
From: Zega
[Besok barengan lagi ke kampusnya? Aku jemput]
Setelah mendapatkan pesan singkat dari Zega malam ini, Zeya langsung keluar dari kamar. Dia mencari keberadaan Ambar—yang untungnya sedang nonton televisi bersama Ciya di ruang tengah.
“Mba….” Zeya duduk di sebelah Ambar. “Mas Digta mana?” Zeya tidak melihat batang hidung si Jin itu di sekitarnya.
“Lagi mandi. Kenapa?”
“Tante Zeya mau nggaaaak! Ini enak, loh.” Ciya menyodorkan mangkuk berisi popcorn pada Zeya.
“Hihi. Makasihhh.” Zeya mengambil beberapa dan mengumpulkannya di telapak tangan untuk dikunyah. “Kondisi Mba Ambar gimana? Kayaknya udah mendingan yah.” Zeya memijit paha Ambar dengan tangan sebelah—yang tidak memegang popcorn.
Ambar mengernyir. “Aneh banget kamu. Pasti, mau minta sesuatu, deh. Kenapa?”
“Hehe, tahu ajah. Besok aku nggak pergi ke kampus bareng Mas Digta yaaah. Aku dijemput temen.” Bujuk Zeya.
Tanpa perlu mikir panjang, Ambar langsung menjawab, “nggak.”
“Ih, kok gitu, sih.” Zeya cemberut. “Please lah, Mba. Temenku ini baik, loh.”
“Yang naik motor itu, kan? Yang jemput kamu kemarin?”
Zeya menganggukkan kepala. “Iya, ganteng, kan?”
“Pacarmu?”
“Penginnya sih, gitu. Tapi enggak, kok. Cuma temen doang.”
Ambar tetap fokus menatap televisi di hadapannya. “Tetap nggak boleh.”
“Ih, kenapa, sih? Aku udah dewasa, loh. Cewek-cewek diumurku ini sudah punya anak tiga lagi! Nah, aku boro-boro punya anak, deket sama cowok aja nggak boleh.”
“Tapi, kamu itu nggak teliti kalau cari pacar, Zey. Pacar-pacarmu sebelumnya nggak jelas, kan?”
Zeya cemberut. “Lagian, kenapa sih, aku harus bareng Mas Digta terus. Aku bukan istrinya.”
“Mba cuma ingin kalian akrab, Zeya.”
“Tapi, Mba, Mas Digta itu kejam banget sama aku. Mba ingat kan, waktu handphone-ku rusak? Jadi, dia itu sengaja kirim pesan di grup kelas agar mahasiswanya bawa buku yang dia minta. Karena hp-ku rusak, otomatis aku nggak baca grup, dong. Jadi aku nggak tahu pengumuman itu. Apa salahnya sih, dia kasih tahu aku langsung. Ini enggak, loh. Dia kayak sengaja gitu bikin aku malu di depan kelas dan mengeluarkan aku dari mata kuliahannya. Dan, Mba Ambar tahu apa yang lebih parah? Dia kasih aku nilai E, Mba! Dia suruh aku mengulang matkul dia semester depan. Mana ada kakak ipar model begitu, Mba!” Zeya bicara dengan nada berapi-api.
Membuat Ambar jadi menghela napas gusar dan merasa iba dengan adiknya.
“Gimana aku mau cepat selesai kuliahnya, kalau Mas Digta sengaja menghambat aku.” Zeya menyilangkan tangan di dada sambil menyandarkan punggung di kursi. Dia cemberut sebal.
“Sayang….” Digta mendadak keluar dari kamar dalam keadaan sudah mandi dan mengganti pakaiannya menggunakan kaus oblong dan celana kain pendek. “Kamu lihat kacamata aku nggak?” Tanya Digta pada Ambar.
Ambar tidak langsung menjawab. Entah apa yang dia pikirkan tentang suaminya itu.
“Sayang,” panggil Digta lagi. “Lihat, nggak?”
“Mas, kenapa Mas bikin Zeya harus mengulang mata kuliahan Mas di semester depan?” Ambar langsung to the point.
