
Setelah sekian lama mengurung diri di kamar, akhirnya Digta keluar juga dari kamarnya. Kondisinya saat ini mengenaskan, meski tubuhnya wangi sehabis mandi. Tapi, rambutnya acak-acakan, dan wajahnya kusut masai.
“Aku denger suara Mami,” kata Digta. “Kapan Mami dan Papi sampai?” Digta menghampiri orangtuanya yang sudah duduk di meja makan.
“Tadi pagi, mertuamu sudah pulang. Kamu sudah tahu, belum?” Tanya Tina.
Digta mengangguk. “Mereka menghubungiku tadi siang.”
“Makanlah, kamu butuh tenaga,” ucap Tio saat menatap Digta.
“Iya. Aku keluar kamar karena lapar.” Digta mengambil piring dan menyendokkan nasinya sendiri.
“Ayah habis dari luar kota ya? Ciya nggak pernah lihat Ayah. Kata Tante Zeya, Ayah lagi kerja di luar kota,” komentar Ciya dengan polosnya.
Melihat Ciya, Digta jadi harus semangat lagi menjalani hidup. Karena sekarang, hanya Ciya satu-satunya alasan untuk Digta tetap hidup.
“Hehe, iya, Sayang.” Digta mengeluarkan senyuman dengan paksa. “Siapa yang masak makanan ini, Mi?” Digta kembali fokus pada makanan di atas meja.
“Siapa lagi kalau bukan Mami? Untung aja Mami lihat banyak stock makanan di kulkas,” jawab Tina sewot.
“Iya, Ambar memang suka nyetock bahan makanan di kulkas.”
“Istrimu malah nggak peka dan tidur di kamar Ciya. Sampe sekarang belum bangun-bangun,” kata Tina lagi.
Membuat Digta mengerutkan dahi. “Istri?”
“Adiknya Ambar sekarang menjadi istrimu, kan?”
Digta menarik napas dalam-dalam sambil memijit batang hidungnya. Bagaimana mungkin Digta bisa lupa kalau dia sudah punya istri lagi, di saat istrinya baru saja meninggal?
“Kenapa bisa kamu menikah dengan adiknya Ambar sih, Digta? Kenapa kamu mau aja gitu. Mami lihat, Zeya itu anak yang manja dan nggak telaten. Masa sih, Mami dan Papi baru datang, dia nggak menyeduhkan teh, nggak mempersiapkan makanan dan malah ngebiarin Mami dan Papi kelaparan. Itu di teras rumah juga berantakan banget, nggak disapu. Jadi… Papi yang menyapu halaman depan rumah kamu.” Tina mengomel panjang lebar, membuat kepala Digta pusing.
“Mi, kalau bukan karena permintaan Ambar. Aku juga nggak akan mau menikah dengan wanita itu. Siapa yang mau, sih, menikah dengan adik istrinya sendiri?” Digta memelas. “Udah ya, jangan bahas dia lagi. Kepalaku pusing banget. Aku ingin makan dengan tenang.”
Tina tidak lagi bicara panjang lebar dan mereka kembali melanjutkan makan malam dengan tenang.
***
Tepat setelah mereka menyelesaikan makan malam bersama. Zeya baru saja bangun dan keluar dari kamar. Ia merentangkan tangan sambil menguap, tanpa menyadari kalau tindakannya itu sedang dilihat oleh Tina, Tio dan Digta.
Zeya terkejut, apalagi ketika melihat Digta yang sudah keluar dari kamarnya.
“Baru bangun?” Tina memperhatikan penampilan Zeya dari atas kepala hingga ujung kaki dengan mata mendelik.
“Ehem….” Zeya berdehem karena tenggorokannya terasa kering. “I-iya, Mi.”
Lalu kursi berderit ketika Digta bangkit. “Aku izin ke kamar dulu.” Dan Digta pergi begitu saja tanpa menatap Zeya sedetikpun.
Begitu pula dengan Tio dan Ciya yang memutuskan untuk pergi dari ruang makan setelah selesai menghabiskan makanannya.
__ADS_1
“Makan malam dulu, Zey. Itu Mami masak makanan enak, loh,” ucap Tio sebelum pergi.
“Heheh, iya, Pi.”
Zeya melangkah mendekati meja makan. Melihat sisa makanan yang ada di meja makan.
“Ini kita semua sudah selesai makan. Nanti, kamu tolong bereskan piring-piring kotor di meja makan dan jangan lupa dicuci ya.” Tina bangkit juga dari kursi.
Zeya mengangkat alisnya. “Cuci, Mi?”
“Iya. Memangnya piring kotor bisa mencuci dirinya sendiri?”
Zeya menelan ludah kelat. “Hehe, iya nanti aku cuci, Mi.”
Lalu, Tina pun pergi begitu saja meninggalkan Zeya bersama banyak piring kotor di meja.
Zeya jadi kepikiran, apakah Ambar merasa hidup tertekan bersama mertuanya? Kenapa Zeya merasa hidupnya penuh dengan tekanan ya. Apa karena Ambar perempuan yang rajin dan mau disuruh-suruh? Sedangkan Zeya? Jangankan rajin, cuci piring aja nggak pernah.
Huh! Zeya menggerutu kesal. Harusnya dari awal Ambar menggunakan jasa asisten rumah tangga. Jadi, dia pun tidak merasa serepot ini.
