
“Kamu lihat sendiri kelakuan adik kamu kan, Ambar.”
Digta berkacak pinggang, kepalanya menengadah menatap langit-langit. Hembusan napasnya begitu kencang dan berat. Lalu, lelaki itu menatap Ambar dan Zeya yang sedang duduk di sofa sambil menundukkan kepala.
“Mas, jangan teriak-teriak. Nanti Ciya bangun.” Ambar berusaha mengeluarkan tenaganya untuk menjadi pawang terbaik saat ini.
Digta menyeringai hambar. “Kamu minta aku untuk nggak teriak-teriak setelah tanganku gempor mengubah nilai tiga puluh Mahasiwa yang datang ke rumah kita seperti minta sembako. Itu semua karena siapa? Karena ulah adikmu.” Digta berteriak lagi.
“Ya ampun, Mas, untung-untung pahala, loh. Lagipula tindakan Mas kepada Mahasiswanya selama ini sangat dzalim.” Zeya berani membuka mulut.
Membuat Digta semakin memelototi perempuan itu tajam seolah hendak menusuk manik mata Zeya.
Ambar mengusap paha Zeya, meminta adiknya untuk diam karena saat ini emosi Digta benar-benar kalut.
“Aku nggak ngerti lagi harus gimana, kesabaranku benar-benar habis, Mbar. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah—“ Digta diam sejenak sembari menyipitkan matanya tajam pada Zeya. Digta menarik napas, mengembuskan napas, menarik, hembus, ia lakukan hal itu berulang kali guna mengontrol emosinya.
“Sudah apa?” Zeya masih berani menantangnya.
“Ya ampun, sudah-sudah, dong. Jangan berantem melulu.” Ambar coba menengahi. “Gimana, kalau nanti malam, kita pergi dinner bareng. Mumpung malam ini malam Minggu.” Ambar berusaha mencairkan suasana.
“Tidak, terima kasih, Ambar. Aku hanya butuh istirahat,” ucap Digta langsung menolak.
“Yap, dan lagipula nanti malam aku mau pergi, Mba,” lanjut Zeya. Membuat mata Ambar jadi menatapnya dengan pandangan menyelidik.
“Mau kemana?”
“Mau jalan bareng temen.”
“Cowok yang naik motor itu?”
Zeya mengangguk ragu. “Dia baik kok, Mba.”
“Bukan masalah baiknya, Zeya. Tapi, Mba sudah booking restaurant-nya untuk kita dinner malam nanti.”
Digta dan Zeya terkejut.
“Booking? Tanpa persetujuan aku dulu?” Digta menatap istrinya tak percaya.
Ambar mendengus. “Memangnya kenapa sih, Mas? Selama Zeya ada di sini, kita belum pernah pergi dinner bareng, loh.”
“Mbaa, aku nggak ikut juga nggak apa-apa, kok. Mba dan Mas Digta pergi saja.” Zeya berusaha membujuk Ambar.
Males banget dinner satu meja bareng Dosen killer. Bukannya makan enak, tapi berasa lagi ujian skripSHIT.
“Nggak bisa. Kamu harus ikut.”
“Tapi, aku sudah janjian dengan temenku, Mba.” Wajah Zeya memelas.
“Iya, Mbar. Biarkan sajalah adikmu itu pergi.” Digta membela.
“Nggak!” Tegas Ambar. “Pokoknya, nanti malam kita harus pergi bersama-sama. Oke?”
Zeya langsung cemberut. “Issssh!” Lantas bangkit dari sofa dan masuk ke dalam kamar dengan kesal.
***
__ADS_1
Lagi-lagi, Zeya gagal kencan dengan Zega hanya karena menuruti permintaan Ambar.
“Zeyaaa, buruaan!” Ambar terus berteriak di sepanjang waktu untuk memaksa Zeya agar segera ikut dinner bersamanya.
Zeya lagi nggak bersemangat, jadi dia hanya menggunakan pakaian seadanya dan tidak butuh dandan cantik-cantik.
“Iya, ini udah siap.” Lalu Zeya keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam mobil Digta.
Di mana mereka sudah ada di dalam mobil lebih dulu. Zeya duduk di kursi belakang bersama Ciya.
“Tante Zeya kayak habis baru bangun tidur,” komentar Ciya ketika memperhatikan penampilan Zeya.
“Tapi tetap cantik, kan?”
“Cantik dong, Tante.”
Saat mobil Digta hendak melesat pergi, tiba-tiba Ambar membuka pintu mobilnya lagi.
“Loh, mau kemana, Sayang?” Tanya Digta bengong.
“Bentar, Mas.” Dan Ambar pun turun dari mobil, masuk ke dalam rumahnya.
Terdengar suara helaan napas yang panjang dari Digta. “Benar-benar acara nggak jelas.”
“Setuju!” Seru Zeya ikutan nimbrung. Digta hanya memelototi perempuan itu dari spion depan.
Tak lama, Ambar kembali muncul. Dia tidak langsung masuk ke dalam mobil, melainkan mengetuk jendela mobil.
