Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang
Pengakuan Mengejutkan.


__ADS_3

Selama di perjalanan pulang, Zeya masih terus menangis dan meratapi kesedihannya. Bisa-bisanya Zega melakukan hal itu padanya.


“Mau saya ambilkan ember?” Digta tiba-tiba bersuara ketika mobil telah sampai di rumahnya.


“Untuk apa?” Zeya menyeka air matanya dengan tisu.


“Untuk nampung air mata kamu,” celetuknya menyebalkan.


“Mas meledek aku ya!” Zeya cemberut dengan kesal.


“Siapa yang meledekmu. Kamu sendiri yang nangis gak berhenti-berhenti. Seperti kehilangan suami saja. Padahal, suami kamu jelas-jelas ada di sebelahmu.” Digta turun dari mobil lebih dulu.


Kemudian, Zeya ikut turun dari mobil dan menyusul Digta masuk ke dalam rumah.


Hari ini Zeya dan Digta sama-sama libur dari kampus. Digta memutuskan untuk membaca buku di atas kasur, dan Zeya nonton televisi sembari menikmati cokelat agar mood-nya dapat kembali normal.


Tak lama kemudian, bell rumah mereka berbunyi.


“Mbo Inah, minta tolong bukain pintu, dong.” Perintah Zeya.


“Iya, Mba.” Mbo Inah berjalan tergopoh-gopoh menuju pintu depan rumah.


Zeya tidak fokus nonton tv karena masih kepikiran Zega. Bahkan, lelaki itu tidak mengirim pesan untuk minta maaf. Benar-benar lelaki kurang ajar! Lelaki kardus! Huh!


“Mba Zeya, ada tamu yang mencari Mas Digta.” Mbo Inah datang menghampiri Zeya.


Zeya mengerutkan dahi. “Tamu?” Zeya menjadi parno, takutnya ada polisi lagi yang mencari Digta. Tapi, untuk apa? Masalah Digta kan, sudah selesai. Karena saat ini yang punya masalah dengan Zega adalah Zeya, sebab Zeya yang telah menonjok wajah Zega sampai lelaki itu terjungkang.


“Siapa Mbo?” Tanya Zeya lagi setelah menarik napas panjang.


“Dari Kiara katanya, Mba.”


Saat mendengar nama tersebut, mood Zeya semakin berubah menjadi buruk.


Mau apalagi perempuan itu datang ke rumahnya?


Zeya pun bangkit dari kursi dan segera menuju pintu depan rumah.


“Halo, Zey, Pak Digtanya ada?” Tanya Kiara dengan senyuman mengembang.


“Mau apa Ibu datang kemari?” Tanya Zeya dengan nada galak.


“Saya mau memberikan ini.” Kiara mengangkat bungkusan berisi makanan. “Ini ada makanan untuk Pak Digta. Saya cemas karena dia tidak masuk ke kampus hari ini. Apakah keadaannya baik-baik saja?”


Sejujurnya Zeya merasa sangat dongkol dengan sikap Kiara yang sok perhatian dengan Digta. Tapi, di satu sisi Zeya harus sadar. Kalau dia dan Digta juga tidak memiliki hubungan spesial meski status mereka telah menikah.

__ADS_1


“Sebentar, saya panggilkan dulu Pak Digtanya.” Meskipun dengan terpaksa, Zeya tetap menghampiri Digta dan memberitahu kalau kekasihnya datang berkunjung karena cemas.


Digta masih membaca buku di kamar ketika Zeya menghampirinya.


“Mas,” panggil Zeya.


“Hm.” Digta hanya berdehem. Tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun dari buku yang dia baca.


“Ada Bu Kiara di luar.”


Setelah mendengar nama tersebut, sontak saja Digta langsung mendongak. Seolah kabar itu benar-benar mengejutkan dan membuat hatinya senang.


“Kiara?” Digta mengulang kalimat yang sama. “Ngapain dia ke sini?”


“Katanya khawatir dengan kondisi Mas Digta, karena Mas Digta nggak masuk kampus.”


“Ooh begitu. Saya akan segera ke sana.” Digta menutup bukunya dan menyimpan buku ke dalam laci nakas.


“Mas dan Bu Kiara pacaran ya?” Sejujurnya, sudah lama semali Zeya ingin menanyakan hal ini. Tapi, masih ragu.


“Kalau kami pacaran, kenapa memangnya?” Digta malah balik bertanya sambil bangkit dari kasur. “Kamu setuju?”


“Kita kan, sudah menikah. Harusnya nggak boleh.”


Digta mengerutkan kening. “Kamu melarang saya pacaran, tapi kamu sendiri pacaran.”


“Kamu cemburu?”


“Ewh! Nggak mungkin, lah. Sudah ah, pergi sana. Kasian tuh, Bu Kiaranya sudah menunggu sejak tadi.”


