Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang
24. Napas Buatan


__ADS_3

“Mas, Zeya kenapa?”


Ambar mengikut langkah Digta yang membawa tubuh Zeya ke kamar.


“Kakinya ketusuk kayu.” Digta menaruh tubuh Zeya di kasur. “Cepat hubungi Dokter, Mbar.” Pintah Digta.


Ambar buru-buru mengambil ponselnya di ruang tengah untuk menghubungi Dokter.


“Mas….” Suara Zeya terdengar parau, dahinya dipenuhi dengan peluh. Digta menyentuh jidat Zeya, dan suhu tubuhnya berubah jadi panas. “Aku masih hidup ya, Mas?”


Digta menarik napas dalam-dalam. Tadinya mau kasihan, malah berubah jadi kesal melihat sikap bocah ini.


“Kamu lagi ada di Neraka,” jawab Digta.


Untunglah Ambar kembali masuk ke kamar sebelum mereka melakukan perang dingin.


“Zey, kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Apa yang terjadi dengan kamu?” Ambar duduk di sudut kasur.


“Waktu main ke hutan pinus, aku jatuh dari bukit Mba. Kakiku ketusuk kayu, jadi aku kesulitan untuk berdiri.” Zeya mulai bercerita.


“Terus, Mas Digta? Kenapa kalian tidak kembali kemarin? Aku benar-benar cemas menantikan kalian berdua,” ucap Ambar lagi. Kali ini menatap Digta.


“Jadi, aku dan Zeya terjebak di dalam gudang semalaman,” jelas Digta. Ambar menaikan kedua alisnya. Sebelum Ambar curiga, Digta langsung menjelaskan. “Tidak terjadi sesuatu di antara kami. Zeya bukan seleraku.”


“Sama! Mas Digta itu menyebalkan,” sambar Zeya.


Ambar langsung tertawa. “Tapi, syukurlah kalau kalian berdua selamat.”


“Seram tahu Mba, tadi malam itu seperti berada di alam baka,” kata Zeya lagi yang membuat Digta memelototinya.


“Hush, kamu itu harusnya berterima kasih dengan Mas Digta.” Ambar melirik Digta yang keluar dari kamar Zeya dan memutuskan masuk ke dalam kamarnya sendiri. “Bentar lagi, ada Dokter yang datang. Kamu tunggu saja ya,” kata Ambar lagi.


Zeya menganggukkan kepala. Lantas Ambar pun keluar dari kamar juga.


***


“Harusnya kita memutuskan untuk berangkat ke Malaysia saja daripada harus liburan ke puncak. Bukan liburan yang kita dapat, malah kesialan karena adikmu yang nyusahin itu,” ucap Digta ketika Ambar baru masuk ke dalam kamar.


“Mas, kok ngomong begitu, sih.” Ambar menghampiri suaminya yang telah berbaring di kasur.


“Aku bicara kenyataan, Ambar. Ini bukan seperti liburan.”


“Mas—“ belum sempat Ambar bicara lebih banyak, suara seseorang yang masuk ke dalam villa mereka muncul. “Sepertinya Dokter sudah datang. Aku samperin dulu ya, Mas.” Ambar kembali keluar dari kamar.


Digta mendesah frustrasi. Dia baru teringat kalau ponsel Zeya ada bersamanya. Digta menemukan ponsel Zeya tergeletak di tanah saat di hutan. Tapi, Digta lupa memberitahu Zeya.


Lelaki itu mengeluarkan ponsel Zeya dari saku celananya.


Ponselnya tidak memiliki kunci sandi. Membuat Digta menyeringai. “Bisa-bisanya ponsel nggak dikasih kata sandi,” celetuk Digta. Dia mulai iseng untuk memeriksa ponsel Zeya.


Mengecek galerry Zeya dan melihat foto-foto selfie Zeya sebelum dia terjatuh ke bukit.


Digta terkekeh geli. Kelihatan sekali kalau Zeya ini hobby selfie. Kemudian, dia mengintip sebuah pesan WhatsApp Zeya bersama Zega.

__ADS_1


Zeya: Aku harus ikut Mbak aku ke puncak. Hiks.


Zega: Why? Gagal lagi dong ngedate-nya


Zeya: Tahu tuh, nyebelin. Maksa banget. Aku tuh males pergi bareng dengan Jin Tomang terus.


Jin Tomang? Digta mengernyit saat membaca pesan tersebut.


Zega: Hahahahah. Kakak ipar kamu memang nyebelin ya.


Zeya: Iya, makanya namanya itu Dijib! Digta jin dan Iblis.


Zega: Hahahah


Wah, berani sekali mereka mengata-mgataiku! Awas saja mereka ya! Nilai mereka akan terancam.


Zega: Btw, kamu ada bahas tentang lamaran aku lagi dengan Mbak kamu?


Zeya: Belum:( karena Mba Ambar lagi sakit.


Zega: Aku sudah memebritahu orangtuaku, Zey. Mereka ingin bertemu kamu. Gimana, kalau aku ajak kamu ke rumahku setelah kamu pulang dari puncak nanti.


