
Alpha melepaskan tali yang mengikat mereka bertiga, dengan penasaran ia menoleh pada kedua penyelamat mereka, yang ternyata adalah Joa dan seorang gadis anggun berambut hitam panjang sepinggul, senyumannya manis menyambut keterkejutan Alpha.
“Kirimi!” serunya.
“Untung kami sempat,” kata gadis itu lembut.
“Terima kasih telah kembali ke sini untuk menolong kami, Kirimi. Joa juga, terima kasih,” ucap Gage.
“Aku kebetulan bertemu dengan Kirimi yang sedang membawa penduduk desa keluar dari wilayah Darkotry ini, jadi sekalian saja aku membantu kalian,” jawab Joa.
Gage merasa lega. Itu artinya rombongan penduduk yang mereka selamatkan berada di tempat yang lebih aman sekarang ini.
“Kenapa kalian berada di sini? Melarikan diri?” Joa bertanya sinis.
Ursa menggeleng. “Sebenarnya kami sedang dalam misi. Pertemuan ini juga adalah sebuah kebetulan.”
“Kebetulan yang menyenangkan,” imbuh Alpha.
Tap.
Rekan Gage ikut naik ke dahan pohon itu. Ia menyerahkan belati Gage yang diam-diam diambilnya. “Kalian para Guardian.”
“Benar. Tapi kami hanya generasi terakhir,” jawab Joa. “Bagaimana sekarang? Apakah kita akan menghadapi mereka atau mundur?”
“Kita mundur,” sahut Gage cepat. “Daripada melawan para prajurit itu ada hal mendesak yang harus segera kita lakukan. Detailnya akan kujelaskan nanti. Pertama-tama kita harus lari dari mereka. Ada ide?”
“Mereka bukan orang-orang yang mudah dikecoh. Lari dari mereka juga bukan perkara mudah. Aku pun tidak berpikir kalau berpencar adalah pilihan yang bagus, karena akan sulit bagi kita untuk kembali berkumpul,” omong Ursa.
“Asal kita bisa lari dan bersembunyi aku rasa kita bisa mengakali mereka. Aku yakin mereka tidak tahu seluk beluk dari wilayah ini, kita tidak akan ditemukan dengan mudah.”
“Sayangnya, Kirimi, kita harus lebih paham dari mereka mengenai wilayah ini bila mau melakukan itu,” komentar Alpha.
“Tenang saja. Aku sudah berada di sini selama sepuluh hari. Aku tahu tempat bagus untuk bersembunyi,” jawab gadis dari golongan manusia biasa itu.
“Oke, kalau begitu. Masalahnya hanya tinggal Alpha. Kita harus berdoa semoga ia tidak tertangkap oleh Mr. Algol,” tutur Ursa.
“Kenapa?” tanya Kirimi heran.
“Alpha memiliki segel di lehernya. Jika itu diaktifkan maka dia tidak akan bisa lepas. Namun, segel itu hanya berlaku sampai jarak seratus meter,” ucap Ursa menjelaskan.
“Itu mudah. Kita akan pakai cara paling sederhana dan kemudian kabur,” tukas Joa.
Di bawah, regu Algol tampak kaget dengan kehadiran Joa dan seorang lagi anggota Guardian. Mereka belum melakukan apa pun karena Alpha dan teman-temannya juga tidak membuat pergerakan mencurigakan kecuali mengobrol, sayang mereka tidak dapat dengar karena jarak yang lumayan jauh, tetapi mereka masih bisa menebak-nebak dengan membaca gerak bibir dan raut wajah.
“Mereka mungkin akan berencana melarikan diri dari kita,” gumam Algol.
“Tidak akan kita biarkan,” sahut Diphda tegas.
“Hei, Mr. Algol, siapa sebenarnya dua anak buahmu dan mereka yang tiba-tiba datang itu?” Zibal bertanya penuh ingin tahu.
