Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang
45. Kabar Bahagia


__ADS_3

“Pak Digta ….”


Suara Kiara yang muncul membuat Digta mundur menjauhi Zeya. Suasana menjadi canggung dan tegang.


Terutama Zeya yang tiba-tiba merasakan keanehan ini.


“Permisi, aku pergi dulu.” Akhirnya Zeya memutuskan untuk menghindar dari suasana canggung ini.


Sedangkan Digta semakin menjadi salah tingkah.


“Kamu memang sering berantem dengan Zeya ya?” Tanya Kiara tiba-tiba. Hal itu justru bikin Digta bernapas lega. Karena Zeya tidak menanyakan tentang ‘mengapa Digta hampir mencium Zeya’?


“Yah, biasalah. Namanya juga Kakak-Adik.” Digta menyeringai hambar. ”Kamu kenapa ada di luar?”


“Ciya katanya kedinginan, jadi saya ingin minta tambahan selimut dengan perawat, Pak.”


“Oh yasudah, Bu Kiara masuk saja. Biar saya yang minta dengan perawat.”


“Baik, Pak Digta.”


Ketika Kiara masuk ke dalam ruang rawat inap, Digta langsung berlari mencari keberadaan Zeya.


“Kemana si tengil itu pergi.” Gerutu Digta sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling saat sudah tiba di lobby rumah sakit.


Lalu, ia melihat Zeya dan Zega masuk melalui pintu lobby sambil bicara dan tertawa seolah pembicaraan mereka itu lucu.


Digta langsung menghadang jalan keduanya.


“Mau ngapain?” Digta berkacak pinggang sembari memelototi Zega dengan tajam.


“Pak Digta.” Zega mundur. “Ng—ini, saya mau menjenguk anak Bapak di rumah sakit.”


“Zega juga bawa makanan dan mainan untuk Ciya, loh,” sambung Zeya.


“Tidak perlu, saya bisa beli mainan untuk anak saya sendiri. Lebih baik, kamu pulang saja.” Digta bicara ketus sambil mengusir Zega secara terang-terangan.


“Mas Digta kenapa, sih? Apa salahnya kalau Zega ingin menjenguk Ciya.” Zeya merasa sebal.


“Jelas salah. Zega tidak ada hubungan darah dengan Ciya. Jadi, daripada membuang waktumu di sini. Lebih baik kamu belajar yang rajin, karena besok kita akan kuis.”


“Kalau begitu, Mas Digta harus mengusir Bu Kiara juga, dong,” celetuk Zeya.


Zega menoleh kaget. “Tanteku ada di sini?”


“Ho-oh, Tantemu itu kegatelan. Bersikap seolah dia adalah Ibunya Ciya.”


“Jaga ucapanmu Zeya.” Digta merasa tak terima. Lantas menyentuh pergelangan tangan Zeya. “Ayo kembali ke atas.”


“Mas Digta….” Zeya tidak bisa berbuat banyak ketika Digta menariknya dengan paksa menjauh dari Zega. “Mas Digta kenapa nyebelin gini, sih? Kasihan Zega. Dia juga udah capek-capek datang ke sini.”


“Kamu jangan sibuk pacaran terus lah, urus anak kita juga.”


Anak kita?


Zeya terdiam ketika Digta mengatakan kalimat terssbut. Saat di dalam lift, Zeya sudah tidak bicara banyak lagi selain mengikuti arahan Digta.


***


“Udah mendingan belum, Ciya?”


Zeya terus memperhatikan dari sofa—ketika Kiara berlagak sok manis di depan Ciya. Bahkan, sok perhatian segala. Membuat Zeya sebal setengah mati.

__ADS_1


“Udah, Tante….” Ciya tersenyum manis.


Lalu, Kiara berjalan menghampiri Digta yang tengah duduk di sebelah Zeya.


“Pak Digta mau makan siang? Ini sudah waktunya makan siang, loh. Jangan sampai, Pak Digta telat makan dan jatuh sakit,” ucap Kiara dengan lemah-lembut.


Membuat Zeya mau muntah mendengarnya.


Huweeek!


Huweee!


Jijay banget!


“Saya nggak ditawari, Bu? Saya lebih laper daripada Mas Digta,” celetuk Zeya asal. Digta jadi menyiptkan matanya tajam ke arah Zeya. Tapi, masa bodo, lah.


Kiara terkekeh. “Zeya mau makan apa?”


“Makan apa aja, Buk. Yang penting harus mahal dan enak ya.”


“Hush! Jangan ngaco kamu!” Tegur Digta.


“Loh, kalau Bu Kiara nggak keberatan, nggak masalah, kan?” Zeya bersikap setenang mungkin.


“Tante Zeyaa, mau ngga bacain dongeng untuk aku?” Ciya bersuara.


Zeya langsung bangkit, tapi yang mendekat justru Kiara. “Biar Tante saja yang bacain ya, Ciya.”


“Nggak mau!” Ciya menggeleng. “Aku maunya sama Tante Zeya.” Ciya menunjuk Zeya.


