Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang
Suasana Yang Canggung


__ADS_3

Pandangan Zeya terlihat samar-samar ketika dia membuka kelopak matanya.


Ada perasaan aneh yang menggelora di dalam dadanya. Membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Zeya menoleh ke samping. Kakak iparnya, ralat, suaminya tidur tepat di sebelahnya dengan bertelanjng dada. Zeya memeriksa kondisi tubuhnya di balik selimut yang ikut bertelanjang dada.


Apa yang terjadi tadi malam?


“Astaga.” Zeya mengusap wajah furstrasi. “Nggak mungkin, aku dan Mas Digta—“ Zeya menggigit bibir.


Ia ingin bergerak, tapi sesuatu di bawahnya berdenyut sakit. Merasakan sensasi pedih yang luar biasa.


Zeya menjadi lemah dan terpaksa berbaring kembali di kasur.


Apakah Mba Ambar akan marah di atas sana, setelah melihat adegan ini? Pikiran Zeya berkecamuk dan menjadi tidak tenang.


“Lagi menungi apa?” Suara Digta tiba-tiga muncul. Membuat Zeya panik.


“Mas….”


“Hm….” Digta menggeser posisi tubuhnya menjadi miring, dan menjadikan telapak tangannya sebagai tumpuan. “Kenapa?” Tatapan Digta begitu tajam.


“Anu, itu….”


“Anu, itu, apa? Yang jelas kalau ngomong.”


Ahhh, Zeya tidak bisa menatap Digta lebih lama. Hal itu membuatnya malu. Zeya menutup wajahnya dengan selimut.


“Kenapa, sih?” Digta menarik selimut Zeya.


“Mas, aku malu!”


“Santai saja. Semuanya juga sudah terjadi.“ Digta bangkit dari kasur dan menutup pinggang ke bawah menggunakan handuk. “Lekas mandi dan bersiap-siap. Kamu tidak kuliah hari ini? Bukankah hari ini adalah jadwal mata kuliahan saya?”


“I-iya, Mas.”


“Atau, mau mandi bareng?”


“Enggaaaak!”


“Okay.”


Digta melenggang santai terlebih dahulu menuju kamar mandi.


Aissshhh! Zeya sama sekali tidak menyangka kalau hubungannya dan Digta akan menjadi sejauh ini.


***


“Selamat pagi, Tante Zeya!” Seru Ciya saat melihat Zeya baru saja berjalan menuju ruang makan. “Kenapa Tante Zeya jalannya begitu, sih? Kakinya sakit ya?” Tanya Ciya dengan wajah polos.


Sedangkan Digta nyaris saja menyemburkan air dari dalam mulut karena menahan tawa.


“Ng—iya, kaki Tante lagi sakit. Habis jatuh dari tempat tidur.” Zeya terpaksa mencari alibi yang pas. Agar tidak diketahui oleh orang banyak.

__ADS_1


Lalu, Zeya mengambil tempat duduk di sebelah Ciya.


“Mau makan nasi atau roti?” Tanya Digta perhatian.


“Roti aja, Mas.”


“Okay.” Digta meraih roti dan selai cokelat. Kemudian, memberikannya kepada Zeya.


“Makasih, Mas.”


Digta tidak menjawab ucapan terima kasih Zeya. Lelaki itu hanya fokus melanjutkan sarapannya.


“Oh iya, Ayah, Tante, acara di sekolahku mulainya nanti siang. Jangan lupa datang ya!” Ujar Ciya.


Bagaimana mungkin Zeya dan Digta melupakan acara di sekolah Ciya. Mereka pun saling bertatapan, sebelum menatap Ciya kembali.


“Okay, kami pasti datang,” jawab Zeya berusaha menenangkan Ciya.


Selesai sarapan, mereka pun langsung berangkat menuju sekolah Ciya lebih dulu. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju kampus.


“Mas nggak ada jadwal siang nanti, kan?” Zeya mulai mengajukan pertanyaan.


“Ada. Saya sudah pasti nggak bisa dateng, jadi kamu saja yang mendampingi Ciya,” jawab Digta dengan santai.


“Loh, kenapa begitu? Datangnya barengan, dong. Kalau cuma aku saja yang dateng, nanti Ciya jadi kecewa, Mas.”


“Ya mau gimana lagi!”


Digta menoleh ke arah Zeya. “Itu pertanyaan bodoh. Jelas saja pekerjaan inj jauh lebih penting. Apalagi saya seorang dosen yang tugasnya adalah mengajar. Sehari saja tidak bertemu, maka akan ketinggalan materi.”


“Tapi, pasti bisa ditunda dulu. Kasihan Ciya, Mas. Dia sudah kehilangan sosok Ibu, jangan sampai dia kehilangan sosok Ayah juga. Apa Mas selalu bersikap seperti ini selama Mba Ambar hidup? Untungnya, Mba Ambar orang yang sabar ya. Tapi, kali ini Ciya sangat membutuhkan sosok Ayah yang selalu ada di dalam hidupnya. Selagi anak masih kecil, kita harus banyak meluangkan waktu untuk anak-anak, Mas. Karena ketika mereka sudah dewasa nanti, mereka sudah punya kesibukannya sendiri. Ingat, Mas, waktu yang telah berlalu, tidak dapat diulang kembali. Hanya dapat dikenang dan diingat saja.”


