
“Maa, Ambar masuk rumah sakit. Kondisinya kritis.”
“Astaghfirullahaladzim…..”
Digta berjalan mondar-mandir sambil menghubungi mertuanya, sebelah tangannya memegang ponsel. Dan sebelahnya lagi menarik rambut ke belakang dengan jari-jari.
“Tapi, aku nggak bisa menemani Ambar di rumah sakit, Ma. Karena Zeya juga masuk rumah sakit.”
“Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi, Digta?”
“Begini, Ma. Sebenarnya, kami sedang berada di puncak untuk liburan. Tapi, sedikit adalah masalah dengan Zeya sehingga dia harus di larikan ke rumah sakit. Dan ternyata, ketika menemani Zeya di rumah sakit, kondisi Ambar langsung lemah, sehingga Ambar juga sempat masuk UGD. Karena alat di sini tidak memadai, Ambar terpaksa di rujuk ke rumah sakit kanker di Jakarta. Ambar nggak ingin aku ikut dengannya, dan meminta aku menunggu Zeya sampai pulang dari rumah sakit. Ma, aku mohon…..” Digta berusaha menahan rengekan di depan mertuanya. “Aku sudah transfer sejumlah uang untuk Mama dan Papa beli tiket pesawat. Cari yang berangkat paling cepat, aku ingin kalin menemani Ambar di rumah sakit. Setelah aku selesai mengurus Zeya, kami akan menyusu ke sana.”
“Iya-iya, Digta. Baikk. Terima kasih banyak, Nak. Mama dan Papa persiapkan dulu pakaian untuk berangkat besok.”
“Iya, Ma.”
Setelah sambungan terputus. Digta duduk di kursi sambil menutup wajah dengan telapak tangan. Isakan tangis kecil muncul ketika bahunya bergergetar hebat. Kemudian, tangannya meremukkan wajahnya sendiri dengan geram.
“ARRRRRGHHH!” Dia berteriak, merasa frustrasi, merasa depresi. Dia tidak ingin kehilangan Ambar. Belum, dia belum siap untuk kebhilangan Ambar.
Ambar istri yang baik dan telaten, bagaimana Digta bisa hidup tanpa Ambar? Digta tidak bisa membayangkan hal tersebut terjadi.
***
“Ayaaaahhhh!!!” Ciya memanggilnya ketika Digta baru saja masuk ke dalam ruang rawat inap dengan kondisi tubuh yang lunglai. Digta melihat Ciya sudah berada di atas brankar bersama Zeya.
“Mas, bagaimana dengan Mba Ambar?” Tanya Zeya.
“Dia dirujuk ke rumah sakit di Jakarta,” jawab Digta tanpa semangat.
“Apa?” Zeya terkejut. “Terus, kenapa Mas Digta masih ada di sini? Kenapa Mas Digta tidak ikut Mba Ambar?”
Digta menatap Zeya dengan wajah tanpa ekspresi. “Menurutmu, kenapa saya ada di sini? Ambar memaksa saya untuk menunggu kamu sampai pulang dari rumah sakit.”
Zeya mendesah frustrasi. “Kenapa harus begitu, sih?! Mas, aku sudah sembuh sekarang, aku sudah bisa pulang dari rumah sakit. Tolong sampaikan kepada suster dan Dokter unruk mengurus kepulanganku.”
Digta mengepalkan tangan geram, lalu melihat sebuah gelas di atas meja. Laki-laki itu melempar gelas ke lantai dengan perasaan geram. “Perhatikan saja kondisimu dulu, Zeya!!! Jangan banyak tingkah!”
Suara pecahan gelas terdengar nyaring sampai membuat Ciya ketakutan. Ciya semakin memeluk Zeya dengan kuat. “Tante Ciyaaa…”
“Saya juga sudah muak terjebak di sini bersamamu, saya ingin sekali menemani istri saya. Tapi, permintaan istri saya yang konyol selalu tidak bisa saya bantah. Jadi mohon—“ Digta menatap Zeya dengan mata berkaca-kaca. “Saya mohon, perhatikan saja kondisimu. Jangan bikin saya semakin sakit kepala. Semakin cepat kamu sembuh, maka semakin cepat kita bisa menyusul Ambar ke Jakarta. Kamu paham?”
Zeya tidak berani mengeluarkan sepatah kata lagi, saat melihat wajah Digta yang memerah karena air mata dan amarah.
Digta menghapus air mata yang sempat berlinang di wajah. “Saya akan ke villa untuk membereskan semua pakaian kalian. Karena setelah kamu pulang dari rumah sakit, kita akan langsung ke Jakarta.”
Setelah mengutarakan kalimat tersebut, Digta langsung keluar dari ruangan rawat inap.
__ADS_1
Zeya yang sejak tadi menahan tangis karena takut, setelah kepergian Digta langsung memejamkan matanya—hingga membuat air matanya tumpah membasahi pipi. Zeya menjadi ketakutan. Digta pasti menyalahkan Zeya atas kondisi Ambar yang mendadak kritis.
Kalau saja Zeya tidak berada di rumah sakit, pasti mereka sudah sama-sama membawa Ambar ke Jakarta.
Zeya menekan tombol untuk memanggil suster.
