Terminator Warrior

Terminator Warrior
Alpha dan Ursa


__ADS_3

Mayall merupakan sebuah desa di Earthland. Sebuah desa yang terletak di ujung timur dari daratan luas tersebut. Desa itu tidak besar seperti desa-desa lainnya, tetapi sangat makmur dan subur. Selain itu, mereka memiliki hasil tambang yang menakjubkan. Batu cahaya merupakan hasil tambang paling terkenal dari desa tersebut. Tidak hanya indah, melainkan memiliki kualitas terbaik di seluruh negeri.


Batu cahaya merupakan batuan yang di dalamnya tersimpan kekuatan cahaya yang diserap oleh alam. Batu itu mampu mengeluarkan cahaya terang dengan warna beraneka ragam. Batu cahaya juga adalah alat penerangan yang lebih ramah lingkungan dan populer jika dibandingkan dengan lampu minyak. Batu tersebut akan bercahaya sendiri jika terkena paparan kegelapan dan mati saat terpapar terang. Praktis dan indah.


Sayangnya, batu cahaya dari Desa Mayall hanya sekadar omongan lama sejak desa itu hancur lima tahun yang lalu. Seperti api tanpa asap, tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi dengan desa tersebut ketika tiba-tiba ditemukan sudah hancur tanpa penduduk oleh prajurit yang berpatroli. Namun, ada banyak keanehan dari hancurnya desa tersebut. Misalnya saja menghilangnya penduduk desa, korban tewas yang terlalu sedikit, tujuan penyerangan desa yang belum diketahui, serta dalang dari penyerangnya.


Penyerangan Desa Mayall merupakan sebuah misteri.


Pihak kerajaan Negeri Earth yakin kalau itu bukanlah penyerangan yang hanya sekadar untuk memperluas wilayah para ramplite sebab mereka tidak mengambil alih desa tersebut. Pasti ada tujuan dari dihancurkannya desa tersebut. Hanya saja mereka tidak mengetahui apa tepatnya itu.


Dan satu-satunya petunjuk yang militer miliki adalah dua anak laki-laki yang saat itu ditemukan masih dalam keadaan hidup. Akan tetapi, mereka mengaku tidak terlalu ingat dengan kejadian di hari penyerangan itu.


Kedua anak laki-laki dari Desa Mayall tersebut bernama Alpha dan Ursa. Keadaan mereka ketika ditemukan terluka cukup parah, termasuk luka di kepala. Mereka tidak sadar selama beberapa hari setelah dibawa ke markas militer. Setelah mereka sadar pun mereka tidak mengingat banyak hal kecuali bahwa desa mereka telah diserang dan saat itu mereka tengah bertarung.


Demi mendapatkan petunjuk dari mereka kedua anak itu ditahan oleh kerajaan sebagai tawanan. Mereka diawasi oleh regu khusus yang ditugaskan untuk memantau mereka serta mencari tahu misteri-misteri di balik penyerangan Desa Mayall. Sayang ingatan mereka mengenai detail kejadian penyerangan hari itu tak kunjung membaik dan seiring waktu berjalan mereka berdua malah menjadi bagian dari regu tersebut.


...***...


Alpha menatap buku tebal di hadapannya dengan malas. Ia sudah berjam-jam membaca buku tersebut dan sekarang matanya lelah. Rambutnya yang hitam dengan aksen warna aqua di bagian ujungnya ia acak dengan frustrasi. Matanya yang berbeda warna—kanan hitam sedang kiri berwarna aqua—dipejamkan erat-erat. Ia lalu meregangkan tangannya ke atas.


“Aku tidak tahan lagi! Tugas membaca ini sama sekali tidak seperti perkerjaan seorang prajurit!” keluhnya keras-keras, membuat Ursa yang fokus di sampingnya tersentak kaget.


Plak!


“Aww—sakit!” Alpha menjerit ketika kepalanya ditampar keras dari belakang. Ia melirik jengkel pada si pelaku, Okul Capricornus, yang berwajah datar.

__ADS_1


“Lakukan tugasmu seperti yang diperintahkan. Kau ini bukan prajurit, hanya tawanan yang berseragam prajurit. Ingat itu.” Okul berkata dingin.


“Hei, hei, jangan terlalu kaku begitu, Wakil Kapten. Walaupun begitu Alpha juga adalah anggota dari regu ini.” Seorang prajurit perempuan bernama Diphda Cetus membela Alpha.


“Tapi, Ms. Diphda, selama kami di sini kami tidak pernah melakukan tugas seorang prajurit. Kami hanya membaca arsip dan kadang-kadang menjadi sipir penjara dadakan,” ujar Alpha.


“Itu sudah jelas, kan? Karena kita tidak saling percaya.” Seorang pria bangkit dari tidurnya di kursi-kursi yang dijadikan satu dari balik meja panjang. Ia meregangkan tangan ke atas sambil menguap lebar. “Aaah... tidur yang nyenyak.”


Namanya Kraz Corvuz, juga salah seorang anggota regu khusus yang mengawasi Alpha dan Ursa. Ia mengacak rambutnya yang berwarna pirang terang. “Kalau saja kalian memberikan informasi yang lebih berguna, mungkin saja kalian akan benar-benar dijadikan prajurit resmi.”


