
“Digta sudah siap,” kata Papa setelah membawa Digta masuk ke dalam ruangan rawat inap Ambar kembali.
“Mas Digta….” Zeya memelas, berharap kalau Digta menolak pernikahan ini lagi.
Tapi, Digta hanya diam saja. Dia bahkan tak sanggup menatap Zeya, apalagi Ambar.
Mereka pun duduk di kursi. Pak Anto sebagai perwakilan dari pihak KUA mulai membacakan doa-doa dan tentang pernikahan.
“Ini tidak ada unsur keterpaksaan, kan?” Tanya Pak Anto sekali lagi sambil memperhatikan Digta dan Zeya yang duduk bersebelahan.
“Insha Allah tidak, Pak,” jawab Digta tegas. Sedangkan Zeya hanya bisa menundukkan kepala.
“Oke baik, silakan Pak, kita mulai pernikahanannya,” ucap Pak Anto pada Papa.
Papa dan Digta langsung berjabat tangan. “Aku nikahkan dan kawinkan engkau saudara Pradigta Mahessa bin Triono, dengan anakku Zeya Rainan Agustaf binti Agung Saputra dengan seperangkat alat solat dibayar tunai.”
Digta menarik napas dalam-dalam.
“Saya—“ Digta terbata. “Saya terima nikah dan kawinnya Ambar—“
Wajah semua orang langsung mendengus kecewa.
“Tarik napas dulu, Pak, Digta. Jangan sampai salah menyebutkan nama istrimu,” ucap Pak Anto.
“Iya, Pak.”
“Mari kita ulangi lagi.”
“Bismillahirrahmanirrahim. Aku nikahkan dan kawinkan engkau saudara Pradigta Mahessa bin Triono, dengan anakku Zeya Rainan Agustaf binti Agung Saputra dengan seperangkat alat solat dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Zeya Ra—“ Digta lupa nama panjang Zeya. Dan ucapan qabul kembali gagal.
“Pak Digta, ini yang terakhir ya, jangan sampai salah. Mohon diingat-ingat lagi nama mempelai,” kata Pak Anto lagi.
“Zeya Rainan Agustaf.” Papa mendiktekan lagi pada Digta.
“Zeya Rainan Agustaf.” Digta mengulang.
“Oke, sudah siap?” Pak Anto menunggu.
Mereka pun mengangguk. Dan ijab-qabul kembali diucapkan.
“Bismillahirrahmanirrahim. Aku nikahkan dan kawinkan engkau saudara Pradigta Mahessa bin Triono, dengan anakku Zeya Rainan Agustaf binti Agung Saputra dengan seperangkat alat solat dibayar tunai.
“Saya terima nikah dan kawinnya Zeya Rainan Agustaf binti Agung Saputra dengan mas kawin tersebut di bayar tunai.” Akhirnya Digta berhasil mengucapkan kalimat itu dengan lantang.
“Bagimana saksi? Sah?”
“Sah!”
“Alhamdulilaah….”
Zeya menangis, karena pada akhirnya dia akan menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak dia cintai. Dan laki-laki itu sendiri adalah Kakak iparnya. Keadaan yang membuat Zeya harus terpaksa turun ranjang.
Setelah ijab-qabul selesai, Pak Anto pun keluar dari ruang rawat inap. Digta sebal melihat Ambar yang tersenyum manis, padahal Digta tahu kalau hatinya pasti ter-iris pedih.
“Sudah puas?” Tanya Digta dengan wajah datar.
“Sini deh, Mas.” Ambar menarik tangan Digta. “Sini, Zey.” Ambar memanggil Zeya untuk mendekat, lalu menarik tangan adiknya juga. “Aku senang dan lega karena akhirnya Mas Digta dan Zeya sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Mulai sekarang, aku titip Mas Digta dengan kamu ya, Zey. Kalau Mas Digta macem-macem, lapor ke aku! Dan aku titip kamu untuk menjaga Ciya dengan baik. Please, demi aku, aku nggak mau ada perceraian di antara kalian.”
