
Perjalanan saat hari terang jauh lebih ringan. Mereka beberapa kali beristirahat untuk mengembalikan tenaga atau sekadar mengisi perut dengan air-air sungai yang ditemui. Tidak lama dan setelah itu kembali melanjutkan perjalanan.
Kali ini Ursa tak berjalan di belakang. Ia bersisian dengan Luxco. Ada banyak hal yang ingin dibicarakannya dengan laki-laki tersebut.
“Oh, jadi kau sudah tahu kondisi penduduk desa kita secara umum?”
“Ya. Berkat kami tidak sengaja bertemu mereka. Aku dan Alpha juga sudah memiliki belati Guardian serta kalung kristal ajaib itu. Aku menemukanmu dekat desa waktu itu juga berkat kristal ajaib ini.”
“Mengejutkan, bukan? Bahwa ternyata desa kita memiliki kristal sehebat itu. Aku juga baru mengetahuinya setelah ditunjuk sebagai Guardian resmi.”
Ursa melirik kalung yang dipakai Luxco. Laki-laki itu tidak mengenakan hanya sebuah kalung, melainkan empat buah, yang mana tiga lainnya rusak sebagian. “Luxco, kalung-kalung itu...”
“Ah, ini.” Luxco menggenggam liontin-liontin kalungnya. “Yang masih utuh adalah milikku, sedangkan yang lain milik mereka bertiga. Aku menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Dengan begitu aku masih merasa kalau mereka juga sedang menjalankan misi bersamaku.”
“Kau masih belum merelakan kematian mereka.”
Wajah Luxco mengeras. “Tentu saja. Aku tidak akan tenang sebelum membalaskan kematian mereka.”
Malam itu Ursa tidak melihat siapa Enceladus, tapi dari apa yang didengarnya dari Kraz dan Diphda ia tahu kalau dia adalah laki-laki yang sangat kuat. Terlebih lagi dia manusia biasa yang mustahilnya bisa menggunakan kekuatan cahaya.
“Luxco, apakah jika kau mengejar Enceladus kau menanggung risiko mati?”
“Kemungkinan besarnya iya. Dia adalah sosok terkuat yang pernah kuhadapi. Dibandingkan enam tahun lalu dirinya yang sekarang jauh lebih kuat.”
“Siapa sebenarnya Enceladus?”
“Dia orang yang menewaskan ketiga sahabatku enam tahun yang lalu. Dia juga adalah pemimpin yang menyerang desa kita lima tahun lalu.”
Ursa terbelalak mendengar pengakuan itu.
“Aku tidak tahu apakah dia bos besarnya atau bukan, tapi jelas dia adalah orang yang penting melihat bagaimana ia sangat dihormati. Dan dalam pengejaran penduduk desa kita Enceladus hanya mengincar para petinggi atau orang-orang yang penting. Itulah yang kuamati setelah mengejarnya selama ini,” sambung Luxco.
Ursa termenung. Ia tengah berpikir. Pikirannya kembali berkutat dengan apakah yang sebenarnya diincar oleh para ramplite di desa mereka. Teorinya dulu menyebutkan kalau kemungkinan itu adalah seseorang. Tetapi semalam anak buah Enceladus menyebutkan bahwa yang dicari adalah ‘itu’ bukan seseorang.
“Omong-omong, Ursa, kau juga memiliki kalung lain, kan? Seingatku itu adalah kalung yang kau katakan sebagai jimat pelindungmu,” ucap Luxco tiba-tiba.
Ursa mengeluarkan kalung lusuh dengan liontin tiga anak rantai miliknya. “Ini ya... karena kalung ini sudah beramaku sejak bayi maka aku menganggapnya begitu.”
“Hee... apakah kalung itu memiliki sebuah makna khusus? Peninggalan seseorang yang penting atau mungkin pengingat atas suatu peristiwa, misalnya.”