Digta menarik napas panjang saat mendengar kalimat dari Zeya. Lelaki itu mencekram erat stir kemudi sampai buku-buku jarinya memutih.


“Gimana, Mas?” Zeya kembali memastikan.


“Iya, saya usahakan nanti.”


Zeya bisa bernapas lega, jika memang Digta mendengarkan perkataannya.


Setelah menempuh perjalanan singkat, akhirnya mereka tiba juga di kampus. Zeya dan Digta turun dari mobil bersama.


Mereka tidak sengaja berpapasan dengan Kiara di parkiran.


Kiara berhenti melangkah, menatap Zeya dan Digta secara bergantian dengan wajah tegang.


“Pagi, Bu,” sapa Zeya.


Kiara hanya tersenyum simpul. Tidak biasanya, karena dia selalu ramah. Apalagi setiap kali berada di depan Digta.


Apa mungkin, penolakan Digta padanya membuat suasana menjadi canggung. Apalagi, ketika Kiara sudah mengetahui kalau Digta dan Zeya telah menikah.


“Saya duluan,” ucap Kiara. Terkesan buru-buru meninggalkan mereka.

__ADS_1


Sedangkan Digta? Sikapnya biasa saja. Bahkan, seolah merasa tidak bersalah setelah menolak cinta Kiara.


Digta dan Zeya pun berpisah di jalan. Zeya masuk ke dalam ruangan kelasnya.


Di kelas sudah ada Zega yang duduk di kursi dan menatap ke arahnya.


Zeya berusaha mengalihkan tatapan dan duduk dengan jarak yang jauh dari Zega.


“Hoi!” Jerry datang mengejutkan Zeya.


“Ih, apaan sih.”


“Eh, tumben lo dan Zega duduknya pisah? Lagi berantem ya?” Tanya Jerry penasaran.


“Bukan berantem lagi. Tapi, udah putus.”


“What? Putus? Kok bisa?”


“Apa sih, yang nggak bisa di dunia ini!”


“Bener juga, sih. Kalau gitu, lo jadi pacar gue aja ya.”


“Ogaaah!”


Zeya kebali bangkit dari kursi dan ingin keluar kelas untuk menghirup udara segar. Tapi, Zega sudah mencegat langkahnya di depan kelas.


“Apa?” Zeya memelototi Zega dengan tajam.


“Kamu bersikap seperti ini, seolah-olah aku yang salah.”


“Memang.”


“Padahal, kesalahan ada pada dirimu!” Zega menunjuk Zeya kesal.


“Berhenti melempar kesalahan kepada orang lain! Kalau sudah salah, ya salah saja!”


“Tapi, kamu duluan yang sudah bohongi aku, Zey. Kamu sudah menikah dengan Pak Digta, tapi pacaran denganku!” Bentak Zega dengan suara kencang.


Sampai-sampai, beberapa orang di kelas menatap ke arah kami.


“Hei, apa-apaan sih, mulutmu!” Zeya merasa tidak terima.


“Tante Kiara yang cerita semuanya kepada aku. Bahwa sebenarnya, kamu dan Pak Digta sudah menikah karena dipaksa oleh Almarhumah Kakakmu, kan? Tapi, dengan perasaan tanpa dosa, kamu dan aku pacaran. Kamu udah gila menyembunyikan ini semua ya?”


Zeya memejamkan mata sambil menarik napasnya dalam-dalam. “Dengar ya, Zega. Kamu sudah menghianatiku, sudah tidur dengan perempuan lain, dan selingkuh! Sedangkan aku dan Pak Digta sama sekali tidak saling mencintai. Kami menikah hanya karena terpaksa. Aku bahkan mau bercerai dengannya demi hidup bersamamu. Tapi, apa semua yang kamu lakukan padaku? Kamu tak lebih dari seorang sampah! Harusnya dari awal aku mendengarkan ucapan Pak Digta. Kalau kamu bukan laki-laki baik. Sekarang, aku tidak peduli lagi apa tanggapanmu dan orang-orang. Aku hanya ingin menjalankan pernikahan ini dengan damai. Dan izinkan aku bahagia bersama Pak Digta!”


Itu kalimat terakhir Zeya sebelum mendorong Zega dan pergi meninggalkan lelaki itu.


Zeya sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Satu kampus pasti akan tahu tentang hubungan mereka. Jadi, untuk apa lagi mereka harus bersembunyi dan menutupi semua ini bagaikan aib.


Jika Digta memang menginginkan pernikahan ini dan berusaha membuat mereka saling jatuh cinta.


Oke! Zeya setuju. Siapa takut!

__ADS_1


__ADS_2