
“Zeya! Jawab jujur!”
Digta menatap Zeya dengan mata melotot tajam sambil menekankan kalimatnya.
Memangnya apa pentingnya bagi Digta mengetahui hal itu? Padahal, dia pura-pura bego aja.
Itu sama saja artinya mempermalukan diri sendiri.
“Mas Digta, AWAS!” Zeya menunjuk sesuatu di depannya.
Membuat Digta menginjak rem secara mendadak, dan kepala Digta terpental mengenai stir mobil. Lalu mobil Digta pun ditabrak dari belakang oleh mobil seseorang karena Digta rem mendadak tadi.
“Omg.” Zeya menutup mulutnya. Dia tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi.
Digta mengangkat kepalanya dari stir mobil. Zeya semakin kaget saat melihat kepala Digta berdarah.
“Mas, anu—“
“Anu-anu apa?! Apa?” Digta membentak kencang.
“Sorry, tadi ada kucing nyebrang.” Zeya merengut.
“Sial! Mobil saya pasti hancur.” Digta menoleh ke belakang. Dan turun dari mobilnya untuk ngobrol dengan si pengendara yang telah menabrak mobilnya barusan.
Sedangkan Zeya juga keluar dari mobil, ia berjongkok sambil mencari keberadaan kucing di bawah kolong mobil.
“Pussh, meoow, meowwww… kemana kucingnya? Apa ketabrak ya tadi? Kalo ketabrak, kenapa nggak ada jenazahnya di aspal. Meoww push….”
Zeya sampai merengkak di aspal dan nggak sengaja berhenti di hadapan kaki seseorang. Zeya mendongak, ternyata kaki itu milik Digta.
“Ada kucingnya?” Tanya Digta sinis.
“Ng—“ Zeya buru-buru bangkit. “Nggak tahu, mungkin kabur kali,” ucap Zeya dengan wajah tanpa dosa.
“Bagus, kamu sudah bikin kekacauan sampai bikin mobil saya hancur.” Digta pun masuk ke dalam mobil.
Karena takut ditinggal, Zeya juga masuk ke dalam mobil.
“Maaf, sorry, tadi aku beneran lihat kucing.”
Digta mengambil sapu tangan di dalam sakunya dan menyumpel mulut Zeya dengan sapu tangannya.
“Jangan di keluarkan saputangannya sampai saya perintahkan atau nilai kamu akan terancam,” ancam Digta.
Zeya kaget, tapi dia tidak bisa mengatakan apapun karena mulutnya disumpel oleh titisan Jin Tomang.
***
“Ya Allah, Mas, kenapa jidat kamu sampai berdarah begitu?”
Ambar shock saat melihat kondisi suaminya yang pulang dalam kondisi sangat kacau.
“Ada insiden tadi,” jawab Digta.
“Kamu kecelakaan?”
“Yah, mobilku sampai ringsek di bagian belakang.”
“Kok bisa sih, Mas?” Ambar semakin panik. Dia mengambil alih tas kerja Digta, dan mengusap jidat suaminya yang terluka.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Zeya muncul. Ambar semakin shock lagi ketika melihat mulut Zeya disumpel dengan saputangan.
“Loh, Zey, kamu kenapa?”
“Eaememebwmamen.” Zeya bicara nggak jelas sambil menunjuk Digta.
“Mas….” Sahut Ambar memanggil suaminya.
Digta pun menatap Zeya. “Udah, boleh di keluarkan saputangannya.” Digta pun melangkah menuju kamarnya begitu saja.
Zeya langsung membuang saputangan tersebut ke lantai. “Aarghhh dasar Jin! Makhluk halus nggak punya hati! Nggak punya perasaaan!” Zeya mencaci maki dengan kesal.
“Zey, ada apa sih?”
“Kenapa Mba Ambar nggak cerein aja tuh makhluk halus! Bener-bener nyebelin!” Zeya meracau kesal sambil melangkah menuju kamarnya.
Ambar bingung dengan sikap Zeya dan juga suaminya. Mengapa mereka menjadi tidak akur begini?
Ambar pun ke kamar untuk menyusul suaminya.
“Mas, ada apa sih, sebenarnya? Kenapa Zeya sampai ngomel-ngomel begitu?”
Ambar menaruh tas kerja Digta di atas kursi. Dan duduk di sudut kasur sambil melihat Digta mengganti pakaiannya.
“Adik kamu itu—“ Digta menjeda kalimatnya. Dia nggak mungkin memberitahu Ambar kalau adiknya baru saja mengintip Digta kencing di toilet kampus.
“Adik aku kenapa?” Tanya Ambar kembali. Dia sungguh penasaran.
“Adik kamu selalu bikin ulah, bikin kacau yang bikin aku pusing. Karena ulahnya, mobil aku sampai hancur begitu.”
“Kenapa bisa hancur, Mas? Coba bicara dengan tenang.”
“Terus, kenapa di dalam mulut Zeya ada saputangan? Kamu sumpel?”
“Biar nggak bawel.”
“Astaghfirullah, Mas. Kamu kenapa bisa begini sih?”
“Memangnya aku kenapa, Sayang. Aku nggak melakukan apapun.” Digta mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Ambar mengembuskan napas dengan frustrasi. Dan geleng-geleng kepala melihat sikap Digta.
