Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang
38. Zeya si Dungu, Digta si Pemarah


__ADS_3

“Mas Digta ngapain di sini?”


Zeya memperhatikan Digta dan Kiara secara bergantian. Siapa sih, yang tidak kenal Kiara? Satu kampus saja tahu siapa dosen paling cantik di kampus. Meski usianya sudah tiga puluh tahun ke atas, tapi wajahnya tetap kelihatan masih muda. Bahkan, dia menjadi incaran para Mahasiswa.


Tapi, yang bikin Zeya bingung, kenapa Digta dan Kiara ada di pesta ini? Pesta Kakak Zega?


“Bu Kiara juga ada di sini?”


“Kamu belum tahu?” Zega menatap Zeya. “Bu Kiara ini tanteku.”


“Oh ya?” Zeya mengangkat kedua alisnya.


“Iya, Zey.” Zega terkekeh geli.


Oke. Zeya paham sekarang mengapa Kiara ada di pesta ini, karena Kiara masih satu keluarga dengan Zega. Tapi, yang membuat Zeya tidak mengerti, mengapa Digta juga ikut ada di sini?


Apa dugaan Zeya selama ini benar? Kalau Digta dan Kiara ada hubungan khusus? Apalagi saat melihat mereka ngobrol begitu dekat di kampus.


T-tapi, kan, Ambar belum lama meninggal. Apa jangan-jangan, selama ini Digta selingkuh?


“Dasar buaya,” celetuk Zeya tanpa suara. Meskipun begitu, Digta bisa membaca ucapan di bibir Zeya.


“Apa kamu bilang?” Digta bersuara keras. Membuat Zega dan Kiara melihat ke arahnya.


“Kenapa, Pak?” Tanya Kiara heran.


Zeya langsung bersedekap sambil melihat ke arah Kiara. “Jadi, sudah berapa lama Bu Kiara dan Pak Digta punya hubungan?”


“Hubungan?” Kiara mengangkat alisnya.


“Apa sebelum Mba saya meninggal?” Tanya Zeya lagi dengan menantang.


Membuat Digta merasa malu. “Maaf, sebentar ya….” Digta pun menarik tangan Zeya menjauh dari mereka. Lalu mereka berdua bicara di tempat yang cukup sepi.


“Apasih, Mas!” Zeya menepis sentuhan Digta.


“Apa-apaan sih, pertanyaan konyol kamu itu?” Digta membentak perempuan di depannya.


“Pertanyaan konyol Mas bilang? Konyol dari segi apa? Wajar kalau aku nanya begitu. Masalahnya, Mba Ambar itu belum lama meninggal, tapi Mas Digta sudah PDKT dengan perempuan lain. Katanya cintaa, katanya sayang, preeet! Buaya!”


“Heh!” Digta berkacak pinggang. “Jaga ucapanmu!”


“Terus, kenapa Mas Digta dan Bu Kiara bisa sedekat itu? Sampai-sampai, Mas Digta ikut ke acara pesta keluarga Bu Kiara. Nggak mungkin ini terjadi kalau kalian nggak memiliki hubungan khusus.”


“Karena—“ Digta menghentikan kalimatnya. Tidak mungkin dia bilang kepada Zeya, kalau Digta sengaja ikut Kiara agar bisa langsung bertemu Zeya dan membawa perempuan itu pulang. Yang ada, Zeya bisa besar kepala! “Kita pulang saja.” Digta langsung menarik tangan Zeya pergi begitu saja.


“Loh, Mas, kenapa tiba-tiba ngajak aku pulang?”


“Ini sudah pukul berapa? Nanti Mami dan Ciya nyariin kita.”


“T-tapi, kita belum pamit, Mas.”

__ADS_1


“Sudahlah, kita bisa pamit dengan mereka besok.”


Digta terus menarik Zeya sampai kaki Zeya tersandung batu dan membuat heels-nya patah.


“Aduh….”


Digta menghentikan langkah, menghela napas gusar saat melihat sikap Zeya. “Apa lagi?”


“Heels aku patah karena Mas Digta.” Zeya menjadi dongkol dan melepas sebelah sepatu heelsnya.


“Lagian, kenapa kamu berpakaian lebay begini. Memangnya kamu yang mau menikah? Kenapa pake heels dan gaun pendek segala. Gaun kamu itu kependekan, sadar nggak?”


“Kenapa Mas Digta jadi peduli dengan penampilanku?”


Digta mengembuskan napas dengan kesal. Berdebat dengan Zeya tidak akan ada ujungnya, karena mereka sama-sama keras kepala. Digta membungkuk dan berdiri di depan kaki Zeya.


“Eh, Mas Digta mau ngapain?” Zeya menutup roknya.


“Lepas sepatumu sebelahnya lagi,” pintah Digta dingin.


