Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang
18. Pengakuan Yang Akhirnya Terkuak


__ADS_3

“Ayahh…. Tante Zeya.”


Ciya merosotkan tubuhnya di kursi mobil sambil cemberut.


“Nanti, Ibu marah,” kata Ciya lagi.


Digta menarik napas dalam-dalam sambil mencekram erat stir kemudi. Dia sudah tidak peduli lagi mau Ambar marah-marah, kek, Ambar pingsan, kek. Terserah saja sekarang. Karena Digta sudah lelah menghadapi watak Zeya yang suka ngambek, terus ngadu.


Dan untuk apa Digta mengejar Zeya, memohon-mohon kepada Adik iparnya seperti nggak punya harga diri dan berharap kalau adik iparnya itu dapat kembali ke rumah lagi?


“Nanti kita jelasin ke Ibu ya, Nak.” Hanya itu kalimat yang keluar dari bibir Digta.


Lantas, mobilnya pun melesat meninggalkan restaurant. Digta akan menanggung risikonya setelah dia sampai rumah nanti.


***


Karena merasa nggak puas makan steak di restaurant mewah, Zeya memutuskan untuk mengajak Zega makan bakso pinggir jalan. Lebih enak dan nikmat. Dan yang jelas, nggak ada Jin Tomang yang akan merusak mood-nya.


“Banyak banget cabenya.” Zega menatap Zeya bengong saat perempuan itu memasukan banyak sendok cabe ke dalam mangkuk baksonya.


“Iya, hidupku sudah pedas. Dibikin makin tambah pedas aja biar asik,” ujar Zeya dengan wajah dongkol.


Zega tertawa renyah. “Ada-ada saja kamu ini.”


“Aku tuh, punya target menikah di umur dua lima tahun, yaitu tahun depan. Tapi, sampai saat ini, Mba Ambar masih saja melarangku untuk dekat dan jalan dengan cowok-cowok. Kalau begini terus, gimana aku mau laku?” Zeya mengomel menumpahkan isi hatinya sambil menusuk-nusuk bakso dengan garpu.


“Kamu memang nggak pernah pacaran, Zey?” Zega penasaran.


“Pernah, dong. Tapi udah lama banget hahaha. Setelah itu, Mama, Papa dan Mba Ambar mulai menjaga aku dengan ketat. Bener-bener melarang aku pacaran, apalagi jalan sama cowok. Dan sekarang, umurku sudah dua puluh empat tahun, rata-rata temenku sudah pada menikah. Dan aku, nggak ingin hidup menjadi perawan tua nantinya,” kata Zeya lagi dengan kebawelannya.


“Yasudahlah, nikah sama aku saja,” ucap Zega mendadak.


Bikin Zeya terbelalak. Tapi, lelaki seganteng Zega ini memang biasanya hobby mempermainkan hati wanita. Jadi, harusnya Zeya nggak boleh baper agar nggak gampang ketipu.


“Aku sudah lumayan mapan, Zey. Aku meneruskan usaha Papaku dan punya resto. Restoku juga cukup terkenal,” lanjut Zega lagi dengan tatapan serius.


“Jangan ngaco kamu.” Wajah Zeya merona.


“Aku serius. Mungkin dengan begini, Kakak kamu nggak akan lagi mengusik hidup kamu. Dan menikah, adalah satu-satunya cara terbebas dari larangan keluarga kamu.”


Zeya terdiam memikirkan kalimat Zega. Ada benarnya juga omongan Zega, dan mungkin ini adalah satu-satunya cara. Lagipula, Zega nggak terlalu buruk. Dan siapa yang berani menolak pesona Zega.


“Kamu mau datang menemui kakakku untuk melamarku?” Zeya menatap Zega penuh harap.


Zega mengangguk mantap. “Boleh.”


***


Ambar terkejut melihat suaminya dan Ciya pulang tanpa kehadiran Zeya. Lag-lagi, selalu ada saja yang terjadi setiap mereka dibiarkan pergi bersama.


“Mas, Zeya mana?” Tanya Ambar bengong.

__ADS_1


“Tante Zeya pergi, Ibuu.” Ciya menjawab dengan wajah cemberut.