***
“Pokoknya aku mau keluar dari rumah Mba Ambar. Terserah Mama dan Papa nggak mau kasih aku uang jajan lagi, atau nggak mau ngebiayain untuk kost-an aku. Aku bisa cari kerja sendiri, cari uang sendiri. Yang penting, aku cuma mau hidup sendiriiii!” Zeya meraung-raun frustrasi ketika menghubungi Mamanya di dalam kamar.
Ia tengkurap di atas kasur sambil menangis.
“Ya ampun, Zey. Kamu kenapa? Cerita dulu dengan Mama. Baru deh, kamu marah-mara begini.” Mama berusaha menenangkan Zeya.
“Mama ingin melihat aku menderita, kan? Aku udah cukup menderita tinggal di rumah ini, Ma. Aku nggak mau tinggal bareng Mba Ambar lagi, karena suaminya itu nyebelin! Kalau hukum nggak ada di dunia ini, mungkin sudah aku cincang-cincang tubuhnya, Ma.”
“Zey, bagaimana bisa kamu ribut dengan Kakak iparmu sendiri?”
“Ma, Mas Digta itu nyebelin, kejam. Dia sama sekali nggak berpri-kakak-iparan, Ma. Aku nggak mau tinggal di rumah ini lagi.”
“Zey, jangan begitu, dong, Nak. Coba cari jalan keluar yang bikin kalian berdua nyaman ada di satu rumah.”
“Mama kenapa aneh banget, sih? Kenapa tetap saja maksa aku tinggal di rumah ini. Padahal, aku udah nggak betah.”
__ADS_1
“Kasihan Mbak kamu, dia pasti kesepian kalau nggak ada kamu, Zey.”
“Mba Ambar kan, sudah punya suami yang mencintainya. Dan juga anak yang lucu. Jadi, dia nggak butuh aku lagi.”
“Zey….”
“Ma, sudahla. Cerita sama Mama juga nggak ada gunanya. Mama pasti akan tetap belain Mba Ambar terus. Sejak dulu, aku memang selalu di anak tirikan.”
Sambungan terputus. Zeya menghubungi Mamanya menggunakan telepon rumah Ambar karena handphonenya masih rusak. Dan ternyata, semua percuma saja. Zeya nggak merasa ada untungnya setelah menghubungi Mamanya.
***
“Zeya nangis-nangis sambil hubungi Mama. Katanya, dia nggak samggup tinggal di rumah kamu. Sebenarnya, ada apa, sih, Mbar?” Setelah Zeya memutuskan sambungan, kini Mama menghubungi Ambar untuk menanyakan kejadian sebenarnya.
Ambar menarik napas dalam-dalam sambil menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup. Suaminya itu kalau mandi memang sangat lama. Bahkan sampai memakan waktu hampir satu jam. Entah apa yang dilakukan Digta di dalam kamar mandi.
“Sepertinya, Mas Digta dan Zeya nggak akur, Ma. Digta memang begitu sifatnya, cuek, agak keras, dan dingin. Mungkin, Zeya merasa nggak terima diperlakukan seperti itu oleh Digta. Dan di kampus juga Digta terkenal killer, mungkin juga Digta bersikap galak terhadap Zeya di kampus.”
“Waduh, kalau begitu gimana jadinya ini, Mbar? Gimana mungkin mereka akan bersatu kalau awalnya aja udah begini.”
“Mama tenang saja, aku akan tetap berusaha membuat mereka dekat. Gimana pun caranya, Ma. Karena aku nggak rela Mas Digta akan menikah dengan perempuan lain jika aku sudan nggak ada nanti. Aku hanya ingin Zeya yang menjaga Ciya dan Mas Digta, Ma.”
Mama menghela napas gusar. “Mama tetap menghargai keputusan kamu, Mbar.”
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Akhirnya Digta selesai mandi.
“Ma, sudah dulu ya. Aku dan Mas Digta mau makan malam.”
“Yasudah, Mbar. Kamu jaga diri baik-baik, ya.”
“Iya, Ma. Assalamualaikum.”
Sambungan terputus. Digta menatap Ambar sambil mengeringkan kepalanya dengan handuk.
“Siapa? Mama?”
Ambar mengangguk. “Zeya ngadu ke Mama dan ingin pindah dari sini.”
“Yaudah, bagus kalau gitu.”
“Mas….” Ambar memelas.
“Kenapa kamu tetap maksain adik kamu untuk tetap tinggal di sini, jika dia nggak merasa nyaman, Sayang?”
“Mas sendiri tahu, aku khawatir dengan Zeya dan pergaulannya. Aku nggak mau kalau Zeya sampai salah pergaulan jika tidak dalam pengawasan kita.”
Digta menghela napas sambil menggunakan pakaiannya. “Terserah kamu sajalah, Sayang.”
“Yasudah, kita makan malam dulu, yuk.”
“Iya, ajak tuh sekalian adik kamu makan malam. Supaya dia semakin punya tenaga menghadapi aku.”
“Massss….”
*Hai hai, bantu like, koment, vote, dan tambahkan ke favorit juga ya❤️ *
*Absen berapa orang yang sudah mampir ke sini**🤗*
__ADS_1