
“Ciya, Ibu boleh minta tolong nggak?”
Ambar menatap Ciya penuh harap, ketika anak perempuannya itu hendak duduk di kursi makan.
“Apa itu, Ibu?” Tanya Ciya dengan wajah polosnya.
“Panggilin Tante Zeya, dong, di kamarnya. Ajak makan bareng kita sekalian.”
Sejak tadi, Zeya tidak kelihatan batang hidungnya keluar dari kamar. Sedangkan mereka semua sudah makan malam di ruang makan.
Ciya mengacungkan jempol. “Okay, Ibu.” Ciya pun melangkah menuju kamar Zeya.
Kamar Zeya tidak terkunci, sehingga Ciya bisa masuk ke dalam kamarnya dengan leluasa.
“Tante Zeya mau kemana?” Tanya Ciya heran saat menatap Zeya sedang menyusun pakaiannya ke sebuah koper.
“Tante mau pergi dari sini, Ciya,” jawab Zeya meski dalam kondisi terisak.
“Kenapa pergi? Jangan pergi, dong!” Lalu Ciya keluar dari kamar Zeya dan berteriak. “Ibuuuuuu!” Ciya menghampiri Ambar lagi. “Ibuu, Tante Zeya mau minggat, dia udah susun baju ke koper,” kata Ciya polos.
Sontak saja hal itu bikin mata Ambar jadi terbelalak lebar. “Pergi?”
Ambar menatap suaminya sejenak, yang masih asyik menyantap makan malam sambil melihat ponselnya.
Ini pasti karena perdebatan antara Digta dan Zeya.
Ambar pun bangkit dari kursi dan menuju kamar Zeya. Perempuan itu menarik napasnya dalam-dalam saat melihat Zeya sedang menyusun pakaian sambil menangis sesenggukan.
“Zey, kamu mau kemana, sih?”
“Aku mau pergi aja dari rumah ini, Mba. Aku lebih baik ngekost sendirian. Biarin Mama dan Papa nggak mau bayarin kostan aku, nanti aku bisa cari kerja sendiri.” Napas Zeya sampai tersenggal.
“Emangnya kamu bisa cari kerja?”
“Bisa lah, Mba. Aku akan usaha.” Zeya mengunci kopernya. Kemudian dia bangkit dan mengambil tas di kasur. Zeya menarik koper sambil membawa tasnya keluar dari kamar.
“Zey, jangan begitu dong.” Ambar menghalangi jalannya. “Mba membutuhkan kamu di sini, Zey.”
“Kenapa Mba membutuhkan aku di sini?” Zeya mendongak menatap Ambar. “Aku nggak bisa masak, aku nggak bisa nyuci, aku nggak bisa beres-beres. Aku tuh, cuma beban bagi keluarga Mba Ambar.”
“Siapa yang bilang begitu?”
“Tanya saja dengan Mas Digta kalau nggak percaya.”
Ambar menarik napas dalam-dalam. “Oke, sebentar. Kamu tunggu dulu di kamar, jangan kemana-mana dulu ya.” Ambar mendorong Zeya dan menutup pintu kamar adiknya.
Lantas Ambar kembali menuju ruang makan. “Mas,” panggil Ambar pada suaminya.
“Hm….” Digta masih mengunyah makanan sambil mengecek tugas para mahasiswanya di ponsel.
“Aku mau, kamu minta maaf dengan Zeya,” ucap Ambar yang bikin Digta akhirnya mendongak.
Sebelah alisnya naik. “Untuk apa?”
“Untuk kesalahan yang udah kamu buat karena bikin Zeya nggak nyaman.” Intonasi Ambar meninggi.
Digta terkekeh geli. “Aku? Kesalahan apa yang aku perbuat memangnya. Adik kamu sendiri yang terlalu berlebihan, Ambar.”
“Mas, wajar, Zeya itu anak bungsu. Sejak dulu dia nggak pernah diperlakukan seperti ini. Dia anak yang manja, Mas.”
“Lah, terus kamu mau aku memanjakan dia?”
__ADS_1
“Bukan begitu, Mas. Aku ingin kamu bersikap baik. Itu aja.”
“Aneh-aneh saja kamu ini.” Digta geleng-geleng kepala dan kembali fokus pada ponselnya.
“Oke. Kalau kamu nggak mau minta maaf dengan Zeya, aku juga akan ikut Zeya keluar dari rumah ini,” ucap Ambar tegas. Seumur-umur, Ambar nggak pernah menantang suaminya seperti ini.
Digta mendongak lagi. “Ambar ….”
“Mas, please…. Hanya minta maaf. Apa susahnya, sih?”
Digta menghela napas gusar. “Oke!” Akhirnya Digta bangkit dari kursi. “Aku melakukan ini hanya karena aku terlalu mencintiamu sampai aku jadi gila.”
Ambar senyum-senyum melihat wajah Digta yang dongkol, tapi tetap mau menuruti keinginannya.
Ambar dan Ciya mengikuti langkah Digta yang mulai masuk ke kamar Zeya.
“Zeya,” panggil Digta.
Zeya mengusap air matanya kuat-kuat. “Apa?!” Tanya Zeya galak.
“Saya minta maaf atas sikap saya—yang mungkin buruk di mataku. Saya mohon, agar kamu nggak pergi dari rumah ini. Kasihan Mba Ambar, dia kesepian dan nggak punya teman,” ucap Digta sungguh-sungguh.
Zeya menyeringai dalam hati. Bisa juga si Jin Tomang ini berbicara manis. Apa karena pawangnya ada di sini?
“Iya, Zey. Mas Digta benar. Oh iya, bukankah ponsel kamu rusak? Gimana kalau malam ini kita ke mall untuk beli hp baru kamu,” ucap Ambar.