“Ada yang bisa dimbanti, Bu?” Tanya suster melalui intercom.
“Sus—“ suara Zeya bergetar. “Boleh minta tolong panggilkan cleaning service, nggak. Karena ada pecahan kaca di dalam kamar ini.”
“Oke, Bu, baik. Cleaning service akan segera tiba.”
“Terima kasih, Sus.”
****
Keesokan paginya, ketika Zeya terbangun dari tidurnya. Dia melihat kalau Digta sudah ada di dalam kamar rawat inapnya dan tidur di atas sofa, sedangkan Ciya tidur di kasur sebelah. Padahal perasaan, tadi malam Ciya tidur di dalam pelukannya karena masih ketakutan melihat amukan sang Ayah.
Tapi ternyata, Digta telah memindahkan anaknya ke kasur sebelah.
“Selamat pagi, Ibu. Sudah bangun ya.” Seorang suster masuk ke dalam ruang rawat inap Zeya sambil membuka gorden di jendela—yang membuat bias cahayanya masuk ke dalam kamarnya.
Membuat pandangan Digta silau, dan pelan-pelan membuka mata.
“Kita mandi dulu pagi ini ya, Bu,” kata suster sambil berdiri di sebelah Zeya. “Maaf ya, Bu, saya buka pakaiannya.” Ketika suster hendak membuka kancing kemeja Zeya, perempuan itu menyentuh tangan suster.
Suster terkejut, sehingga menghentikan pergerakannya. Sedangkan Zeya menatap ke arah Digta yang baru saja bangun.
Sedangkan Digta tidak banyak omong, lelaki itu bangkit dan keluar dari ruang rawat inap. Dia mencari toilet di luar untuk mencuci muka. Setelah itu, Digta keluar dari rumah sakit. Menghampiri beberapa kedai-kedai yang menjual sarapan di depan rumah sakit.
“Bu, nasi gorengnya dua ya,” ucap Digta saat memesan makanan. Lalu, Digta menarik kursi dan duduk di sebelah seorang Bapak-Bapak yang mungkin menunggu pesanan juga.
Digta memperhatikan Bapak-Bapak itu merokok dengan napas berat seolah dia punya masalah yang sangat berat.
“Siapa yang sakit, Pak?” Tanya Digta iseng.
Bapak itu mengisap rokoknya dalam-dalam dan mengembuskan asapnya ke udara. “Istri saya, koma. Kemarin habis kecelakaan,” jawab si Bapak berusaha setenang mungkin.
“Kamu? Siapa yang sakit?”
Digta menarik napas dalam-dalam. “Sama, istri saya juga sakit. Leukimia akut stadium empat. Dan sekarang sedang sekarat di rumah sakit.” Digta menunduk, bahunya merosot.
Bapak tersebut menepuk pundak Digta. Lantas mengulurkan kotak rokok padanya. “Mau merokok?”
Digta melihat kotak rokok tersebut. Dia bukan perokok, dan tidak pernah merokok karena Digta sangat menjaga kesehatannya. Tapi untuk hari ini, tidak ada salahnya mencoba.
Digta mengambil satu batang. Dan memasukkan rokoknya ke dalam mulut. Sedangkan si Bapak mulai menyalakan api.
__ADS_1
Digta mengisap rokoknya dalam-dalam, dan membuang asapnya ke udara. Paling tidak, beban pikirannya berkurang satu persen.
“Permisi, Mas. Ini pesanannya sudah selesai.” Seorang Ibu penjual nasi goreng langsung memberikan pesanannya kepada Digta.
“Makasih, Bu.” Digta menerima bungkus makanan tersebut. Dan menatap si Bapak. “Pak, saya duluan ya. Terima kasih banyak, Pak.”
“Oh iya, sama-sama.”
Digta mengisap rokoknya yang terakhir kali sebelum membuang puntung rokoknya ke aspal, dan menginjaknya hingga mati.
Lantas, Digta kembali masuk ke dalam rumah sakit.
***
Ciya belum bangun ketika Digta sudah masuk ke dalam kamar rawat inap Zeya. Sedangkan adik iparnya tersebut sudah selesai mandi.
“Sudah sarapan?” Tanya Digta dingin.
“Belum, Mas,” jawab Zeya.
Tapi, Digta melihat makanan dari pihak rumah sakit yang tidak disentuh. “Itu sarapannya kenapa nggak di makan?”
“Nggak selera makan makanan rumah sakit, Mas.”
“Yaudah, ini ada nasi goreng. Saya belikan untuk kamu satu, untuk Ciya satu.” Digta melangkah mendekati Zeya.
Menggeser meja makan agar berada di hadapan Zeya, dan membuka bungkus nasi goreng untuk Zeya.
“Terus, sarapan Mas gimana?”
“Saya mau minum kopi di kantin bawah,” ucap Digta di singkat.
Zeya mencium aroma tidak sedap di pakaian Digta. Bau rokok yang begitu menyengat. Dan selama ini Ambar membenci bau rokok.
“Mas merokok?” Tanya Zeya.
Membuat Digta menatap Zeya dengan pandangan tajam. “Iya.”
“Kenapa?”
“Tidak semua pertanyaan, harus saya jawab.”
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Teman-teman, jangan lupa vote dan komen ya🤗