“Mereka ialah penduduk Desa Mayall. Terlebih lagi mereka adalah orang-orang terpilih yang menjadi pelindung desanya. Tidak akan ragu-ragu kukatakan kalau mereka adalah orang-orang yang kuat.”
Zibal dan Pollux serta merta menajamkan penglihatan ke atas pohon. Padahal mereka terlihat biasa saja. Dan lagi, tidak ada ciri khusus dari mereka semua yang menunjukkan bahwa mereka berasal dari Desa Mayall. Pantas saja menemukan penduduk desa itu jadi tugas sulit, pikir Zibal dalam kepalanya.
__ADS_1
Zibal melirik Pollux. Pemuda itu masih saja menatap mereka yang berada di atas dahan pohon. Sejak mendengar kalau asal mereka adalah Desa Mayall Pollux menunjukkan ketertarikan kepada mereka, padahal sebelumnya ia cuek total, bahkan tidak membantu sama sekali dalam pertarungan sebelumnya dan hanya duduk menonton. Ia bisa tahu itu, meskipun tidak bisa menebak alasan apa yang membuat mereka berubah jadi menarik di mata Pollux.
“Itu artinya kita harus menangkap mereka semua, kan? Bisa jadi pencapaian yang bagus kalau kita bisa melakukannya.”
“Tapi itu bukan tugas mudah, Mr. Zibal.”
“Kalau begitu, mari kita coba, Mr. Algol.” Zibal meregangkan otot-otot tubuhnya. “Ayo coba pakai ini dulu,” katanya yang lalu mengambil nafas panjang sebelum diembuskannya pelan-pelan kemudian, “Zeta Eridani : Blade Wings!”
“Gamma Virginis : Spears Attack!”
Syut! Syut! Syut!
Blar! Blar! Blar!
Ledakan antara dua teknik yang bertabrakan di udara tak terelakkan. Sebuah sayap raksasa yang terbentuk dari ratusan atau malah ribuan pedang yang terbuat dari kekuatan cahaya Zibal melemparkan puluhan bilah pedang pada Alpha dan yang lain pada setiap kepakan sayapnya, sayangnya sebelum bilah-bilah pedang itu mencapai mereka Joa telah menghalaunya menggunakan serangan miliknya.
Serangan itu berlangsung berkali-kali selama beberapa saat hingga kedua teknik lenyap karena batas waktu penggunaanya telah habis. Alpha pun segera ambil inisiatif cepat.
“Delta Velorum : Light Burst!” teriak Alpha.
“Gamma Virginis : Gigantic Needle!”
“Delta Velorum : Air Burst!”
Alpha dan Joa menyerang secara beruntun dengan saling mendukung. Ledakan cahaya membutakan pandangan, Joa menyusulnya dengan serbuan jarum raksasa, ditambah dengan ledakan udara yang dibuat Alpha membuat jarum-jarum raksasa itu meluncur cepat.
“Pi Capricorni : Shields!” Okul berseru melindungi mereka semua. Ia menempatkan masing-masing satu perisai di depan semua orang. “Serang mereka sepenuhnya. Tidak perlu khawatir dengan keamanan, aku akan melindungi kalian semua.”
“Baguslah kalau begitu!” sahut Kraz cepat. Ia berlari maju. “Beta Corvi : Gigantic Blade!”
Pedang cahaya besar itu ditahan oleh pedang asli berbentuk kotak panjang yang digerakkan oleh Kirimi. Gadis itu menahan pedang Kraz demi melindungi teman-temannya. Ia mendorong pedang Kraz tanpa kesulitan. Kirimi lalu melompat dari atas pohon dan membelah pedang besar Kraz dengan mudahnya.
Gadis itu berlari cepat. Pedang besar di tangannya seolah bukan beban. Rambut lurusnya yang begitu panjang berkibar dinamis. Kirimi tetap saja terlihat anggun dengan senyum lembut miliknya, padahal ia tengah berlari dengan pedang besar untuk menebas siapa saja yang menghadangnya.