Ambar mengerutkan dahinya sambil menatap Digta. “Mas….”


“Ambar, aku nggak tahu, dan aku capek. Jadi, jangan banyak melontarkan pertanyaan untuk aku. Mengerti?” Suara Digta tegas.


Ambar tidak pernah melihat Digta bicara setegas ini padanya. Saat Digta hendak melangkah pergi, Ambar langsung menarik tangan Digta, menghalangi kepergiannya.


“Mas, kamu jawab dulu pertanyaanku. Zeya kemana? Dan bagaimana bisa kalian pulang tanpa Zeya? Apa lagi yang terjadi di antara kalian?” Tanya Ambar beruntun.


“Ambar!” Digta melepaskan diri dari sentuhan Ambar.


Membuat Ambar terkejut.


“Stop menanyakan keberadaan Zeya dengan aku. Aku ini bukan bodyguard-nya, dan adik kamu bisa jaga diri dia sendiri. Lagipula, kenapa kamu selalu berusaha mempersatukan aku dan Zeya, padahal kami nggak akan bisa akur? Sifat Zeya yang sangat kekanak-kanakan sangat nggak cocok dengan sikapku. Jadi, mulai sekarang, terserah adik kamu mau ngapain. Aku nggak peduli!” Digta membentak istirnya.


Bikin Ambar jadi mundur selangkah.


“Mas….” Ambar memelas.


“Zeya bukan urusan aku lagi, paham?” Mata Digta melebar, lalu pergi meninggalkan Ambar menuju kamarnya.


Ambar terduduk di sofa, benar-benar tidak percaya dengan kalimat-kalimat berintonasi tinggi yang dilontarkan oleh suaminya.


“Ibuuuu…..” melihat ibunya yang tertekuk lesu, membuat Ciya jadi khawatir.


“Ciya masuk ke kamar dan tidur ya, Nak. Ini sudah malam.” Ambar membelai hangat kepala anaknya.


Ciya mengangguk. “Iya, Ibuuu.”


“Mba Ambar…. Maaf aku telat pulangnya, tadi kami terjebak macet,” ucap Zeya dengan wajah tanpa dosa.


Ambar tidak langsung menjawab, ia hanya menatap laki-laki yang berdiri di sebelah Zeya dengan mata melotot tajam.


“Mba Ambar, ini temenku mau ngomong sesuatu,” kata Zeya lagi.


Ambar tetap diam, dan menunggu lelaki itu buka suara.


“Mba, sebelumnya saya ingin minta maaf jika sekiranya saya udah lancang. Tapi, saya serius mengatakan hal ini. Kalau saya, ingin menikahi Zeya, mengingat umur kami berdua sudah matang, dan saya sudah cukup mapan dalam hal pekerjaan.” Zega bicara dengan berani.


Ambar langsung menampar pipir Zega. Membuat kepala cowok itu terhuyung ke samping, dan Zeya terbelalak kaget.


“Mba Ambarrr!” Seru Zeya.


”Kamu pikir menikah itu sama seperti membeli cabe! Menikah butuh persiapan yang matang, baik itu mental, batin, finansial. Bukan ngomong pengin nikah sembarangan aja!” Bentak Ambar berapi-api.


“Mba, Zega benar-benar serius ingin melamarku dan menikahiku. Lagipula, aku juga sudah cukup dewasa Mba. Kami bisa menjalani hubungi ini dulu pelan-pelan, tunangan dan menikah.”


“Diam kamu, Zeya. Kamu nggak berhak ambil keputusan sepihak. Aku nggak setuju dengan pernikahan bodoh ini.” Lalu Anbar menunjuk Zega. “Kamu sepertinya ingin mempermainkan adikku!”


“Mba, saya nggak bermaksud untuk mempermainkan Zeya.” Wajah Zega memelas.

__ADS_1


Plak!


Dan Ambar kembali menampar Zega di pipi sebelahnya lagi. “Diam! Saya nggak butuh komentar kamu. Pernikahan ini nggak akan pernah terjadi, jadi jangan berharap kamu bisa menikahi adik saya. Silakan pergi dari rumah aku!”