Zeya tersenyum penuh kemenangan. Emangnya enak mendapat penolakan! Wlek!


“Misi ya, Buuu, aer panas mau lewat.” Dengan sombongnya Zeya melangkah melewati tubuh Kiara. Lalu Zeya naik ke atas brankar dan tidur di sebelah Ciya sambil membacakan sebuah dongeng.


“Bu Kiara, gimana kalau kita minum kopi di cafe bawah saja?” Tawar lelaki itu.


Kiara berusaha mengeluarkan senyumannya. “Boleh, Pak.”


Zeya berdesis sebal melihat kepergian Digta dan Kiara.


“Tante Zeya, Ciya nggak suka dengan Tante Kiara,” bisik Ciya setelah mereka sudah keluar dari ruang tawat inap.


“Loh, kenapa?” Zeya terkejut mendengar pernyataan Ciya.


“Nggak suka, jelek, nggak mirip Ibu.”


“Ih nggak boleh gitu, loh.”


“Iyaa, tapi kata Ibu, Ciya harus senyum kepada siapapun. Makanya, Ciya senyumin ajah!”


“Memangnya, Ciya sukanya sama siapa? Ciya harus punya pengganti Ibu untuk mengurus Ciya dan Ayah.”


“Kenapa nggak Tante Zeya aja yang jaga aku dan Ayah?”


“Ha?” Zeya terbelalak kaget.


“Iyaa, Tante Zeya cantik, mirip Ibu, asik, dan suaranya bagus tiap bacain Ciya dongeng.”


Zeya kehabisan kata-kata. Biasanya, ucapan anak kecil itu selalu jujur.


“Hehe, jadi kalau Tante menjadi Ibunya Ciya, nggak apa-apa?”

__ADS_1


“Nggak apa-apa, Ciya malah seneng. Ciya suka berada di dekat Tante Zeyaa.” Ciya memeluk Zeya dengan hangat.


Entah mengapa Zeya jadi terharu sampai ia menitikkan air matanya. Dia tidak menyangka kalau Ciya akan menyayanginya seperti ini. Zeya merasa kalau darah Ciya seolah mengalir di tubuhnya juga.


“Tante Zeya kenapa nangis?” Ciya mendongak ketika melihat air mata bersimbah di wajah Zeya.


“Nggak apa-apa, Sayang.” Zeya menggeleng. Karena mengingat Ambar. Orang yang sangat dia rindukan saat ini.”


“Kata Ibu, kita nggak boleh menangis. Kalau kita merasa sedih, kita harus berdoa kepada Allah agar hati kita tenang.”


Mendengar kalimat tersebut, tangis Zeya semakin pecah, dan Zeya memeluk Ciya dengan erat.


Digta masuk ke dalam rawat inap, melihat adegan pelukan yang dilakoni oleh Ciya dan Zeya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi melihat hal tersebut membuat Digta senang.


“Ehem….” Digta berdehem.


Membuat pelukan Zeya dan Ciya terlepas.


“Ayah….” Ciya menyapanya.


Sedangkan Zeya buru-buru menghapus air matanya.


“Kenapa nangis?” Digta melangkah mendekat.


“Nggak apa-apa.” Zeya menjawab cepat, dia tidak melihat sosok Kiara ikut bersama Digta. “Bu Kiara mana, Mas?” Tanya Zeya.


“Sudah pulang.”


“Baguslah kalau begitu. Soalnya, Ciya nggka suka dengan Bu Kiara. Iya kan, Ciya?”


Ciya mengangguk mantap.


“Kenapa nggak suka? Tante Kiara baik, loh.” Digta membujuk anaknya.


“Baikan juga Tante Zeya,” jawab Ciya lagi.


“Tuh, kan, aku tuh emang baikkk!” Zeya membanggakan dirinya.


Digta hanya geleng-geleng kepala dan malas menanggapi.


“Oh iya, tadi Mami dan Papi menghubungi.,” lanjut Digta lagi sambil duduk di sudut brankar Ciya dan berada di dekat Zeya. “Mami dan Papi bilang kalau hari ini mereka akan pulang ke Kalimantan.”


Seketika Zeya membelalakan mata dengan lebar. “Serius?”


“He’eh.”


“Alhamdulillaaah!” Zeya sujud syukur. Itu berarti, tidak ada lagi Nenek Sihir di rumahnya. Zeya bisa bebas pergi, dan juga bisa kembali tidur di kamarnya.


“Dan besok, sudah ada asisten rumah tangga yang akan membantu pekerjaan kamu di rumah,” lanjut Digta lagi.


Tentu saja hal itu membuat Zeya semakin senang. “Serius, Mas?”


“Yup.”


“Ya Allaaaah, makasih ya Mas Digta. Makasih banyak.” Refleks, Zeya langsung memeluk Digta karena terlalu bahagia mendengar kabar ini.


“Aduh…aduh, kamu meluknya kekencangan!”


Zeya pun langsung melepas pelukannya setelah sadar. Wajahnya sampai bersemu merah.


“Kamu merona.” Goda Digta sambil terkekeh geli.

__ADS_1


“Aish!!”


__ADS_2