“Tidak. Ini bukan kalung yang begitu spesial,” balas Ursa. “Nenek yang membesarkanku bilang kalau dia menemukanku di pinggir hutan sudah dalam keadaan memakai kalung rantai ini. Saat itu aku juga tidak sendirian, melainkan dijaga oleh seekor anak beruang yang terluka, sayang anak beruang itu mati akibat luka lamanya waktu aku masih dua tahun. Itulah yang diceritakan nenekku.”
“Keren. Jadi, semisal anak beruang itu masih hidup maka selain kalung rantai itu akan ada beruang yang selalu mengikutimu?”
Ursa tertawa ringan. “Bukan mustahil,” ujarnya, “sayangnya dia sudah mati. Kurasa nama yang diberikan padaku juga untuk menghargai kesetiaan beruang yang menjagaku itu, makanya aku bernama Ursa.”
“Hahaha. Bisa begitu juga, ya.”
Mereka terus berjalan.
Syukurlah mereka tidak bertemu dengan ramplite yang menyerang. Perjalanan panjang mereka cukup damai. Menjelang sore hari mereka telah sampai di kota utama Kota Bode.
Sesuai dengan protokol, para pengungsi itu masih belum mendapatkan izin memasuki kota. Mereka dibiarkan menunggu di pinggiran kota dengan berisitirahat di bawah pohon-pohon teduh. Hanya prajurit yang diizinkan memasuki kota. Kecuali Ursa dan Luxco yang hanya luka ringan, para prajurit masuk ke kota untuk mendapatkan perawatan pada luka-luka mereka.
Okul memimpin prajurit itu melaporkan kejadian-kejadian apa yang telah dialami pemukiman tersebut. Mereka melaporkan dengan rinci mengenai Anser dan apa yang telah diperbuatnya, serta juga mengenai Enceladus yang misterius.
__ADS_1
Berita tentang Enceladus yang mampu menggunakan kekuatan cahaya menggemparkan markas militer Kota Bode.
Namun, berita itu dicegah menyebar keluar markas demi menahan kehebohan. Dikarenakan informasi mengenai Enceladus masihlah sangat minim Okul meminta agar komandan markas tersebut mengesampingkan hal tersebut dan lebih memperhatikan para penduduk yang mengungsi.
“Kau memerintahku?!” bentak sang komandan pada Okul.
“Maafkan aku atas kelancanganku, Sir Aldebaran. Sungguh, aku tidak bermaksud memberikan perintah kepadamu. Namun, alangkah baiknya jika kau memberikan mereka belas kasihan, karena bagaimanapun kau adalah komandan militer tertinggi di Kota Bode ini.”
“Akulah yang akan menentu—”
“Lakukan seperti yang dikatakannya, Aldebaran.”
Sebuah suara yang sangat berwibawa menginterupsi pembicaraan penting tersebut. Okul yang juga tahu siapa pemilik dari suara khas itu berbalik cepat dan bersimpuh memberi salam. Begitu pula dengan Aldebaran, ia keluar dari mejanya dan bersimpuh.
“Selamat datang di markasku ini, Sir Puppis,” kata Aldebaran sangat menekankan kesopanan suaranya. “Sesuai perintahmu, aku akan memberikan bantuan kepada mereka. Akan tetapi hanya sejauh itu, Sir. Aku tidak bisa membiarkan mereka masuk ke kota atau hal itu akan menimbulkan kericuhan bagi penduduk lain.”
“Baiklah. Asal kau memberikan bantuan yang layak untuk mereka. Biarkan juga mereka mendirikan tenda-tenda di luar kota ini.”
“Ya, Sir. Akan kuperintahkan anak buahku untuk itu,” jawab Aldebaran khidmat. “Maafkan ketidakpantasanku dalam menyambutmu, Sir, tapi aku ingat tidak menerima kabar apa pun bahwa kau akan berkunjung ke markasku hari ini.”
“Kau tidak salah. Urusanku adalah dengan Walikota di sini. Aku hanya mampir ke sini setelah mendengar bahwa regu Algol mendatangi kota ini dan terlibat masalah di sini.”
