
Zeya turun dari motor Zega ketika motor lelaki itu terparkir di pelataran kampus. Zeya melepas helm di kepalanya.
“Makasih ya,” ucap Zeya.
“Jangan ucap terima kasih sekarang, karena nanti kan, mau dianter pulang,” kata Zega sambil terkekeh.
Zeya ikut terkekeh geli. Lalu mereka berdua melangkah bersama menuju kelas.
“Hei… hei… heiii!!” Tiba-tiba Jerry muncul di tengah-tengah mereka dan mendorong tubuh keduanya. “Kenapa kalian bisa pergi barengan? Bukannya nih cowok yang waktu itu minta tolong sama lo, Zey? Lo inget, kan? Lo mau nolongi dia?” Jerry menjadi heboh sendiri.
“Kenapa sih, lo? Ini urusan lo ya?” Zega tampak sebal.
“Jelas urusan gue, lah. Gue ini teman, Zeya.”
“Teman apaan? Elo yang udah bocorin ke semua mahasiswa kalau gue adik iparnya Pak Digta.” Kini Zeya memelototi Jerry.
Lelaki berambut ikal tersebut menggaruk kepalanya. “Ya, kalau soal itu gue minta maap, Zey. Gue janji nggak akan ngulang kesalahan yang sama lagi, deh.”
“Basi!” Zeya mendorong dada Jerry dan melangkah lebih dulu.
Zega tertawa mencibir, lalu mengikuti langkah Zeya dari belakang.
Mereka pun masuk ke dalam kelas dan duduk berdekatan. Di antara teman-teman kelas yang lain, mungkin Zeya, Jerry dan Zega inilah mahasiswa yang paling muda di antara yang lainnya. Karena teman-teman kelasnya rata-rata sudah berumur sekitar dua puluh tujuh tanun ke atas.
Selama Melani menjadi dosen pembuka pagi ini, kelas terlihat aman-aman saja. Meski cara mengajarnya membosankan dan bikin Zeya ngantuk berat.
Untuk kelas selanjutnya, langsung digantikan oleh kelasnya Digta. Nah, baru saja Digta melangkah masuk. Suasana kelas mendadak hening dan senyap.
Tidak ada yang berani membuka suara meski suara batuk sekalipun.
“Pagi menjelang siang,” sapa Digta melangkah menuju meja dan meletak buku-bukunya di tas meja.
“Pagi menjelang siang, Pak,” jawab para mahasiswa.
“Sudah pada punya buku sesuai yang saya minta kemarin?” Tanya Digta sambil duduk di sudut mejanya.
Semua orang mulai mengeluarkan buku mereka. Tanpa terkecuali, Jerry dan Zega.
Sedangkan Zeya hanya menatap bengong. Memangnya, sejak kapan Digta memberikan pengumuman ini?
“Sudah punya semua ya?” Tanya Digta lagi.
Semua menjawab. “Sudah, Pak.”
“Ga, kapan Pak Digta suruh beli buku ini?” Zeya menunjuk buku Zega.
“Udah dua hari yang lalu di group kelas, Zey,” jawab Zega. “Kamu nggak lihat grup?”
Zeya diam sejenak. “Gimana mau lihat grup, dua hari yang laku handphone-ku rusak.” Zeya cemberut.
Tamatlah riwayatnya kali ini.
“Loh, harusnya kamu tanya langsung dengan Pak Digta. Kamu dan dia kan, satu rumah.”
“Kamu sendiri kan, tahu. Aku dan Pak Digta nggak pernah ngobrol sekalipun. Gimana mau nanya?”
“Harusnya dia beritahu kamu ya, Zey.”
“Sudah aku bilang, kami nggak pernah ngobrol, tahu!”
“Hei, siapa yang lagi ngobrol itu?” Suara Digta menggelegar. Dia menegakkan badan sambil menoleh ke kursi belakang.
Semua menoleh ke arah Zeya dan Zega. Mereka langsung mengubah sikap menjadi lebih tenang.
