
“Oh, Zeya. Denger-denger, kamu adik Iparnya Pak Digta ya?”
Zeya mengerutkan dahi bingung. Bagaimana bisa Zega tahu? Apa semua murid di kampus ini juga tahu?
“Darimana kamu tahu?”
“Beritanya sudah tersebar luas di kampus.”
Tuh, kan! Bener lagi!
“Huf!” Zeya memutar bola mata jengkel. Siapa yang berani menyebar berita ini.
“Aku butuh bantuan kamu, Zey,” ucap Zega to the point.
“Bantuan apa?” Zeya mulai curiga.
“Membujuk Pak Dipta untuk nggak kasih aku nilai E. Please….” Zega duduk di sebelah Zeya. “Aku akan menuruti semua keinginan kamu, Zey.”
Zeya mendengus sebal. “Sorry, Zega. Aku nggak tertarik dengam tawaran kamu.” Zeya pun bangkit dari kursi.
“Zey, please….” Mata Zega berkaca-kaca.
“Eh!” Jerry mendorong dada Zega. “Kalau Zeya nggak mau, jangan dipaksa dong. Lo nggak tahu betapa galaknya Abang Ipar Zeya? Zeya sendiri aja nggak berani menghadapi Abang iparnya.” Jerry melotot. “Minggir lo. Hush! Hush!”
Jerry pun memberi pengawalan kepada Zeya agar dia bisa keluar dari sergapan Zega. Tapi ternyata, nggak sampai di situ saja. Karena gossip Zeya yang menjadi adik iparnya Digta sudah tersebar. Otomatis, banyak mahasiswa yang mendadak mengenal Zeya dan menghampiri perempuan itu.
“Lo Zeya, kan?
“Lo adik ipar Pak Digta, kan?”
“Zey, lo bisa bantu gue nggak untuk bujuk Pak Dipta agar ngelulusin ujian MID gue.”
“Zey, nilai kelompok gue dibikin rendah dengan Pak Digta cuma karena gue nggak sengaja ngomong saat tugas kelompok.”
“Zey, gue nggak boleh masuk ke dalam kelasnya Pak Digta lagi karena gue ketahuan makeup-an di kelas.”
“Zey, gue nge-fans banget dengan Pak Digta. Boleh nggak, gue titip untuk lo kasih brownis buatan gue dengan Pak Digta.”
“Zey ….”
“Zey ….”
“Zey ….”
Kepala Zeya ingin pecah saat para Mahasiswa mengerubuni Zeya seperti baju obral.
“ENGGAAAAAAAAAK!!!” Zeya berteriak kencang sambl menutup telinganya. “GUE NGGAK MAU! GUE BUKAN ADIK IPARNYA! GUE CUMA BABU, BABU!”
Zeya pun mendorong kerubunan orang-orang tersebut dan berlari menghindar. Ternyata, orang-orang itu malah mengejar Zeya.
Zeya sampai kehabisan napas karena sibuk berlari mencari tempat persembunyian di kampus. Sampai akhirnya, Zeya memutuskan sembunyi di toilet.
“Udah pada gila kali ya mereka. Kenapa pake acara ngejar-ngejar aku segala, sih?” Zeya merasa frustrasi sambil duduk di closet. “Bagaimana bisa berita itu tersebar! Uh!”
Sialnya, Zeya nggak punya handphone untuk menghubungi Jerry dan melihat kondisi di luar. Ini semua karena ulah si Jin Tomang itu yang bikin handphone Zeya jadi hancur!
__ADS_1
Akhirnya, setelah hampir dua jam Zeya menunggu—karena ia sudah harus ada kelas kuliah lagi. Zeya pun keluar dari dalam toilet.
Tapi, Zeya justru melihat Digta sedang pipis berdiri di Urinior ( tempat kencing pria).
“Aaaaaahhhh!” Refleks Zeya berteriak.
Digta menoleh dan ikutan kaget. “Aaaah!” Digta nggak sengaja menggeser posisi tubuhnya, sehingga Zeya bisa melihat dengan jelas sesuatu yang tersembunyi di balik celana Digta.
Zeya pengin ngucap, tapi dia lagi di kamar mandi. Jadi Zeya kembali berteriak kencang. “Aaaahhhhh!”
“Astaga.” Digta sadar dan buru-buru meresleting celananya. “Apa yang kamu lakukan di sini!” Bentak Digta penuh kemarahan.
“S-saya—“ Zeya nggak fokus karena memikirkan pisang milik Digta yang nggak sengaja dia lihat tadi.
Ya Allah, berdosalah Zeya kepada Ambar. Mba Ambar, maaf, aku nggak bermaksud lancang. Tapi aku beneran nggak sengaja.
“Saya lagi bersembunyi di toilet. Bapak yang ngapain ada di sini?” Zeya nggak kalah galaknya demi menyembunyikan jantungnya yang sudah nggak terkontrol lagi.
“Ini toilet pria, dan ini adalah toilet para dosen!” Bentak Digta lagi.
“Apa?” Zeya tergelak. Apa iya dia salah masuk? Masa sih?
“Keluar kamu dari sini!” Digta benar-benar marah. Zeya rasa sebentar lagi Digta akan berubah menjadi Jin beneran.
Digta menarik Zeya keluar dengan paksa.
“Kamu lihat gambar yang ada di sini?!” Digta menunjuk gambar simbol Pria di depan pintu toilet. “Kamu lihat bacaan di sini!” Digta juga menunjuk bacaan di depan dinding toilet.
