
“Pak Digta ….”
Dion menghampiri ketika Digta dan Zeya baru saja keluar dari mobil.
“Saya turut berduka cita atas meninggalnya istri Bapak.” Dion menjabat tangan Digta.
“Terima kasih, Pak.” Digta berusah untuk tetap tersenyum, meski senyuman itu begitu tipis.
Lalu, Dion menatap Zeya. “Saya turut berduka cita ya….” Dion mengusap lengan Zeya pelan.
Mata Digta memelototi tangan Dion yang menyentuh Zeya dengan asal. Tapi, Digta tidak mengatakan apapun.
“Terima kasih, Pak,” ucap Zeya berusaha untuk tersenyum. “Kalau begitu saya izin pamit dulu.” Lantas Zeya segera pergi dari hadapan mereka semua.
***
“Zey….”
Zega berlari menghampirinya, saat Zeya hendak masuk ke dalam kelas.
“Eh, Zega….”
“Apa kabar? Udah lama banget nggak kelihatan. Aku tanya kamu dengan Jerry, tapi dia juga nggak tahu.” Zega berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Zeya.
“Kakakku meninggal,” kata Zeya yang membuat Zega terkejut.
“Innalillahiwainnalillahirojiun. Aku turut berduka cita ya, Zey.”
“Makasih ya, Zega. Dan maaf, aku nggak bisa bales pesan kamu atau angkat telepon kamu karena handphone aku sempat hilang.”
“Nggak masalah, Zey. Aku sabar menunggu kamu, kok.” Mereka pun masuk bersama ke dalam kelas dan duduk bersebelahan.
“Zeyaa!” Jerry tiba-tiba muncul, dan sengaja duduk tepat di belakang Zeya. “Lo kemana aja, sih? Liburnya kenapa lama banget!”
“Kakak gue meninggal,” jawab Zeya dengan wajah tertekuk sedih.
Jerry tampak kaget. Sebelum dia kembali bicara, Digta sudah masuk ke dalam kelas mereka.
“Pagi….” Sapa Digta dengan cuek seperti biasa. Menaruh beberapa buku dan laptop di atas mejanya. “Saya hanya beri kalian waktu 10 detik untuk bikin kelompok—yang masing-masing kelompoknya berjumlah tiga orang. Satu ….” Digta mulai menghitung, dan Mahasiswa langsung kelabakan mencari kelompok mereka. “Dua, tiga, empat, lima enam, sepuluh.”
“Yaaah, Pak…. Tujuhnya belum.” Salah seorang Mahasiswa berkomentar. Tapi sepertinya Digta tidak peduli, dia melangkah ke tengah-tengah ruangan.
“Silakan duduk di kelompok masing-masing.” Perintah Digta.
Zeya, Zega, dan Jerry sudah duduk bertiga. Dan Zeya duduk di tengah-tengah antara kedua lelaki tersebut.
“Kelompok ini akan permanen sampai semester akhir, tidak bisa diganggu gugat,” ucap Digta tegas.
“Baik, Pak.”
“Saya bicara singkat saja di sini, saya ingin kalian review jurnal dan studi kasus yang telah terjadi di Indonesia yang berkaitan dengan hukum di Indonesia. Referensi minimal dua puluh buku atau jurnal.” Digta melihat jam tangan. “Pukul satu kita bertemu lagi di kelas ini, dan saya harap kalian sudah siap dengan tugas yang saya berikan. Terima kasih.” Lalu, Digta kembali mengambil beberapa barangnya di meja dan keluar dari ruangan.
__ADS_1
Seketika ketegangan yang sempat terjadi di kelas ini langsung menguap pergi.
“Gampang mah, tugasnya!” Jerry menjentikkan jari.
“Mungkin bagi yang belum pernah menjadi Mahasiswa Pak Digta belum tahu ya, saya hampir dua tahun jadi Mahasiswanya dia, dan pernah mengulang di semester selanjutnya karena gagal dalam tugas kelompok.” Adi membuka suasa. Selain Mahasiswa senior, umur Adi juga paling tua di antara para Mahasiswa di ruangan ini.
“Ah, serius, Mas Adi?” Tono bertanya karena penasaran.
“Yup. Tentu saja tugas kelompok Magister sangat berbeda ketika masih S1, minimal setaranya dengan skripsi S1,” jelas Adi lagi.
“Skripsi?” Zeya tercengang.
“Sejauh yang saya pahami tugas-tugas di pasca sarjana itu bobotnya setara dengan mengerjakan skripsi. Perbedaannya jika skripsi merupakan pengaplikasian teori, tesis yang merupakan pra-syarat kelulusan magister adalah pendalaman/pengembangan teori. Dan Pak Digta tidak kita hanya sekadar ingin kita membaca saja, tapi harus memahami. Jika tidak memahami sampai ke akar-akarnya. Yah, siap-siap, dia nggak segan memberikan nilai E.”
Mendengar penjelasan Adi, membuat suasana kelas kembali tegang. Sekarang Zeya menyesal harus satu kelompok dengan Zega dan Jerry—yang kapasitas otaknya setara dengan dia. Harusnya, dia mencari kelompok yang lebih senior, lebih tua, dan lebih berpengalaman.
Alamatlah, bakal menjadi bulan-bulanan Digta lagi, nih.
