
“Berhentiin aja aku di sini,” ucap Zeya pada Digta setelah selesai dari mengantar Ciya ke sekolahnya.
Lelaki itu menatap Zeya dari spion depan mobil.
“Mau diberhentiin?” Tanya Digta memastikan.
“Iya. Kan, sudah nggak ada Mba Ambar. Ngapain juga kita harus berangkat bareng ke kampus,” kata Zeya lagi.
“Bener juga kamu.” Digta langsung menepikan mobilnya ke sisi kiri ruas jalan. “Yasudah, turun.”
“Bye!” Zeya pun keluar dari mobil Digta.
Tanpa banyak basa-basi lagi, lelaki itu melesat meninggalkan Zeya sendirian yang tengah berdiri di trotoar jalan. Zeya segera mengirimkan pesan untuk Zega.
To Zega:
[Share location. Aku nunggu di sini yak xixi]
From Zega:
[Sip. Otw]
Tidak sampai tiga puluh menit, motor Zega muncul dan berhenti tepat di hadapan Zeya. Perempuan itu melangkah semakin dekat.
“Kamu bareng siapa ke sini?” Tanya Zega.
“Pak Digta. Karena males datang ke kampus barengan, jadi aku minta dituruni di sini saja,” kata Zeya lagi.
“Oh, gitu. Yasudah nih, helm kamu.” Lalu Zega memberikan helm kepada Zeya. Dan perempuan itu pun segera naik ke atas motor Zega.
Motor melesat membelah jalan raya. Karena takut akan jatuh, Zeya sampai memeluk pinggang Zega. Dan untunglah Zega nggak merasa keberatan sama sekali.
Bar-bar sekali kamu Zeyaaa!
“Kenapa aku nggak dibolehin jemput ke rumah kamu, Zey?” Zega sengaja meninggikan suaranya agar tidak kalah dari suara kendaraan yang lewat di sekitar mereka.
Sedangkan Zeya semakin melongokan kepalanya ke depan. “Enggak tahu, tuh. Mba Ambar memang posesif banget dengan adiknya.”
Zega terkekeh geli mendengar cerita Zeya. “Eh, ntar malem jalan yuk. Mumpung malem Minggu.”
“Serius kamu ajak aku jalan?”
“Memangnya aku pernah bohong dengan kamu?”
“Haha, okedeh. Oh iya, ngomong-ngomong, aku sudah membujuk Pak Digta untuk mengizinkan kamu tetap masuk di dua mata kuliahannya seperti biasa.”
“Ha? Beneran aku boleh masuk?”
“Iyah.”
“Makasih, Zey. Padahal aku nggak maksa kamu untuk bujuk Pak Digta.”
“Hehe, santai aja.”
Akhirnya motor Zega berhenti di pelataran kampus. Bahkan, mereka sampai lebih dulu daripada mobil Digta. Mungkin saja Digta terjebak macet—sehingga membuatnya jadi lama sampai.
Digta keluar dari mobil, melihat adik iparnya bersama seorang cowok yang saat itu pernah dia usir dari kelas. Dan, Zeya juga memohon kepada Digta untuk membuat cowok itu bisa masuk di jam kuliahnya kembali, kan?
Siapa nama cowok itu? Ah, Zega. Iya, Zega!
Digta punya ide lain. Jika Zeya sering mengadu tentang sikap Digta yang buruk kepada Ambar. Kenapa Digta tidak melakukan sebaliknya saja, agar Zeya juga dimarahi Ambar karena ketahuan pergi bareng cowok.
Digta sengaja mengambil foto kebersamaan Zeya dan Zega, lalu mengirimnya ke WhatsApp Ambar.
*Digta:** Lihat tuh, Adikmu.*
*Ambar:** Loh, kenapa dia bisa ke kampus bareng orang lain?*
__ADS_1
Seketika Digta menepuk jidat.
Astaga, bodoh sekali dia! Harusnya dia tidak mengadu kepada Ambar.