__ADS_1
Digta mengerang frustrasi. “Apa lagi ini, sayang? Adik kamu itu, mengadu apa lagi?”
“Mas, kenapa Mas harus mempersulit Zeya menuntut ilmu?”
Dalam hati, Zeya tertawa puas melihat wajah Digta yang pias.
Ingat ya, di atas langit masih ada langit. Dan di atas Mas Digta masih ada Mba Ambar!
“Itu kesalahan Zeya sendiri, kenapa dia nggak bawa buku yang aku minta? Teman-teman yang lain pada bawa semua, kok.”
“Tapi, Mas kan, tahu sendiri kalau hp aku rusak, jadi aku nggak tahu kalau ada pengumuman di grup. Dan, kenapa Mas nggak ngomong langsung aja sama aku untuk beli buku dan bawa buku sesuai yang Mas minta.” Zeya mulai cari muka. Mumpung ada Ambar.
Raut wajah Digta berubah. Dalam hati Zeya benar-benar merasa puas sudah menang.
“Mas, tolong dong, jangan bersikap begini. Aku sudah bilang berulang kali, jangan terlalu keras. Tapi apa? Kamu nggak mengingat perkataanku seolah kamu nggak menganggap aku ada.” Ambar memelas.
“Aku menganggap kamu ada kok, Sayang.”
“Terus, apa buktinya semua ini?”
Digta memejamkan matanya sejenak. Lalu menghela napas dengan berat. “Oke-oke, aku salah. Aku akan mengizinkan Zeya masuk di mata kuliahanku lagi. Dan nggak akan memberinya nilai E.”
“Satu lagi, Mas. Temenku yang namanya Zega juga Mas beri nilai E di dua mata kuliahan Mas. Padahal, dia nggak punya kesalahan fatal. Jadi, sangat nggak adil.” Zeya kembali mengeluarkan permasalahan yang disebabkan oleh Digta.
“Oke-oke, dia sudah boleh masuk ke kelasku. Ada lagi?” Tanya Digta dengan rahang yang mengeras.
“Untuk hari ini, sepertinya cukup sekian dan terima kasih, deh, Mas.” Zeya tersenyum puas.
“Sudah puas kamu, kan?”
Digta melotot tajam seolah ingin menyerangku kalau saja tidak ada pawangnya di sini.
“Jadi, di mana kacamataku kamu letak?” Tanya Digta kembali pada Ambar.
“Di laci meja kerja, Mas,” jawab Ambar.
“Oke.” Dan Digta menutup pintu.
HAHAHAAHAHAHAHA BAGAIMANA? ENAK JAMANKU, TOH? Rasakan kamu wahai, Jin! Makanya, jangan macem-macem dengan Adiknya Mba Ambar, donggg.
“Mba sudah membantu kamu, jadi kamu paham kan, apa keinginan Mba?” Ambar menatap Zeya kembali. “Pergi dan pulang kampus tetap barengan dengan Mas Digta.”
Zeya kembali menelan pil kekecewaan. Habislah dia besok akan menjadi bulan-bulanan selama di mobil oleh Jin Tomang itu.
***
Karena tahu akan berangkat kampus dengan Digta. Zeya tidak ingin bikin masalah baru, jadi dia sudah bangun lebih dulu dari biasanya, sudah selesai bersiap-siap dan juga sudah sarapan! Kurang apa lagi, coba?
Bahkan, Zeya sudah berdiri di sebelah mobil Digta bersama Ciya.
“Hati-hati ya, Mas,” ucap Ambar ketika menyalami punggung tangan suaminya.
Lalu, Digta pun melangkah menuju mobil. Zeya menatap jam tangan sambil mencibir. “Lama banget, sih! Udah jam berapa ini.”
__ADS_1
“Tahuu nih, Ayah!” Ciya ikut-ikutan mencibir.
Sedangkan Digta, hanya melotot tajam setajam bambu runcing pahlawan Indonesia. Kemudian dia masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobil.
