
“Aku mau pulang saja, Ma. Aku nggak betah tinggal di sini.” Zeya menangis ketika sudah berada di dalam kamar Ciya. Untunglah, Ciya juga sudah tertidur lelap.
“Kenapa sih, kamu? Tiba-tiba hubungi Mama pake acara nangis segala.” Mama jadi ikutan panik di seberang sana.
Zeya menyeka ingusnya dan berusaha untuk mengontrol air matanya. Dia tidak mungkin memberitahu mamanya kalau Tina baru saja menampar Zeya. Karena nanti pasti akan ada perang dunia kedua.
“Zeya belum siap menikah, Ma. Belum siap ….”
“Zeya, Mama rasa diumur kamu yang sekarang ini, seharusnya, kamu sudah siap untuk menikah.”
“Seenggaknya, Zeya harus menikah dengan laki-laki yang Zeya cintai, Ma. Bukan dengan Mas Digta.”
“Zey, Digta bukan lelaki yang buruk. Dia baik, pinter, dewasa, dan mapan. Mama yakin, kalau dia pasti bisa membimbing kamu menjadi lebih baik dan dewasa lagi.”
Zeya mendengus frustrasi. Dalam hati dia bergesis; ‘Andai Mama tahu saja, Mas Digt sendiri yang meminta kami untuk menyembunyikan status pernikahan ini!’
“Zey, Mama mohon sekali dengan kamu untuk bersikap lebih tenang dan sabar menghadapi pernikahan ini. Jaga lisan dan sikapmu demi menjaga kondisi rumah tangga kalian. Kalau begini terus, Ambar tidak akan tenang berada di atas sana, Ambar pasti menangis. Karena pernikahan ini adalah keinginan terakhirnya. Mama harap kamu mengerti, Zeya.” Suara Mama terisak di seberang sana.
Zeya merasa kalau harapannya sudah pupus, dia memang tidak punya pilihan lain selain bersikap lebih baik. Karena untuk kabur pun, Zeya sudah tidak bisa.
“I-iya, Ma.” Zeya bingung harus bicara kepada siapa lagi. Karena tidak ada yang bisa mengerti perasaannya saat ini. “Kalau begitu, aku tidur dulu ya, Ma.” Zeya pun memutuskan sambungan dan kembali menghabiskan malam-malamnya dengan menangis.
Kehidupannya tidak bisa diubah lagi, karena garis takdirnya sudah seperti ini.
Tok Tok.
Pintu kamar Ciya terketuk, tak lama Digta masuk ke dalam kamar. Zeya segera mengusap air matanya dengan kasar.
“Maaf atas sikap Mami,” ucap Digta dingin.
Zeya mendongak, memelototi lelaki yang kini berdiri di depannya. “Kenapa bukan Mami saja yang minta maaf dengan aku? Kenapa harus Mas Digta.”
“Saya mewakilkan Mami.”
“Mas Digta tahu, nggak? Mama saya aja, nggak pernah menampar saya. Tapi, Mami Mas Digta malah enak banget main nampar-nampar anak orang sembarangan. Sedangkan Mas Digta, hanya diam saja. Kenapa, sih? Apa salahku. Bukannya Mas Digta sendiri yang nggak mau mengakui pernikahan kita. Dan aku juga lagi ngerjain tugas dengan Zega dan Jerry karena kami satu kelompok. Toh, aku sudah menjelaskan semuanya kepada Mami. Tapi, nggak ada yang mengerti.”
Digta menarik napas dalam-dalam, merasa begitu lelah setiap kali menghadapi watak Zeya yang sangat bertolak belakang dengan Ambar.
“Saya cuma mau kamu bersikap baik saja selama Mami tinggal di sini. Mami ingin kita seperti pasangan suami istri pada umumnya. Seperti kamu bangun pagi, persiapkan sarapan, persiapkan semua pakaian saya, dan hal lain yang dilakukan istri kepada suami. Setelah Mami dan Papi pulang, terserah kamu mau bersikap sesukamu di rumah ini. Saya cuma ingin kamu mengerti dan menuruti peraturan-peraturan yang ada di rumah ini, terutama peraturan yang dibuat Mami.”
Zeya terdiam, dia hanya menatap Digta dengan dongkol.
“Please, hanya selama Mami dan Papi ada di sini saja.”
“Sampai kapan?”
Digta mengangkat kedua bahu.
“Jadi, aku harus melakukan apa?”
__ADS_1
Digta menarik napasnya dalam-dalam. “Mami nggak suka kalau kita tidur pisah kamar.”
“Jadi, maunya gimana?”
“Kita tidur satu kamar.”
Zeya terbelalak. “Apa?”
“Hanya untuk sementara saja selama Mami dan Papi di sini. Kamu jangan salah paham dulu.”
“Saya nggak mau, karena saya nggak bisa mempercayai Mas Digya begitu saja.”
“Saya tidak seburuk yang kamu pikirkan.”
Zeya cemberut dan rasanya ingin menangis harus menghadapi situasi awkward ini.
“Ayolah, sementara saja. Saya juga pusing terus diomeli dengan Mami.”
“Yasudah.”