“Benar, Sir. Tengah malam tadi seorang pemuda datang ke sini dengan membawa Mr. Algol yang terluka parah. Keduanya kini berada di rumah sakit. Mereka mendapatkan perawatan yang layak.”
“Tetap berikan Algol dan regunya perawatan terbaik. Mereka berada langsung di bawah perintahku.”
“Tentu, Sir. Sesuai perintahmu.”
Puppis lalu melirik Okul. “Wakilnya Algol, ikutlah denganku dan katakan berita yang kau dapatkan dari perjalananmu.”
Puppis meninggalkan ruangan itu. Aldebaran dan Okul kembali berdiri tegak. Lalu, setelah memberikan salam hormat kepada Aldebaran yang memiliki posisi lebih tinggi darinya Okul pamit undur diri untuk mengikuti Puppis.
...***...
Okul kembali lebih lama dibandingkan Diphda dan Kraz karena ia harus melaporkan misi mereka kepada Puppis. Termasuk di dalamnya sedikit memori yang diingat Ursa, fakta bahwa hari itu mereka ditolong oleh seorang ramplite, tentang nama-nama rekan Alpha-Ursa sesama Guardian. Mengenai Anser Vulpecula serta pil doping buatannya. Juga tentang Luxco dan Enceladus.
Okul tidak datang seorang diri. Ia membawa serta beberapa prajurit yang membawakan logistik untuk para penduduk. Para prajurit itu juga membantu mendirikan tenda-tenda pengungsian. Ada juga beberapa dokter dan perawat yang ditugaskan untuk mengobati yang terluka. Okul menggantikan Algol memimpin semua itu.
Okul mengamati dengan puas semua yang diperintahkannya telah dikerjakan dengan baik. Diphda lalu menghampirinya bersama Kraz.
“Bukankah sudah saatnya menjenguk Kapten, Okul.”
“Ya,” jawab Okul.
“Oi, Ursa. Kau mau ikut kami ke markas militer, kan? Kami mau menjenguk Kapten Algol dan Alpha,” beri tahu Kraz.
“Yaaa!” seru Ursa membalas. Ia meletakkan kotak berisi bahan pangan yang dibawanya dengan segera dan ingin bergegas menyusul, tapi Luxco menghadangnya. “Ada apa?”
“Aku akan pergi dari sini sekarang juga.”
“Eh? Ke mana?”
“Tujuanku adalah mengalahkan Enceladus. Aku akan mencarinya ke mana pun itu. Bila aku bertemu dengan sesama penduduk desa kita aku tetap akan membantu. Kalian juga, bantulah penduduk desa kita sebisa kalian dengan cara kalian. Titip salamku untuk Alpha. Aku yakin kita akan bertemu lagi, cepat atau lambat, jadi... sampai jumpa.”
Ursa mengangguk tegas. “Ya. Sampai jumpa. Jaga dirimu baik-baik, Luxco.”
__ADS_1
Laki-laki itu hanya melambaikan sebelah tangannya. Ursa pun segera bergabung dengan Okul dan lainnya untuk pergi ke kota.
“Apa yang kau bicarakan dengan Mr. Luxco?” Kraz bertanya.
“Kami hanya berpamitan.”
“Sial! Kita harus menghentikannya—”
“Mr. Kraz,” panggil Ursa, “kalian bertiga melawannya pun tetap tidak akan bisa menandinginya. Kau sudah lihat sendiri bagaimana kemampuan Luxco.”
“Aku tidak mau mengakuinya, tapi begitulah kenyataannya...” desah Diphda. “Sebaiknya kita segera melihat kondisi Kapten. Setelah itu makan. Makan malam yang lezat.”
Mereka berempat kembali masuk ke kota. Hari memang telah malam, tetapi jalanan utama kota yang terlalu sepi membuat Ursa terheran-heran. Kota itu sangat berbeda dengan Milky Way maupun Large Magellanic Cloud. Ursa tak berlama-lama memedulikan itu karena ia cemas dengan kaptennya dan juga Alpha.