Zeya mendorong tubuh Digta keluar dari pintu. Lalu dia menutup pintu kamar dengan cara yang dibanting. Membuat Digta geleng-geleng kepala.


***


“Bu Kiara ….” Panggil Digta ketika dia menghampiri Kiara yang duduk di depan teras rumahnya.


“Pak Digta.” Kiara langsung berdiri dan memperhatikan penampilan Digta dari atas kepala hingga ujung kaki. “Pak Digta baik-baik saja, kan?”


“Saya baik, Bu. Kenapa memangnya?”


“Saya dapat kabar dari Maminya Zega, katanya ada yang menonjok Zega lagi. Saya khawatir, kalau Pak Digta melakukan hal yang sama.” Wajah Kiara terlihat cemas.


Digta menyeringai geli. “Ibu tenang saja, bukan saya pelakunya, kok. Tapi Zeya.”


Kedua alis Kiara naik. “Zeya? Bagaimana bisa?”

__ADS_1


“Zega ketahuan tidur bareng cewek di apartemennya, jadi Zeya kesal dan meninju wajah Zega.”


“Ya ampunnn! Kasihan betul Zeya. Kalau begitu ceritanya, Zega pantas mendapatkan pukulan tersebut.” Hening sejenak. Mereka berdua duduk di kursi. “Oh iya, Pak, ini saya bawa makanan untuk Bapak. Saya khawatir karena Bapak nggak masuk ke kampus hari ini.”


Digta menarik napas dalam. Kiara kelihatan begitu tulus dengannya.


“Kenapa Ibu melakukan semua ini kepada saya?”


“M-maksud Bapak?”


“Membantu saya, memberi saya perhatian seperti ini.” Digta langsung to the point.


Kiara meremas kesepuluh jemarinya, dan terlihat semakin gugup.


“S-sebenarnya, saya sudah lama menyukai Bapak. Bahkan, saat Bapak masih menikah, dan saat itu saat tidak tahu bahwa Bapak memiliki istri. Setelah saya tahu Bapak sudah menikah, saya memutuskan untuk mundur. Dan sekarang, saya berani maju kembali karena Bapak sudah tidak punya pasangan lagi. Saya pikir, ini kesempatan untuk saya, Pak.” Kiara bicara dengan berani sambil menundukkan kepalanya.


“Kalau begitu, saya ingin Bu Kiara sekarang mundur lagi. Karena kesempatan itu, sudah tidak akan ada lagi,” ucap Digta dengan serius.


Membuat Kiara mendongak. “M-maksud Bapak?”


“Saya sudah menikah, Bu. Saya tidak mau, Ibu berharap banyak dengan saya. Jadi, saya pikir, sudah saatnya Ibu tahu sekarang, agar Ibu berhenti sampai di sini.”


Kiara mengerutkan alisnya dengan dalam. “M-maksud Bapak apa? Bapak sudah menikah dengan siapa? Bukankah, istri Bapak baru saja meninggal?”


Digta menarik napas panjang. “Ceritanya panjang, Bu. Intinya, istri saya meminta adiknya untuk menggantikan posisinya sebagai istri dan ibu. Jadi, sebelum istri saya mengembuskan napas terakhir, saya dan adiknya sudah menikah.”


“M-maksud Bapak, Zeya? Bapak sudah menikah dengan Zeya?”


Digta mengangguk. “Ibu benar.”


“Dan, selama ini Bapak menyembunyikan status tersebut kepada saya? Kepada semua orang?”


“Saya rasa, Ibu dan yang lain tidak perlu tahu.”


“T-tapi, saya harus tahu agar dari awal saya tdiak berharap kepada Bapak.”


“Itulah mengapa saya memberitahu kabar tersebut sekarang, Bu.”


Kiara kehilangan kata-kata, ia menutup wajah dengan telapak tangan.


“Bu, maafkan saya. Saya tidak bermaksud membuat Ibu terluka.”


“Saya benar-benar syok, Pak. Saya sudah nggak punya malu lagi di depan Bapak. Bisa-bisanya selama ini saya mendekati Bapak secara terang-terangan di hadapan Zeya.” Air mata Kiara pun jatuh membasahi wajah. Lantas, dia bangkit berdiri. “S-saya minta maaf, Pak, saya pamit dulu.”


Kiara pun pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan lainnya. Digta yakin, bahwa hati dan perasaan Kiara sakit. Bagaimana mungkin Kiara masih sanggup menatap Digta.

__ADS_1


Dan Digta juga sengaja melakukan pengakuan ini agar Kiara tidak lagi mengikutinya. Karena Digta tidak mungkin memberikan ruang kepada dua wanita di hidupnya, sedangkan dia punya satu wanita yang sudah sah menjadi miliknya.


Dan Digta memutuskan untuk fokus pada pernikahannya saja. Cinta atau tidak, itu akan menjadi urusan belakangan. Yang jelas, nanti cinta itu akan datang dengan sendirinya karena terbiasa.


__ADS_2