
“Menurutmu, Ursa, apa kita akan dibiarkan begitu saja kalau teman-teman tahu kitalah yang membeberkan ciri-ciri mereka?”
“Kita tidak punya pilihan lain, kan?”
“Iya, sih... tapi tetap saja...” Alpha diam sejenak. Ia mengacak rambutnya frustrasi. “Aku merasa telah menjual teman kita. Gara-gara kita mereka bisa ditemukan dengan mudah.”
Ursa menghela nafas lelah. “Sudah telat kalau kau menyesalinya sekarang. Walaupun begitu, tidak apa-apa, aku yakin mereka adalah orang-orang kuat yang tidak akan membiarkan dirinya ditangkap.”
...***...
Arta terengah, nafasnya berat. ‘Oh, sial! Tubuhku...’
“Tampaknya dia sudah mulai kehabisan energi gara-gara menggunakan mantra serangan. Sekarang akan jadi lebih mudah,” kata Arcturus seraya berjalan mendekat.
Arta mendongak. “Satu. Menempel. Meledak,” ucapnya lirih.
Arcturus terpental akibat ledakan tepat di tubuhnya. Ia tidak memiliki waktu untuk menghindarinya karena gelembung cahaya Arta dengan cepat sudah menempel di punggungnya. Pakaiannya hanya tersisa bagian depan.
“Aku memang sudah kehabisan energi, tapi...” Arta berusaha bangkit berdiri, “tapi... siapa yang memutuskan ini akan menjadi mudah untuk kalian?”
“Sialan kau!” caci Arcturus berang.
“Heh.”
“Kau berbeda darinya. Dibandingkan dengannya kau lebih pantas jadi tawanan kami. Kau mungkin lebih berguna.”
Kening Arta berkerut dalam. “Apa yang sedang kau bicarakan?”
“Temanmu. Seorang pemuda campuran yang memiliki mata beda warna, dia dan seseorang lagi adalah tawanan kami selama lima tahun ini. Aku bermain-main dengannya belum lama ini dan dia babak belur.”
Mata Arta melebar kaget. “Pantas aku tidak pernah mendengar kabar tentang Alpha dan Ursa, jadi...” gumamnya.
“Oi, kau! Katakan pada kami soal penyerangan desamu!” tuntut Regulus.
“Itu bukan urusan kalian ataupun Negeri Earth. Dan, sebaiknya kalian juga berhenti menghalangi kami.”
“Itu urusan kami,” sahut Spica. “Salah satu orang dari desa kalian memiliki urusan dengan target kami, orang yang membahayakan negeri ini, kenapa bisa begitu?”
Arta mengedikkan bahu cuek. “Entah. Mana kutahu. Kebetulan?”
“Itu bukan kebetulan sama sekali. Beberapa kasus yang kami temukan memiliki hubungan dengan desa kalian, entah secara langsung maupun tidak. Informasi yang kami dapatkan dari ramplite mengatakan bahwa salah satu dari benda langit menakjubkan ada di Desa Mayall dan itu berhasil hidup sebagai manusia bintang. Siapa dia?”
Arta memandangi Arcturus dengan bingung, sama sekali tidak memahami perkataan prajurit muda itu. “Benda langit menakjubkan apa pula yang kau bicarakan? Kenapa juga ada di desa kami? Tidak masuk akal.”
“Benda langit... kau pastinya tahu itu adalah asal muasal seorang manusia bintang terlahir.”
Arta mengangguk.
“Normalnya benda langit hanya memiliki satu kekuatan cahaya, akan tetapi benda langit yang pernah jatuh bertahun-tahun lalu memiliki lebih dari satu cahaya, bahkan belasan atau malah puluhan, tidak ada yang tahu tepatnya. Kami dapat info kalau salah satu dari mereka hidup sebagai manusia bintang di desamu.”
__ADS_1
Pyxis yang memandangi mereka dari atas pohon menegakkan punggungnya. Itu adalah cerita menarik, pikirnya. Ia ingin tahu lebih banyak mengenai cerita tersebut.
Arta mendengus geli. Tidak lama kemudian ia tertawa. “Kalian percaya dengan yang dikatakan ramplite? Yakin kalian tidak dibodohi, ha?”
