
“Maksud Mas Digta apa?” Tanya Zeya heran.
“Pacarmu bersama perempuan lain. Tuh….” Digta mengedikkan dagu ke arah Zega.
Zeya melihat motor Zega dengan kening mengkerut dan mata menyipit tajam untuk memastikan lelaki itu benar-benar Zega.
“Itu Zega,” celetuk Zeya.
“Saya sudah bilang begitu.”
“T-tapi, kenapa bersama perempuan lain.” Zeya menelan ludah kelat.
Lalu, lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau.
“Mas, ikutin motornya.” Pintah Zeya.
“Okay.”
Mobil Digta pun melesat dan mengikuti laju motor Zega yang lumayan kencang. Zeya memperhatikan motor di depannya dengan perasaan was-was.
Perasaan … mereka tidak pernah bilang kata putus antara satu dan lainnya. Tapi, mengapa Zega pergi bersama perempuan lain yang sama sekali tidak dikenal Zeya? Apakah ini alasan Zega tidak menghubungi Zeya sejak kemarin?
Dan anehnya, perempuan itu memeluk pinggang Zega.
Zeya menyentuh dadanya. Jantungnya berdetak cepat seperti suara drum yang dipukul dengan kencang.
Lalu, motor Zega masuk ke sebuah basemant apartemen. Dan Zeya yakin, kalau mereka berhenti di apartemen milik Zega.
Tapi, untuk apa Zega membawa perempuan segala ke apartemennya?
“Berhenti, Mas.” Zeya meminta Digta untuk berhenti di basemant. Kemudian, Zeya mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan mencoba untuk menghubungi Zega.
Sudah beberapa kali Zeya coba menghubungi Zega, lelaki itu tidak menerima satupun panggilan Zeya. Bahkan, Zega sampai mereject panggilan Zeya.
Ini tidak bisa dibiarkan! Zeya harus bertanya langsung kepada Zega tentang hubungan mereka yang akan dibawa kemana?
“Kamu mau kemana?” Digta mencegat tangan Zeya saat melihat perempuan itu membuka pintu mobil.
“Menyusul Zega,” jawab Zeya dingin. Karena emosi sudah mengepul sampai ke ubun-ubun.
“Mau saya temani?”
“Aku bisa sendiri.”
Tanpa basa-basi lagi, Zeya langsung keluar dari mobil Digta dan melangkahkan kaki penuh amarah masuk ke dalam apartemen. Karena Zega dan perempuan asing itu sudah masuk lebih dulu ke dalam apartemen Zega.
Zeya ingat lantai dan nomor unit apartemen Zega. Karena Zeya itu, pernah sekali dibawa ke apartemen Zega. Namun, hanya beberapa menit saja untuk mengambil barang yang ketinggalan.
Zeya berlari mengejar lift yang hampir tertutup sampai sebelah sendalnya ketinggalan di lobby. Ah, masa bodohlah. Zeya harus buru-buru memergoki pacarnya.
Meski hanya menggunakan sebelah sendal.
__ADS_1
Di lift, Zeya berdiri di sudut sambil meremas ke sepuluh jemarinya.
Jantungnya berdetak semakin cepat. Apalagi, ketika pintu lift sampai di lantai tujuannya.
Zeya pun menyeret langkahnya yang hanya menggunakan sebelah sendal saja sampai ia berdiri di hadapan unit apartemen Zega.
Zeya menarik napasnya berulang kali dan berusaha memberanikan diri. Sampai Zeya merasa tenang, ia pun menekan bell apartemen Zega berulang kali.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pintu apartemen Zega terbuka.
Zega melotot saat menatap Zeya sudah ada di depan apartemennya. Begitupula Zeya—yang kaget melihat penampilan Zega hanya menggunakan handuk saja yang melilit di pinggangnya.
Perasaan Zeya semakin tak karuan.
“Zeya? Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Zega dengan nada setengah gugup.
Zeya berusaha mengontrol emosinya untuk tidak menggebu-gebu. “Kamu tidak membalas pesanku, tidak angkat teleponku, bahkan sempat nggak masuk ke kampus. Kenapa? Kamu masih marah denganku? Atau, marah dengan Mas Digta? Bukankah kamu dan Mas Digta sudah damai? Dan bukankah, seharusnya kamu memberi penjelasan kepadaku dulu.”
Zega menghela napas dan tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Mungkin lebih tepatnya, dia bingung harus menjelaskan apa.
“Kamu masih menganggap kita pacaran, kan?” Tanya Zeya lagi hati-hati. “Harusnya, kamu perjelas hubungan kita ini. Jangan menjadikan aku tali yang bisa di tarik-ulur.”
“Justru kamu yang menarik-ulurku! Kakak iparmu yang sialan itu juga sudah bikin hubungan kita kacau! Kamu juga lebih mementingkan perintahnya daripada aku! Kalau begitu, kenapa harus pacaran denganku? Kenapa tidak menikah saja dengan kakak iparmu itu! Kalian lebih cocok berdua!” Bentak Zega sarkastis. Membuat hati Zeya sakit.
Apalagi, ketika Zeya melihat seorang perempuan yang juga menggunakan handuk di tubuhnya telah berdiri di sebelah Zega.
“Ada apa, Ga? Kenapa ribu-ribut,” kata perempuan itu polos sambil melihat ke arah Zeya.
“Siapa yang meminta kamu keluar?! Masuk ke dalam!” Bentak Zega pada perempuan itu.
