpha.


“Itu tidak mungkin,” sahut seorang pria yang lebih tua. “Mereka sama tidak sukanya dengan manusia campuran.”


Alpha pura-pura tersentak mendengar hal tersebut. Ia menepuk dahinya keras. “Benar juga! Aku ingat bagaimana mereka melihatku dengan tidak suka saat aku pergi ke wilayah mereka.”


“Itu salahmu karena masuk wilayah yang bukan tempatmu,” sergah pria itu sengit.


“Kau benar, Paman,” balas Alpha. “Tapi, kurasa mereka tidak benci-benci amat dengan para manusia campuran. Karena saat aku ke sana dan mereka dengar dari kami bahwa pemukiman manusia campuran yang baru tengah dibentuk mereka terlihat seperti merencanakan sesuatu. Apa ya? Um... ah! Kalau tidak salah mereka mendiskusikan rencana untuk melindungi pemukiman itu.”


“Hah? Jangan berdusta! Aku tahu itu tidak mungkin. Mereka itu jelas benci dengan manusia campuran, sama seperti kami. Mana mungkin mereka mau melindungi pemukiman itu!” sanggah si pria.


“Aku belum selesai bicara, Paman,” ujar Alpha. “Mereka tidak melakukannya demi manusia campuran. Dari rumor yang kudengar waktu di sana, mereka melakukannya untuk sebuah pertandingan.”

__ADS_1


“Pertandingan?” tanya si pria penasaran.


Binar-binar kegirangan muncul di mata Alpha. Ia senang orang itu sudah memakan umpannya. Teman-temannya yang tahu tujuan Alpha sejak awal diam-diam tersenyum geli melihat akting Alpha yang lumayan meyakinkan.


“Aku tidak tahu persis apa yang mereka rencanakan, tapi aku yakin mereka menyebut-nyebut bahwa pertandingannya bisa mereka menangkan dengan mudah. Dan ini ada kaitannya dengan melindungi pemukiman manusia campuran. Karena aku tidak berasal dari kota ini aku tidak paham apa yang mereka bicarakan. Kalau kau tahu, Paman, bisakah kau memberitahuku?”


“Kalau mereka mengatakan pertandingan, maka satu-satunya yang terlintas di pikiranku adalah pertandingan melawan kami untuk menjadi yang terbaik,” jawab pria tersebut.


“Tunggu dulu!” Seseorang menyahut dengan suara keras. Seorang laki-laki berbadan kekar. “Kalau mereka yakin bisa memenangkan pertandingan, maka itu adalah pertandingan yang hanya mereka yang mengetahuinya. Dan kau, bocah, kau bilang mereka mau melindungi pemukiman itu, kan?”


Alpha merengut kesal disebut bocah, tapi ia berusaha mengabaikan hal tersebut. “Y-ya... begitulah yang kudengar. Ada apa memangnya dengan hal itu?”


“Sial! Mereka mau membodohi kita!”


“Apa maksudmu dengan itu?” tanya seseorang tak sabar.


“Mereka pasti yakin kita tidak tertarik untuk melindungi pemukiman manusia campuran yang dibenci. Tapi, jika kita tidak ikut dalam permainan mereka, mereka akan sangat mudah mengatai bahwa kita kalah. Itulah akal-akalan mereka!” geramnya.


“Kita tak perlu ambil pusing. Biarkan saja mereka melakukannya. Toh, kalau pun kalah kita tidak rugi. Tidak ada keuntungan yang didapat dari pertandingan tersebut,” kata seseorang.


“Maaf karena mengganggu pembicaraan kalian,” sahut Algol tiba-tiba, “tapi, aku lihat pemukiman itu tidak berada jauh dari kota ini. Jika ramplite menyerang ke sana dan ramplite yang menang, maka ramplite itu akan langsung menuju kota dengan berpikir bahwa orang-orang di kota ini lemah. Bila itu sampai terjadi dan kebetulan manusia biasa sedang mengawasi pemukiman itu lalu mereka mampu menghalau ramplite, maka puji-pujian akan didapatkan oleh manusia biasa.”


“Ah! Jadi, begitu! Sekarang aku paham mengapa mereka bilang kalau pertandingan ini bisa mereka menangkan,” sahut Alpha dengan suara keras. “Mereka tidak bermaksud menang dari kalian semata, melainkan juga untuk memenangkan pendapat baik dari penduduk, militer dan juga pemerintahan kota ini. Dan dengan mengetahui bahwa kalian enggan ikut andil dalam permainan itu justru membuat mereka semakin percaya diri bisa memenanginya. Sungguh cerdik!”


