Terminator Warrior

Terminator Warrior
Uji Kekuatan


__ADS_3

Mereka semua sudah berada di lapangan markas militer, yaitu lapangan luas yang berada tepat di dalam markas militer. Markas militer berbentuk persegi, terdiri dari empat bangunan yang memiliki tiga lantai. Bangunan paling belakang adalah penjara, bagian permukaan untuk tahanan kelas ringan, sedangkan bagian bawah tanah untuk tahanan kelas berat. Regu Algol meninggali salah satu ruang di bangunan ini.


Bangunan kanan adalah asrama prajurit, tiga lantai dari bangunan tersebut memiliki ratusan kamar. Bangunan kiri merupakan ruang arsip, ruang senjata, serta ruang pendukung kebutuhan militer. Sedangkan bangunan depan yang juga merupakan pintu masuk ke markas militer merupakan kantor.


Sementara itu, bagian kosong di antara keempat bangunan utama dijadikan lapangan dengan empat bagian, dipisahkan oleh jalan berbentuk tanda plus yang di samping kanan kirinya terdapat patung prajurit setinggi tiga meter. Tepat di tengah-tengah jalan terdapat kolam bulat besar. Setiap lapangan tidak hanya lahan luas yang terbuka, melainkan juga ditumbuhi pohon-pohon di sebagian sisinya.


Alpha dan Ursa berhadapan dengan keempat regu Algol di lapangan dekat bangunan kiri, sementara Puppis duduk menyaksikan di lorong depan ruang arsip. Mereka menjadi tontonan dari para prajurit yang tengah berada di markas militer. Uji kekuatan untuk Alpha dan Ursa dilakukan sekali setiap bulan untuk mengukur sejauh mana perkembangan keduanya, sehingga hal itu sudah jadi tontonan rutin.


“Karena uji kekuatan kali ini mempertaruhkan kebebasanku maka aku tidak akan segan-segan!” ucap Alpha sombong.


“Coba saja, Alpha!” tantang Diphda.


Algol tiba-tiba menghentikan Diphda yang hendak menyerang maju. Ia menatap lurus ke arah Alpha dan Ursa.


“Dengarkan aku, kalian berdua,” mulainya, “pertarungan kali ini kami tidak akan menahan diri sama sekali. Untuk mengukur kekuatan kalian yang sesungguhnya maka kami tidak akan sungkan membuat kalian berdua dalam keadaan antara hidup dan mati.”


“Kami selalu bertarung dengan kemungkinan itu, Kapten Algol! Kau mengatakannya atau tidak, sama sekali tidak memengaruhiku.”


Algol tersenyum puas dengan jawaban Alpha.


“Aku tidak benci keberanian tekadmu, Alpha. Tapi ingat kalau aku tidak sayang padamu. Bersiaplah menerima kejengkelanku atas kepercayaan dirimu yang berlebih itu,” kata Okul datar.


“Baiklah! Kuterima tantangan itu!”


Ursa hanya menahan senyum mendengar percakapan tersebut. Ia sudah maklum dengan sikap sombong yang secara alami dimiliki oleh manusia bintang. Selain ciri-ciri fisik mereka yang mempunyai rambut serta mata yang berwarna-warni, kulit putih pucat, memiliki kekuatan cahaya, ciri-ciri lain yang menonjol adalah sikap sombong mereka. Bahkan Alpha, yang walaupun hanya manusia campuran pun memilikinya.


Mungkin fisik manusia bintang lebih unik dan menarik dibandingkan dengan manusia biasa yang memiliki kulit normal, rambut serta warna mata yang gelap—cokelat atau hitam—dan tanpa kekuatan cahaya, namun mereka memiliki keunggulan fisik. Seperti stamina yang lebih besar serta ketahanan tubuh yang lebih kuat.


Sedangkan manusia campuran seperti Alpha, yang sebenarnya jarang ditemui, memiliki ciri fisik yang berbeda dari dua jenis golongan manusia sebelumnya. Akibatnya mereka dipandang lebih rendah gara-gara perbedaan itu. Bahkan tidak jarang mereka yang lahir sebagai manusia campuran memiliki kecacatan. Orang yang lahir tanpa kekurangan, dengan fisik sempurna dan kekuatan cahaya yang tidak lemah sangatlah jarang. Alpha salah satunya.


“Ursa, sudah siap?”

__ADS_1


“Aku mungkin tidak memiliki kekuatan cahaya, tapi kecepatanku tidak kalah dari kalian yang memilikinya. Kapan pun kau memberi komando aku akan langsung bergerak,” jawab Ursa.


“Baiklah. Dalam hitungan ketiga. Satu... dua... tiga—sekarang!”


Ursa segera melemparkan peledak ke arah kelompok Algol. Ledakan keras terdengar. Meskipun radiusnya hanya sekitar tiga meter, namun asapnya tebal.


Menggunakan kesempatan itu, Ursa melempar jarum-jarum besi ke arah mereka. Asap menipis, menunjukkan kalau serangan beruntun Ursa tidak berpengaruh karena lawannya dengan cepat telah membuat perisai dari kekuatan cahaya mereka. Jarum-jarum Ursa berjatuhan di tanah.