***
Zeya, Jerry dan Zega langsung melipir ke perpustakaan untuk mencari beberapa jurnal, skripsi, dan contoh-contoh studi kasus. Mereka juga mencari melalui internet dan harus dikumpulkan dalam satu judul.
Hal itu membuat kepala Zeya pecah. Apalagi, Jerrry kelitahan hanya main-main saja. Bukannya bantu mencari, tapi malah asik baca komik.
Zeya mendengus kesal dan melempar lelaki itu dengan buku ke arah Jerry.
BRUKKK!
Buku yang memiliki seribu halaman itu langsung mengenai kepala Jerry. Membuat Zega—yang duduk di sebelah Zeya ikut kaget.
Sedangkan Jerry meringis kesakitan. “Aw, lo kenapa sih?”
“Menurut lo? Gue kenapa?” Zeya melotot kesal. “Gue dan Zega pusing cari jurnal. Nah, elo malah enak-enakan baca komik.”
“Santai atuh, Zey! Lo nggak denger kata Pak Digta tadi? Kelompok kita tidak boleh diubah dan diganggu gugat.”
“Itulah kenapa gue lempar lo pake buku biar sadar! Karena kelompok kita nggak bisa diganti, dan elo sadar diri. Jangan karena tingkah lo, gue dan Zega jadi kena batunya.”
“HUSSSSSH! Berisik!” Mereka mendapat teguran dari para Mahasiswa yang berada di perpustakaan.
“Rrggh!” Zeya mengerang kesal. Lalu bangkit dari kursi sambil membawa buku-buku yang dia pinjam dari perpustakaan.
Ketika keluar dari perpustakaan, Zeya tak sengaja menabrak tubuh Digta.
“Aduh.” Bukunya berserakan di lantai.
Bukannya membantu, Digta justru melangkahi buku-buku Zeya begitu saja dan berjalan tanpa dosa. Membuat emosi Zeya semakin kalut.
Kenapa hidupnya jadi serunyam ini, sih!
***
__ADS_1
Pukul satu siang, mereka semua kembali masuk ke dalam kelas. Tapi, kelompok Zeya tidak berhasil membuat apapun.
“Selamat siang ….”
Digta melangkah memasuki kelas dengan tenang.
“Langsung saja presentasikan tugas dari kelompok Zeya,” ujar Digta seolah lelaki itu sengaja menjebak Zeya.
Zeya, Zega, dan Jerry pun langsung terbelalak kaget.
“Ayo maju,” perintah Digta lagi.
Mereka pun maju dan berdiri di depan para mahasiswa lain.
“Silakan mulai, studi kasus apa yang ingin kalian bahas. Saya mau secara terperinci ya.” Digta bersedekap.
“Em…. Pembunuhan yang terjadi–—“ Zeya berhenti karena ucapan hanya ngarang semata. Dia menatap teman-teman Mahasiswa lain yang balik menatapnya.
“Saya tidak meminta anak SD untuk maju ke depan kelas,” kata Digta ketus. “Saya ingin pengaplikasian teori dan tesis yang lebih luas. Agar kalian bisa melihat sesuatu dalam perspektif yang lebih luas pula.”
“Pak, maaf, boleh beri kami waktu lagi untuk bikin tugas ini?” Jerry berani membuka suara.
Digta menarik napas dalam-dalam sambil memelototi Jerry. Lau, tatapannya kembali ke depan. “Ada yang belum bikin tugas juga?”
Dan hampir semua mengangkat tangan. Kecuali kelompok Adi.
Digta memejamkan matanya sejenak sebelum mencari pemasok oksigen yang banyak. Sedangkan Zeya bersyukur, karena dia tidak sendiri. Lagipula, siapa yang bisa melaksanakan sebuah tugas menyerupai skripsi S1 dalam kurun waktu satu jam!
“Tiga hari, saya hanya memberi waktu tiga hari. Sampai ketemu lagi lusa.” Satu kalimat Digta sebelum lelaki itu meninggalkan kelas.
Zeya merasa puas dan senang, karena Digta tidak berubah menjadi jin ataupun memberi mereka semua nilai E. Zeya mengejar langkah Digta.
“Pak Digta….”
Digta berhenti melangkah, menatap perempuan itu. “Bukankah saya bilang jangan ada hubungan di antara kita?”
“Maaf, apa hubungan antara mahasiswa dan dosen tidak boleh? Lagipula, siapa yang mau menganggap Bapak sebagai suami saya ketika di kampus. Toh, saya manggil Bapak dengan sebutan ‘Bapak’ bukan ‘sayang’.”
Digta melotot. “Waktu saya tidak banyak.”
“Saya cuma mau bilang, terima kasih ya, Pak. Sudah memberi kami kesempatan untuk tetap melanjutkan mata kuliahan Bapak.” Zeya tersenyum semringah.
Digta tidak mengatakan apapun selain melangkah pergi lagi.
“Pak Digta.” Zeya kembali memanggil.
“Apa lagi?”
“Nanti pulang kampus, Bapak pulang tanpa saya saja ya. Karena saya harus pergi.”
“Kemana?” Digta mengerutkan alis.
__ADS_1
Sedangkan Zeya, mengangkat setengah alisnya. “Bapak mulai penasaran dengan kegiatan saya, kah?”
Digta mengibaskan tangan. “Lupakan.” Dan kembali melangkah pergi.