Kirimi melayangkan beberapa tebasan dengan gesit. Perisai-perisai buatan Okul dengan ringannya ia belah jadi dua demi mengincar mereka yang bersembunyi di belakangnya. Lawan-lawannya melompat menjauh darinya. Pedang besarnya memiliki jangkauan yang luas. Belum lagi gadis yang menggunakannya mempunyai kemampuan andal.
Pedang Kirimi tidak hanya berguna untuk menyerang, tetapi bisa juga digunakan untuk perlindungan. Gadis itu bersembunyi di balik pedang besarnya setiap kali menerima layangan serangan cahaya yang tidak bisa dihalaunya. Kirimi tidak khawatir pedangnya akan rusak karena pedang tersebut terbuat dari material terbaik.
Melihat rekan mereka harus bertahan beberapa kali Ursa dan Gage ikut turun dari dahan pohon. Mereka mendukung Kirimi dengan saling memunggungi satu sama lain. Ursa melemparkan peledak pada mereka. Kirimi menyusul dengan ayunan pedangnya yang mematikan. Sedang Gage melindungi mereka dari serangan yang berhasil lolos. Bersama-sama mereka bertiga menghadapi keenam lawan mereka.
Di atas pohon, Joa telah menyiapkan serangan baru. Melayang puluhan tombak cahaya di hadapannya. Ia pun berteriak ke bawah, “Mundur!”
Ketiganya melompat ke belakang sejauh mungkin.
“Gamma Virginis : Spears Attack!”
Tombak-tombak itu menghunjam cepat. Namun, sebagian besarnya dapat dihalau oleh mereka, entah itu dengan tebasan, perisai, ledakan, maupun ditangkis. Sebagian yang lain menyasar ke tempat yang bahkan tidak mendekati mereka sama sekali.
Pollux berdecak kesal. Ia belum melakukan apa pun sejak tadi. Ia pikir tidak masalah kalau ia tidak ikut campur dalam masalah itu, karena yang dianggapnya musuh hanyalah para ramplite. Memang, orang-orang Desa Mayall itu menarik perhatiannya karena mereka adalah orang yang dicari-cari oleh militer, tapi ia tidak membayangkan kalau mereka lumayan kuat. Sekarang ia jadi tertarik untuk melawan mereka juga.
Pollux pun langsung memenuhi keinginannya. Ia berlari menerjang maju. Ia membuat beberapa pijakan di udara dan melompat ke tempat Diphda berada. Namun, bukannya sampai pada gadis berambut pendek itu Pollux malah menabrak udara yang terasa sangat keras dan ia langsung jatuh ke bawah.
“Sial!”
__ADS_1
“Lihat-lihat kalau mau melompat. Perhatikan apakah di depanmu ada tembok atau tidak,” ucap Joa. Ia mengarahkan tangannya ke depan, dan ia seperti menyentuh sesuatu di sana, gadis itu pun lalu mengalirkan kekuatan cahayanya sehingga menampakkan tembok kekuningan yang melindunginya.
Kraz tersenyum geli mengingat memorinya. Ia dan Okul pernah terkena teknik murahan serupa.
“Teman-teman, sekarang waktunya kabur!” seru Joa mengaba-aba.
“Ya!” balas Ursa. “Alpha, jaga Joa!”
“Kuserahkan dia padamu, Alpha!” teriak Gage.
Ursa, Gage, dan Kirimi pun segera berlari menjauh dari tempat itu untuk masuk ke hutan lebih dalam. Lengan cahaya Algol memanjang berniat mengikuti dan menangkap mereka, tapi usahanya gagal akibat lengan cahaya itu juga membentur sesuatu, kali ini adalah dinding lengket yang memerangkapnya.
Joa tertawa kecil. “Kalian tidak pernah belajar, huh?”
“Beta Ceti : Big Cross Fire.”
