Terminator Warrior

Terminator Warrior
Alasan Dari Kebencian


__ADS_3

Setelah meninggalkan Ferdinand dan Margaret mereka berempat kembali menyusuri jalan utama. Alpha dan Ursa masih mencari-cari jalan yang menurut mereka paling pas untuk digunakan masuk ke wilayah pemukiman manusia biasa.


“Bagaimana kalau lewat sini?” Ursa mengusulkan.


Alpha mengamati jalan masuk kecil itu dengan serius. Wajahnya menunjukkan kalau ia berpikir keras. Baru kemudian pemuda itu menggeleng.


“Kenapa?”


“Aku tidak merasa kita akan menemukan sesuatu yang menarik jika lewat jalan ini.” Alpha mengungkapkan alasannya.


“Apakah itu penting? Toh, dari mana pun kita masuk tidak ada bedanya,” ucap Diphda.


“Tidak seperti itu cara mainnya, Ms. Diphda. Memilih jalan yang tepat berarti juga memilih sebuah petualangan, jika salah pilih maka petualangan yang kita nantikan akan berbeda pula.” Alpha membalas.


“Padahal cuma masuk ke sebuah pemukiman.”


“Sekalipun begitu,” jawab Alpha.


Mereka pun kembali berjalan. Setelah belok ke kanan mereka menemukan sebuah jalan bercabang menuju wilayah pemukiman manusia biasa. Ujung dari jalan itu adalah sebuah rumah makan bertingkat.


“Kalian pilih yang mana?” Diphda bertanya, hanya dengan setengah ketertarikan.


“Yang ini!”


“Jalan ini!”


Alpha serta Ursa menunjuk bersamaan ke sebuah jalan yang berada di sisi kiri rumah makan tingkat tadi. Mereka tersenyum lebar mendapati kesamaan firasat bahwa jalan itu akan menarik.


Akhirnya mereka masuk lewat jalan kecil itu. Semakin jauh mereka masuk ke dalam jalan itu semakin ramai pula orang-orang yang mereka temui. Seolah-olah bagian dalam pemukiman adalah pusat dari kota itu sendiri. Sungguh berbeda dengan jalan utama yang sepi.


Sayangnya kedatangan mereka sedikit mengurangi kemeriahan di sana. Setiap mereka melewati kerumunan yang ramai orang-orang akan memandangi mereka dengan tidak ramah. Namun, Alpha dan Ursa benar-benar tidak ambil pikir dengan hal tersebut. Berbeda dengan Diphda dan Kraz yang semakin tidak nyaman ketika mereka masuk lebih jauh.


“Hei, kalian sudah puas berada di sini, kan? Ayo kembali ke markas,” ajak Kraz.


“Tidak, tidak, mana mungkin kita akan kembali secepat itu. Lagi pula sekarang sudah saatnya jam makan siang. Kita harus makan di sini,” tolak Alpha.


“Lihat! Di sana kedai makannya sangat ramai! Mungkin makanannya sangat enak, ayo ke sana!”


Tanpa persetujuan dari siapa pun Ursa bergegas menuju ke kedai makan yang ditunjuknya. Walaupun begitu, tetap saja semua orang mengikutinya menuju tempat tersebut. Ketika mereka datang, keriuhan dari kedai tersebut mendadak terbungkam. Mereka yang tidak bodoh tentu saja paham akan apa yang terjadi.


“Jangan pikirkan kami, lanjutkan saja apa yang kalian lakukan. Kami hanya pelancong yang mampir untuk makan!” seru Alpha cuek.


“Hei!” Seorang laki-laki menyela mereka. “Tidakkah kalian tahu kalau pemukiman ini khusus hanya untuk manusia biasa? Manusia bintang tidak seharusnya masuk ke daerah ini.”


“Ya. Tapi aku manusia campuran.”


“Dan aku manusia biasa.”


Laki-laki itu geram. “Itu tidak mengubah fakta! Bukannya kalian juga melihat kalau kami tidak suka dengan keberadaan kalian di sini.”


Alpha menghela nafas. Ia berdecak kesal. “Aku ingin bertanya. Sebenarnya apa yang membuat kalian, manusia biasa dan manusia bintang, saling membenci? Termasuk juga mengapa kalian sampai tega mengucilkan pemukiman manusia campuran jauh di pinggiran tanpa pengamanan apa pun. Aku ingin tahu.”