“Jawab saja pertanyaan kami!” desak Regulus.
“Aku bahkan tidak tahu apa yang kalian bicarakan,” cemoohnya. Namun, lain di kepala, Arta benar-benar memikirkan apa yang barusan ia dengar.
“Ah, baiklah. Mungkin teman-temanmu yang bersama kami justru tahu mengenai hal itu. Akan kami tanyakan saja pada mereka,” ujar Arcturus.
“Percuma. Alpha dan Ursa bukan orang yang mudah dibeli. Mereka tidak akan mengatakan apa pun.” Arta membalas.
“Oh, ya? Tapi kelihatannya tidak begitu. Seingatku mereka berdua dekat dengan regu yang menjaga mereka, sudah terlihat seperti rekan sendiri. Sewaktu mereka bertemu salah satu penduduk desa—ah, Luxco kalau tidak salah, mereka berdua justru tidak kabur dengannya melainkan ikut membantu prajurit melindungi penduduk Kota Bode. Lagian sudah lima tahun mereka terus bersama dan mereka juga diperlakukan dengan baik. Apa kau tidak kepikiran kalau mereka bisa saja berkhianat?”
Mendengar itu membuat Arta goyah. Tangannya mengepal.
Tiba-tiba Arta teringat sewaktu mereka diumumkan sebagai kandidat Guardian. Waktu itu mereka mengucapkan janji setia kepada desa dan ikrar sebagai Guardian. Alpha mengatakannya dengan paling lantang. Ursa juga sampai menitikkan air matanya terharu. Tidak mungkin mereka akan berkhianat, pikirnya dengan kepercayaan penuh.
“Coba saja tanyakan pada mereka, kalau begitu. Aku berani bertaruh mereka tidak akan mengatakan apa pun yang bisa membahayakan desa kami,” tantang Arta.
“Mereka mungkin akan mengatakannya jika kami menggunakanmu sebagai alat,” balas Arcturus mengancam.
Regulus dan Spica berlari dengan senjata terhunus. Akan tetapi Arta tidak membiarkan mereka mendekat. Ia mengirim gelembung-gelembung cahaya dan meledakkannya. Bahaya apabila dirinya bisa dijangkau oleh mereka, fisiknya saat ini tidak memungkinkan untuk diajak bergerak gesit, yang ada malah ia yang akan tertangkap.
Energinya memang tinggal sedikit, tapi Arta masih bisa menggunakannya. Ia mempertaruhkannya pada serangan terakhir.
“Semuanya. Bersatu. Kilat dan petir!” serunya.
Blaar! Blaar! Blaar!
Kilat untuk membutakan pandangan, sedang petir untuk menyetrum. Serangan besar yang tiada henti itu membuat ketiganya kerepotan. Mereka menghindar dan terus menghindar hingga tidak menyadari bahwa Arta telah melarikan diri dari pertempuran tersebut bersama dengan Pyxis yang mengikutinya.
“Merasa kalah sampai perlu lari, eh?”
“Dari awal aku tidak berencana mengalahkan mereka seorang diri. Itu terlalu nekat. Mungkin aku bisa jika mengerahkan segala kemampuanku, tapi nyawaku jadi ancaman.”
“Tapi, Arta... ini adalah arah yang berbeda dari tempat yang kita tuju,” kata Pyxis.
“Aku akan ke Milky Way, kemungkinan besar Alpha dan Ursa ada di sana. Ada yang ingin kupastikan dari mereka.”
Pyxis meliriknya dengan wajah penasaran. Sejak tadi ia ingin tahu tentang kebenaran cerita itu. “Apa yang dikatakan mereka tentang benda langit menakjubkan tadi itu benar? Jika iya, maka manusia bintang yang hidup di desamu pasti memiliki kekuatan cahaya yang lebih dari satu macam. Orang seperti itu pastinya sangat mencolok dan mudah dikenali.”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu.”
“Eh?”
“Aku tidak lahir dan besar di desa itu. Aku hanyalah seorang pendatang.”
Pyxis mengangguk paham. Pasti karena itu pulalah yang membuat Arta memutuskan untuk menemui teman-temannya di Milky Way.
