Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang
47. Beraninya Mencium Istriku!


__ADS_3

“Bu Kiara….”


Digta muncul di waktu yang tidak tepat. Padahal, tinggal sedikit lagi Zeya sudah berhasil mengusir Kiara pergi dari rumah ini.


“Loh, ada Pak Digta rupanya. Zeya bilang, tadi Pak Digta lagi pergi.” Kiara bicara tanpa dosa.


Zeya tahu, kalau Digta sedang menatapnya meski posisinya berdiri berada di belakang punggung Zeya. Tapi, Zeya malas berbalik badan untuk bersitatap dengan Digta.


“Ng—ya, tadi saya memang pergi. Tapi sudah kembali. Dan mungkin, Zeya nggak lihat saya pulang.” Entah mengapa Digta harus mencari alasan seperti itu demi menyelamatkan Zeya dari rasa malu karena ketahuan berbohong.


Tapi sebenarnya, Zeya juga tidak butuh diselamatkan. Zeya hanya ingin Bu Kiara pergi.


Zeya menghentakkan kaki kesal, berbalik badan dan pergi dari hadapan mereka. Bahkan saat melangkah pergi, dia enggan menatap mata Digta—yang sedang menatapnya.


Masa bodo lah, kenapa ini menjadi urusan Zeya?


“Silakan masuk, Bu.” Digta kembali fokus pada Kiara.


Perempuan itu tersenyum hangat. “Saya bawa bahan-bahan untuk masak kue. Di sini ada perlengkapan untuk bikin kue kan, Pak?” Kiara masuk ke dalam rumah Digta.


“Ada Bu, di sini lengkap sekali. Karena almarhumah istri saya suka bikin kue. Dan Ciya juga suka bikin kue.”


“Wah, kebetulan sekali. Nggak masalah kalau saya berantakin dapur Pak Digta?”


“Nggak masalah asalkan Bu Kiara pinter ngeberesin lagi.”


Kiara terkekeh geli. Selagi Kiara menuju dapur untuk bersiap bikin kue, Digta menghampiri Ciya di kamarnya.


TOK-TOK.


Digta mengintip masuk, melihat Zeya dan Ciya sedang main di kamar.


“Ciya, keluar yuk. Ada Tante Kiara di luar, mau ajak Ciya bikin kue.” Bujuk Digta.


Ciya langsung menggelengkan kepalanya. “Enggak ah, aku mau di sini saja dengan Tante Zeya.”


“Ciya nggak boleh begitu. Nggak sopan namanya.”


“Kenapa harus dipaksa, Ciya sudah nggak suka dengan Bu Kiara,” sambung Zeya.


“Saya tidak bertanya tentang pendapatmu,” ketus Digta. “Ayuk, Nak.” Ajak Digta lagi pada Ciya.


Ciya menarik napas sebelum akhirnya turun dari kasur. Sebelum mengikuti ayahnya keluar dari kamar, Ciya menatap Zeya dulu dengan wajah cemberut.


Zeya penasaran, dan ikut keluar kamar. Dia ingin lihat seberapa lihai Kiara bikin kue. Ternyata, Kiara memang serapi itu saat masak di dapur.


Zeya pura-pura ke dapur dan mengambil makanan di kulkas. Melihat kedekatan yang terjalin antara Kiara dan juga Digta. Benar-benar memualkan.


Zeya meneguk susu UHT kotak langsung ke dalam mulutnysa, pundaknya bersandar di pintu kulkas. Dia terus memperhatikan cara Kiara tersenyum pada Digta, melihat bagaiman Kiara bersikap perhatian kepada Digta.

__ADS_1


Yah, benar-benar sosok keibuan.


“Coba deh, ini cokelatnya enak.” Kiara menyuapkan sebatang cokelat ke dalam mulut Digta.


Tapi, sebelum benar-benar masuk ke mulut lelaki itu, Zeya sudah merampas cokelat tersebut dari tangan Kiara.


“Mau dong, Buk!”


Digta mendesis kesal. “Nggak sopan kamu.”


Zeya tak peduli, karena suara bell rumahnya berbunyi. Dan Zeya yakin kalau Zega sudah tiba. Zeya pun segera pergi dari dapur dan membuka pintu.


“Malam,” sapa Zega hangat sambil membawa banyak ice cream.


“Ciyaaa, sini deh. Om Zega banyak banget bawa ice cream.” Teriak Zeya.


Membuat Ciya berlari dari dapur menuju ruang depan.


“Asikkk, makan ice cream!” Ciya terlihat begitu bahagia.


Melihat kehadiran Zega di rumah ini, Digta merasa tidak senang. Lelaki itu bahkan rela meninggalkan Kiara seorang diri di dapur dan ikut bergabung di ruang tengah bersama Zeya.


“Apa itu?” Tanya Digta ketus saat melihat bungkus plastik di meja.


“Ice cream dari Om Zega, Ayah.” Ciya menjawab dengan semangat.


“Kamu itu masih sakit, jangan makan ice cream!” Bentak Digta, entah mengapa dia bisa menjadi semarah itu. “Dan kamu—“ Digta menunjuk Zega. “Jangan mencelakai anak saya. Kalau anak saya masuk rumak sakit lagi, apa kamu mau bertanggung jawab!”