Api silang besar milik Diphda melayang. Api itu semakin membesar kala kecepatannya semakin bertambah. Api tersebut menabrak dinding-dinding buatan Joa dan membakarnya. Joa tidak ambil pusing, malah cenderung mengabaikannya.
“Sekarang kita tinggal melawan mereka berdua. Wajar saja, hanya merekalah yang memiliki kekuatan cahaya, jadi mereka yang paling tepat untuk pertarungan jarak jauh,” komentar Okul.
“Tidak, tidak! Kalian tidak akan melawan siapa pun, karena sekarang adalah giliranku untuk kabur.”
“Tidak akan kubiarkan.” Algol mengaktifkan segel yang dipercayakan Sir Puppis. Rantai cahaya muncul dari gelang di tangan kanannya dan mengarah pada Alpha yang berdiri di samping Joa. Namun, rantai itu justru menembus leher Alpha dan terus menjulur jauh hingga tiba-tiba berhenti. “Huh?”
“Aneh! Harusnya rantai itu mengikat Alpha!” seru Kraz terkejut.
“Bagaimana bisa?” Diphda bergumam.
“Ada yang aneh, Kapten.”
Algol mengangguk.
“Heh-he... kalau kalian mencari Alpha, maka dia sudah pergi dari sini bersama salah satu rekan kami sejak tadi. Aku yakin mereka sudah seratus meter lebih jauhnya. Makanya segel itu tidak berguna,” ungkap Joa.
“Tapi—”
“Teriakan teman-temanku hanya untuk menipu supaya kalian beranggapan Alpha masih di sini bersamaku. Tapi yang ini cuma hologram saja,” kata Joa. Ia membentuk pedang cahaya dan menebaskannya pada Alpha. Sosok pemuda itu buyar, lalu lenyap. “Tuh, lihat sendiri kan.”
Mereka tercengang. Mereka berhasil dibodohi. Ketika mereka berpikir kapan waktu bagi Alpha untuk kabur mereka menduga bahwa itu saat pemuda itu melancarkan teknik Light Burst miliknya. Pandangan mereka kabur sesaat waktu itu, fokus mereka juga teralih oleh serangan Joa. Dan lagi, ketika Alpha meneriakkan teknik Air Burst-nya suaranya terdengar agak jauh.
Joa tersenyum lebar. “Baiklah, Tuan-tuan... saatnya Magic Box!”
“Magic Box? Jangan-jangan...”
Kraz terlambat mengingat. Waktu ia menoleh mereka semua sudah terperangkap di dalam kotak cahaya transparan kuning keputihan milik Joa. Lalu, boom! Sebuah pemberat 5 ton diletakkan di atas kotak itu. Tidak sampai di sana, Joa menusuk kotak itu dengan ratusan jarum besar yang runcing dari segala sisi, jarum-jarum itu perlahan tertelan masuk ke dalam kotak. Saat sudah masuk ke dalam kotak jarum-jarum itu melesat cepat secara acak. Mereka tidak bisa mengalihkan perhatian.
“Selamat bersenang-senang di dalam Magic Box! Semoga kalian bisa keluar tanpa luka!” serunya sebelum kabur dari sana.
...***...
Author Notes :
Halo, pembaca Terminator Warrior. Semoga kalian sehat selalu dan dalam keadaan yang baik-baik saja. Terima kasih atas apresiasi kalian terhadap karya ini. Semoga cerita ini tidak membosankan dan bisa bertahan sebagai salah satu daftar bacaan kalian ^_^
__ADS_1
Btw, aku gak bagus-bagus amat dalam menuliskan adegan pertarungan, jadi bila adegan pertarungan di cerita ini payah aku minta maaf ya... Dan apabila ada dari kalian yang memiliki kritik dan atau saran untuk cerita ini mohon jangan sungkan menyampaikannya lewat kolom komentar, oke?
Singkat kata, sampai jumpa di AN selanjutnya!