Mereka diantarkan ke sebuah ruangan khusus di rumah sakit militer yang tak terlalu besar. Algol terbaring tak berdaya dengan perban membungkus hampir seluruh tubuhnya. Deru nafas dari kapten mereka sangatlah pelan dan lambat. Wajahnya pucat pasi. Warna kulitnya pun sedikit membiru. Mereka memandangi sang kapten dengan trenyuh.
“Oh! Kalian berkunjung!” Alpha berseru kaget ketika masuk ke ruangan itu. Di tangannya terdapat nampan berisi set makan malam lengkap.
Ia pun ikut mendekat ke ranjang Algol.
“Masa kritisnya sudah lewat. Selepas pagi nanti kondisinya akan stabil. Setelah itu kita hanya perlu menunggu pemulihannya saja. Lukanya sangat parah, jadi mungkin akan makan waktu cukup lama sampai Mr. Algol bisa kembali normal lagi. Mungkin hanya butuh waktu tiga sampai empat hari agar Mr. Algol sadar. Itulah yang dikatakan Sir Puppis padaku.”
Mereka saling menautkan alis kebingungan mendengar kalimat terakhir Alpha.
“Sir Puppis?” tanya Diphda tak yakin.
“Ya. Dia datang menjenguk sore tadi,” kata Alpha. Ia lalu beralih ke ranjangnya dan duduk di sana. “Dokter yang sebelumnya merawat Mr. Algol melakukan pembedahan pada tubuhnya, dia bilang lukanya terlalu parah, dan ia tidak yakin kalau perawatan serta obat yang diberikannya akan berpengaruh pada Mr. Algol. Lalu, pada saat itulah Sir Puppis mengambil alih. Ia meminta kami meninggalkan mereka berdua. Entah apa yang dilakukan olehnya, tapi saat keluar ruangan Sir Puppis mengatakan kalau Kapten akan baik-baik saja,” perjelas Alpha.
“Sir Puppis juga adalah seorang dokter?” tanya Ursa.
“Tidak tahu,” sahut Kraz.
“Yang kutahu kalau dia itu sangat hebat. Tak kusangka ia juga menguasai ilmu pengobatan. Benar-benar orang terhebat di Earthland.” Diphda memuji.
Jujur saja Ursa terkesan mendengar itu. Sosok penampilan Puppis saja sudah memiliki kharisma dan wibawa yang tak main-main, ditambah lagi kecerdasan dan kekuatannya, lalu sekarang mereka menyaksikan sendiri wawasan luasnya yang menakjubkan.
Yah, semua kecuali Alpha takjub akan pria elok tersebut. Pemuda itu malah dengan santai menikmati makan malamnya dengan diiringi keluhan.
“Tempat ini sungguh buruk! Mereka tidak melayaniku dengan baik gara-gara aku seorang manusia campuran. Bahkan, aku harus mengambil makananku sendiri sekalipun aku adalah seorang pasien!”
“Setidaknya kau dirawat oleh mereka dan tidak ditelantarkan,” sergah Diphda. “Dan yang paling penting Kapten Algol sudah aman sekarang.”
...***...
Author Notes :
Hai... udah sampai sini nih, mohon dukungannya selalu ya... baik itu like, komentar, vote atau yang lain. Tapi udah ada yang baca aja aku seneng kok, tapi kalau tambah dukungan lainnya aku makin seneng & semangat, hehe...
Hari ini ada fun fact lagi nih
Fun Fact :
- Ursa \= beruang. Jadi, namanya Ursa itu berarti beruang dan alasan kenapa namanya adalah beruang udah ada di cerita utama yah. Nama ini aku ambil dari nama konstelasi bintang, yaitu Ursa Major (beruang besar) dan Ursa Minor (beruang kecil), karena menurutku kata Ursa keren kalau dijadiin sebuah nama.
- Terminator (surya) dikenal juga sebagai zona aram atau garis abu-abu adalah garis pengubahan yang memisahkan bagian siang hari dan malam hari pada sebuah badan planet. [Wikipedia]
__ADS_1
Harusnya kusampaikan di bab-bab awal, tapi aku lupa, jadi maaf ya...