Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang
14. Ambar dan Rahasianya


__ADS_3

“Ambaaaar!


Digta mendengar suara keributan yang terjadi di luar kamarnya, membuatnya langsung berlari. Dan tentu saja kaget ketika melihat Ambar sudah tergeletak tak sadarkan diri. Sedangkan adiknya menangis sembari menggoncang tubuh Ambar.


“Apa yang sudah kamu lalukan?” Bentak Digta ketika lelaki itu sudah bersimpuh di sebelah tubuh Ambar.


Zeya mendongak dan melotot sebal. “Apa yang sudah aku lakukan? Maksud Mas, apa?”


“Aaahhh!” Digta tidak peduli ocehan Zeya. Lelaki itu segera menggendong tubuh Ambar yang ringan baginya. Lalu membawa Ambar ke dalam kamar.


“Ambar, Sayang….” Digta duduk di sebelah Ambar setelah istrinya sudah berada di atas kasur.


Dia segera mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Dokter langganannya.


“Mba, Ambar… bangun, Mba. Bangun….” Sedangkan Zeya terus menangis tanpa henti.


Digta semakin panik dan pusing.


“Kalau kamu nggak banyak tingkah, Ambar nggak akan pingsan,” ucap Digta selesai menghubungi Dokter.


Zeya mengusap air matanya. “Kenapa Mas Digta selalu nyalahin aku, sih?”


“Karena kamu biangkeroknya.”


“Memangnya aku ngeracuni Mba aku sendiri? Itu kan, yang Mas tudingkan kepadaku.”


Digta hanya mengembuskan napas dengan kasar.


“Kenapa kita nggak bawa Mba Ambar ke rumah sakit saja, sih?” Usul Zeya.


“Ambar benci rumah sakit,” kata Digta dingin.


“Sejak kapan?” Kening Zeya mengerut dalam. Sejak kapan Ambar jadi takut rumah sakit.


“Mana saya tahu. Tapi, beberapa bulan belakangan ini, setiap kali Ambar merasa nggak enak badan, dia selalu menolak diajak ke rumah sakit. Katanya, dia takut suasana di rumah sakit. Banyak kuntilanak.”


Zeya tak sengaja kelepasan tertawa. Membuat mata Digta melotot tajam. “Kenapa ketawa? Bagimu ini hal yang lucu?”


Zeya melipat mulutnya rapat-rapat.


“Kakak sendiri kok, di ketawain. Dasar Adik sinting.” Kalimat terakhir Digta sebelum keluar dari kamar.


Zeya menonyongkan bibirnya sebal. “Aish! Lo tuh, suami sinting!”


***


“Ambar … kamu sudah sadar, Sayang?” Digta menyentuh kedua pipi Ambar penuh rasa sayang. Dia begitu mencintai Ambar sampai hampir gila. Kalau terjadi sesuatu kepada Ambar hanya karena keegoisan Zeya, Digta berani bersumpah akan mencincang-cincang tubuh Zeya.


“Mas….” Suara Ambar terdengar parau. Ia berusaha duduk di kasur.


“Mba hati-hati tahuuu!” Zeya panik melihat kondisi wajah Ambar yang pucat.


“Mbar, kamu sudah konsultasi lagi ke rumah sakit?” Pertanyaan yang diajukan oleh Dokter Danu membuat semua pasang mata menatap ke arahnya.


“Konsultasi ke rumah sakit?” Digta mengerutkan dahi. “Untuk apa?”


“Ng—Mas, Zey, boleh nggak aku bicara dengan Dokter Danu sebentar.” Ambar menatap Digta dan Zeya penuh mohon.

__ADS_1


“Nggak bisa!” Tegas Digta. “Kenapa harus bicara berdua? Aku suamimu, kan? Aku harus tahu bagaimana kondisimu.”


“Mas, bentar aja. Aku baik-baik aja, kok. Cuma, ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada Dokter Danu. Dan ini menyangkut temenku yang mau aku jodohin dengan Dokter Danu.” Ambar mencari alibi. “Mumpung Dokter Danu masih single.”


“Memangnya temenmu yang mana, sih?”


“Kezah, Mas.”


“Aku nggak boleh denger?”


Ambar menggeleng sambil senyum. “Kezah nggak mau orang lain tahu. Dia malu.”


Digta mendengus kecewa. “Yasudah kalau begitu.” Dengan langkah berat, Digta keluar dari kamarnya.


“Kamu juga, Zey,” Ambar menatap Zeya yang hanya bengong di tempat.


“Oh, aku juga.” Zeya akhirnya keluar juga dari kamar.


Setelah memastikan pintu kamarnya tertutup rapat, Ambar menatap Dokter Danu sambil menghela napas berat.


“Sumimu nggak tahu?” Tanya Dokter Danu langsung.


Ambar menggeleng.


“Why Ambar? Dia oramg pertama yang wajib tahu!”


“Tapi, orangtuaku sudah tahu, Dok.”


“Tapi, suamimu belum, kan? Beritahulah dia, kasihan dia, Ambar.”


“Aku belum siap, Dok. Kamu sendiri tahu, gimana paniknya Mas Digta saat aku pingsan, kan? Dan gimana kalau nanti Mas Digta tahu bahwa umur istrinya tinggal sebentar lagi.”


