
Mobil Digta berhenti pertama kali di sekolah Ciya.
“Bye Tante Zeya…” Ciya mencium pipi Zeya.
Digta memutar tubuhnya sambil mengulurkan tangan untuk diicum Ciya. “Belajar yang bener, nak.”
“Iya, Ayah.”
“Salim Tante Kiara, dong.” Pintah Digta.
Dan Ciya menuruti untuk mencium punggung tangan Kiara sebelum keluar dari mobil.
“Bu Kiara, Mas Digta itu orang yang galak, loh.” Zeya melongokan kepala setelah mobil kembali melesat pergi meninggalkan sekolah Ciya.
“Eh, masa, sih?” Kiara menoleh ke belakang. “Pak Digta kelihatan baik dan ramah,” ucap Kiara lagi.
Zeya duduk bersandar lagi di kursinya sambil bersedekap. Sepertinya, Kiara sudah mulai masuk ke dalam perangkap Digta. Sampai-sampai, Kiara menganggap lelaki segalak Digta itu adalah lelaki yang baik dan lembut.
Lembut?
Pret!
Lembut darimana.
“Kemarin, Bapaknya temenku di datangi dengan hantu almarhumah ibunya. Masalahnya, karena Bapaknya itu sudah punya pacar lain padahal ibuknya belum lama ini meninggal. Terus, pacar Bapaknya juga sampe kesurupan karena dirasuki almarhumah Ibuknya.” Zeya tiba-tiba bercerita. Entah siapa yang mengizinkannya bercerita seperti itu.
Tapi, Digta tahu apa maksud dari cerita Zeya. Pasti sedang menyindir dirinya.
Karena merasa dongkol, Digta pun rem mendadak sampai membuat tubuh Zeya terpental ke depan. Kepalanya terjedut dengan dasbor mobil Digta.
“Aw….”
“Zeya, kamu nggak apa-apa, kan?” Kiara bertanya dengan panik.
“Sakit, Bu.” Zeya mengusap jidatnya dan duduk lagi di kursi. Dia menatap Digta dari spion depan. “Mas sengaja ya?”
“Ada kucing lewat tadi di depan.” Alibi Digta.
Zeya memonyongkan bibir dengan kesal. Digta pasti sengaja melakukan hal ini. Akhirnya, Zeya memutuskan untuk diam saja sampai mobil Digta berhenti di pelataran kampus.
“Terima kasih banyak atas tumpangannya Pak Digta.” Kiara berujar manis.
“Sama-sama, Bu.” Digta pun menjawab sok manis.
Lalu, Kiara keluar dari mobil lebih dulu. Melihat tingkah mereka bedua yang lebih mirip ABG bucin, membuat Zeya ingin muntah.
“Huweek.” Seolah Zeya sengaja melakukan hal itu di depan Digta. Saat Zeya hendak membuka pintu mobil, Digta langsung menarik tangan perempuan itu.
“Eh, kenapa ini, Mas?” Zeya menoleh. Masih saja Digta sempat menarik tangannya padahal Digta duduk di kursi kemudi, bahkan Digta sampai berpindah duduk dan lompat dari kursinya menuju kursi belakang.
__ADS_1
Lalu Digta duduk tepat di sebelah Zeya, bikin Zeya terbelalak kaget.
“Apa maksud dan tujuan kamu ngomong begitu di depan Bu Kiara?” Digta langsung to the point.
“Ng-ngomong yang mana?” Zeya menjadi gugup, apalagi ketika Digta menatap wajahnya lekat-lekat. Dan jarak di antara mereka hanya sesenti saja.
“Cerita ngawur yang kamu ciptakan sendiri.”
“Ng-itu, memang benar, bukan cerita ngawur.”
“Kamu mau bohongi saya? Mau bikin saya malu di depan Bu Kiara? Saya sudsh bilang, saya dan Bu Kiara tidak punya hubungan apapun.”
Zeya memutar bola mata dengan jengah. “Terus, apa hubungannya dengan aku?”
Digta memukul jendela mobil yang ada di belakang Zeya. “Jangan main-main dengan saya, Zeya.“
“Siapa yang mau main-main dengan Mas Digta. Aku cuma ngomong sejujur-jujurnya. Bukannya aku nggak suka Mas Digta dekat dengan perempuan lain, itu terserah Mas Digta. Tapi, momentnya nggak pas. Mba Ambar belum sebulan ini meninggal, tapi Mas Digta malah ingin mencari pengganti Mba Ambar secepat itu. Wajar dong, kalau aku kesal.”
“Saya kan, sudah bilang padamu. Saya dan Bu Kiara tidak ada hubungan khusus. Kenapa kamu selalu meributkan masalah yang itu-itu saja. Jangan bilang kamu cemburu?”
Zeya mengangkat kedua alis, sambil terkekeh geli. “Aku? Cemburu? No way! Aku nggak punya alasan untuk cemburu dengan Mas Digta.”
“Jelas punya lah, saya kan, suamimu.”
“Loh, bukankah Mas Digta sendiri yang bilang kalau hubungan kita ini hanya status. Jadi, untuk apa kita harus sedekat nadi, walau sebenarnya hubungan kita itu sejauh matahari.”