Zeya tak berhenti meneteskan air mata. Sedangkan Digta langsung menarik tangannya menjauh. “Ini konyol! Semuanya konyol! Aneh! Aku sama sekali nggak bisa mengerti keadaan ini!” Digta berseru kencang, benar-benar meluapkan emosinya sampai matanya memerah.
Kemudian Digta memutuskan untuk keluar dari kamar rawat inap lagi.
__ADS_1
“Mba, kenapa sihh harus seperti ini?” Zeya tak berhenti menangis. “Mba hanya memikirkan kebahagiaan Mba sendiri, tanpa memikirkan kebahagiaanku. Ini nggak adil.”
“Hussh!” Mama menegur.
“Kenapa, Ma? Karena Mba Ambar sakit, aku nggak boleh ngomong begini?”
“Zey, dari kecil Mba selalu mengalah dengan kamu. Mama dan Papa selalu mengesampingkan keinginan Mba, demi mewujudkan keinginan kamu. Sekarang, giliran Mama dan Papa yang mengesampingkan keinginan kamu demi mewujudkan impian Mba. Apakah salah, kalau untuk kali ini kamu yang mengalah?” Ujar Ambar lirih.
“Tapi bukan begini caranya, Mba. Kenapa harus diwaktu yang tidak tepat seperti ini.” Zeya menutup wajah dengan telapak tangan saat bahunya bergetar karena tangisnya pecah.
“Maafin aku, Zey. Aku terpaksa melakukan hal ini.” Ambar kembali getir. “Oh iya, Ma. Boleh nggak, Mama bantu untuk botakin kepala Ambar.” Kini Ambar menatap Mama.
Mendengar permintaan Ambar, Mama dan Papa terkejut.
“Ambar….” Mama menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Ambar nggak sanggup lagi, Ma. Rambut Ambar udah banyak banget yang rontok sampai botak setengah. Lebih baik, dibotakin saja semuanya. Mau ya, Pa….” Kini Ambar menatap papanya.
Papa mengangguk sambil meneteskan air mata.
“Biar Papa saja yang mencukur rambutmu.”
“Ambar udah persiapkan alat cukur di dalam tas. Karena Ambar tahu, hari ini pasti akan terjadi.”
Dengan perasaan yang hancur dan berkeping, Papa terpaksa harus mencukup rambut Ambar perlahan demi perlahan sampai botak.
“Kenapa rambutnya diambil Ibu?” Tanya Ciya dengan wajah polos.
“Karena kepala Ibu gatal dan sakit banget,” jawab Ambar.
“Kalau kepala Ciya sakit, boleh di botakin juga nggak, Bu?”
“Jangan. Rambut Ciya kan, bagus dan Indah. Jadi, tetap pertahankan rambut Ciya ya. Nanti kapan-kapan, Ciya bisa minta kepangin rambutnya dengan Tante Zeya. Karena Tante Zeya jago banget kepang rambut.”
“Oke Ibuuu!” Ciya mengacungkan jempol.
***
Ini pertama kalinya dalam hidup, Digta menghabiskan tiga batang rokok sekaligus dalam waktu kurang lebih satu jam.
Digta tidak tahu apa yang telah membuatnya harus mengisap rokok, yang jelas Digta merasa suasana hatinya jauh lebih baik.
Setelah selesai menghirup banyak pemasok oksigen, Digta pun kembali ke ruang rawat inap Ambar.
Betapa terkejutnya Digta melihat Ambar dan Ciya sedang bermain di atas kasur. Tapi, keadaan rambut Ambar sudah botak.
Digta sampai sulit berkata-kata. Hatinya seperti di remas dengan kuat sampai tetesan darah berjatuhan ke lantai.
“Mas….” Ambar tersenyum. Di saat seperti ini Ambar masih bisa tersenyum?
“Boleh tinggalkan aku hanya berdua dengan Ambar?” Digta menatap satu per satu keluarganya.