*Ambar: **Kalian nggak pergi bareng ya?*
*Ambar : **Atau kamu menurunkan Zeya di pinggir jalan?*
*Ambar: **Mas … jawab aku!*
Digta menelan ludah sambil menatap ponselnya dengan nanar. Ia pun langsung mematikan ponselnya agar Ambar tidak memborbardirnya lagi.
Lebih baik minta maaf daripada minta izin.
***
Ponsel Zeya berdering ketika ia baru saja turun dari motor Zega.
Nama Ambar berkelap-kelip di layar.
Zeya mengembalikan helm Zega sambil menerima panggila dari Ambar.
“Halo, Mba,” sahut Zeya pada deringan pertama.
“Ambar, kenapa kamu bisa ke kampus bareng orang lain? Kamu nggak pergi bareng Mas Digta ya?”
Zeya bingung, bagaimana Ambar bisa tahu?
“Ng—bukan gitu, Mba.”
“Kamu udah bohongin, Mba!” Ambar memotong pembicaraan adiknya.
Zeya menutup matanya sedetik sembari menghela napas dengan berat.
Bagaiman bisa Ambar tahu? Kalimat itu terus terngiang di kepala Zeya. Apa jangan-jangan, Digta yang memberitahu Ambar?”
Zeya mengedarkan pandangan ke sekeliling dan melihat Digta ada di sekitarnya. Lelaki itu melangkah tanpa dosa melewati tubuh Zeya begitu saja.
“Mba Ambar, nanti aku telepon lagi ya. Dosenku sudah masuk kelas.
Klilk
Zeya langsung memutuskan sambungan. Dan berlari cepat mengejar langkah Digta yang semakin lama semakin cepat.
“Tunggu!” Zeya mengacungkan kelima jarinya ketika berhasil berhenti di depan Digta, dan menghalangi jalan lelaki itu. “Siapa yang beri tahu Mba Ambar, kalau aku pergi ke kampus bareng orang lain?”
“Mana saya tahu.” Digta bersikap pura-pura tak tahu.
“Pasti Pak Digta, kan!” Seru Zeya sambil berkacak pinggang.
“Heh!” Digta menunjuk Zeya. “Jaga ucapanmu dengan dosenmu sendiri ya! Tidak ada sopan santunnya sama sekali.”
“Bapak tahu apa yang sudah Bapak lakukan adalah keputusan yang sa-lah! Bukan hanya aku yang akan diserang Mba Ambar. Tapi, Bapak juga, karena dituding telah mentelantarkan aku.”
Digta memutar bola mata jengah dan mengembuskan napas dengan lelah. “Oke, sorry, saya nggak sengaja sudah melakukan hal ini. Dan sekarang saya sadar bahwa keputusan saya memang salah. Saya menyesal. Harusnya saya nggak mengadu kepada Ambar.”
Zeya masih melotot. “Saya nggak lihat wajah penyesalan sama sekali di muka Bapak.”
“Jadi, saya harus bagaimana? Berlutut? Minggir, saya nggak punya banyak waktu untuk mengurus hal yang tidak penting ini.” Digta mendorong tubuh Zeya menjauh, lalu dia melangkah melewati tubuh Zeya begitu sana tanpa perasaan.
Awas ya kau, Jin Tomang! Tunggu pembalasanku!
***
Zeya duduk di kelas sambil termenung. Dia tengah mencari ide untuk membalas perbuatan Digta biar tahu rasa.
“Woy, kenapa melamun, sih?” Jerry menghampiri Zeya dan menarik kursi untuk duduk di sebelahnya.
__ADS_1
“Nggak ada.” Zeya diam sejenak. “Oh iya, lo ada masalah akademis ngga dengan Pak Digta?”
“Ng—sejauh ini nggak ada, sih. Kenapa, Zey?”