__ADS_1
“Kamu….” Digta menunjuk Zeya dengan spidolnya.
“S-saya, Pak?” Zeya menunjuk diri sendiri.
“Iya, kamu. Memangnya saya bicara dengan dinding. Apa yang kamu obrolin dengan dia?” Digta juga menunjuk Zega dengan spidolnya.
“Ng—s-saya cuma nanya masalah buku, Pak. Karena saya nggak punya bukunya.”
Wajah Digta semakin mirip setan, ketika lelaki itu berdiri sambil bersedekap, dan rahang yang mengeras.
“Kamu nggak bawa buku?” Digta melangkah mendekati Zeya. “Berani sekali kamu nggak bawa buku di mata kuliahan saya!” Digta memukul meja Zeya. “Siapa namamu?” Tanya lelaki itu dingin.
Zeya mendongak dan mengerutkan dahi. Apa-apaan ini? Kenapa Digta harus tanya nama Zeya? Apa dia nggak menganggap Zeya ada selama ini?
“Z-zeya, Pak,” jawab Zeya akhirnya dengan gugup.
“Oke, Zeya. Bisa berdiri?” Digta mulai ngaco.
“Ha?”
“Bisa berdiri nggak, kamu!” Bentak Digta dengan suara lantang.
“B-bisa, Pak.”
“Kalau begitu, silakan keluar dari ruangan saya. Dan jangan kembali lagi.”
Kedua alis Zeya terangkat. “Saya dikeluarkan?”
“Saya beri nilai kamu E. Jadi, silakan mengulang kembali di semester depan.”
“Apa?”
Digta hendak membalikan badan pergi. Tapi, dengan beraninya Zega berdiri dari duduk. “Pak, maaf, ini buku Zeya. Saya meminjamnya sejak tadi.”
Digta kembali menatap mereka.
“Kamu sudah nggak bisa masuk di mata kuliahan saya tentang Teori Hukum. Sekarang, kamu mau keluar lagi dari kelas saya? Berarti kamu sudah dapat dua nilai E,” ucap Digta tegas.
“Iya, Pak.” Zega hanya menjawab pasrah.
“Enggak, Pak. Ini bukan buku saya, ini buku Zega. Saya sama sekali nggak punya buku. Karena ponsel saya kemarin sempat rusak, jadi saya nggak tahu ada pemberitahuan di grup ponsel, Pak.” Zeya mendorong buku Zega.
Digta menyeringai geli. “Kalian ini mau main drama apa di depan saya? Kenapa dua-duanya jadi sok pahlawan?” Digta menjejalkan kedua tangan masuk ke dalam saku celana. “Yasudah, kalian berdua keluar dari ruangan saya dan silakan mengulang kembali di semester depan.”
Begitu ucap Digta dengan jelas dan tegas.
“Baik, Pak.” Zega dengan wajah tanpa dosa dan rasa bersalah langsung mengenggam tangan Zeya dan membawa perempuan itu pergi.
Digta hanya menatap pemandangan tersebut dengan sinis. Bisa-bisanya mereka main drama India di depan Digta.
“Zega, apa yang kamu lakukan, sih?” Tanya Zeya tak percaya setelah mereka berhasil keluar dari kelas.
“Apanya yang salah, Zey? Aku juga sudah muak ada di kelas dia,” ujar Zega acuh tak acuh.
“Terus gimana nasibku dan nasibmu? Kita nggak mungkin ngulang matakuliah lagi semester depan.”
“Loh, apanya yang enggak mungkin? Semester depan, kita akan cari dosen lain. Jangan terjebak dengan dia lagi.”
“Mana bisa.” Zeya ingin menangis rasanya. Perempuan itu mengusap wajah frustrasi. “Pusing deh gue kalau begini caranya.”
“Santai sajalah. Dosen songon begitu jangan diberi panggung. Jadi besar kepala kan, dia.”
Zeya menghela napas dengan berat.
