Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang
34. Tamparan Keras


__ADS_3

Dipta tidak sengaja melihat Zeya naik ke atas motor Zega ketika ia hendak menuju parkiran. Dan ketika motor Zega melesat tepat di sebelah Digta, Zeya sengaja memalingkan wajahnya dan bersembunyi di balik pundak lelaki itu.


Dasar bocah! Dalam hati Dipta merasa dongkol. Jadi ini alasan Zeya tidak ingin pulang bersama Digta? Karena ingin menghabiskan waktu dengan pacarnya?


Pacar?


Tunggu dulu, bagaimana mungkin seorang perempuan yang sudah menikah, memiliki pacar lain?


Tapi, bukankah Digta sendiri yang bilang kalau pernikahan ini hanya palsu semata.


Ah, sudahlah. Lupakan. Untuk apa Digta memikirkan hal tidak penting itu.


Digta kembali melanjutkan langkahnya, mengeluarkan remote mobil dari saku celana dan menekan tombol hingga berbunyi “BIP BIP”


“Pak Digta ….” Suara seorang perempuan muncul ketika Digta hendak masuk ke dalam mobilnya.


Digta membalikan badan. “Bu Kiara,” sahutnya.


Kiara adalah dosen perempuan ter-muda di fakultasnya. Selain cantik dan masih single, dia juga incaran para Mahasiswa. Bahkan, Mahasiswa berlomba-lomba untuk bisa masuk ke mata kuliahannya.


“Pak Digta, saya turut berduka cita atas kepergian Almarhumah istri Bapak ya.” Kiara mengusap lengan Digta pelan. “Saya pernah bertemu dengan Almarhumah satu kali, saat ulang tahun Universitas kita. Dan, beliau perempuan yang cantik dan juga baik. Pasti Allah terlalu sayang dengan beliau sehingga Allah cepat memanggilnya,” Kiara bicara dengan lembut dan mampu menenangkan setiap orang yang mendengarnya.


“Terima kasih, Bu.” Digta menjawab dengan sekedarnya saja, seperti seorang ‘Digta’ pada umumnya.


“Terus, anak Pak Digta tinggal bareng siapa?” Tanya Kiara penasaran.


“Tinggal bareng saya, Bu. Saya yang menjaga anak saya sendiri. Dan kebetulan, ada adik ipar saya yang tinggal bareng saya karena kuliah di sini juga.”


“Oh, Zeya ya?”


“Ibu kenal?”


“Haha, iya, Pak. Dia pacarnya anak dari Kakak saya. Keponakan saya.”


“Keponakan?”


“Zega, Pak. Mahasiswa di kelas Bapak juga.”


“Ooh. Begitu rupanya.” Digta tidak ingin berlama-lama membahas hal ini. “Kalau begitu, saya pamit duluan ya, Bu.”


“Iya, Pak. Um, sekiranya Bapak butuh bantuan, jangan segan meminta bantuan saya, Pak. Apalagi perihal anak Bapak. Karena menjadi seorang Ayah dan Ibu sekaligus itu lebih berat. Saya biasa mengurus anak kecil, karena saya punya banyak keponakan yang masih kecil-kecil.”


“Saya mengerti.” Digta tersenyum tipis.


Yang membuat Digta tidak mengerti, mengapa di usianya yang sudah menginjak tiga puluh lima tahun, Kiara masih belum menikah. Meski kabar pernikahan sering terdengar, tapi hal itu tidak pernah terjadi. Karena Kiara sering gagal menikah beberapa kali.


“Saya pulang dulu.” Digta akhirnya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


***


“Ciyaa pulang, Omaaaa!!!” Ciya berlari memasuki rumah sambil berhambur ke dalam pelukan Tina.


“Cucu Oma sayang….” Tina menggoyang-goyangkan tubuh Ciya. “Ayo ganti pakaianmu, setelah itu kita makan siang bersama.”


“Oke, Oma!”


Ciya pun berlari menuju kamarnya. Sedangkan Digta duduk di kursi makan sambil membuka kancing teratas kemejanya. Biasanya, Ambar selalu melakukan hal ini setiap kali Digta pulang mengajar. Mengambil tas kerjanya, membantu Digta mencarikan baju untuk diganti. Tapi, sekarang sudah tidak ada lagi kegiatan seperti itu. Membuat Digta kebingungan sendiri harus berbuat apa setelah ini dan itu. Karena selama ini, hidupnya terlalu bergantung pada Ambar,


“Dimana istrimu?” Tanya Tina sambil duduk di kursi makan juga.


“Pergi,” jawab Digta singkat.


“Pergi kemana? Harusnya dia berada di rumah melayani kamu. Lihat nih, kamu kelihatan seperti orang kebingungan begini.” Tina mengambil piring dan menyendokkan nasi. “Masa sih, Mami yang harus menyediakan makanmu, mengambilkan kamu makan. Harusnya semua ini tugas istrimu, Digta,” ucap Tina lagi dengan bawel.


“Biar sajalah, Mi. Masih muda juga.”


“Terus kalau istrimu masih muda, dia bisa seenaknya menikmati masa mudahnya? Begitu? Meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Dosa besar dia itu!” Tina terdengar begitu sewot dan dongkol.


“Loh, kenapa dosa, Mi? Toh, Digta tidak keberatan. Apa Zeya sudah izin dengan kamu untuk pergi?” Tio bertanya.


Digta mengangguk. “Sudah tadi di kampus.”


“Nah, kalau sudah izin, dan Digta mengizinkan, tidak jadi masalah, toh,” lanjut Tio lagi.


