
“Digta …..”
“Digta bangun, Digta ….”
“Mas, Mas Digtaa….”
“Ayaaaaahhhh!!!”
Digta membuka kelopak matanya saat mendengar banyak suara yang memanggil namanya. Digta kaget ketika melihat Mama, Papa, Zeya, dan Ciya mengelilinginya. Bukan hanya itu, tapi ada Dokter dan suster juga yang mengelilinginya.
Bukan.
Mereka bukan sedang mengelilinginya.
Tapi, mereka sedang mengelilingi kasur rumah sakit yang ditempatkan oleh Ambar dan Digta. Karena semalaman, mereka tidur di kasur yang sama, berdua, dan saling berpelukan.
“Ada apa ini?” Tanya Digta heran. Lalu melihat Ambar yang masih tidur dengan wajah pucat. “Ambar, kamu dingin banget.” Digta menarik selimut. “Aku selimuti kamu agar nggak kedinginan ya.” Digta melihat Dokter dan suster lagi. “Ini mau dikasih obat atau ada pemeriksaan pagi?”
“Digta….” Mama menangis. “Tidak kah, kamu sadar apa yang telah terjadi dengan Ambar?”
“Maksud Mama?” Digta mengerutkan dahi.
“Ambar sudah tidak ada, Nak.”
Digta semakin mengernyit. “Maksudnya? Ini Ambar di sebelahku.”
“Mas, Dokter sudah memeriksa kondisi Mba Ambar. Dan Mba Ambar sudah tidak bernapas lagi.” Zeya menjelaskan dengan bibir bergetar.
Digta menatap Ambar lagi lekat-lekat. Sekarang, baru Digta sadar mengapa wajah Ambar menjadi sepucat ini dan tubuhnya dingin seolah membeku.
Tapi, seolah ingin menampik semua kenyataan yang telah terjadi. Digta berusaha menggoncang tubuh Ambar. “Mbar, Sayang … bangun, Mbar. Ini Dokter dan suster mau periksa kamu. Ambar… bangun Ambar…” respons yang dilakukan oleh tubuh Ambar justru sebaliknya.
Ambar terkulai lemas, seolah tubuhnya tak memiliki tulang.
“Jenazah akan kita antar ke kamar jenazah sebelum dijemput oleh ambulan ya, Pak. Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian Nyonya Ambar,” ucap Dokter.
Digta terduduk dengan lesu dan menangis. “Ini hanya mimpi. Bahkan kamu belum mengucapkan kata perpisahan Ambar! Kenapa kamu pergi secepat ini! Ambar BANGUN!”
“Ayaaaaahh…..” Ciya menangis histeris karena takut mendengar suara teriakan sang Ayah. Meski dia tidak mengerti apa yang tengah terjadi saat ini.
Digta kehilangan tenaga dan semangat, apalagi ketika melihat anaknya menangis. Hatinya begitu hancur berkeping.
Jadi, begini rasanya kehilangan. Kenapa kehilangan begitu menyakitkan?
***
Akhirnya, Jenazah Ambar dibawa pulang ke rumah. Jenazah juga sudah dimandikan, dan dikafankan. Orang-orang berdatangan dengan memakai peci dan kerudung sambil membacakan yasin.
Digta duduk lemah di depan jenazah Ambar. Dia berusaha menahan tangis, tapi Digta tidak bisa. Karena hari ini, dia telah menjadi lelaki lemah.
__ADS_1
Dan tidak disangka, bahwa hari cuti Digta bukan digunakan untuk liburan panjang di puncak. Melainkan untuk melihat kepergian Ambar selama-lamanya.
“Permisi, Pak. Sudah waktunya kita salatkan jenazah.” Seorang uztad dekat rumah menghampiri Digta.
Digta mengangguk. Dan segera bangkit dari duduknya.
Lalu Ambar mulai di naikkan ke atas keranda dan ditutup.
Papa dan Digta menjadi orang terdepan yang mengangkut keranda sampai membawanya menuju masjid yang jaraknya tak jauh dari rumah.
Sedangkan Mama dan Zeya berdiri di belakang bersama Ibu-Ibu lain yang mengikuti kepergian keranda Ambar. Dan Ciya berada dalam gendongan Zeya.
Selesai disalatkan, jenazah langsung dibawa menuju pemakaman. Jaraknya juga tak jauh dari rumah.
Digta menggulung lengan baju kokonya dan lompat ke liang lahat untuk menggotong jenazah Ambar masuk ke dalam peristirahatan terakhirnya.
Digta masih berusaha menahan air matanya. Lalu Papa mengulurkan tangan untuk membantu Digta naik kembali ke atas. Mereka melempar tanah pertama untuk Ambar. Sebelum Ambar benar-benar ditutup oleh tanah
“Tante Zeya, kenapa Ibu ada di dalam situ?” Ciya menunjuk kuburan ibunya.
Zeya menyingkirkan jemari mungil Ciya.
“Karena sudah seharusnya Ibu meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Ibu sudah dipanggil oleh Allah, itu berarti Ibu harus menghadap Allah.”
“Kalau Ciya dipanggil oleh Allah, Ciya juga harus pergi ke tempat Allah ya, Tante?”