“Kalau dipikir-pikir lagi memang bisa begitu,” gumam Ursa. “Entah siapa yang cerdik di sini, tetapi kita bisa menggunakan banyak dalih di sini. Sebut saja kalau mereka mengelak telah melindungi pemukiman manusia campuran karena itu artinya mencederai kebencian terhadap manusia campuran, tapi karena letak pemukiman yang dekat dengan kota utama mereka bisa beralasan bahwa tidak ada cara lain kecuali turut melindunginya, padahal yang dilindungi adalah kota utama.”


Mendengar ujaran-ujaran tersebut membuat orang-orang di kedai makan itu saling berbisik ricuh. Rencana itu memang licik, tapi mereka tak bisa menyalahkannya karena pertandingan di antara kedua belah pihak sudah terlanjur tidak sehat. Dari sana pun mulai bermunculan pendapat yang menyatakan kalau mereka tidak bisa diam saja. Mereka tidak boleh sampai kecolongan.


Diphda benar-benar tersenyum geli mendengar semua itu. Sebenarnya, orang cerdik yang dimaksud Ursa tidaklah ada. Yang ada hanyalah mereka yang berpikiran terlalu sempit hingga mudah dibodohi oleh Alpha.


“Nah, apakah kali ini kita akan pergi diam-diam seperti sebelumnya?” Diphda bertanya dengan suara lirih pada Alpha.


Pemuda itu menggeleng lebih dulu sebelum menjawab, “Tidak. Kita akan berpamitan dengan sopan agar mereka berterima kasih pada kita yang telah memberi mereka informasi.”


Benar saja. Ketika mereka semua serentak berpamitan setelah membayar tagihan pesanan mereka sang laki-laki kekar dan si pria berterima kasih dengan cukup senang tanpa mengetahui kalau sebenarnya mereka tengah diakali. Mereka pun keluar dari kedai itu dengan tenang.


“Yah, tapinya aku terkejut Kapten mau ikut dalam sandiwara Alpha,” ucap Kraz.


“Karena aku tidak mau hanya Alpha semata yang jadi tokoh hebatnya kali ini. Aku belum berbuat apa-apa di sini, jadi kupikir tidak masalah jika menambahkan sedikit bumbu.”


“Dan tadi itu bumbu yang sangat pedas, Kapten. Berkatmu semuanya jadi lancar. Meskipun tentu saja aku sudah berencana mengatakan itu dari awal, tapi karena orang lain yang mengatakannya justru membuat provokasi tadi semakin alami sebab bukan aku sendiri yang mengatakan semuanya,” kata Alpha girang.


“Aku tidak menyangka kau sehebat itu dalam mengompori orang, Alpha.”


“Hahaha. Wakil Kapten Okul, kau harus lebih sadar akan kehebatanku mulai dari sekarang,” balas Alpha besar kepala.


“Walaupun begitu, Mr. Okul, Alpha ini juga mudah dipanas-panasi. Bagaimanapun juga sifat bocah di dalam dirinya masih kental.”


“Oi, Ursa!”


Mengabaikan protes Alpha, Ursa kembali bicara. “Dan bagaimana Alpha pandai mengompori adalah karena ia suka mengadu domba teman-teman kami agar mereka berkelahi, lalu dia akan menjadikan dirinya penengah supaya dicap sebagai anak baik oleh guru kami.”


Alpha memprotes lagi. Tapi, tidak ada yang menggubrisnya dan malah ia yang ditertawakan. Pemuda itu memberengut jengkel.


“Setidaknya kau berhasil melakukannya, Alpha. Sekalipun mereka tidak jadi tergerak dengan provokasi tadi, tapi pembicaraan tadi akan membekas dan akan memberikan sebuah efek. Tidak harus sekarang atau dalam jangka waktu dekat, mungkin malah jauh di masa depan. Tapi, pasti ada hasilnya,” kata Algol bijak.


“Ya.”


...***...


Author Notes :


Hai, author kembali menyapa pembaca ^_^


Beberapa bab terakhir aku nulis hal-hal yang gak melulu tentang pertarungan, dan cukup panjang juga. Semoga hal ini tidak menjadikan ceritanya membosankan, ya...

__ADS_1


Terima kasih sudah mau membaca sampai sejauh ini. Author sangat menantikan pendapat kalian mengenai cerita ini ya, jadi silahkan berkomentar, kasih kritik maupun saran, like dan vote juga sangat diperbolehkan, hehe...


Singkat kata, sampai juga di AN selanjutnya ^_^


__ADS_2