Apakah ini cara Mba Ambar untuk menyogokku agar tetap tinggal di sini?
Ciya lompat kegirangan. “Ciya ikuttt ya, Ibuuuu!”
“Ayuk ganti pakaian kamu dulu. Kami akan menunggu di luar yaaa.” Bujuk Ambar lagi. Kemudian membawa suaminya dan Ciya keluar dari kamar Zeya.
“Terus saja memanjakan adikmu itu.” Digta tetap merasa dongkol.
“Memangnya kamu nggak ikut?”
Ambar menggeleng. “Aku masih mau beresin piring kotor.”
“Nanti saja beresinnya, Mbar.”
“Nggak apa-apa, Mas. Titip adik aku, pokoknya.” Ambar berbisik lagi.
Tak lama Zeya muncul dan sudah berganti pakaian.
“Hati-hati ya, kaliaan….” Ambar kelihatan bahagia bisa membiarkan Digta dan Zeya pergi tanpanya.
“Loh, Mba Ambar nggak ikut?” Tanya Zeya bengong.
Ambar menggeleng. “Enggak, Mba jaga rumah saja.”
“Ikut dong, Ibuuuu.” Ciya cemberut.
“Kan, ada Tante Zeya yang jagain Ciya. Ibu mau santai-santai dulu di rumah. Yasudah, pergi sana, keburu malem.”
Digta keluar lebih dulu dari rumah.
“Ayo Tante Zeyaaa.” Ciya menarik tangan Zeya untuk segera pergi.
***
“Nanti pilih hp-nya cepat ya. Karena Ambar sendirian di rumah,” kata Digta ketika mobil mereka melesat pergi.
__ADS_1
“Iya, Mas.” Zeya cemberut.
Disogok dengan handphone baru oleh Digta dan Ambar. Sepertinya Zeya mulai luluh dan memutuskan untuk tetap tinggal di rumah mereka saja. Lagipula, Zeya juga ragu, apa dia bisa hidup jika tinggal sendirian? Mau cari kerja di mana? Zeya belum siap untuk hidup mandiri.
Setelah sampai di mall, Digta membawa Zeya masuk ke dalam toko ponsel brlogo apel gigit.
“Mas serius mau beliin hp aku merk ini?” Zeya menatap Digta tak percaya.
“Hm.” Digta hanya berdehem.
“Tipe yang mana, Mas?”
“Terserah. Jangan mahal-mahal.”
“Hehe, iya, Mas.” Zeya akhirnya memilih ponsel boba tiga. Dan Digta sama sekali nggak merasa keberatan saat membayar ponselnya.
“Hutang saya sudah lunas ya,” kata Digta setelah mereka keluar dari toko ponsel tersebut.
“Makasih ya, Mas.” Zeya merasa bahagia. Kalau saja Digta kakak ipar yang baik, Zeya akan memeluknya sebagai ucapan terima kasih.
Tapi, ini, sorry lah yaw. Yang penting, Zeya sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Tantee, kita main itu yuk.” Ciya menunjuk tenpat permainan anak-anak seperti mandi bola.
“Tanya Ayah dong.” Bisik Zeya pada Ciya.
Lalu Ciya mengeluarkan jurus wajah Iba. “Ayah, Ciya boleh main itu nggak?”
“Nggak boleh,” jawab Digta tegas.
Ciya langsung cemberut.
“Yaudah Ciya, ntar kapan-kapan Tante bawa Ciya main itu ya. Gimana kalau sekarang kita makan eskrim aja.” Zeya berusaha membujuk Ciya yang hampir saja menangis.
“Makan eskrim juga nggak boleh, nanti sakit,” kata Digta lagi.
“Yah, Ayaaah. Ciya mau makan eskrim dengan Tante Zeyaaa. Kenapa nggak bolehh.” Ciya akhirnya menangis juga. “Ciya mau eskrim Ayah.”
“Ciya, nanti kalau kamu sakit gimana? Apa Tante Zeya mau tanggung jawab? Mana bisa dia tanggung jawab. Menanggung dirinya sendiri saja nggak bisa, malah maunya menjadi beban orang lain.” Kalimat Digta lagi-lagi bikin hati Zeya ter-iris.
“Maksud Mas ngomong begitu, apa?” Zeya merasa tak terima dan berkacak pinggang. “Mas anggap aku sebagai beban di keluarga, Mas? Yasudah, kenapa Mas minta maaf segala tadi! Aku bisa kok, tinggal sendiri dan cari kerja sendiri.”
“Mana bisa anak manja seperti kamu hidup mandiri, Zeya. Karena sejak dulu kamu hidupnya hanya bergantung saja pada orangtuamu, sekarang dengan kakakmu juga.”
“Mas hati-hati ya kalau ngomong!”
“Kenapa? Apa ada kalimatku yang salah?”
Mata Zeya melotot lebar hendak keluar. Sedangkan lelaki di depannya hanya menatapnya dengan wajah tanpa dosa. Dada Zeya juga ikut kembang-kempis demi mengontrol emosinya yang nyaris meledak-ledak di hadapan Ciya. Dia tidak ingin Ciya jadi ketakutan jika Zeya mengamuk. Apalagi di tempat umum seperti ini.
“Oke! Kalau gitu, aku akan pergi dari kehidupan Mas dan Mba Ambar. Agar kalian nggak menganggap aku sebagai beban lagi.”
Zeya membalikan badan dan melangkah pergi.
Sedangkan Ciya terus meneriaki nama Zeya. “Tante Zeyaaaa! Ayah, Tante Zeya pergi.”
“Biarkan saja.” Digta membawa anaknya menujur parkiran mobil.
.
.
__ADS_1
.