Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang
44. Perdebatan Tanpa Henti


__ADS_3

Zeya terbangun dari tidurnya saat mendengar suara televisi. Semalaman, Zeya tidur di kursi sebelah brankar Ciya. Dan tidur dalam kondisi duduk.


Dilihatnya Ciya sudah bangun, dan sedang menonton film kartun di televisi.


“Ciya….” Zeya kaget saat melihat Ciya. “Kamu udah bangun?”


“Ciya nggak sekolah ya, Tante?” Anak itu menatap Zeya dengan polos.


“Enggak dong, Karena Ciya lagi sakit.”


“Ooh gitu. Nanti guru Ciya marah nggak, Tante?”


“Ciya tenang saja, Tante sudah izin dengan guru sekolahnya Ciya, kok. Yang penting, Ciya harus sembuh dulu.” Zeya mengelus pipi Ciya lembut.


Ciya mengangguk. “Oke, Tante Zeya.”


Tak lama kemudian, pintu ruangan rawat inap Ciya terbuka. Seorang suster muncul sambil membawakan sarapan pagi untuk Ciya.


“Selamat pagi, ini sarapannya jangan lupa dimakan ya,” ucap Suster tersebut sambil meletakan makanan Ciya di atas meja. “Waktunya kita mandi,” kata Suster lagi pada Ciya.


Zeya mundur untuk memberikan ruang kepada suster tersebut. Karena terlalu banyak mundur, tanpa sadar tubuh Zeya menabrak sofa, dan membuatnya jatuh ke atas tubuh Digta yang saat itu masih tertidur lelap di atas sofa.


“Aduh….”


“Agh!” Digta sampai terbangun dari tidurnya, dan kaget melihat Zeya sudah ada di atas tubuhnya. “Kamu ngapain, sih?”


“Maaf, Mas.” Zeya lompat dari sofa. “Aku nggak sengaja.”


Mau tak mau Digta harus bangkit dari sofa karena sudah terlanjur bangun.


“Pagi, Ayah!!!“ Ciya melambai penuh semangat. Kondisinya jauh lebih baik daripada tadi malam. Karena tadi malam wajah Ciya begitu pucat. Sekarang, wajahnya sudah kembali ceria.


“Pagi sayang.” Digta tersenyum tenang.


“Mas, aku beli sarapan pagi dulu untuk kita ya.” Zeya hendak melangkah pergi.


Tapi, Digta segera menarik tangannya, membuat tubuh Zeya duduk di sofa. Lalu, Digta yang bangkit dari sofa.


“Saya saja yang beli sarapan. Kamu di sini saja bersama Ciya,” ucap Digta dngin, namun masih bersikap baik.


Lantas Digta melesat pergi meninggalkan ruang rawat inap Ciya.


Zeya jadi deg-degan melihat perlakuan Digta yang kadang baik, kadang nyebelin.


***


Digta pergi ke toilet rumah sakit yang ada di lantai bawah untuk mencuci wajahnya. Setelah selesai, ia membeli sarapan di cafe rumah sakit.


Ponselnya berdering, nama Kiara berkelap-kelip di layar.


“Halo, Bu Kiara….” Sahut Digta setelah telepon mereka tersambung. Digta duduk di kursi cafe sambil menyesap kopi hangat yang baru saja dia pesan.


“Pak Digta hari ini nggak masuk kelas ya?” Tanya Kiara di seberang sana.


“Tidak, Bu. Anak saya masuk rumah sakit.”


“Ya Allah, kasihan betul anaknya Pak Digta. Sakit apa kalau boleh tanu, Pak?”


“Demamnya tinggi banget tadi malam, jadi harus saya larikan ke rumah sakit.”


“Oalah, oh iya, Pak, kebetula hari ini saya free kelas. Boleh saya menjenguk anak Pak Digta?”


Digta diam sejenak sambil melihat asap yang masih mengepul di atas kopinya. “Boleh kalau Bu Kiara tidak keberatan. Rumah sakitnya tidak jauh dari kampus. Rajawali Hospital.”