“TOILET KHUSUS DOSEN.”
Zeya semakin menelan ludah.
“Woy, itu Zeya woy!” Seseorang berteriak sambil menunjuk Zeya, dan para mahasiswa pun berlari ke arah Zeya dan Digta yang tengah berdiri di depan toilet.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” Digta mengerutkan dahi bingun melihat keramaian yang muncul di depannya.
“Inilah alasan mengapa saya bersembunyi di toilet ini, Pak.” Zeya mulai emosi. Apalagi melihat kerumunan mahasiswa yang masih mengejar langkahnya. “Mereka ngejar saya karena mereka tahu saya adik ipar Bapak! Dan mereka mohon-mohon kepada saya untuk membujuk Bapak nggak kasih nilai jelek kepada mereka! Itu semua salah Bapak! Jadi, Bapak jangan nyalahin saya lagi! Semua karena Bapak kasih nilai jelek dengan mereka semua! Aaaahhhkh!” Zeya mengacak rambutnya frustrasi.
Semua orang bengong melihat amarah Zeya yang mendadak jadi meledak-ledak. Bahkan, amarah Zeya lebih menakutkan dari Digta si dosen killer.
“Untuk kalian semua, jangan ada yang kejar-kejar gue lagi. Kalo mau kejar, langsung aja sama orangnya. Karena gue nggak ada hubungan dengan Pak Digta. Paham?!”
Setelah puas meluapkan semua emosinya. Zeya pun melewati kerumunan para mahasiswa dan pergi menuju kelas karena jam kuliah selanjutnya sudah dimulai.
***
Zeya mencari tempat duduk paling belakang, agar tidak menjadi sorotan.
Selama Dosennya bernama Melly menjelaskan di depan. Zeya hanya menung sambil memikirkan amarahnya yang meledak-ledak tadi, dan juga memikirkan tentang sesuatu yang dia lihat secara nggak sengaja.
“Ya Allohhh! Apa yang harus aku lakukan kalau Mba Ambar sampai tahu. Bisa-bisa aku diusir dan nggak dianggap sebagai adek lagi.” Zeya mengusap wajah frustrasi.
Melihat kegelisahan Zeya sejak tadi, Jerry pun pindah duduk di dekat Zeya.
“Kenapa lo?” Tanya Jerry penasaran.
__ADS_1
“Nggak ada,” jawab Zeya singkat.
“Gimana? Mereka masih kejar-kejar lo, nggak?” Tanya Jerry lagi. “Kayaknya, mereka tahu deh, lo bantuin gue waktu tandatangan KRS.”
Zeya mengeryit menatap Jerry. “Darimana mereka bisa tahu? Atau, elo yah yang menyebar ke semua orang kalau gue itu adik iparnya Pak Digta?”
Jerry menelan ludah, ekpsresinya seketika berubah. Dan Zeya tak salah lagi, pasti Jerry nih biangkeroknya.
“Kenapa lo ngelakuin itu semua sih, Jerr!” Zeya mencekram kera baju Jerry.
“Zey-Zey, tenang dulu, santai. Gue bisa jelasin semuanya.” Jerry ketakutan.
“Jelasin gimanaaaa? Lo tuh udah bikin hidup gue makin hancur!”
Karena gara-gara ulah lo, gue sampai sembunyi di toilet cowok dan nggak sengaja lihat pisang Pak Dipta! Mana pisangnya tanpa kulit, lagi! Zeya menggerutu dalam hati.
“Heh kalian? Kalau mau pacaran, silakan keluar dari kelas saya!” Melly menunjuk Zeya dan Jerry.
Zeya akhirnya melepaskan Jerry dan duduk menjaga jarak dari lelaki menyebalkan itu.
***
Zeya menggigit bibir, kenapa setiap pulang kampus, dia selalu bingung harus pulang dengan siapa?
Apa Zeya harus tetap pulang bareng Digta?
“Ada apa?” Suara Digta mendadak muncul. Membuat Zeya nyaris terlompat.
Baru aja dipikirin, Jin Tomang udah keluar dari lampu ajaib! Emang Ajib nih, si Jin premium satu ini.
“Nggak ada apa-apa, Pak.” Zeya menunduk sejenak.
“Udah selesai kelas, kan?”
“Udah, Pak.”
“Yasudah, masuk.”
Digta masuk lebih dulu ke dalam mobil, lalu disusul oleh Zeya.
Mobil Digta pun melesat meninggalkan kampus. Seperti biasa, tidak ada pembicaraan di dalam mobil. Tapi, hanya ada suara jantung Zeya yang seperti ingin meledak-ledak.
“Zeya,” panggil Digta mendadak. Tumben-tumbenan, Digta menyebut nama Zeya.
“I-iya, Mas.” Zeya merubah panggilannya karena ini sudah bukan di kampus lagi.
Digta nggak langsung bertanya. Zeya melihat bahwa jemari Digta mencekram erat di stir kemudi sampai buku-buku jarinya memutih.
“Apa kamu melihat itu?” Digta to the point.
Tapi, pertanyaan Digta terdengar ambigu. Meski Zeya tahu kemana arah pembicaraan ini.
“M-maksud, Mas Digta apa? Aku nggak paham.”
“Apa kamu melihat milik saya tadi saat di toilet?”
__ADS_1
GLEK!