“Kami terus menjawab hal yang sama karena memang tidak ada yang kami sembunyikan.” Ursa membalas.


“Kalian selalu berhati-hati setiap interogasi dilakukan, mustahil kalian tidak menyembunyikan sesuatu, pasti ada satu atau dua hal. Akan tetapi, kesampingkan dulu hal itu. Hal yang justru membuatku penasaran adalah mengapa kalian bisa melihat pemandangan yang berbeda padahal saat itu kalian tengah bersama-sama di tempat yang sama.”


Alpha dan Ursa saling pandang mendengar perkataan Diphda. “Maksudmu adalah mengapa aku melihat cahaya putih menyilaukan sebelum kesadaranku hilang, sedangkan Ursa malah melihat kegelapan yang sangat pekat, begitu?”


“Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian hari itu?” Okul bertanya penuh selidik.


Ursa menggeleng. “Kami tidak tahu apa-apa. Ketika aku berusaha mengingatnya pun, aku hanya mampu mengingat kegelapan saja.”


“Begitu juga denganku,” sahut Alpha.


Memang benar, gara-gara ingatan Alpha dan Ursa yang hanya mentok sampai di sana penyelidikan tentang penyerangan Desa Mayall sangat sulit mengalami kemajuan. Bahkan regu lain yang ditugaskan untuk mencari tahu keberadaan penduduk desa yang menghilang pun tidak mendapatkan perkembangan banyak. Seolah-olah segala sesuatu tentang desa itu lenyap entah ke mana.


Suara pintu ruang arsip yang dibuka mengejutkan mereka dari apa yang tengah mereka pikirkan. Semuanya menoleh ke arah pintu. Dari sana muncul dua sosok pria jangkung. Salah seorang bertubuh tegap kekar berjalan dengan langkah mantap mendekati mereka.

__ADS_1


Sedangkan pria satunya adalah seseorang yang tinggi, memiliki badan atletis yang tidak kekar, dengan rambut sepanjang punggung berwarna gradasi lemon ke kuning keputihan. Caranya berjalan penuh kharisma. Ia memiliki aura berwibawa yang menguar sangat kentara.


Melihat siapa saja yang masuk membuat Okul, Kraz, dan Diphda, membungkuk dengan satu kaki serta menunduk khidmat. Karena di hadapan mereka adalah sang petinggi militer, komandan tertinggi, Sir Puppis Argo Navis. Yang menemaninya adalah kapten regu mereka, Algol Perseus.


Algol kemudian memerintahkan bawahannya untuk kembali berdiri setelah mereka memberikan penghormatan yang cukup. Ia melirik Alpha dan Ursa yang sama sekali tidak peduli dengan kehadiran Puppis.


Algol diam-diam mengangkat sudut bibirnya melihat polah berani kedua pemuda itu. Gara-gara mereka bukan anggota prajurit kerajaan, mereka tidak menunjukkan rasa segan sama sekali pada orang yang diyakini paling kuat se-Earthland tersebut.


“Ada tujuan mengapa Sir Puppis berada di sini. Beliau ingin menyaksikan langsung uji kekuatan kalian berdua hari ini.” Algol memandangi Alpha dan Ursa, “Dari hasilnya nanti akan ada keputusan yang dibuat untuk kalian.”


“Apa itu?” tanya Alpha lantang. Okul meliriknya tajam karena bersikap tidak sopan, tapi diabaikan oleh Alpha. “Keputusan apakah yang akan diberikan pada kami, Sir?”


“Tentang apakah aku akan mengizinkan kalian berdua untuk misi di luar. Yang artinya kalian tidak akan terkurung di markas militer ini lagi.”


Okul dan kedua orang lainnya terkejut mendengar hal tersebut. Mereka memandang Algol penuh tanya, tetapi sang kapten tidak menjawab keheranan mereka.


“Heh. Kedengarannya menarik,” kata Alpha lagi. “Itu akan jadi kesempatan emas untuk melarikan diri.”


“Aku rasa tidak seperti itu. Karena aku hanya membiarkan kalian melaksanakan misi di luar, bukannya mengizinkan kalian kabur,” kata Puppis dengan berwibawa. Ia tidak terpengaruh dengan Alpha yang tidak menunjukkan sopan santun sama sekali.


“Siapa yang tahu? Aku sih tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur jika aku mendapatkannya. Bila di dalam pertarungan nanti aku memiliki kesempatan itu, aku akan langsung menggunakannya.” Alpha tersenyum congkak.


“Kalau begitu, coba saja. Yang akan menghentikanmu hanya seluruh anggota regu Algol. Aku tidak akan ikut campur, sekalipun nanti kalian akan berhasil kabur di depan mataku. Namun, itu hanya jika kalian bisa mengalahkan mereka berempat.”


Alpha dan Ursa saling membenturkan kepalan tangan mereka. “Kami akan mengerahkan segalanya dalam uji kekuatan ini!” seru mereka lantang.

__ADS_1


...***...


__ADS_2