“Lo mau bantu gue nggak? Tolong kumpulin para Mahasiswa yang punya masalah dengan Pak Digta. Nanti saat pulang kuliah, minta mereka ikuti mobil Pak Digta. Pak Digta mau ngebantu memperbaiki nilai mereka di rumah.”
“Wah, serisu loh, Zey? Teman-teman pasti seneng nih, denger beritanya.”
“Iya, serius.”
“Okey, siap!”
Langkah pertama sudah berhasil. Mungkin Jerry akan menyebarkan gossip ini, mengingat dia penyebar gossip yang handal. Dan Zeya yakin sekali kalau Digta akan diserang dengan para Mahasiswa yang pernah punya masalah denganya menyangkut nilai mata kuliahan.
Kalau Zeya dan Zega saja bisa dibantu, lalu mengapa yang lain, tidak?
Ketika jam kuliah berakhir, Zeya melangkah mendekati mobil Digta. Beberapa para Mahasiswa sudah berkumpul di lapangan dan berancang-ancang untuk mengikuti mobil Digta. Membuat Zeya terkikik geli.
Dan tak lama kemudian, Digta juga muncul ke parkiran. Dia menatap Zeya yang sudah menunggu lebih dulu dengan kening mengerut.
“Kenapa nggak pulang dengan temenmu?” Nada Digta ketus, lantas masuk ke dalam mobil.
Zeya pun ikut masuk ke dalam mobil. “Mas Digta udah bikin pengaduan dengan Mba Ambar. Gimana mungkin aku pulang dengan temenku lagi?”
“Oh iya.” Digta hanya merespons singkat
Lalu mobil melesat meninggalkan kampus. Zeya memperhatikan rombongan mahasiswa mengikuti mobil Digta dari kaca spion.
Zeya terkikik geli.
“Kenapa ketawa?” Diga melihat adik iparnya sejak tadi ketawa-ketiwi sendirian.
“Loh, emang nggak boleh? Ketawa itu ibadah loh, Mas.”
“Senyum yang ibadah.”
“Kalo ketawa, berarti ibadahnya nambah, dan pahalanya bisa dapet dobel.”
“Terserah.” Digta memutar bola mata jengkel.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil mereka tiba di rumah.
Ternyata, Ambar sudah menunggu kepulangan mereka di depan pintu.
“Waduh, bisa gawat nih, urusannya.” Digta kelihatan panik.
“Hayo, itu tanggung jawab Mas Digta, loh.”
Digta melotot, kemudian mereka keluar bersama dari mobil.
“Sayang,” sapa Digta hangat dan hendak memeluk Ambar.
Tapi, Ambar langsung mendorong Digta menjauh. “Kenapa pulangnya barengan, tapi pergi nggak barengan?”
Zeya menelan ludah. “Mba Ambar, ini salah paham aja, kok. Tadi itu aku sengaja pergi bareng temen karena mobil Mas Digta mogok.” Zeya mencari alibi.
“Iya, Sayang.” Digta membetulkan.
Sedangkan Ambar masih mendengus kesal. “Mas….”
Belum sempat dia bicara, rombongan mahasiswa sudah tiba di pelataran rumah Digta.
“Loh, kenapa ini ramai-ramai?” Tanya Ambar bengong.
Zeya pun langsung berdiri di hadapan para rombongan Mahasiswa tersebut.
“Sabar teman-teman, Bapak/Ibu, adek-adek semuanya. Satu-satu ya konsultasi dengan Pak Digta.” Teriak Zeya. Lantas menatap Digta yang masih bengong di tempat. “Mas, mereka semua ini datang untuk minta bantun kepada Mas Digta tentang nilai-nilai mereka yang dengan sengaja Mas beri nilai E tanpa sebab dan tujuan yang jelas. Jadi, mereka minta Mas untuk memperbaiki nilai mereka lagi agar mereka semua bisa masuk kelas dan nggak mengulang di semester depan.
__ADS_1
Digta mengernyit. “Apa?”