“Itu bukan urusanmu!” seru sang laki-laki kesal.


“Baiklah... karena kalian orang asing yang tidak tahu apa-apa, aku akan menceritakannya, alasan kenapa kami saling membenci," kata seseorang dengan suara berat secara tiba-tiba.


“Kakek!”


Semua orang kaget dengan perkataan seorang kakek tua yang berdiri di belakang meja konter. Di tangannya terdapat teko besi, ia menuangkan air minum di dalamnya pada gelas-gelas alumunium di hadapannya. Ia menatap kepada rombongan kecil Alpha.

__ADS_1


“Dengarkanlah sambil duduk dan minum,” pintanya.


Menurutinya, mereka berempat duduk di balik meja konter. Pengunjung lain kedai tersebut tak membuat keributan atau juga berbisik-bisik. Mereka menghormati kakek si pemilik kedai, mereka tak ingin mengganggu pembicaraannya.


“Kebencian... sesungguhnya masalah itu sudah diselesaikan ratusan tahun yang lalu. Tapi, kami hanya manusia yang dipenuhi ego. Rasa tidak suka akibat banyaknya perbedaan antara dua golongan manusia bisa kembali muncul dengan mudah. Dan itu tidak terjadi hanya di Kota Bode ini saja, melainkan di seluruh Negeri Earth ini.”


Alpha dan Ursa mengangguk setuju.


“Mungkin kebencian antara dua golongan itu paling jelas terlihat di kota ini. Aku tidak menyangkalnya, sebab begitulah keadaannya. Tetapi, sebenarnya kami tidak benar-benar saling membenci. Kebencian itu tercipta hanya karena ketidakpahaman generasi sekarang dengan rivalitas pendahulunya,” lanjut si kakek.


“Rivalitas apa yang kau maksud, Kakek?” tanya Ursa.


“Hahaha...” tawanya ringan. Ia mengedarkan matanya ke seisi kedai. “Aku yakin kalian semua belum pernah mendengar ini. Ini terjadi sejak awal terbentuknya Kota Bode. Sepasukan besar prajurit dikirim ke pemukiman besar yang ada di sini untuk melindungi kota ini. Pasukan itu terdiri dari manusia biasa maupun manusia bintang. Pemimpin mereka adalah dua orang yang bersahabat.”


“Dan mereka berasal dari dua golongan manusia berbeda.” Alpha menebak.


“Ya. Kau benar. Mereka berbeda. Namun, perbedaan itu tak membuat mereka saling membenci. Malahan gara-gara perbedaan itu membuat mereka saling berusaha mengungguli satu sama lain, bukan dalam hal buruk, melainkan untuk menunjukkan bahwa sekalipun mereka berbeda mereka bisa meraih hal serupa.


Persaingan mereka begitu sehat. Mereka saling menghargai dan tidak menjatuhkan. Akibat dari itu kota ini menjadi kota yang makmur. Bangunan-bangunan mulai didirikan. Tata kota diatur. Keamanan terjamin. Tentu saja seluruh penduduk merasa sangat senang. Tapi semua itu masihlah masuk ke dalam pertandingan yang menunjukkan rivalitas antara dua pimpinan itu. Menyangkut rivalitas keduanya, tentu saja pendukung mereka pun terpecah menjadi dua.


Manusia bintang mendukung pemimpin mereka yang manusia bintang dan begitu pula sebaliknya. Persaingan itu tidak pernah berhenti hingga kedua pimpinan meninggal dunia dalam tugas mereka melindungi kota ini dari serangan ramplite. Mereka tewas dengan terhormat sebagai seorang prajurit. Tidak ada yang mereka sesalkan.


Sayangnya hal itu hanya untuk mereka dan tidak berlaku bagi pendukungnya. Mereka saling mendebatkan bahwa pemimpin dari merekalah yang lebih terhormat kematiannya. Tidak ada yang mengalah. Karena bukti pasti dari kematian keduanya tidak ada yang benar-benar mengetahuinya maka pengikutnya meneruskan rivalitas tersebut.