Digta menurunkan jendela kaca mobilnya. “Ada apa, Sayang? Ayo masuk,” pintah Digta.
“Apa?” Digta dan Zeya sama-sama tersentak kaget.
“Yasudah, kalau gitu acaranya kita batalin aja,” ucap Digta.
“Jangan, kalian harus tetap pergi ke dinner. Karena aku sudah booking tempatnya.” Ambar memasang wajah seiba mungkin.
“Kenapa tiba-tiba Mba Ambar nggak ikut, sih?” Tanya Zeya.
“Aku merasa nggak enak badan.”
“Yaudah, aku juga nggak pergi. Ngapain aku pergi, di saat kondisi istriku nggak enak badan,” kata Digta lagi.
“Mas, nggak bisa. Kalian harus tetap pergi.” Ambar memaksa.
“Kenapa harus? Nanti aku ganti deh, berapa kerugiannya.”
“Enggak, Mas. Kamu harus pergi bawa Zeya dan Ciya dinner di restaurant itu. Pleaseeee….” Mata Ambar berkaca-kaca.
Digta menghela napas dengan panjang dan gusar. “Terus, kamu gimana?”
“Aku sendirian aja di rumah, nggak apa-apa kok, Mas.”
“Aduh. Kamu ini ada-ada saja, deh.”
“Yaudah, kalau begitu, kalian hati-hati ya….”
__ADS_1
Ambar mundur selangkah. Membiarkan mobil suaminya melesat pergi bersama Zeya dan Ciya. Lalu Ambar melambai penuh kebahagiaan. Akhirnya, rencananya berhasil. Semoga dengan cara seperti ini, Digta dan Zeya bisa akur.
***
Akhirnya, mereka tiba di restaurant untuk dinner. Setelah mobil Digta terparkir di pelataran restaurant, mereka pun keluar bersama dari mobil.
“Asikk, makan-makan!” Ciya tampak bersemangat.
“Pakaianmu bikin malu,” komentar Digta tiba-tiba mengarah pada Zeya.
Zeya menyipit. “Kenapa harus malu? Yang penting kan, pake baju!” Zeya memeletkan lidahnya dengan cara yang menyebalkan.
“Pusing bawa dua bocil,” kata Digta lagi.
“Mas Digta bilang aku bocil?!” Zeya merasa tidak terima.
“Ya!” Digta berjalan lebih dulu. Meninggalkan Zeya dan Ciya yang melangkah sambil berpegangan tangan.
Setelah masuk ke dalam restaurant, mereka pun duduk di salah satu kursi yang telah di booking oleh Ambar.
Zeya dan Ciya memesan steak, sedangkan Digta memesan Spagethi. Mereka pun mulai menikmati makanan mereka. Kecuali Zeya, yang kesulitan memotong daging.
Digta terus memperhatikan Zeya, sampai saus barbeque steak-nya muncrat mengenai wajah Digta.
Digta memukul meja dengan kencang.
PLAK!
Saat Zeya berhasil memotong dagingnya, potongan dagingnya lompat ke wajah Digta.
Ciya tertawa paling kencang. “Hahahah, Ayaaah!”
Digta memejamkan mata sejenak, berusah mengontrol emosi di depan Ciya.
“Maaf, Mas. Aku nggak sengaja dan juga kaget karena Mas tiba-tiba pukul meja,” ucap Zeya—mulai merasa kalau hidupnya nggak aman.
“Kalau nggak bisa potong steak. Minimal jangan pesan steak, tapi pesan aja nasi goreng pake kecap,” ujar Digta dingin.
Zeya menelan ludah. “Maaf, kan, sudah minta maaf.” Zeya mengambil serbet. “Sini aku bersihin deh, mukanya.” Zeya membersihkan wajah Digta dengan kasar.
Membuat emosi Digta semakin kalut.
“Udah, stop! Stop! Cukup main-mainnya. Kamu itu bener-bener paket komplit. Selain bikin saya selalu marah, kamu nyusahin, ngerepotin, bikin malu. Semuanya.”
Zeya tidak suka dikatakan seperti itu oleh Digta. “Kenapa Mas selalu ngejelek-jelekin aku, sih?”
“Karena memang itu kenyataannya. Saya pusing kalau harus dihadapkan dengan kamu terus.”
“Ayaaah jangan berantem donggg.” Ciya cemberut.
“Yaudah kalau begitu, lebih baik aku pergi saja dari sini daripada buang-buang waktu ikut dinner nggak jelas gini!” Zeya bangkit dari kursi.
“Kamu selalu nggak punya solusi selain ngambek. Sedikit-sedikit ngambek! Tidak bisa menyelesaikan masalah dengan dewasa.” Bentak Digta.
“Memangnya masalah bisa diselesaikan dengan Mas Digta yang selalu mengandalkan semua pake emosi?” Zeya melotot sebal. “Aku permisi!“ dengan langkah kesal, Zeya meninggalkan restaurant.
__ADS_1
Memang lebih baik malam Mingguan bersama Zega daripada menghabiskan waktu bersama Jin!