Digta terdiam, matanya hanya menatap perempuan di depannya ini dengan tajam.
“Jangan bersikap seenaknya begitu lah, Zey. Mami masih di rumah, nanti saya harus bikin alasan apa lagi untuk melindungi kamu.”
“Melindungi aku? selama ini, Mas hanya melindungi diri Mas sendiri. Mas rela nungguin aku untuk bisa pulang bareng, dan Mas melakukan itu semua agar Mas Digta nggak diomeli dengan Mami, kan? Bukan untuk melindungi aku dari amarah Mami. Bahkan, ketika Mami memarahi aku, membentak aku, menampar aku, Mas hanya diam saja. Mas ingin kita pulang bareng demi menghindari masalah dengan Mami. Iya, kan?”
Digta diam sejenak, lelaki itu menarik napas dengan panjang dan dalam.
“Iya, benar. Kenapa memangnya?”
“Dasar egois.” Zeya mendorong tubuh Digta kesal.
Lantas Zeya membalikan badan dan hendak keluar, tapi Digta menarik bahunya sehingga mereka saling berhadapan lagi.
“Saya tidak izinkan kamu pergi dengan Zega,” ucap Digta tegas.
“Mas nggak berhak melarangku.”
“Saya punya hak, karena saya suami kamu! Kamu paham?”
“Kenapa sih, Mas Digta selalu bersikap semau Mas Digta saja. Tanpa mikirin persaaan aku! Kenapa Mas Digta selalu—“
Cup.
__ADS_1
Zeya menghentikan kalimatnya ketika Digta tiba-tiba mencium bibir zeya. Membuat kondisi tubuh Zeya menjadi tegang.
Digta tidak ******* bibir Zeya, Digta hanya menempelkan bibirnya di bibir Zeya saja. Sampai akhirnya, Digta merasa kalau perbuatanya ini salah. Tidak seharusnya hal ini terjadi.
Karena melihat Zeya ngomel-ngomel tidak jelas, membuat Digta begitu merindukan Ambar. Cara mereka ketika sedang mengomeli Digta sama persis. Dan Digta selalu mencium bibir Ambar untuk menghentikan omelan istrinya itu.
Dan kini, entah mengapa Digta melakukan hal yang sama pada Zeya. Ini tindakan di luar batas!
Zeya masih tidak berkutik, napasnya tersenggal-senggal ketika jantungnya berdetak dengan cepat. Bahkan, Zeya diam seperti patung. Tidak mampu bersuara, ataupun bergerak.
“Sorry.” Digta merubah posisi tubuhnya sambil memijit pelipisnya. Lalu, Digta kembali melihat Zeya yang masih tidak berkutik. “Terserah, sekarang terserah kamu mau pergi sama Zega, kek, Zigot kek, terserah. Itu bukan urusan saya.” Digta pun keluar dari mobil lebih dulu, meninggalkan Zeya yang masih membeku di tempat duduk.
Tadi itu apa? Zeya menyentuh bibirnya.
Apakah dia baru saja dicium oleh kakak iparnya?
Perasaan apa ini?
“Aarrghhhh!” Zeya meracau sambil menghentak-hentakan kaki dan mengacak rambutnya dengan frustrasi. “Mampuusss, mau ditaroh di mana muka gueeeee!”
***
Digta berusaha berjalan setenang mungkin, meski pikirannya sedang kacau balau. Tapi, dia tidak boleh memperlihatkan kegelisahannya di depan siapapun.
“Selamat pagi Pak Digta….” Dion menyapa dengan hangat ketika Digta melangkah melewati lorong fakultas.
“Pagi, Pak.” Digta menjawab sekenanya.
“Wah, tubuh Pak Digta kok dingin begini, sih?” Komentar Dion ketika lelaki itu dengan berani merangkul Digta.
Karena merasa tak nyaman, Digta pun menyingkirkan tangan Dion. “Iya, mungkin karena kena AC mobil.” Alibi Digta.
“Oh iya, Pak, ngomong-ngomong… Pak Digta beneran ngedate dengan Bu Kiara ya? Karena saya sering melihat kalian berdua semakin dekat dan akrab.”
“Perasaan Pak Dion saja mungkin.”
“Tapi, Pak, nggak masalah, Bu Kiara itu single, loh.”
Digta menyipitkan mata ke arah Dion.
“Maaf, Pak, bukannya maksud apa-apa. Tapi, kalau saya lihat dengan saksama, Sepertinya Bu Kiara itu menyukai Bapak.”
Digta mengerutkan dahi. “Ada-ada saja.”
“Saya pernah tidak sengaja melihat isi dari galerry ponsel Bu Kiara, Pak. Dan isinya adalah foto-foto Bapak yang diambil diam-diam oleh Bu Kiara. Bahkan, saya lihat hal itu sebelum istri Pak Digta meninggal.”
“He?” Digta syok.
“Iya, Pak. Jadi, kemungkinan besar kalau selama ini Bu Kiara sudah menyukai Pak Digta sejak lama….”
__ADS_1
Digta terdiam, karena pernyataan ini cukup membuat Digta syok bukan main.