__ADS_1


“Baik, Pak, Digta. Saya ke sana sekarang ya.”


“Baik, Bu, saya tunggu di cafe rumah sakit ya. Nanti, kita bareng-bareng saja naik ke atas.”


“Okay, Pak.”


Sambungan terputus. Digta beranjak dari kursi dan menghampiri kasir. “Boleh buatkan satu nasi goreng? Dibungkus saja ya, Mba.”


“Baik, Pak, ditunggu,” ucap Kasir cafe rumah sakit.


Setelah membayar pesanannya, Digta kembali duduk di kursi cafe sambil menunggu pesanan selesai, dan melanjutkan minum kopinya.


Setengah jam kemudian Kiara kembali menghubungi Digta untuk memberitahu kalau dia telah tiba di rumah sakit.


“Pak, saya sudah ada di rumah sakit.”


“Masuk saja, Bu, saya tunggu di depan lobby.” Sambil membawa pesanannya yang telah selesai, Digta beranjak dari cafe dan menunggu Kiara di lobby.


“Pak Digta,” sahut Kiara sambil menjabat tangan lelaki itu. “Ini ada sedikit makanan untuk Ciya.”


“Kenapa harus repot-repot segala ini, Bu Kiara.” Digta menerima keranjang buah dari Kiara. “Mari masuk.” Lantas membawa Kiara masuk ke dalam rumah sakit.


Mereka melangkah bersama sampai naik ke dalam lift. Hanya ada mereka berdua saja di dalam lift yang membuat suasana sedikit canggung.


“Sebelumnya, terima kasih banyak ya, Bu, karena sudah mau menjenguk anak saya,” ucap Digta tulus.


“Sama-sama, Pak. Saya juga sudah bilang kan, jika Bapak membutuhkan bantuan saya mengenai Ciya, bisa hubungi saya saja. Saya suka dengan anak kecil.”


Digta cukup terpanah dengan ucapan Kiara. Bahkan, Kiara labih cocok menjadi seorang Ibu dan istri daripada Zeya.


Ah, mikir apa sih, dia.


Ketika lift sampai di lantai tujuan, Digta mempersilakan Kiara untuk keluar lebih dulu. Kemudian mereka masuk ke ke dalam ruang rawat inap Ciya bersama.


Melihat kehadiran Kiara, Zeya merasa tidak senang. Pantas saja Digta lama sekali membeli sarapan. Tahunya, dia menunggu Kiara datang ke rumah sakit ini.


Untuk apa sih, dia bawa-bawa orang lain segala.


“Ciya, cepat sembuh ya.” Kiara mengelus pelan kepala Ciya.


“Ini Tante Kiara ada bawa buah untuk Ciya.” Digta memberikan keranjang buah pemberian Kiara kepada anaknya.


“Makasih ya, Tante.” Ciya membalas dengan senyuman.


“Sama-sama, Sayang.” Lalu mata Kiara tertuju pada Zeya. “Eh, ada Zeya juga di sini?”


Ya jelas ada dong, aku ini Ibu sambungnya Ciya. Asal Bu Kiara tahu saja! Huh, rasanya ingin sekali Zeya mengatakan hal itu terang-terangan kepada Kiara.


Karena males berada di ruangan ini lama-lama, Zeya pun bangkit dari kursi.


“Aku keluar dulu.”


“Loh, ini sarapan kamu nggak dimakan, Zey?” Tanya Digta.


“Udah kenyang.” Zeya menjawab ketus sambil keluar dari ruang rawat inap Ciya.


Perempuan itu duduk di kursi tunggu depan ruang rawat inap sambil mengotak-atik ponselnya. Tanpa ia sadari, ternyata ada banyak sekali pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Zega.


Zeya pun buru-buru menghubungi Zega kembali.


“Halo, Zega….” Sahut Zeya setelah panggilan mereka tersambung. “Maaf ya, aku nggak sempat balas pesan kamu dari tadi malam karena aku panik banget. Ciya masuk rumah sakit dam harus dirawat, aku juga ketiduran. Ini baru bangun dan belum sarapan lagi, huhu.” Zeya merengut sedih.


