Terminator Warrior

Terminator Warrior
Arcturus, Sang Hunter Warrior


__ADS_3

“Mr. Kraz! Kita harus menghentikannya! Alpha sudah terpojok!” Ursa panik dengan penuh kecemasan.


“Tidak, Ursa. Lihatlah. Alpha masih berdiri. Apa menurutmu ia ingin dihentikan?” Kraz bertanya balik.


Ursa tidak menjawabnya. Namun, ia tahu kalau tentunya sahabatnya itu tidak ingin dihentikan. Buktinya adalah bahwa ia masih berusaha meski sudah babak belur dan tahu lawannya jauh lebih kuat darinya.


“Pemuda itu kuat. Siapa dia?”


“Arcturus Bootes. Salah satu anggota dari regu khusus Spring Triangle dan The Great Diamond. Dia juga adalah seorang Hunter Warrior.”


Kening Ursa berkerut dalam. “Hunter Warrior?”


Duuar!


Ledakan terjadi lagi, mengalihkan Ursa dan Kraz kembali ke perkelahian antara Alpha dan Arcturus. Kali ini Alpha sudah tergeletak tak berdaya di halaman. Tubuhnya babak belur. Darah mengalir tidak hanya dari bibirnya, tetapi juga kepalanya. Dari pergerakannya yang terlihat penuh kesakitan bisa dipastikan kalau beberapa tulangnya patah.


“Dia sudah kalah?!” Ursa terkesiap tak percaya.


“Arcturus adalah orang yang sangat kuat. Dia pemegang lencana putih. Ia juga termasuk genius di militer. Misi yang dijalankannya bersama timnya hampir selalu berhasil dan itu semua adalah misi besar.”


“Dia sehebat itu?”


Kraz menganggukinya. “Tapi, baru-baru ini ia gagal dalam sebuah misi. Aku yakin itu tak terbayangkan olehnya hingga membuatnya sangat kesal seperti ini.”


Mendengar itu membuat Ursa terperangah. “Jadi maksudmu dia melampiaskannya pada Alpha?”


“Entah.” Kraz mengedikkan bahunya. “Mungkin gara-gara itu atau mungkin juga hanya karena ia tidak menyukai manusia campuran. Atau bahkan keduanya. Namun, yang jelas kutahu adalah misi yang gagal dituntaskannya adalah menguak kebenaran Anser Vulpecula.”


Ursa membelalak tak percaya. Secara tidak langsung Kraz mengatakan bahwa merekalah penyebab gagalnya misi Arcturus. Bila digabungkan juga dengan ketidaksukaan Arcturus terhadap manusia campuran maka jelas perkelahian itu hanyalah bulan-bulanan Arcturus terhadap Alpha.


“Pemuda itu sudah kalap! Ia tidak berniat memberi ampun pada Alpha!” jerit Ursa menyaksikan Arcturus yang hendak menghantam Alpha dengan kaki yang berlapis kekuatan cahaya.


Alpha berguling untuk menghindar. Ia lalu melompat berdiri. “Delta Velorum : Hammer Crash!” serunya kala membuat palu besar dari cahaya yang kemudian dihantamkan pada Arcturus.


Namun, lawannya tak bergeming. Perisai di atas kepala melindunginya dari gempuran palu Alpha. Arcturus malah membuat lengan cahaya. Ia meninju Alpha dengan lengan besar tersebut, membuat pemuda campuran itu terpelanting jauh ke jalan.


Hop.


Alpha tidak jadi jatuh. Sebuah rantai cahaya yang mengikat lehernya tiba-tiba muncul dan menariknya. Tubuh Alpha yang lemas ditangkap oleh lengan cahaya besar dengan lembut.


Algollah pelakunya. Ia yang menyelamatkan Alpha. Algol menyerahkan Alpha kepada Okul yang juga datang bersamanya untuk dijaga sementara ia berjalan mendekati Arcturus. Ia mengangkat kedua tangannya tanda tidak ingin melakukan perkelahian.


“Arcturus,” panggilnya tanpa embel-embel kesopanan seperti mister atau tuan.