“Kenapa Mba Ambar selalu bersikap seperi ini, sih? Kalau begini terus, bagaimana aku bisa punya pacar, bagaimana aku bisa menikah? Kenapa aku selalu dikekang.” Zeya langsung murka.


“Mba tidak melarang kamu menikah. Tapi, bukan dengan dia!”


“Lalu dengan siapa?!” Teriak Zeya. “Dengan siapa lagi aku harus menjkah jika Mba Ambar selalu mengekang kehidupanku. Aku bisa stress lama-lama di sini. Belum lagi menghadapi suami Mba Ambar yang menyebalkan itu!”


Teriakan Zeya menggelegar, sampai membuat Digta keluar dari kamarnya.


“Hei, ada apa ini?“ tanya Digta bengong.


“Kalian berdua inilah yang telah menghambat masa depanku!” Teriak zeya lagi sambil menunjuk Digta dan Ambar bergantian.


“Ambar, ada apa ini?” Digta masih heran dan berusaha mencari jawaban dari istrinya.


Tapi, yang melangkah dengan berani justru Zega. “Saya ingin menikahi Zeya, Pak.”


Seketika Digta ikut terbengong. Tapi, sedetik kemudian Digta berhasil mencerna kalimat Zega. “Oh, bagus itu. Menikah saja kalian dan bawa Zeya pergi dari rumah ini cepat-cepat ya


“Tuh, Mba Ambar denger sendiri, kan? Kenapa Mba Ambar masih mempertahankan aku tetap tinggal di sini, di saat Mas Digta saja sudah mengusir aku secara terang-terangan. Aku capek, Mba. Sikap Mas Digta yang gampang emosi sangat nggak cocok dengan aku. Kami nggak bisa serumah. Karena bagiku, Mas Digta itu seperti titisan jin!” Seru Zeya lagi murka.


Digta merasa tak terima. “Apa kamu bilang? Saya jin?”


Zeya berkacak pinggang. “Iya, Jin! Mas Dipta itu menyebalkan!”


“Kamu yang lebih menyebalkan. Sifat kamu gak ada dewasa sama sekai. Sedikit-sedikit ngambek nggak jelas! Sangat kekanak-kanakan, padahal umur sudah tua.”


“Aku begini karena Mas Digta selalu cari gara-gara.”


“Kenapa kamu jadi nyalahin aku, sih?”


“Karena memang Mas Digta penyebabnya.”


“Diaaaam! Diaaam!!!” Ambar menutup kedua telinganya. “Kapan, sih kalian berusaha untuk akur dan nggak bertengkar lagi!” Ambar melotot tajam. “Setidaknya, aku cuma ingin kalian menuruti permintaanku di detik-detik hari terakhir akuuu!” Teriak Ambar murka. “Sebelum, aku pergi untuk selamanya dari kehidupan kalian.” Lalu Ambar terjatuh dan berusaha menahan dirinya dengan kursi. Kepala Ambar mendadak pusing.


“Ambar, apa maksudmu?” Digta mengerutkan dahi.


Ambar tidak menjawab, darah segar mulai mengalir keluar dari hidung Ambar.


“Mba Amar mimisan.” Zeya yang tadinya benar-benar marah. Kini berubah jadi panik. Dia mengambil sapu tangan dam menyeka darah di hidung Ambar.


“Lihat, semua ini karena ulahmu!” Digta masih bisa menyalahkan Zeya.


“Kenapa jadi nyalahin aku terus, sih!” Zeya masih bisa menyalahkan Digta.


“Stop, cukup, aku nggak ingin kalian bertengkar lagi. Aku ingin melihat kalian akur sebelum aku pergi.” Suara Ambar tercekat.


“Pergi? Memangnya kamu akan kemana, Sayang?” Wajah Digta memelas merasa Iba melihat wajah Ambar yang pucat.

__ADS_1


“Mas….” Ambar menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. “Aku menderita Leukimia Akut,” ujar Ambar yang membuat Digta dan Zeya tercengang kaget.


“Sudah stadium 4,” kata Ambar lagi.


__ADS_2