Digta menatap istrinya dengan mata menyipit tajam. “Kenapa? Kamu marah pacarmu saya marah-marahi begini?”


“Mas Digta kenapa, sih?”


“Pokoknya, Ciya tidak boleh makan ice cream!” Digta merampas bungkus plastik di meja dan membuangnya ke tempat sampah.


“Ayaaahhh….” Ciya cemberut dan menatap makanan yang baru saja dibuang oleh Digta dengan wajah sedih.


“Mas tuh, sama sekali nggka punya hati!” Seru Zeya merasa kesal. Bisa-bisanya Digta bersikap berlebihan seperti itu. Dia jadi nggak enak hati dengan Zega karena suasana menjadi canggung. “Kita duduk di depan saja yuk.” Zeya pun menarik tangan Zega keluar dari rumahnya.


Zeya mengajak pacarnya duduk di depan teras rumah untuk menghindar dari Digta dan kecanggungan ini.


“Zega, maafin Mas Digta ya. Aku bener-bener jadi nggak enak hati dengan kamu.” Entah bagaimana caranya lagi Zeya harus mengekspresikan kejadian ini. Karena hal ini benar-benar membuatnya malu di hadapan Zega.


Tapi, Zega justru tersenyum tenang. “Nggak masalah, Zey. Aku sudah biasa kok diginiin dengan Pak Digta. Um, gimana kalau kita jalan-jalan saja?”


“Jalan-jalan?” Zeya mengernyit.


“Kalau kamu nggak keberatan, kita jalan-jalan ke sekitar sini saja.”


“Boleh deh, kebetulan di dekat komplek ada bakso enak banget. Kita makan bakso saja yuk.”

__ADS_1


“Boleh. Kita perlu ngajak Ciya nggak?”


Zeya berpikir sejenak. “Pasti nggak akan dibolehi dengan Mas Digta. Kita berdua saja.”


“Okay.”


Zeya merasa, kalau dia tidak perlu berpamitan dulu dengan Digta untuk pergi bersama Zega keliling komplek. Jadi, mereka langsung naik mobil Zega. Karena kebetulan, malam ini Zega membawa mobilnya.


Lalu mobil melesat meninggalkan rumah.


Dari dalam rumah, Digta mengintip kepergian mereka melalui jendela.


“Ayah… Tante Zeya kemana?” Ciya cemberut. Karena sejujurnya Ciya tidak mau terjebak bersama Kiara.


“Kamu jangan pikirkan Tante Zeya lagi. Mulai sekarang, kamu harus mendekatkan diri dengan Tante Kiara, karena Tante Kiara itu baik,” ucap Digta pada anaknya.


“Ciya nggak mau!” Ciya menolak dengan cepat sebelum berlari masuk ke dalam kamarnya.


Digta mengerang kesal, menarik rambutnya menggunakan sela-sela jari. Entah mengapa hatinya menjadi sekacau ini.


***


Ini sudah pukul sepuluh malam, sedangkan Kiara sudah pulang sejak satu jam yang lalu setelah bikin kue. Tapi, sampai sekarang, Zeya belum juga tiba di rumah.


Digta terus mengintip dari jendela dengan perasaan gelisah. Entah sudah berapa kali dia berjalan mondar-mandir saat menunggu kepulangan Zeya.


Tak lama kemudian, suara mobil Zega terdengar berhenti di depan rumahnya. Mobil itu berhenti di depan teras terlalu lama, dan Zeya tidak kunjung keluar dari dalam mobil tersebut.


Karena rasa penasarannya, akhirnya Digta keluar dari rumah dan melangkah mendekat. Kaca jendela mobil Zega gelap, sehingga Digta tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam mobil. Akhirnya Digta memutuskan melangkah semakin dekat dan mengintip jendela mobil Zega.


Betapa terkejutnya Digta ketika melihat Zega mencium bibir Zeya di dalam mobil.


TOK-TOK


Digta mengetuk jendela mobil Zega dengan kencang.


TOK-TOK


Digta semakin brutal menggeder jendela kaca mobil Zega. Sampai akhirnya, Zega membuka pintu mobilnya.


“Ada apa, Mas?” Tanya Zega tanpa dosa.


Digta tidak tinggal diam, dia langsung menarik kera baju Zega, sampai membuat lelaki itu tertarik keluar dari dalam mobilnya.


“Keluar kamu!” Bentak Digta dengan mata sudah melotot tajam. “Sialan! Berani sekali kamu mencium istri saya!” Digta langsung melayangkan pukulan dahsyat ke wajah Digta.


“Mas Digta!” Zeya terkejut dan keluar dari dalam mobil.


Tapi, Digta tidak berhenti. Bahkan, sampai tubuh Zega terjerembab di lantai saja, Digta masih menghimpit tubuh Zega dan kembali menonjok wajah lelaki itu habis-habisan.

__ADS_1


“BRENGSEK!” Digta berubah wujud menjadi monster yang menyeramkan.


__ADS_2