Arcturus yang mengenali Algol dan tahu sepak terjangnya di militer segera menghilangkan kekuatan cahayanya. Ia tidak ambil pikir dengan sikap Algol yang tak memberinya perlakuan hormat atas statusnya yang tidak hanya lebih elite di militer tetapi juga karena dirinya masihlah seseorang dari keluarga bangsawan. Arcturus berasumsi bahwa Algol menganggapnya tak lebih dari seorang pemuda berbakat.


“Mr. Algol. Aku tidak ingin basa-basi membuat alasan. Kalau kau menuduhku aku sudah menjadikan bawahanmu sebagai bulan-bulananku, maka ya, aku akan mengakuinya.”


“Senang mendengarmu berkata jujur,” ucap Algol. “Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini, jadi akan kuabaikan pikiran nyelenehku bahwa kaulah yang sengaja memulai semua ini.”


Arcturus tahu kalimat itu bermaksud menyindirnya, tapi ia tak memedulikannya. “Syukurlah kalau kau berniat begitu,” ujar Arcturus seraya melewati Algol.


Akan tetapi ia tidak jadi keluar dari halaman rumah yang semula megah itu karena datang sekelompok prajurit yang menghadangnya di pintu gerbang. “Jangan pergi! Kalian bertanggung jawab atas keributan ini!” kata salah satu dari mereka.


“Ini hanya perkelahian biasa antar teman. Kalian tidak perlu ikut campur,” balas Arcturus dingin.

__ADS_1


Ursa mendelik muak mendengar kata teman disebut oleh Arcturus. Ia mencibir pemuda itu tanpa suara. ‘Dari mananya yang teman atas perbuatannya tadi?!’


Prajurit yang bicara tadi tidak yakin untuk melepaskan Arcturus. Ia melirik rumah di belakang yang rusak parah akibat pertarungan tadi. “Kalian sudah merusak properti. Kalian harus ganti rug—”


“Ah. Jangan dipikirkan. Rumah itu adalah milikku. Aku memang berencana menghancurkannya sejak awal karena rumah itu sudah tua.”


“Ta-tapi, rumah itu milik keluarga bangsawan Bootes.”


“Aku adalah Arcturus Bootes. Salah satu anggota keluarga bangsawan Bootes. Aku berhak melakukan apa yang kumau pada rumah itu. Berhenti sok cari kesibukan di sini. Pergilah,” tukasnya pedas.


Para prajurit yang berubah kelabakan karena telah menghalangi seorang Bootes pun langsung salah tingkah. Mereka menunduk minta maaf dan lalu pergi dari sana dengan segera.


Arcturus melirik Alpha yang sekarang tak sadarkan diri, lalu menoleh pada Ursa yang kebetulan ada di dekatnya. “Aku akan membiayai—”


“Tidak perlu, Kawan. Simpan saja uangmu untuk membeli pakaian baru yang mewah sebagai ganti atas rusaknya pakaianmu hari ini. Lagian, temanku tidak membutuhkan pengobatan hanya karena luka seperti itu,” sergah Ursa dingin sambil mencengkeram bahu Arcturus.


Arcturus tidak menanggapi apa-apa atas penolakan berdasarkan harga diri itu. Ia keluar ke jalanan, menghampiri kereta kudanya yang ternyata masih menunggu dan pergi dari sana setelah menitahkan kusirnya untuk menghela kudanya cepat.


“Kraz. Kau berkewajiban menjelaskan kejadian ini padaku dan Kapten Algol,” tuntut Okul.


“Mengerti.”


...***...


Ckrik. Ckrik. Ckrik.


Alpha cemberut sepanjang waktu Diphda merapikan potongan rambut bagian belakangnya. Sekarang ia sudah berambut pendek, tetapi rambut depannya yang menguntai sampai sebatas pipi dibiarkan tetap panjang. Alpha bersikeras tidak ingin menghilangkan warna aqua rambutnya yang tinggal sedikit itu.


Agol yang sudah mendengar cerita lengkapnya dari Kraz terus berusaha menahan tawa. Dia sudah tertawa, tapi belum bisa juga menghilangkan rasa geli yang hinggap di dirinya setelah menilai kalau perkelahian yang mengakibatkan pemuda itu babak belur sangatlah konyol. Hanya gara-gara rambut terpotong, ulangnya geli tak jemu-jemu.