“Tentu. Semua orang akan dipanggil Allah, tapi harus gantian. Dan Allah yang menentukan. Bisa saja dipanggil secara tiba-tiba.”
“Nanti, Ibu akan muncul di dalam mimpi Ciya.”
“Kalau Ciya rindu Ibu gimana, Tante?”
“Ciya bisa berdoa kepada Allah, dan meminta agar Allah menjaga Ibu dengan baik. Atau kita bisa main ke sini sambil mendoakan Ibu.”
Suara Zeya sedikit besar, sehingga Digta dapat mendengar percakapan mereka. Membuat Digta melihat ke arah Zeya, tapi matanya melotot tajam.
Tanpa sengaja, Zeya juga membalas tatapan Digta yang tajam. Seolah-olah Digta begitu membenci Zeya. Memangnya, Zeya salah apa atas kepergian istrinya?
Selesai dimakamkan dan memanjatkan doa-doa, orang-orang langsung pergi dari pemakaman. Termasuk keluarga Ambar. Terkecuali Digta, yang memutuskan untuk tetap di kuburan.
Digta terus menyentuh papan nisan Ambar. Setelah kepergian mereka semua, barulah air mata Digta jatuh sejatuhnya.
Dia tidak pernah merasa sesakit ini dalam hidup.
“Aku belum siap menghadapi hari ini, Ambar. Aku tidak siap. Aku harus bagaimana? Aku benar-benar bingung. Aku bahkan tidak tahu harus ngapain. Aku kalut dan tidak punya tujuan hidup lagi, Ambar. Aku harus bagaimana?” Air mata terus jatuh membasahi wajah Digta. “Bahkan, aku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk tetap hidup, Ambar. Kenapa Allah tidak mencabut nyawaku saja sekarang? Aku lebih baik mengikuti kamu daripada harus hidup sendiri dalam keterpurukan, Ambar. Aku hancur, kamu tahu itu? Aku benar-benar sudah hancur.”
Digta membuka pecinya. Rambutnya berantakan dan kotor karena tanah. Lalu dia mengambil kantung plastik yang ada di sekitar sana dan memasukkan tanah kuburan Ambar ke dalam plastik dan membawanya pulang.
***
__ADS_1
“Digta, makan dulu, Nak.” Mama memanggil Digta ketika melihat lelaki itu baru memasuki rumah sambil membawa kantung plastik.
“Aku nggak lapar, Ma.” Digta masuk ke dalam kamarnya begitu saja dan menutup pintu. Bahkan terdengar suara pintu kamar telah dikunci.
Mama menghela napas sambil menatap Papa dan Zeya yang berada di ruang makan.
“Zey, kamu bujuk suamimu suruh makan sana.” Perintah Papa membuat Zeya mengerutkan dahi.
“Suami?”
“Loh, kamu dan Digta kan, sudah menikah.”
“Pa, ini bukan waktu yang tepat untuk menyebut Mas Digta sebagai suamiku. Toh, pernikahan ini hanya bercanda saja demi membuat Mba Ambar bahagia.”
“Bercanda dari mana?” Mama memelototi Zeya. “Pernikahan kamu itu sah secara agama, dan kamu sudah resmi menjadi suami Digta.”
“Ma, please …. Aku lagi nggak mau bahas ini. Kita baru saja kehilangan Mba Ambar.”
“Jauh sebelum hari ini terjadi, Mama dan Papa sudah siap dengan segala resiko yang akan kami tanggung ketika kehilangn Ambar. Kami sudah siap,” ujar Papa.
“Tapi, aku belum,” kata Zeya tegas.
“Setelah tiga hari malam yasinan nanti, Mama dan Papa akan kembali ke Semarang.” Mama kembali bicara.
“Terus, Ciya gimana? Kita bawa aja?” Tanya Zeya.
“Dia akan tetap tinggal bersama kamu dan Digta di sini.”
“Ma, aku nggak mungkin tinggal di sini. Aku akan ikut pulang bersama Mama dan Papa.”
“Loh, pulang gimana? Rumah kamu di sini, Zeya, karena Digta itu suami kamu. Dan Ciya sudah menjadi anak kamu.” Intonasi Papa meninggi.
“Papa dan Mama ini egois, sengaja menjebak anaknya di sini!”
“Tidak ada yang menjebak kamu, Zeya.” Mama memelas. “Lagipula para tetangga sudah tahu kalau kamu dan Digta menikah. Jadi, nggak ada yang perlu kamu cemaskan lagi tinggal di sini.”
“Sudah tahu?” Zeya terkejut. “Darimana mereka bisa tahu?”
“Mama yang memberitahu mereka, dan juga memberitahu RT setempat agar tidak terjadi kesalahpahaman.”
“Apa????” Zeya memelas dan mendengus dengan frustrasi.
.
.
.
TBC
__ADS_1
HAII SEMUAAA TERIMA KASIH YAA SUDAH BACAAA.
Senang bgt melihat antusias kalian dengan cerita ini. Insha Allah hari ini akan up 3 kali. Jangan lupa komen, vote dan like ya.