“Aku tahu, tapi aku tetap nggak bisa dan nggak siap memberi tahu Mas Digta, Dok. Lagipula, selama ini aku selalu konsultasi ke rumah sakit kok, saat Mas Digta berangkat kerja. Cuma, akhir-akhir ini aku suka lupa sejak Adikku datang kemari.”


Dokter Danu menghela napas berat. “Pokoknya, jangan pernah melupakan jadwal konsultasi kamu, Ambar. Kondisimu semakin lemah.”


Ambar menunduk dan mengangguk. “Iya, Dok. Aku paham.”


“Yasudah, kalau gitu aku izin pamit dulu. Kamu jangan terlalu banyak pikiran dan stress ya.”


“Iya, Dok.”


***


“Mas ngapain nguping segala di pintu kamar Mba Ambar? Emang kedengeran?”


Zeya geleng-geleng kepala saat melihat Digta menempelkan telinganya di depan pintu kamar Ambar.


“Ssst!” Digta meletak telunjuk di depan bibir.


“Mas curiga mereka ada hubungan terlarang di dalam ya?”


Digta menegakkan badan dan menatap Zeya sengit. “Siapa yang curiga! Saya percaya dengan Dokter Danu, karena dia sepupu saya!”


“Oh, sepupu. Tapi kok beda banget ya sifatnya dengan Mas Digta. Dokter Danu kelihatannya baik dan ramah.”


“Ya wajarlah, namanya juga Dokter. Kalau nggak ramah, nggak akan ada pasien.”

__ADS_1


“Emangnya Dosen juga nggak takut kehilangan mahasiswanya karena nggak ramah?”


“Kenapa harus takut? Mahasiswa yang mencari Dosen, bukan Dosen yang mengejar mahasiswa!” Seru Digta semakin terlihat menjengkelkan di mata Zeya.


Tak lama kemudian, pintu kamar Ambar tiba-tiba terbuka. Digta menjadi salah tingkah karena ketahuan menguping.


“Ehem….” Digta berdehem. “Gimana keadaan Ambar?”


“Dia baik-baik saja, dia hanya kecapean dan stress. Kalau bisa, kamu jangan bikin dia terlalu stress, Dig. Aku tahu kamu itu orang yang galak dan tegas, tapi kalau bisa jangan tampilkan itu di depan istrimu.” Dokter Danu menepuk pundak Digta.


“Aku nggak pernah galak di depan istriku. Kamu tahu aku, kan? Aku selalu patuh dan menjadi ciut nyalinya kalau sudah di hadapkan dengan orang yang kucinta,” jawab Digta sambil terkekeh geli.


“Tapi, Mas Digta galak di depan aku!” Sambung Zeya. Kemudian menatap Dokter Danu. “Itu yang bikin Mba Ambar stress, Dok. Karena Mas Digta selalu bersikap galak di depan adik iparnya. Kakak mana yang tega lihat adiknya di dzolimi begitu.”


Digta memelototi Zeya ketika perempuan itu mulai buka kartu di hadapan Dokter Danu.


Dokter Danu hanya terkekeh geli. “Nah, kamu jangan galak dengan Adik iparmu sendiri, Dig.”


“Yah, gimana nggak galak. Dia mahasiswaku yang bego,” komentar Digta pedas.


Rasanya, Zeya ingin menggigit leher Digta seperti zombi!


“Yasudah, kalau begitu, aku pamit dulu ya.” Dokter Danu pamit pergi.


“Terima kasih banyak ya, Dan.”


Setelah Dokter Danu meninggalkan rumah. Zeya dan Digta langsung menghampiri Ambar kembali.


“Mba Ambarrrrr, maafin aku ya … karena udah bikin Mba Ambar khawatir.” Zeya kembali menangis sedih sambil memeluk Ambar.


“Tuh, kamu harusnya dengerin aku, Zey, dan nurut sama aku. Aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa. Itulah sebabnya, aku selalu minta kamu untuk pergi dan pulang kampus bareng Mas Digta,” ucap Ambar.


“Tapi, kan, aku nggak ingin merepotkan Mas Digta terus, Mba.”


“Memangnya Mas Digta merasa direpotkan?” Kini Ambar menatap suaminya.


“Ha?” Digta tergelak. “Nggak kok, nggak sama sekali.” Digta tersenyum dengan terpaksa.


“Tuh, kan. Nggak merasa direpotkan tahuu. Pokoknya, mulai besok dan seterusnya, Mba Ambar cuma mau kamu pergi dan pulang kampus banreng Mas Digta ya.”


Bahu Zeya melorot lemas. “Apa nggak punya pilihan lain, Mba?”


“Enggak.”


Zeya cemberut sedih sambil menatap suami kakaknya yang menyebalkan itu. Sedangkan Digta sendiri, sebenarnya ingin sekali memberontak dan menolak, tapi dia ingin menghargai Ambar dan tidak mau Ambar stress karena memikirkan hal yang tidak penting ini.


Jadi, Digta memilih diam saja. Sambil menatap adik iparnya penuh kebencian.


.


.


.


TBC


__ADS_1


Dukung karyaku ya guyss


Mudah-mudahan cerita ini rame dan banyak yang koment biar aku makin semangar jugaak!


__ADS_2