“Alah, tapi tetap saja harus tahu aturannya. Jangan suka semena-mena. Kakaknya juga belum lama ini meninggal. Tapi dia malah hidup tanpa beban. Atau, sebenarnya dia sudah mengincarmu sejak lama kali, Dig? Makanya dia selow-selow saja setelah berhasil menikah denganmu.” Tina kembali menuding Zeya. Karena sejak awal, Tina memang tidak menyukai Zeya.


Tapi Tina hanya memonyong-monyongkan bibirnya saja.


***


Gemuruh petir terdengar sangat kencang ketika hujan mengguyur sejak dua jam yang lalu. Dan sampai sekarang, sudah pukul sepuluh malam, tapi hujan masih tidak kunjung reda.


Sedangkan Zeya belum juga pulang ke rumah. Digta tidak peduli, lelaki itu hanya fokus mengerjakan beberapa soal-soal untuk kuis besok.


“Digta …. Digta ….” Suara Tina terdengar memanggil sambil mengetuk pintu kamar Digta.


Mengembuskan napas dengan kesal, Digta beranjak dari meja kerjanya.


“Kenapa, Mi?” Digta membuka pintu kamarnya.


“Istrimu belum pulang loh, jam segini! Kemana dia? Nggak kamu hubungi?”


Digta mendengus. “Untuk apa? Zeya kan, sudah dewasa. Dia pasti tahu mana yang terbaik untuk dirinya sendiri.”


“Digta, Zeya itu istri kamu, itu satu hal yang nggak boleh kamu lupakan. Para tetangga juga sudah tahu. Kalau mereka lihat Zeya pulang sendirian malem-malem begini, apa kata mereka nanti?“

__ADS_1


“Kenapa harus dipikirin masalah tetangga? Memangnya mereka yang memberi kami makn?”


“Duh, Digta, kamu ini kalau dibilang selalu membantah. Memangnya kamu nggak khawatir istrimu belum pulang jam segini?”


Digta tidak ingin berdebat dengan Tina terlalu lama. Digta pun segera menghubungi Zeya, tapi perempuan itu tidak menerima panggilan darinya.


“Nggak diangkat,” ucap Digta sambil menunjukkan layar ponselnya. “Biarkan sajalah, nanti juga pulang sendiri.”


Sebelum Digta masuk ke dalam kamarnya, suara motor terdengar masuk ke pelataran rumahnya.


Karena penasaran, mereka pun segera keluar dari rumah. Melihat Zeya dan Zega sedang berteduh di depan teras rumah.


“Mas, temenku numpang teduh bentar ya, nunggu hujan reda,” teriak Zeya agar suaranya tak kalah dari hujan turun.


“Kamu pergi dengan cowok?” Tina bersedekap, wajahnya kelihatan tidak suka.


“Iya, Mi, temenku.”


“Apa menurutmu, ini tindakan yang bagus? Kamu pergi dengan laki-laki lain di saat kamu sudah memiliki suami!” Seru Tina dongkol.


Mendengar kata ‘suami’, Zega jadi terkejut. Lelaki itu meliha Zeya dengan kening mengekerut.


“Kamu!” Kini Tina menunjuk Zega. “Sebaiknya kamu pulang saja. Tidak baik ada di rumah orang lain sampai pukul segini.” Usir Tina terang-terangan.


“Tapi, Mi, ini lagi hujan. Tunggu sampai reda dulu ya.” Zeya menimpali.


“Kamu masuk ke dalam rumah!” Bentak Tina kesal sambil menarik Zeya masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Meninggalkan Zega sendirian—yang masih bengong berdiri di depan teras rumah. “Lihat kelakuan istri kamu ini, Digta! Hidupnya seperti tidak ada aturan saja!” Tina mendorong Zeya dengan kasar. “Harusnya, kamu itu bisa nurut dengan suamimu, bukannya malah pergi dengan lelaki lain!” Bentak Tina kesal pada Zeya.


Membuat kepala Zeya pusing. “Mi, dia cuma temen.”


“Cuma temen kok baru pulang malam begini!”


“Tadi, kami baru selesai mengerjakan tugas kelompok mata kuliahannya Mas Digta. Kalau Mami nggak percaya, silakan tanya sendiri dengan Mas Digta. Dan kenapa aku pulang pukul segini? Karena kami terjebak hujan lebat, Mi. Dan akhirnya kami putuskan untuk nembus hujan saja karena belum juga reda pukul segini. Kenapa sih, Mami selalu saja marah-marah denganku, seolah Mami begitu membenciku.”


“Karena kamu itu berbda dengan Ambar!”


“Iya, aku memang berbeda dengan Mba Ambar! Aku juga nggak mau menikah kalau tidak dipaksa Mba Ambar, karena aku belum siap dan tidak mencintai Mas Digta.” Emosi Zeya semakin kalut. Sudah cukup selama ini Tina selalu ikut campur ke dalam urusannya dan selalu mengutarakan kalimat-kalimat sarkastis yang bikin hati Zeya sakit.


PLAK!


Satu tamparan keras melayang di wajah Zeya.


“Kurang ajar kamu, berani sekali kamu berteriak di depan Mami!”


Kepala Zeya terhuyung ke samping. Zeya mengusap wajahnya yang terasa panas akibat tamparan Tina.


Zeya tidak tahan jika tidak menangis. Akhirnya Zeya menangis dengan perasaa marah yang menggebu.

__ADS_1


“Kalian semua jahat! Kejam!” Teriakan terakhir Zeya sebelum masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan Digta, hanya bisa menghela napas dengan berat. Dan diam tanpa melakukan apapun


__ADS_2