
Akhirnya, hari ini Ciya sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik.
Zeya dengan semangat mempersiapkan barang-barang Ciya untuk dibawa pulang.
“Sudah selesai?” Digta masuk ke dalam ruang rawat inap setelah menyelesaikan administrasi.
“Sudah, Mas,” Zeya menjawab.
Digta langsung mengambil tas pakaian Ciya dan membawanya keluar dari ruangan. Sedangkan Zeya menuntun Ciya melangkah.
“Akhirnya Ciya boleh pulangggg!” Sorak Ciya penuh semangat.
“Seneng nggak?” Tanya Zeya.
“Seneng dong, Tante.“
Setelah memasukkan tas ke dalam bagasi mobil, Digta membukakan pintu untuk Ciya. “Ayo masuk, sayang.”
“Oke, Ayah!”
Lalu, Digta membukakan pintu mobil untuk Zeya. “Masuk,” pintahnya dengan ketus.
“Makasih, Mas.”
Digta menutup pintu, kemudian memutari mobil untuk duduk di kursi kemudi. Setelah itu, mobil melesat meninggalkan rumah sakit.
“Pada mau makan nggak?” Digta menawari.
Ciya langsung melongokan kepala ke depan. “Mau-mauuu, Ciya mau makan nasi goreng seafood Pak Remon!” Ciya menyebutkan nama restaurant favorit keluarganya.
“Pak Remon siapa?” Zeya mengerutkan dahi bingung.
“Nama resto-nya,” jawab Digta. “Resto itu favorit Ambar banget,” lanjut Digta lagi. “Kamu belum pernah coba, kan? Coba deh, pasti ketagihan. Apalagi, mie kuning seafood-nya. Enak banget.”
“Yaudah ayuk, langsung gaskeunnn!”
“Horeeee!!” Ciya kegirangan.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka saat mobil membelah jalan raya. Ponsel Digta berdering nyaring, dan itu panggilan dari Kiara.
“Halo Bu Kiara….”
Mendengar Digta memanggil nama perempuan itu, Membuar Zeya harus memanjangkan telinganya untuk mendengar dengan jelas pembicaraan mereka. Meski sia-sia.
“Oke, baik, Bu.” Digta memutuskan sambungan.
Sejujurnya, Zeya tidak ingin ikut campir. Tapi, dia terlalu penasaran untuk tahu. “Kenapa?”
“Kenapa apanya?” Digta menyimpan ponsel di saku celana.
“Itu, Bu Kiara. Kenapa dia menghubungi Mas Digta?”
“Nanya kabar Ciya,” jawab Diga santai.
“Terus?”
“Terus apa?”
“Ya, terus apa kelanjutannya gimana?”
“Yah, ntar malem mau main ke rumah untuk jengukin Ciya.”
“Mas izini?”
“Izini, lah. Toh, Mami dan Papi juga sudah tidak ada di rumah.”
Zeya memonyongkan bibir dengan kesal. Lalu, dia mengambil ponsel dari dalam tas. “Yasudah kalau gitu, aku juga mau ajak Zega main ke rumah, ah.”
“Eh…” Digta langsung merampas ponsel Zeya.
“Ih, kenapa diambil?”
__ADS_1
“Ya, ngapain? Untuk apa?”
“Loh, kok untuk apa? Ya, main-main, lah.”
“Nggak penting itu, jangan.”
“Kok gitu, sih? Mas Digta boleh bawa Bu Kiara, kenapa aku nggak boleh?”
“Kamu dan Zega emang sudah resmi pacaran?”
Zeya mendengus. “Sudah.”
“Kapan?”
“Kepo, deh. Sini handphone aku!” Zeya ingin merampas ponselnya, tapi Digta sengaja mengulurkan tangannya hingga Zeya sulit meraih pnselnya sendiri.
“Dengan satu syarat,” ucap Digta. “Jangan berbuat yang macem-macem dengan Zega ya. Tidak boleh ciuman, atau melakukan hal yang lebih dari ciuman. Seperti—“ Digta menghentikan kalimatnya. “Menyerahkan milikmu padanya.”
“Maksudnya, milikmu itu apa?” Zeya memberi tanda kutip di udara.
“Saya nggak perlu menjelaskan dengan detail. Harusnya kamu sudah tahu.”
Zeya melipat tangan di dada sambil merosotkan tubuh di kursi. “Jadi, aku hanya boleh dicium Mas Digta saja?”
Digta tidak menjawab.
“Aku juga hanya boleh menyerahkan milikku untuk Mas Digta? Aku tidak mau!”
Digta menoleh kaget. “Kenapa tidak mau?”
“Untuk apa aku harus menyerahkan milikku kepada Mas Digta. Kita hanya menikah karena status, kan?”
“Benar. Lagipula, tidak ada yang ingin menyentuh kamu. Karena kamu bukan tipe saya, dan juga bukan selera saya.”
Zeya memonyongkan bibirnya dengan kesal. “Awas saja kalau nanti Mas Digta mohon-mohon dengan aku ya.”
“Mohon-mohon?” Digta terkekeh geli. “Hanya dalam mimpimu saja, Zeya.”
Digta menatap Ciya dari spion mobilnya. Mewanti-wanti, apakah Ciya mendengar percakapan mereka atau tidak.
“Itu aruran dari saya, jadi kamu harus mematahui peraturan saya.” Digta berkata dengan tegas. Membuat Zeya tidak bisa membantah.