Akan tetapi rivalitas ini tidak sehat. Semakin tahun berlalu bukan persaingan demi kebaikan yang mereka lakukan, melainkan keinginan untuk menjatuhkan yang tumbuh. Dari situlah awal kebencian terbentuk.


Terus dan terus, mereka berusaha jadi yang terbaik dengan cara menjatuhkan yang lainnya. Mereka benar-benar terpisah. Tidak ada lagi sisa-sisa persahabatan yang dulu dicontohkan oleh pemimpin mereka. Hal itu berlangsung hingga sekarang.”


Si kakek mengakhiri cerita panjangnya. Ia tersenyum mendapati wajah-wajah kaget dari rekan-rekan sesama manusia biasanya. Mereka tak berkata apa-apa kecuali diam mencerna.


“Jika kalian heran kenapa aku bisa tahu, itu adalah karena aku merupakan anak kecil yang hidup dengan mengagumi kedua pimpinan tersebut. Aku tidak akan meminta kalian untuk tidak membenci manusia bintang ataupun mengakhiri rivalitas yang sudah tercemar ini. Aku tak berhak memintanya sebab aku pun juga membenci mereka. Tapi sekarang saat usiaku sudah sangat tua seperti ini aku jadi teringat betapa menyenangkannya hidup di kota ini dulu.”


Sang kakek menatap Ursa. “Begitukah menurutmu?”


“Ya. Aku menganggap kalau kalian semua konyol.”


“Memang,” si kakek tidak menyangkal. “Tapi aku yakin dengan satu hal. Bahwa masing-masing dari kami akan jadi kombinasi yang hebat jika kami bersatu. Untuk saat ini mungkin tidak terlihat, tapi apabila kesempatan untuk kami harus melindungi kota ini dengan nyawa jadi taruhannya aku tidak akan ragu kalau kami bisa saling bekerja sama dengan kompak dan meraih kemenangan. Karena begitulah kami, tidak mau mengalah satu sama lain.”


“Sulit untuk dipercaya, tapi kemungkinan itu terjadi memang sangat besar,” ucap si lelaki tadi.


“Yah, itu sudah jelas. Karena dari segi apa pun kami tidak akan kalah dari mereka manusia bintang.”


“Ya! Tentu saja!”


“Kakek,” panggil Alpha, “lalu bagaimana dengan manusia campuran? Kenapa mereka dibenci oleh kota ini?”


“Dari ceritaku kau tahu dengan jelas kalau kami sangat loyal dengan keturunan dan golongan kami, kan?”


“Ya,” jawab Alpha.


“Tidak hanya loyal, kami pun bangga dan sangat menjunjung tinggi jati diri kami. Tapi mereka, manusia campuran tidak memiliki itu. Mereka membuang jati diri serta kebanggaan mereka hanya untuk memenuhi keinginan mereka. Mereka bukanlah salah satu golongan dari kami. Tentu saja itu membuat mereka terdiskriminasi dan tidak memiliki pendukung.”


“Menurutku mengasingkan mereka hingga jauh ke pinggiran wilayah itu terlalu berlebihan,” ujar Ursa.


“Kau salah. Kami tidak mengusir mereka. Mereka pergi dengan sendirinya. Justru merekalah yang meminggirkan diri.”


“Kenapa?”


“Mereka telah memilih untuk tidak menjadi salah satu dari kedua golongan, maka itu berarti mereka tidak akan mendapatkan dukungan dari siapa pun, mereka mengalami tekanan dan kesulitan. Tapi mereka tak kuat dengan ganjaran yang mereka terima, jadilah mereka melarikan diri.

__ADS_1


Hal itu justru membuat kami semakin membenci mereka. Sebab berbeda dengan kami yang dengan mati-matian mempertahankan kebanggaan kami sebagai bagian dari golongan masing-masing, para manusia campuran itu malah dengan gampangnya melarikan diri dan merasa dirinya adalah korban. Padahal jika mereka sudah memilih untuk jadi berbeda mereka juga harus menanggung risiko dari pilihan mereka itu.”


“Aku setuju denganmu, Kakek,” ujar Alpha tiba-tiba.