“Hunter Warrior, mereka adalah orang-orang terpilih yang memiliki misi berbahaya. Prajurit biasa hanya bertarung di dalam wilayah kota atau paling jauh sampai ke perbatasan Padgontry dan Darkotry, tapi Hunter Warrior biasanya masuk lebih dalam ke wilayah Darkotry untuk memburu ramplite.”


“Bukan sembarang ramplite, melainkan mereka yang jadi pemimpin sebuah kelompok atau juga ramplite golongan satu, bahkan juga ramplite yang sempurna,” sambung Okul. “Satu dekade terakhir ini ramplite mengalami perkembangan pesat. Mereka semakin terorganisir dalam kelompok-kelompok kecil. Dengan begitu mereka merencanakan penyerangan yang tidak mudah. Untuk menangani itulah Hunter Warrior dibentuk.”


“Hunter Warrior adalah pasukan khusus yang berada di bawah komando langsung Sir Puppis. Beliau jugalah yang membentuk pasukan itu sesaat setelah menjabat sebagai komandan tertinggi. Anggota-anggota yang dipilih masuk ke dalamnya adalah orang-orang elite dengan kemampuan yang kehebatannya tidak perlu ditanyakan lagi. Arcturus Bootes, yang Alpha lawan hari ini hanya salah satu dari sekian banyak orang-orang hebat di sana,” pungkas Algol.


“Pantas,” gumam Ursa.


Alpha berwajah masam. Ia tidak tahu sama sekali kalau lawannya memiliki kapasitas yang bagus. Menantang Arcturus dengan kemampuannya yang sekarang seperti mengajukan diri sebagai samsak tinju. Alpha mengepalkan tangannya kesal.


Diphda berkacak pinggang dengan hasil potongannya terhadap rambut Alpha. Ia tersenyum puas. “Sudah selesai.”


Alpha melihat tampilan barunya di cermin tangan yang ia pegang sejak tadi. Ia jadi kelihatan lebih maskulin dengan model rambutnya yang sekarang. Meskipun ia sangat menyayangkan telah kehilangan rambut birunya, akan tetapi penampilan itu tidaklah seburuk yang ia duga.


“Mengenai itu, Mr. Algol, bukankah dulu kau sempat menjadi anggota Hunter Warrior?” tanya Diphda sambil menyapu sisa-sisa rambut Alpha di lantai.


“Eh?! Kapten pernah?” Ursa terkejut.


“Hanya sebentar. Sangat sebentar. Aku keluar karena misi-misi itu terlalu berbahaya untukku,” tukasnya cuek.


“Itu sudah membuktikan kalau kau adalah orang yang kuat.”


“Aku tidaklah sekuat yang kau bayangkan, Ursa. Kalau benar aku kuat maka aku tidak akan kalah telak dari Enceladus waktu itu,” kata Algol.


Alpha menarik kembali ingatan waktu mereka melawan Enceladus. Mereka berdua memang benar-benar dihabisi oleh manusia biasa yang sangat misterius itu.

__ADS_1


“Ah—Enceladus!” Algol tiba-tiba berseru. Ia bahkan sampai berdiri gara-gara itu. “Sejak mendengar namanya aku selalu merasa kalau nama itu tidaklah asing. Sekarang aku mengingatnya! Aku pernah dengar nama itu sewaktu masih menjadi anggota Hunter Warrior. Dia salah satu orang yang diburu,” celutuk Algol.


Pria yang berada di akhir usia tiga puluhan itu berjalan mendekati Ursa. “Luxco mengatakan kalau Enceladus adalah orang yang memimpin penyerangan ke desamu, kan?” tanyanya menggoyangkan bahu Ursa.


“Y-ya.”


“Prediksi Sir Puppis ternyata benar! Sedari awal, jauh sebelum Desa Mayall diserang, beliau sudah memiliki firasat bahwa desa itu menyimpan sesuatu yang menarik perhatiannya. Hal itu didasarkan karna Desa Mayall sangat menutup diri. Jadi, tidak mengherankan kalau beliau juga langsung menangani masalah penyerangan desa itu secara khusus.”


“Yang artinya, Kapten, itu membuat kita tak kalah elite dari pasukan Hunter Warrior?” Kraz coba-coba mengajukan pemikirannya.