Digta pun nengembalikan ponsel milik Zeya ketika perempuan itu hanya diam menuruti.
***
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mobil yang dikendarai Digta berhenti di depan restsurant Pak Remon.
Mereka pun keluar bersaama dan mencari tempat duduk yang nyaman. Mereka memesan nasi goreng seafood, dan mie kuning seafood, beserta minumnya es jeruk.
“Beneran enak makanannya, loh,” komentar Zeya setelah mencicipi makanannya. “Pantesan Mba Ambar suka. Aku dan Mba Ambar emang suka makanan begini.”
“Kalau saya tanpa sesfood.” Digta menunjuk makanannya. “Karena alergi.”
Zeya jadi teringat waktu Mami marah-marah ketika Zeya masak telur untuk Digta sarapan.
“Mau coba nggak?” Digta menawari, memudian menyendokkan makanannya ke dalam mulut Zeya. “Buka mulutmu.”
“Sama saja kan, rasanya.”
“Beda dong. Ini pake bumbu rahasia.”
Zeya pun membuka mulutnya dan Digta menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulut Zeya.
“Beda, kan?” Tanya Digta sekali lagi.
“Iya, beda banget. Kok bisa gitu ya.”
“Itulah mengapa makanan ini menjadi restaurant favorit keluarga kami.” Digta menghela napas berat, tiba-tiba dia teringat dengam kehadiran Ambar. Apalagi, Ambar suka memesan makanan yang sama seperti Zeya pesan ssst ini.
Diam-diam, Digta mencuri pandang untuk melirik Zeya. Memperhatikan perempuan itu makan dengan hikmat.
__ADS_1
Ternyata, kalau dilihat sedekat ini, Zeya cantik juga ya.
Astaga! Digta geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin dia mikir seperti itu!
“Ih, do gigi Ayah ada cabeee!” Ciya menunjuk gigi Digta.
Bikin Digta malu dan langsung mencari letak cabe menggunakan tusuk gigi.
“Udah belum?” Digta menunjukkan deretan gigi putih dan rapinya.
“Masih ada tuh, sini aku bantu.” Zeya mengambil tusuk gigi dan membantu Digta mencari cabe di giginya.
Wajah mereka begitu dekat sampai deru napas keduanya terasa hangat.
Digta cukup syok melihat respons Zeya yang tidak jijik mencari cabe di giginya.
“Udah.” Zeya kembali melanjutkan makannya.
Digta menarik kera bajunya, mendadak suasana menjadi gerah.
“Makasih,” ucap Digta kikuk.
***
Zeya merasa rumah terasa lebih nyaman dan tenang semenjak Tina dan Tio kembali ke Kalimantan.
Zeya bisa bernapas dengan lega tanpa amarah dan omelan Nenek sihir lagi—yang akan bikin telinganya sakit.
Zeya mengambil barang-barangnya dari kamar Digta—yang pernah ia simpan sejak beberapa hari tidur di kamar lelaki itu.
“Mau kemana?” Digta menangkap basah Zeya sedang menyusun barangnya.
“Mau balik lagi ke kamar aku dong.”
“Kenapa?”
“Mami dan Papi kan, sudah pulang. Jadi, aku nggak harus tidur sekamar dengan Mas Digta lagi, kan?
“Oh, begitu.” Hanya itu tanggapan Digta sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
“Asyikkkk, aku bisa tidur dengan nyenyak dan nyaman sekarang. Huaaaah!” Zeya sengaja berteriak sambil merentangkan tangannya dengan gembicara.
Lalu tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka dan Digta melempar pakaian kotornya ke arah Zeya, sampai-sampai daleman lelakit itu mengenai wajah Zeya.
“Mas Digtaaaa!!!” Zeya berseru kesal.
“Bawa pakaian kotor saya ke dalam keranjang!” Perintah lelaki itu menyebalkan.
Zeya membawa pakaian kotor Digta keluar dari kamar. Dan membuangnya ke dalam keranjang pakaian kotor di dekat mesin cuci. Tak lama kemudian, pintu rumahnya diketuk berulang kali.
Zeya pun melangkah menuju pintu, dan membuka pintu rumahnya. Betapa tercengangnya Zeya melihat kehadiran seorang perempuan—yang kini sudah berpakaian rapi, berdandan dengan cantik, dan menggunakan parfum super wangi—kini telah berdiri di depannya.
“Hai, Zeya, Pak Digta ada di rumah, kan?” Tanya Kiara sambil tersenyum sok manis.
Jujur, Zeya merasa dongkol, dan rasanya ingin sekali ia menutup pintu rumahnya kembali.
“Mas Digta pergi,” ucap Zeya ketus.
Kiara mengerutkan dahi. “Kemana? Pak Digta nggak cerita.”
“Loh, memangnya Mas Digta harus cerita kepada Bu Kiara kalau dia mau pergi? Memangnya, Bu Kiara siapa? Bu Kiara nggak sepenting itu.”
Kiara menyeringai hambar. “Hehehe, iya juga ya. Tapi—“
Belum sempat Kiara melanjutkan kalimatnya, suara Digta mendadak muncul.
“Bu Kiara….”
Zeya mengerang kesal dan memutar bola matanya jengah.
Aisssh, ketahuan kalau aku sedang berbohong! Cecarnya dalam hati.
__ADS_1