Perisai mereka transparan dan warnanya menyesuaikan kekuatan cahaya mereka. Milik Kraz berwarna kuning. Diphda oranye kemerahan. Okul mempunyai warna cahaya biru. Algol tidak menggunakan kekuatan cahayanya, ia hanya berpindah ke belakang Kraz.


Tapi mereka berempat dikejutkan dengan serangan Alpha dari samping kiri. Pemuda itu menebaskan pedang yang sudah dilapisi kekuatan cahayanya yang berwarna biru keputihan. Serangan Alpha memang tidak sampai mengenai salah satu dari mereka, namun cahaya yang melapisi pedangnya terempas ketika ia menebas sehingga meluncur cepat ke arah kelompok Algol.


“Delta Velorum : Wind Slash!”


Kraz yang berada di sisi luar menghadapi serangan tersebut dengan sigap. Ia telah menghilangkan perisai cahayanya, ia mengubahnya menjadi pelapis di pedangnya, sama seperti milik Alpha. Pedang berbalut cahaya kuning itu menahan serangan Alpha hingga mementalkannya ke samping.


“Sayang sekali, huh.”


Jarum-jarum yang tadi dilemparkan Ursa terbang mengelilingi kaki mereka berempat layaknya kupu-kupu. Sementara itu Ursa berlari memutari mereka. Okul melihat ke bawah.


“Jadi begitu. Lemparan jarum yang pertama tadi ditujukan untuk serangan ini, ya?”


“Memang sudah sepantasnya jarum berpasangan dengan benang, kan?” Ursa berteriak masih sambil berlari.


“Yang seperti ini tidak ada pengaruhnya untuk kami.” Okul menghunuskan pedangnya pada benang yang terikat ke jarum. Ia memotongnya. Tapi benang itu tidak putus. “Huh?”


“Benang itu terbuat dari serat khusus. Terlebih lagi sudah dilapisi dengan kekuatan cahaya Alpha. Tujuannya bukan untuk menghentikan kalian, tapi untuk...” Ursa menarik benangnya, “...ini!”


Mereka berempat terjatuh, saling tindih.


Alpha tidak membiarkan mereka begitu saja. Ia membuat palu yang sangat besar dari kekuatan cahayanya. Lalu dengan sekuat tenaga dihantamkannya kepada kelompok Algol.

__ADS_1


“Delta Velorum : Hammer Crash!”


Suara dentuman keras menggema ke seluruh lapangan. Palu Alpha menghilang. Empat orang yang dihantamnya tidak lebih menderita kecuali luka lecet-lecet. Mereka mengenakan armor cahaya sebagai pelindung. Serangan Alpha tidak mempan.


Malahan Diphda baru meregangkan otot-otot tangannya. “Baiklah, saatnya berhenti diam di tempat dan menyaksikan pertunjukan kalian. Waktunya membalas.”


Kelompok Algol terbagi menjadi dua. Kraz dan Algol berhadapan dengan Alpha. Sedangkan Ursa dihadapi oleh Diphda dan Okul.


Diphda mengeluarkan pedangnya. Dengan sekali genggam pedang tersebut langsung dilapisi cahaya oranye kemerahan miliknya. Cahayanya menyala-nyala, menjadikan pedang itu seperti terbakar. Ursa melangkah mundur melihat pedang yang diarahkan padanya tersebut. Tidak hanya kelihatannya saja, namun tebasannya memang bisa membakar apa saja yang dikenainya.


Diphda mengambil nafas, lalu mengembuskannya saat dia hendak menyerang. “Beta Ceti : Fire Slash!”


Swosssh!


Tebasan Diphda mengeluarkan api yang mengarah ke arah Ursa. Ursa berlari kencang berusaha menghindarinya. Tapi Okul tidak diam saja. Ia juga menyerang Ursa selagi pemuda itu menghindar.


“Pi Capricorni : Blast Ball.”


Okul mengarahkan bola-bola kecil berwarna biru keputihan ke arah Ursa. Pemuda itu menangkisnya dengan pedang, namun bukannya terhindar dari serangan, akibat perbuatannya tersebut bola-bola dari Okul justru meledak. Ursa terpental beberapa meter ke belakang hingga menabrak patung prajurit.


“Sial!” Ia mengumpat kesal ketika menyadari api serangan dari tebasan pedang Diphda masih mengarah kepadanya.


Ursa bergegas bersembunyi di balik patung prajurit.


Patung itu terbakar. Ursa baru saja akan merasa lega, namun akibat panas patung batu itu mengalami keretakan hingga hancur. Ursa berhasil menghindari reruntuhannya. Malahan ia berhasil mengambil tombak dan perisai dari patung tersebut.


“Hah... hah...! Ini tidak adil. Dua manusia bintang melawan seorang manusia biasa yang masih anak-anak. Tidakkah kalian terlalu jahat?”


“Kau yang mengatakan kalau akan mengerahkan seluruh kemampuanmu, jadi kami juga tidak akan segan-segan,” balas Diphda.


Pedangnya telah tersarung, Ursa kini berganti senjata memakai tombak dan perisai. Ia membatin, ‘Aku tidak akan kalah meski aku tidak memiliki kekuatan cahaya.’

__ADS_1


...***...


__ADS_2