__ADS_1
“Gimana, kalau aku ajak kamu jalan-jalan aja?”
Yah, untuk apa lagi mereka ada di kampus ketika dosen killernya mengusir mereka secara terang-terangan.
Zeya tampak berpikir panjang. Sebelum menyetujui ajakan Zega. “Yasudah lah. Hayuk!”
***
Sudah pukul enam sore, tapi Ambar hanya melihat Digta turun dari mobil sendirian.
“Hai, sayang,” sapa Digta sambil mencium kening Ambar dan memberikan tas kerjanya pada Ambar.
“Loh, Zeya mana, Mas?” Ambar terus mencari keberadaan Zeya—yang siapa tahu nyempil di mobil Digta.
“Dia nggak ada,” kata Digta sambil masuk ke dalam rumah.
“Nggak ada gimana, Mas?” Ambar mengikuti langkah suaminya.
“Tadi pagi, dia kan pergi bareng temannya. Harusnya, pulang juga bareng temennya, dong,” ujar Digta dengan santai. Lelaki itu terus melangkah sampai masuk ke dalam kamar.
“Bukannya aku sudah minta tolong kamu untuk mengawasi Zeya ya, Mas?”
“Ambar, sayang.” Digta membuka kancing kemejanya. “Adikmu bukan anak kecil lagi. Dan aku punya banyak pekerjaan yang lebih penting selain mengawasi adikmu.”
“Mas, aku nggak mau kalau Zeya sampai pacaran dengan lelaki lain.”
“Loh, kenapa? Biarkan sajalah.”
Ambar duduk di sudut kasur. Ambar nggak mau kalau Zeya sampai jatuh ke tangan lelaki lain, karena Zeya harus hidup bahagia bersama Digta.
“Pokoknya nggak mau!” Seru Ambar dongkol.
Tak lama kemudian, suara motor Zega terdengar dekat di pelataran rumahnya.
“Tuh, adikmu sudah pulang.” Digta mengedik ke arah luar pintu.
Ambar menghela napas berat sebelum keluar dari kamar dan bertemu dengan Zeya di ruang tengah.
“Dari mana saja kamu, pukul segini baru pulang?” Ambar berkacak pinggang.
“Habis main sama temen.”
“Sampai sore begini?” Ambar semakin tak bisa mengontrol emosinya.
Membuat alis Zeya bertaut. “Loh, memangnya kenapa, sih Mba? Apa ada yang salah?”
“Jelas salah, dong! Mba nggak suka kamu kelayapan nggak jelas, apalagi dengan laki-laki asing.”
“Ya ampun, Mba. Aku ini sudah dewasa.”
“Tapi, seharusnya mamu nggak pergi begitu saja!” Bentak Ambar semakin kesal.
Zeya tidak pernah melihat Ambar semarah ini. Bikin emosi Zeya ikutan nggak terkontrol.
“Harusnya, Mba Ambar tanya tuh dengan suami Mba Ambar. Kenapa dia keluarin mahasiswanya begitu saja dari kelas? Mana dikasih nilai E dan disuruh ngulang semester depan lagi. Udah gila kali ya, dia!”
“Jaga mulut kamu, Zeya! Gimana pun juga, Mas Digta kakak ipar kamu. Kamu harus menjaga ucapanmu.”
“Apa dia pernah menjaga sikapnya di depanku? Setidaknya, bersikap baik sedetik saja. Enggak pernah, kan? Jadi, Mba Ambar jangan pernah ikut campur tentang masalah pribadiku lagi. Mau aku kemana kek, pergi dengan siapa kek. Itu urusan aku, Mba. Karena aku sudah dewasa!” Zeya naik pitam dan sulit untuk menahan emosi samapi matanya memerah. Karena dia sudah sangat kesal dengan sikap suami kakaknya.
GEDEBUK!
Tubuh Ambar mendadak jatuh ke lantai.
__ADS_1
Haiii, dukung ceritaku ya, hiks