Perempuan yang setengah telanjang itu pun kembali masuk ke dalam apartemen Zega.
“Kamu bawa perempuan ke dalam apartemenmu? Dan kalian tidak berpakaian sedikit pun?” Zeya sudah merasa lemah harus berdiri di hadapan lelaki bajingan ini.
“Aku bisa jelaskan….”
“Apa yang perlu diperjelas? Semuanya sudah jelas, kan? Kalau memang mau putus, tinggal bilang saja putus! Kenapa harus mencari pelampiasan lain untuk menyakiti aku! Dari awal harusnya aku sadar, kalau kamu cuma manfaatin aku saja! Kamu pacaran denganku, karena ingin mendapatkan nilai bagus dari Mas Digta, kan? Bahkan, kamu nggak lebih dari seorang bajingan, Zega! Kamu pantas mendapat pukulan dari Mas Digta! Kamu laki-laki brengsek!” Zeya berteriak murka.
“Hei! Jangan berani-beraninya berteriak di depanku!” Zega tak kalah berteriaknya.
“Aku nggak cuma berani berteriak di depan kamu! Tapi, aku juga berani menonjokmu habis-habisan. Persis seperti yang dilakukan oleh Mas Digta padamu waktu itu! Dasar bajingan!”
Dan dalam sekali pukulan saja, Zeya berhasil melayangkan bogeman mentah di wajah Zega.
BUG!
Membuat lelaki itu terjerembab ke lantai.
“Ah….” Zega menyentuh sudut matanya yang terasa pedih.
“Kalau kamu mau lapor polisi lagi, silakan! Aku nggak takut! Aku juga nggak akan segan-segan melaporkan kelakuanmu dengan semua keluargamu! Cuih!” Zeya meludah. “Najis lo! Mulai sekarang kita putus!”
__ADS_1
Dengan kemarahan yang telah menyelimuti dirinya, Zeya pun bergegas meninggalkan Zega.
Terserahlah apa yang akan dilakukan Zega nantinya. Zeya tidak takut! Zeya benci dengan Zega! Ternyata, dia cuma laki-laki jahat yang tidak punya hati dan perasaan.
Bahkan, dia lebih jahat dan kejam daripada Digta!
Di sepanjang jalan keluar dari apartemen, Zeya menangis hingga sesenggukan.
Di mobil, Digta memperhatikan istrinya melangkah dengan sebelah sendal sambil terisak. Zeya menutup hidungnya dengan lengan, dan bahunya tampak bergetar begitu hebat.
Digta terlihat cemas, dan buru-buru keluar dari mobil untuk menghampiri Zeya.
“Zey, kamu kenapa?” Digta menyentuh kedua pundak Zeya.
Perempuan itu berhenti melangkah, dan tiba-tiba jongkok di lantai sambil menangis histeris seperti orang yang habis kecopetan.
“Hiks … hiks….”
Suara tangisnya menggema di sekitar basemant. Membuat Digta mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia takut ada orang lain yang mendengar suara tangisan Zeya, dan mengira kalau Digta telah melakukan hal buruk pada Zeya.
“Zeyyy, huussstttt, jangan nangis di sini. Nanti dipikir saya melakukan tindakan buruk padamu. Kita bicara di mobil saja ya.” Digta berusaha membopong tubuh Zeya dan membawa perempuan itu ke dalam mobil.
“Zey, kamu mau minum?” Digta menawarkan minum untuk Zeya setelah mereka sudah duduk di dalam mobil.
Zeya menerima botol minum tersebut dan meneguk airnya hingga menyisakan setengah.
“Tisu?” Digta menyodorkan tisu.
Zeya merampas tisunya dan menyedot ingusnya kuat-kuat.
“Apa yang terjadi, Zey?” Tanya Digta akhirnya.
“Mas Digta bisa diem dulu nggak! Aku ini mau nangis yang kencang banget.” Zeya memukul dadanya dramatis. “Aku sakit hati, Mas! Sakit hati banget. Zega bawa perempuan ke dalam apartemennya, dan mereka nggak pake baju. Zega selingkuh, Mas! Selingkuh!”
Digta menghela napas berat. “Sudah saya bilang kan, dia bukan laki-laki baik. Masih saja dipertahankan. Sudahlah, harusnya kamu bersyukur karena tahu lebih cepat. Daripada kamu tahunya nanti, malah makin tambah sakit hati.” Digta mengusap punggung Zeya. “Atau, apa yang harus saya lakukan agar kamu tenang? Apa saya perlu menonjoknya lagi? Tidak masalah, kalau saya akan di penjara lagi.”
“Nggak perlu! Aku sudah menonjoknya lebih dulu!”
“Wow! Jago juga kamu.”
“Mas Digta, ini bukan waktunya untuk bercanda!” Zeya menatap Digta dengan kesal.
“Siapa juga yang menganggap kamu bercanda.” Digta memasang wajah menyebalkan.
Tangis Zeya semakin pecah.
“Yasudah, yasudah… saya minta maaf. Tenang yaa, kamu tidak pantas menangisi lelaki seperti dia sampai sendalmu hilang sebelah. Sini-sini.” Digta pun menarik Zeya ke dalam pelukannya.
Meski bukan pelukan Digta yang diinginkan oleh Zeya, setidaknya pelukan ini membuat Zeya merasa tenang.
“Tidak usah pacaran-pacaran lagi, fokus saja dengan pernikahan kita,” celetuk Digta. Entah Zeya menyadari perkataan Digta, atau tidak.
__ADS_1