“Ng—apa?”


“Lepas sepatumu, cepat!” Digta sudah menyentuh sepatu Zeya, menunggu perempuan itu melepaskan sepatunya.


Dengan terpaksa, Zeya melepaskan sepatunya. Sehingga kedua kakinya dalam keadaan telanjang alias nyeker.


“Sepatu rusak begini jangan dipake lagi.” Digta membuang heels Zeya ke tempat sampah.


“Mas, kenapa dibuang? Itu sepatu baru, dibeliin Zega.”


Zeya benar-benar dongkol, entah mengapa dia harus menikah dengan lelaki menyebalkan seperti Digta ini.


Zeya akhirnya masuk ke dalam mobil, dan Digta menutup pintu mobilnya. Lalu, Digta memutari mobil untuk duduk di kursi kemudi.


Mobil pun melesat meninggalkan tempat pesta.


Digta meraih jaket di belakang kursi mobilnya, dan melemparkan jaket itu pada Zeya.


“Tutup pahamu. Jangan pake rok pendek seperti itu lagi. Kita nggak tahu, apakah Zega lelaki baik atau tidak. Bisa saja dia menjebakmu, menggodamu, lalu—“


“Lalu apa?!” Zeya mengernyit sebal. “Zega nggak seburuk yang Mas pikirkan.”


“Dari gesture tubuhnya saja sudah kelihatan kalau dia bukan lelaki baik. Jangan tergoda dengannya.”


“Bilang saja cemburu.”


“Yang cenburu siapa? Memangnya perempuan seperti kamu pantes di cemburuin? Nggak bisa apa-apa.”


“Ih.” Zeya memonyongkan bibir dengan kesal. Kemudian ponselnya berdering, nama Zega berkelap-kelip di layar ponselnya.


Zeya nggka perlu minta izin dengan Digta untuk menerima panggilan dari Zega.

__ADS_1


“Halo, Zega, maaf ya, aku harus pulang karena Mas Digta nggak ngebolehin aku pulang kemaleman,” ucap Zeya setelah panggilan tersambung.


Digta langsung merampas handphone Zeya. “Halo, ada Bu Kiara di sana?”


“Ih, dasar nggak modal. Mau nelefon pacarnya, tapi pinjem handphone orang lain.” Zeya mendumel kesal.


“Halo, Bu Kiara, maaf saya harus pulang tanpa pamit dulu. Karena anak saya menunggu di rumah, kasihan kalau saya pulang kemaleman. Oh iya, satu lagi, masalah mobil Bu Kiara masih ada di kampus, jadi besok saya jemput Bu Kiara saja ke rumah dan kita berangkat bareng. Bu Kiara bisa share alamatnya melalui handphone ini. Atau, boleh kirim nomor Bu Kiara ke nomor ini ya, Bu. Baik, terima kasih, Bu.”


Digta mengembalikan ponsel Zeya setelah selesai bicara dnegan Kiara.


“Jadi, Mas Digta pergi bareng Bu Kiara besok?” Tanya Zeya menyelidik.


“Hanya bentuk tanggung jawab saya, karena mobil Bu Kiara sengaja ditinggal di kampus,” ujar Digta ketus.


“Kalau begitu, aku boleh dong besok ke kampus bareng Zega?”


“Tidak.”


“Kenapa tidak?”


“Kalau Mami tahu, gimana?”


“Sekali-sekali, Mas Digta harus pikirkan nasibku, bukan Mami!”


“Memangnya, kamu siapa? Sampai saya harus memikirkannu.”


“Karena aku istri Mas Digta.”


Bukannya kasihan, Digta justru tertawa.


“Apanya yang lucu?”


“Mana ada istri, tapi punya pacar lain.”


“Mas Dipta juga punya pacar, tuh.”


“Bu Kiara bukan pacar saya.”


“Modus.”


“Lagian, masih saja kamu bisa menganggap dirimu sebagai istri. Perempuan yang tidak telaten sepertimu begini, masih bisa menyebut dirimu istri?”


“Memangnya perempuan yang nggak telaten nggak boleh jadi istri!” Zeya membentak kesal. “Apa seorang istri harus bisa semuanya?”


“Setidaknya, harus bisa melayani suaminya.”


“Melayani?” Zeya menyiptkan mata tajam, kemudian menutupi tubuhnya dengan jaket pemberian dari Digta tadi. “Maksud Mas Digta, aku ini perempuan nggak bener, gitu?”


“Loh? Bukan saya yang ngomong.”


“Habisnya, saya disuruh melayani Mas Digta.”

__ADS_1


Digta geleng-geleng kepala sambil menjentik jidat Zeya. “Sekali dungu, tetap saja dungu.”


“Aw…”


__ADS_2