Mau tak mau, Zeya harus menerima ajakan Digta. Dia mengambil selimut tebal untuk menutupi tubuhnya agar Digta tidak berani macam-macam padanya.
“Pada mau kemana ini?” Tanya Tina saat melihat Digta dan Zeya berjalan beriringan melewati ruang tengah. Bukannya minta maaf atas perbuatannya yang telah menampar Zeya.
“Tidur, Mi,” jawab Digta sekenanya.
Digga membuka pintu kamar dan meminta Zeya untuk masuk lebih dulu.
Diem lo nenek lampir! Gerutu Zeya dalam hati.
Sedangkan Digta hanya tersenyum tipis sebelum pintu kamar ditutup.
“Aku tidur di kasur, Mas Digta tidur di lantai atau di sofa saja.” Zeya langsung merebahkan dirinya di kasur Digta.
Digta langsung menarik kaki Zeya. “Jangan berani-beraninya menyentuh kasur saya dengan Ambar!”
“Eh, eh… apa-apaan ini. Massss!”
Digta terus menarik kaki Zeya sampai perempuan itu terjatuh dan bokongnya menyentuh lantai.
“Aaaah, aduhhhhh. Sakit, Mas!” Zeya mengusap punggung dan bokongnya.
Sedangkan Tina dan Tio mendengar suara teriak-teriakan yang terjadi di kamar.
“Belum sebulan Ambar meninggal, Digta sudah berani coblos adik iparnya?” Tio menatap Tina heran. “Apa nggak kenapa-kenapa tuh, Mi?”
“Ya nggak apa-apa, lah, Pi. Baguss namanya itu! Berarti Digta lelaki normal.”
“Oh gitu toh.”
__ADS_1
Kembali lagi ke adegan Zeya dan Digta. Dengan kesal, Zeya bangkit dari lantai.
“Terus aku tidur dimana, dong?”
Digta mengedikkan sofa sebelum merebahkan dirinya di kasur. “Tuh, di situ.”
“Masa Mas tega sih, ngebiarin perempuan tidur di sofa.” Zeya cemberut.
Tapi, Digta sepertinya tidak peduli. Lelaki itu tetap memejamkan mata, dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal.
Zeya mengerang kesal. Lalu mengambil bantal di kasur Digta dan melemparnya ke sofa.
Dilihatnya kembali Digta, lelaki itu sudah tertidur dengan lelap sampai dengkuran halus terdengar keluar dari bibirnya.
Akhirnya Zeya berbaring di kasur dan menarik selimut sampai menutupi wajahnya.
***
“Heh, bangun! Heh!”
Zeya merasa tubuhnya digoncang sejak tadi. Dengan berat ia membuka kelopak matanya. Dan melihat Digta sudah berdiri di depannya.
“Mas Digta?” Zeya kaget sampai terjatuh dari sofa. “Awwww….” Perempuan itu mengusap punggungnya.
“Bangun dan siapin sarapan,” perintah Digta, kembali merebahkan dirinya di kasur.
Zeya menatap jam dinding. “Ini masih pukul tujuh pagi loh, Mas.”
“Dulu, Ambar mempersiapkan sarapan saya itu pukul enam lagi. Kamu nggak mau diomeli dengan Mami lagi karena kamu membiarkan Mami mempersiapkan sarapan sendirian, kan? Bersikaplah sebagai istri, Zeya. Hany sampai Mami dan Papi di sini.”
Zeya mendengus kesal, dan terpaksa beranjak dari kamar Digta.
Zeya memutuskan untuk mandi dulu sebelum menuju dapur. Bahkan, dia bingung harus masak apa. Karena Zeya nggak pinter-pinter banget masak.
Jadi, dia putuskan untuk bikin telur dadar saja.
“Tumben sudah bangun.” Tina mendadak muncul di dapur.
Kalau diingat-ingat tentang tamparan kemarin, rasanya Zeya ingin sekali memukul wajah mertuanya dengan pantat kuali.
“Kamu mau masak apa nih, untuk sarapan?” Komentar Tina lagi. “Telur dadar saja? Kamu nggak tahu kalau Digta itu alergi kalau makan telur?”
Zeya menatap Tina. “Nggak tahu, Mi.”
“Aduh, Zey, gimana sih, kamu ini. Masa begitu saja kamu nggak tahu, sih! Kamu tuh harus bisa telaten menjadi istri seperti Ambar. Kamu ngak bisa masak juga?”
Zeya menggeleng pasrah.
“Ya ampunn, harusnya dulu kamu banyak belajar dari kakakmu. Digta itu paling suka makan di rumah, dan kalau istrinya nggak bisa masak, bagaimana dia mau makn di rumah terus?” Tina mendelik ke arah Zeya. “Sekali-sekali kamu harus belajar masa dong, Zey. Jangan acuh tak acuh begini.”
__ADS_1
Zeya memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam. “Setidaknya, Mami minta maaf dulu sama aku karena sudah menamparku kemarin. Bukan langsung menjudge aku lagi.” Entah dari mana datangnya keberanian ini.
Membuat Tina semakin mendelik ke arah menantunya. “Apa kamu bilang?”