Ursa, Kraz dan Diphda menatapnya kaget. Mereka tak menyangka Alpha menyatakan persetujuan. Mereka pikir pemuda itu akan lebih memihak manusia campuran.


“Oh. Jadi kau mengerti maksudku, anak muda.”


“Aku sependapat denganmu kalau memang mereka harus bertanggung jawab atas pilihan mereka. Karena begitulah juga cara kerja desa kami. Tetapi, aku tetap tidak setuju dengan perbuatan kalian yang mengabaikan pengamanan untuk mereka.”


“Itu juga adalah bagian dari ganjaran mereka,” balas sang kakek.


“Aku tahu... aku tahu itu, tapi tetap saja...” Alpha geram. Ia pun berusaha menahan emosinya. “Tapi untuk menyelamatkan orang-orang yang dalam bahaya tidak dibutuhkan kebanggaan akan jati diri, melainkan hanya rasa kemanusiaan,” tegasnya.


“Itu—”


“Itu gampang untuk dilakukan. Toh, kau sendiri yang bilang tidak sulit bekerja sama untuk melindungi kota ini dari musuh. Tetapi kalian tidak melakukannya pada pemukiman manusia campuran itu kemarin. Mereka juga adalah bagian dari penduduk kota ini. Harusnya jika kalian memiliki kebanggaan untuk melindungi peninggalan pemimpin kalian yang berharga kalian bisa melakukannya,” ucap Alpha.


“Heh! Kenapa pula kami harus melakukannya demi mereka? Pihak manusia bintang juga tidak melakukannya. Tidak ada keuntungan menang jika kami berbuat baik seperti itu,” sergah sang laki-laki tadi.


“Nah, itu dia!” Dengan tidak sopan Alpha menunjuk si lelaki terang-terangan. “Justru karena manusia bintang tidak melakukannyalah kalian akan secara instan menjadi pemenangnya.”


Laki-laki itu terperangah mendengar balasan Alpha.


“Tidak hanya itu! Jika mereka tetap tidak mau bersaing dengan kalian dalam hal melindungi pemukiman manusia campuran maka artinya mereka tidak sanggup bersaing dengan pertandingan yang kalian buat. Hal itu malah semakin menambah besar kemenangan kalian!” Alpha semakin panas mengompori.


“Kau... idemu itu...”


“Luar biasa, bukan?” Alpha berujar semringah.


“Benar! Pemuda ini benar juga!”


“Ah, kalau dipikir-pikir memang bisa seperti itu juga...”


“Ya.”


“Ini cukup masuk akal.”


Orang-orang mulai berpendapat kalau usulan Alpha bukan sesuatu yang buruk, melainkan menguntungkan mereka. Kedai itu kembali riuh dengan diskusi kemenangan yang akan manusia biasa dapatkan jika mengambil tindakan itu lebih dulu.


Ursa memandangnya takjub. ‘Alpha, kau benar-benar sesuatu. Bisa membuat ide menguntungkan seperti itu untuk para manusia campuran sesuai dengan cara main mereka sendiri.’


“Anak muda,” kakek itu memanggil.


“Ya, ada apa Kakek?”


“Kau sengaja mengatakan itu semua agar mereka mau melindungi pemukiman manusia campuran itu, tapi kenapa?”


“Gara-gara militer negeri ini tidak mau turun tangan sendiri untuk melakukan hal tersebut. Sedangkan aku hanya orang luar yang tidak bisa ikut campur. Akan sangat kasihan jika mereka bertahan hidup tanpa perlindungan di daratan yang belum damai ini. Karena sebenci apa pun kalian satu sama lain tidaklah pantas membiarkan golongan lain menderita di saat kalian hidup nyaman.”


Si kakek tertawa dengan nada ramah. “Kau sangat baik hati. Padahal sendirinya adalah orang asing.”


Alpha tersenyum lebar. “Aku disambut sangat hangat oleh mereka, jadi aku tidak merasa asing sama sekali. Selain itu, mungkin tindakanku ini juga didasari simpatiku sebagai sesama manusia bintang.”


“Tetap saja, kau adalah orang yang baik.”


“Kalau kau memaksa tetap memujiku, Kakek, maka kuucapkan terima kasih!” seru Alpha.


...***...

__ADS_1


__ADS_2