“Ya ampun, kasihannya wanitaku. Mau aku bawakan makanan apa untuk kamu ini?”

__ADS_1


Zeya terbelalak kaget. “Serius kamu mau bawain aku makanan?”


“Serius dong, lagi di rumah sakit mana?”


“Rajawali Hospital.”


“Deket dari kampus, kebetulan aku juga masih di kampus. Aku ke sana sekarang ya.”


“Aku tunggu di lobby ya, Zega.”


“Okay. See you.”


Zeya senyum-senyum sendiri setelah menerima panggilan dari Zega. Saat beranjak dari kursi, pintu ruangan Ciya terbuka dan menampilkan sosok Digta yang keluar dari ruangan.


“Mau kemana?” Tanya lelaki itu ketus.


“Ke bawah,” jawab Zeya juga ketus.


“Sarapan dulu.” Pintah Digta.


“Nanti dianterin sarapan dengan Zega.” Zeya masih menjawab dengan singkat.


“Zega?” Digta mengerutkan dahi.


“He’eh.”


“Kenapa Zega harus ada di sini?”


“Kenapa Bu Kiara harus ada di sini?” Tanya Zeya balik.


“Yah, karena Bu Kiara ingin menjenguk Ciya. Kalau Zega, jelas-jelas ingin menjenguk kamu. Memang kamu sakit apa? Sakit jiwa?”


Zeya memonyongkan bibir kesal. Apa-apaan dia ini! Padahal tadi malam dia bersikap baik sambil memeluk Zeya untuk menenangkan hati perempuan itu. Nah, sekarang, wujud aslinya kembali keluar!


“Zega juga mau lihat Ciya, kok,” jawab Zeya asal-asalan.


“Kamu jangan ninggalin Ciya gitu saja, dong, kamu kan, ibunya.”


“Aku cuma ke bawah sebentar untuk menjemput Zega. Seperti yang Mas lakukan terhadap Bu Kiara. Sama saja, kan?”


Digta diam, napasnya memburu kesal. “Bahkan, Kiara jauh lebih baik menjadi Ibu daripada kamu, Zey.”


Mata Zeya menyipit tajam. “Yasudah, kalau begitu, Mas Digta menikah saja dengan Bu Kiara. Jangan menikah denganku. Apa susahnya, sih?! Kenapa harus membanding-bandingkan aku dengan orang lain. Mas boleh membawa orang lain bertemu dengan Ciya, kenapa aku juga tidak boleh. Kita impas, kan?!”


Zeya benar-benar dongkol dengan sikap Digta yang suka semaunya. Jika dia memang menyukai Kiara, kenapa dia tidak melepaskan Zeya dan hidup bahagia bersama Kiara saja.


Zeya hendak melangkah pergi, tapi Digta langsung menarik tangan Zeya dan mendorong pundak perempuan itu ke dinding. Menjepit tubuh Zeya ke dinding, dan hal itu membuat Zeya tercengang kaget.


“Mas….”


“Saya sudah bilang, jangan main-main dengan saya. Tapi, kamu selalu saja sengaja memancing kemarahan saya untuk bermain-main dengan saya.”


“Siapa yang memancing kemarahan Mas Digta? Mas Digta sendiri yang mancing semua ini.”


“Kalau kamu masih bawel, saya nggak akan segan-segan menciummu di sini!” Seru Digta.


“Cium saja, aku nggak takut!” Zeya malah menantang.


Mana bisa Digta ditantang seperi ini dengan perempuan tengil ini.


Jujur saja, melihat Zeya sedekat ini mengingatkan Digta pada sosok Ambar.


Digta mendekatkan wajahnya kepada zeya, membuat perempuan itu memejamkan mata karena takut kalau Digta akan benar-benar menciumnya di lorong rumah sakit ini.

__ADS_1


“Pak Digta….” Suara Kiara pun mendadak muncul.


__ADS_2