*Zeya: Oke:**


Digta mengerutkan hidung. Emot cium? Cuih, dasar bocah labil!


“Mas …” suara Ambar muncul lagi. Membuat Digta terkejut dan buru-buru menyembunyikan handphone Zeya.


Digta mendongak. “Iya, Sayang?”


“Dokter bilang apa?”


“Untuk saat ini, kondisi Zeya nggak terlalu buruk. Tapi, kalau tadinya tidak ditanangani dengan cepat, lukanya bisa terinfeksi. Dan Dokter juga beri obat pada Zeya.”


“Terus, kamu maunya gimana? Kita pulang ke Jakarta aja?”


“Entahlah.” Ambar mengangkat bahu.


“Yasudah, gini saja. Kita lihat kondisi adikmu satu harian ini. Jika memang kondisinya buruk, kita langsung bawa dia ke Jakarta dan dirawat di rumah sakit di Jakarta saja.”


Ambar mengangguk menyetujui.


***


Digta tidak bisa tidur dengan tenang, sedangkan istri dan anaknya sudah tertidur lelap di sebelahnya.


Digta melihat jam di atas nakas yang menunjukkan pukul dua pagi.


Digta bangkit dan menuju dapur unuk meneguk segelas air. Tenggorokannya terasa kering.


Tiba-tiba, Digta mendengar suara seseorang mengeluh panjang. Dan suara itu terdengar dari kamarnya Zeya.


Digta pun berinisiatif untuk menghampiri kamar Zeya. Betapa kagetnya Digta saat mepihat adik iparnya itu tengah meringkuk seperti janin dengan kondisi tubuh menggigil.

__ADS_1


“Zeya….” Digta menghampiri karena panik.


Digta menyentuh kening Zeya. “Badan kamu panas.” Digta bingung harus bagaimana. “Sebentar ya.”


Digta pun menghampiri Ambar dan ingin menbangunkan istrinya. Tapi, Digta tidak tega. Mengingat Ambar juga sakit. Dan istrinya membutuhkan waktu untuk istirahat.


Digta bergerak sendiri. Dia mengambil baskom berisi air hangat dan juga air minum. Lalu kembali ke kamar Zeya.


“Zey, minum dulu.” Digta membantu Zeya untuk duduk agar perempuan itu bisa minum.


Kemudian Zeya baring lagi.


Digta tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Bahkan saat istrinya sakit saja, Ambar selalu melakukan hal ini sendirian. Ambar perempuan yang mandiri. Sangat berbeda dengan Zeya yang cenderung manja.


Digta pun mengompres dahi Zeya dengan air hangat.


“Mas, kenapa dingin banget ya.” Zeya semakin menggigil.


“Saya sudah matikan AC. Dan setahu saya, kalau lagi demam nggak boleh pake baju berlapis-lapis. Kalau bisa pake yang tipis saja. Dan tubuh kamu jangan terlalu banyak ditutupi dengan selimut.” Digta menarik selimut dari tubuh Zeya.


“Ih, dingin tahuuuu!” Zeya tampa sewot.


“Kamu tuh ya, sudah dikasih azab masih saja melawan.”


“Is.”


“Sudahlah, saya tinggal dulu.”


Saat Digta hendak pergi, Zeya langsung menarik baju Digta.


“Mba Ambar mana? Mba Ambar tahu, kalau aku sakit, aku nggak bisa ditinggal sendirian. Aku butuh Mbar Ambar,” ucap Zeya lirih.


“Mba Ambar juga sakit, sakitnya lebih parah daripada kamu. Tapi dia tidak manja seperti ini. Jadi, saya nggak tega untuk banguni dia.”


“Yasudah, kalau begitu Mas saja yang termani aku.”


Digta menghela napas gusar, mulai merasa dongkol.


“Manja sekali!” Serunya kesal.


Lalu Digta menarik kursi dan duduk di sebelah kasur Zeya. Perempuan itu masih meringkuk sambil tertidur. Sedangkan Digta mengotak-atik ponselnya.


Dia bingung harus melakukan apa.


Satu jam kemudian, Digta tidak melihat tanda-tanda kehidupan dari Zeya. Perempuan itu terkulai lemas. Membuat Digta curiga.


“Zey….” Digta menggoncang tubuh Zeya. “Zey!” Digta mengarahkan telunjuknya ke lubang hidung Zeya. Lelaki itu tidak merasakan deru napas Zeya.


“Zeya….” Digta semakin panik. Dia pernah belajar melakukan RJP sebelumnya, jadi Digta akan melakukan pertolongan pertama pada Zeya.


Lelaki itu memberi tekanan pada dada Zeya berulang kali. “Zey, ayo bangun!” Digta terus menekan bagian dada tengah Zeya. Kemudian, Digta menatap wajah Zeya, menjepit hidung Zeya dan menempatkan mulutnya ke mulut Zeya untuk melakukan napas buatan.


“Mas …..”

__ADS_1


Sara Ambar mendadak muncul.


__ADS_2