“Oke, Zeyaa, lupakan semua itu. Dan mari kita lanjutkan makan malam sampai kenyang.” Zeya berusaha mengesampingkan pikiran bodoh itu dan lanjut menghabiskan semua makanan sisa di meja.
***
Selesai makan, Zeya melanjutkan tugasnya untuk mencuci piring. Zeya mengangkut semua piring di atas meja dan membawanya menuju wastafel.
Jadi, Zeya mengambil dua kantung plastik untuk menutupi tangannya agar tidak alergi saat mencuci piring.
“Ya ampun, kenapa cuci piring pake plastik?” Tina mendadak datang ke dapur.
“Karena nggak ada sarung tangan di sini, Mi. Tanganku alergi sabun cuci piring.” Zeya menjelaskan sebaik dan setenang mungkin.
“He? Alergi sabun cuci piring? Jadi, di rumah nggak pernah cuci piring?”
Zeya menggelengkan kepala.
“Ya ampun, Zeyaaa…. Kamu bener-bener berbanding terbalik dengan kakakmu ya.” Tina berkacak pinggang sambil geleng-geleng kepala.
“Maaf, Mi. Tanganku sensitif banget, jadi kalau kena air cuci piring bisa bentol-bentol dan gatel.”
“Ah, bilang saja kamu males, kan? Kalau begini, gimana mau bersih cuci piringnya. Coba itu dibuka sajalah.” Tina merobekkan plastik di tangan Zeya dan membuangnya ke tempat sampah. “Coba cuci yang bener, sebagai istri itu harus pinter dan telaten. Jangan malas-malasan begini. Nanti, suami bisa bosan dengan kamu loh, Zey. Kamu mau suamimu selingkuh?”
Tina ini benar-benar modelan Ibu Mertua yang berubah menjadi Nenek sihir. Benar-benar cerewet dan menyebalkan.
“Nggak apa-apa deh, Mi, kalau Mas Digta selingkuh. Kami menikah juga bukan karena cinta. Tapi, dipaksa Mba Ambar.” Zeya bicara nyablak.
Membuat mata Tina langsung melotot lebar. “Lagian, Ambar ada-ada saja mau menjodohkan adiknya yang nggak kompeten harus menikah dengan laki-laki perfect seperti Digta.”
Dalam hati Zeya meringis. Cih, perfect apaan. Anak sama Emak sama aja. Sama-sama titisan Iblis dan jin!
__ADS_1
Zeya berusaha mengontrol emosinya sebaik mungkin. “Iya, Mi.” Dan Zeya tetap melanjutkan mencuci piring di depan Tina yang terus mengawasinya seperti sedang ujian skripsi.
***
Zeya meringis saat di kamar Ciya, karena kedua tangannya sudah memerah dan terasa gatal akibat cuci piring.
“Tante Zeya kenapa?” Tanya Ciya saat mendengar rintihan Zeya.
“Nggak apa-apa, Ciya. Tante lagi nyanyi.” Zeya mencari alibi.
“Tante nyanyi lagu apa? Bagus nggak, lagunya?”
“Hiks, bagus Ciya.”
Zeya menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan Zeya berpikir masih ada apotek yang buka jam segini untuk membeli salep alerginya.
“Ciya tidur ya, Tante mau pergi sebentar.”
Zeya pun keluar dari kamar Ciya. Mertuanya sudah tidur di kamar karena keadaan ruang tamu sudah gelap.
Zeya mengintip jendela dan hanya ada mobil Digta yang terparkir di luar.
Karena kalau Zeya memesan online atau mencari ojek online, Zeya tidak memiliki ponsel. Ponsel Zeya menghilang sejak terakhir kali terjebak di puncak.
Akhirnya, Zeya tidak punya pilihan lain selain mengetuk pintu Digta.
“Mas ….” Zeya sedikit berbisik. “Mas Digta…. Boleh pinjem mobil nggak?”
Tidak ada tanggapan dari lelaki itu.
“Mas Digta … maaf mengganggu. Tapi, ini keadaan genting, Mas. Pleaseee, aku mohon… aku sudah nggak tahan lagi. Rasanya aku ingin mati saja, Mas. Karena aku—“ Zeya berhenti bicara ketika pintu kamar Digta akhirnya terbuka.
“Apa?” Tanya Digta dengan galak.
“Pinjem mobil boleh nggak? Aku mau ke apotek cari obat?” Zeya menunjuk kondisi telapak tanhannya yang mengenaskan. “Aku alergi sabun cuci piring, Mas.” Zeya menjelaskan sebelum muncul pertanyaan dari lelaki itu. “Aku mau naik ojek online atau mau beli online juga nggak punya hp. Hp-ku hilang waktu di puncak kemarin. Please….”
“Memangnya bisa nyetir?” Digta kembali ketus.
Zeya mengangguk. “Bisa, Mas. Di rumah, kendaraanku juga pake mobil kalau bepergian.”
Digta menarik napas dalam-dalam sebelum membanting pintu kamarnya. Membuat Zeya memejamkan mata dan ingin menangis.
Apa yang harus Zeya lakukan sekarang?
Tak lama, Digta kembali keluar dari kamar dan sudah menggunakan jaket, serta celana jeans panjang.
“Tunggu saja di rumah.” Satu kata singkat dari Digta yang membuat Zeya bengong.
Lantas, Digta pergi begitu saja meninggalkan wanita itu.
__ADS_1