HAHAHA. Zeya puas ketawa dalam hati dan ikutan masuk ke dalam mobil.
Tidak ada suara yang mereka keluarkan selama mobil melesat membelah jalan raya. Tapi, Zeya bisa merasakan gerak-gerik mata Digta ketika curi pandang ke arah Zeya melalui spion depan.
“Jangan pikir kamu bisa menang.” Begitu kalimat Digta yang terdengar dindin.
“Yah, sebenarnya memang merasa menang, sih. Mengingat pawangku adalah Mba Ambar, hehe.” Zeya melawan. “Lagipula, Mas Digta harus bersikap baik padaku. Kalau Mba Ambar stress karena mikirin sikap Mas Digta padaku, gimana? Nanti, Mba Ambar pingsan lagi, lohhhhh.” Zeya tak berhenti mencibir.
“Diam kamu,” ucap Digta dingin.
Di sisi lain, setelah Ambar memastikan mobil yang dikendarai suaminya melesat pergi meninggalkan rumah. Perempuan itu buru-buru menggunakan jaket, dan mengambil tas-nya. Lalu, ia pergi menuju rumah sakit dengan menaiki taxi.
***
“Ambar, kamu sudah mengabaikan kemoterapi ini beberapa kali. Jujur, saya kecewa. Mengingat kondisi kamu ini justru semakin lemah. Ini bukan penyakit main-main, Ambar, dalam kasus ini, leukemia akut dalam perkembangan sel kanker terjadi sangat cepat dan gejalanya bisa memburuk dalam waktu singkat,” ujar Dokter Han menatap Ambar yang duduk di hadapannya dengan wajah tertekuk lesu.
Kemudian, Dokter spesialis hematologi onkologi tersebut memberikan sebuah kertas kepada Ambar.
“Apa ini, Dok?” Tanya Ambar penasaran.
“Saya menyarankan kamu untuk melakukan prosedure pengobatan Bone Marrow Transplant atau transplantasi sumsum tulang belakang. Tingkat keberhasilannya cukup tinggi. Prosedure ini tersedia di Sunwah Medical Centre, Malaysia,” jelas Dokter Han kembali.
Ambar mengerutkan dahi. “Malaysia, Dok?”
Dokter Ham mengangguk. “Lakukan itu sesegera mungkin ya, Mbar.”
Ambar diam sejenak dan menatap Dokter Han dengan nanar. “Kalau seandainya pengobatan itu tidak berhasil, bagaimana?”
Dokter Han menghela napas panjang. “Itu sudah kuasa Tuhan, Mbar. Saya bukan bermaksud menakut-nakuti kamu, meski mereka meyakini bahwa prosedure tersebut memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Tapi, kebanyakan hampir semua pasien saya gagal. Kamu jangan cemas, apa salahnya kita mencoba dan terus berusaha, Mbar.”
Ambar memejamkan matanya sedetik, membuat setetes air mata jatuh membasahi wajahnya.
“Baik, Dok, saya coba bicarakan hal ini dulu kepada suami saya,” kata Ambar akhirnya.
“Baik, tapi menjelang hal itu terjadi, tetap rutin untuk kemoterapi ya.”
“Baik, Dok. Kalau begitu saya izin dulu, terima kasih banyak ya, Dok.”
“Sama-sama, Ambar.”
Setelah keluar dari ruangan Dokter Han, barulah tangis Ambar benar-benar pecah.
Ia terduduk di kursi ruang tunggu rumah sakit sambil menyentuh dadanya yang terasa amat sakit. Sedangkan darah segar sudah mengalir keluar dari lubang hidungnya.
Ambar mengambil saputangan dari tas, tapi tasnya malah terjatuh ke lantai dan membuat barang-barangnya berserakan.
Ambar semakin menangis dengan kencang.
Hidup seperti menghela napas, bukan? Karena suatu saat, kita akan hembuskan untuk yang terakhir kalinya. Dan kepergian, adalah sebuah keseharusan. Jadi, menangislah kamu … sebelum dirimu ditangisi.
__ADS_1