__ADS_1
Sementara itu, kembali ke tempat di mana anggota Spring Triangle masih bergelut dengan kilat dan petir Arta, mereka masih belum selesai dengan serangan yang ditinggalkan Arta. Mereka masih melompat, bersalto, berlari menghindari petir yang menyambar-nyambar mengincar tubuh mereka.
“Tidak ada habisnya! Kita harus menghentikan serangan ini!”
“Serang intinya! Mungkin dengan itu akan bisa!”
Regulus mengangguk mengerti. Ia berseru, “Alpha Leonis : Lion Devour!”
Serangan cahaya yang Regulus keluarkan berupa tembakan cahaya biru yang berbentuk kepala singa raksasa. Itu langsung membuka mulutnya lebar-lebar dan menelan inti serangan kilat dan petir. Bola listrik itu berada di dalam mulut kepala singa, perlahan-lahan petirnya mulai lenyap, menyisakan percikan listrik yang gemericik.
Tidak lama setelahnya sebuah ledakan hebat terjadi dengan memukau. Ledakan tersebut berwarna biru dengan kilat-kilat putih. Sebuah ledakan yang mematikan bila mengenai seseorang, tetapi indah dipandang.
Arcturus menatap sekeliling. Dengan geram ia berkata, “Mereka kabur.”
“Setidaknya kita mendapatkan data tentangnya,” tutur Regulus.
“Kita harus kembali ke markas dan memberitahukan informasi pada Sir Puppis bahwa manusia bintang spesial itu adalah penduduk Desa Mayall. Kita harus bergegas.”
“Ya. Kemungkinan besar pemuda tadi juga akan pergi menemui teman-temannya. Bila kita beruntung dan bertemu dengannya lagi kita akan benar-benar menangkapnya.” Arcturus bertekad.
...***...
“Ha... ha... ha...”
Pyxis mengangkat kain basah yang digunakan untuk mendinginkan panas tubuh Arta. Ia mencelupkan kain itu pada air dan memerasnya, lalu ditempelkan lagi pada dahi pemuda itu. Arta terserang demam setelah pertarungan siang tadi dan berlari berkilo-kilo meter sampai malam hingga akhirnya tumbang.
Pyxis memandangi Arta datar.
“Tidak salah aku terus mengikutinya. Firasatku yang mengatakan bahwa aku akan menemukan yang kucari-cari bisa ketemu melaluinya ternyata benar.”
“Uuugh...” Arta mengigau dalam tidur sakitnya.
Pyxis menyeduh air ramuan berwarna hijau buatannya yang ia hangatkan dengan api unggun. Pria itu membawa Arta setengah duduk dan meminumkan ramuan obat dari tumbuhan-tumbuhan tersebut. Di bawah kesadaran yang minim Arta menolaknya, akan tetapi Pyxis memaksakannya.
“Ayo, minumlah. Kau tidak boleh mati hanya karena sakit. Aku tidak akan membiarkanmu. Karena kau akan mengantarkanku untuk mendapatkan apa yang kuinginkan,” kata Pyxis.
“Uhuk...!” Arta tersedak ketika meminum air yang diminumkan Pyxis untuk mendorong ramuan obatnya tertelan. Ia sempat membuka tutup matanya sebelum kemudian terpejam lagi. “I-ibu...”
“Aku bukan ibumu, tahu.”
Pyxis membaringkannya lagi. Ia membetulkan jubah hijaunya untuk menyelimuti tubuh ringkih Arta.
“Bawalah mereka kembali, Pyxis.”
“Tentu. Aku pasti akan membawa mereka semua kembali. Itu janjiku.”
Pyxis teringat akan janjinya lagi. Sudah bertahun-tahun berlalu, ia belum juga cukup dekat untuk memenuhi janjinya tersebut. Lalu, hari ini ia dikejutkan dengan hal yang sangat berharga. Bahwa benda langit menakjubkan yang dibicarakan oleh Arcturus tadi kemungkinan adalah hal yang dicari-carinya dan benda langit itu telah menjadi manusia bintang seperti yang diduganya selama ini.
“Dia berada di antara orang-orang Desa Mayall. Baguslah. Akhirnya aku menemukan satu dari mereka. Aku tidak akan melepaskannya...” Pyxis melirik Arta, “...baik bocah ini, maupun manusia bintang spesial itu.”
__ADS_1
...***...