“Hahaha! Benar! Tidak salah lagi!” balasnya. “Dulu aku sempat heran mengapa aku dan kalianlah yang ditunjuk dalam misi mengawasi tawanan yang hanya bocah, sekarang aku paham alasannya. Bagaimanapun juga kalian bertiga adalah orang-orang yang hebat.”


Alpha mendengus sangsi. “Benarkah? Kukira kalian hanya orang-orang yang tidak becus melaksanakan misi sehingga ditugasi dengan hal remeh begini.”


Diphda menoyor kepala Alpha dengan sapu yang digenggamnya. “Kau yang tidak tahu apa-apa jangan asal bicara. Aku mungkin tidak terlalu hebat jika dibandingkan dengan mereka, tapi Kapten Algol, Okul, Kraz, mereka—”


“Tidak ada gunanya mengatakan itu.” Okul memotong, tidak tertarik mengumbar masa lalu untuk dipamerkan. Ia menatap lurus Alpha. “Daripada itu, apa kau baik-baik saja, Alpha? Kita akan kembali ke Milky Way besok. Kalau keadaanmu tidak memungkinkan maka terpaksa kita akan—”


“Tidak perlu menundanya. Aku sudah merasa cukup berada di kota ini. Besok juga kita tetap bisa berangkat ke Milky Way,” sahut Alpha tangkas.


“Bukannya kau mengakui bahwa beberapa tulang rusukmu patah? Kau juga merasakan kaki kananmu mengalami keretakan,” tukas Kraz.


“Memang. Tetapi, jika aku membonceng salah satu dari kalian aku akan baik-baik saja. Kalau hanya patah rusuk dan tulang retak aku masih bisa bergerak. Aku juga bisa sedikit menanganinya dengan kekuatan cahayaku.”


“Huh?” Kraz bingung, gagal paham dengan maksud perkataan Alpha.


“Sebagai Guardian kami tidak diperbolehkan mengasihani diri sendiri, apalagi hanya gara-gara patah tulang. Kami sudah diberikan pengetahuan untuk mengakalinya, yaitu dengan menopang tulang yang patah menggunakan kekuatan cahaya. Karena bila kami tidak mampu melakukan itu saat berada dalam pertarungan maka kami bisa kalah. Karenanya, penanganan pertama pada diri sendiri menjadi kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh kami sebagai anggota Guardian.” Alpha memaparkan.


“Wow. Itu keren,” puji Diphda tanpa pikir.


“Tentunya!”


“Kalian tidak diajarkan itu sebagai prajurit?” tanya Ursa.


“Diajarkan, tetapi hanya hal-hal yang sangat mendasar, tidak sampai sejauh itu,” jawab Kraz. “Dan biasanya dalam satu regu pasti setidaknya ada seseorang yang memiliki kemampuan medis.”


“Tapi di regu ini tidak ada,” sergah Ursa.


“Karena ini bukan regu seperti pada umumnya. Melainkan kelompok kecil yang dikhususkan untuk mengawasi kalian, para tawanan.”


“Tapi, karena ada Alpha di regu ini kita tidak perlu khawatir lagi, kan?”


“Kau salah, Ms. Diphda. Aku hanya bisa menggunakan kemampuanku pada diriku sendiri. Selebihnya yang kutahu tentang pengetahuan medis juga tidak lebih banyak dari kalian.”


“Ha... sayang sekali.”


“Lagi pula, sekalipun aku bisa menggunakan teknik medis aku tidak mau menggunakan kemampuan itu untuk menyembuhkan kalian, sebab pada saat itulah kesempatan yang bagus untuk kabur,” imbuh Alpha.


“Sekalinya kau bisa menggunakan kemampuan medis pun, kami tidak akan meminta bantuan darimu, karena daripada menolong kami kau mungkin justru lebih merusak tubuh kami,” balas Algol sinis.


Alpha meyeringai menanggapinya. “Tentunya... karena kita tidak benar-benar saling percaya satu sama lain. Bagaimanapun hubungan kita adalah pengawas dengan tawanannya.”


“Tepat seperti yang kau katakan.”


...***...

__ADS_1


__ADS_2