Mama mengangguk, kemudian menggendong Ciya dan membawanya keluar. Disusul dengan Papa dan Zeya.
Setelah semuanya sudah keluar. Digta menghampiri Ambar dan baring di kasur—di sebelah Ambar.
“Kenapa dengan rambut kamu sayang?” Digta berusaha menahan air matanya.
“Rambutku rontok banget, Mas. Jadi, aku botakin saja sekalian. Kenapa? Aku jelek ya?”
Digta menggeleng. “Kamu cantik banget, cantiiikkkk banget. Dimana lagi aku bisa menemukan perempuan secantik kamu, Sayang?”
“Mas bisa saja deh!” Ambar tersipu malu.
__ADS_1
Lalu Ambar menyandarkan kepalanya di dada Digta. “Ingat nggak Mas, waktu pertama kali kita bertemu?”
Digta terkekeh geli. “Ingat banget, lah. Waktu itu mobil kamu pake acara mogok segala di kampus. Dan, aku tahu kamu itu sedang modus karena tahu kalau kakak tingkat kamu ini parkir tepat di sebelah mobil kamu. Terus, dengan wajah sok paniknya, kamu minjam handphone aku untuk hubungi bengkel karena handphone kamu low? Hahaha. Itu modus, kan, syang?”
“Ih, enak saja. Itu nggak modus ya, Mas! Itu beneran mogok, dan hp aku benera low!”
“Terus, giliran orang bengkel datang, kamu modus lagi nggak bawa dompet dan pinjem duit aku. Hahaha.”
“Ih, aku beneran nggak bawa dompet, Mas. Karena dompet aku ada di tas satu lagi, dan saat itu tas aku lagi dibawa dengan Zeya. Tapi, kamu juga modus, kan, kamu minta ganti rugi duitnya dengan cara ajak aku ngedate.” Ambar memeletkan lidah.
“Itu bukan modus, Sayang. Itu namanya mencari kesempatan dalam kesempitan.”
“Tuh, kan, namanya modus!”
“Hahaha, iya-iya. Aku yang modus.”
“Terus kamu ingat nggak waktu kamu melamar aku? Kita belum sebulan kenal, dan kamu tiba-tiba mau main ke rumah aku. Dan langsung bilang ke Papa kalau mau nikahin aku. Orangtuaku langsung syok banget.”
“Hahaha, orangtuamu sempat meragukan aku. Karena saat itu aku baru mau wisuda.”
“Eh, tahunya kamu jadi dosen hebat dan killer ya.”
“Jodoh nggak ada yang tahu, kan.”
“Iya, seperti kita ini, Mas. Aku pikir, kamu adalah jodohku. Ternyata, jodohmu adalah Zeya.”
“Ambar!” Digta berseru kencang. Dia mulai tidak suka dengan pembahasan yang sudah melenceng ini.
“Tapi, aku tetap merasa senang kok, Mas. Gimana pun juga, aku pernah ada di dalam hatimu.”
“Kamu akan tetap ada di hatiku, Ambar. Bahkan di tempat yang paling spesial. Aku tidak mengizinkan orang lain mampu mendobrak hatiku, termasuk Adikmu.”
“Mas, aku mohon. Berbaiklah dengan Zeya.”
“Baik, bukan berarti aku harus mencintainya, Ambar.”
“Janji denganku, kalau kamu tidak akan berpisah dengannya.” Ambar mengacungkan kelingking.
Digta menarik napas frustrasi.
“Mas, janji dulu,” paksa Ambar lagi.
“Ya.” Digta menjawab singkat dan terpaksa mengaitkan kelingking mereka. “Aku tidak siap kehilanganmu, Sayang.”
“Kehilangan adalah sesuatu yang pasti terjadi, Mas.“
“Tapi, tidak ada perpisahan yang lebih menyakitkan, daripada berpisah karena kematian. Tak peduli seberapa besar aku merindukanmu, kamu tetap tidak akan ada lagi di sini bersamaku.”
“Tapi, aku akan tetap ada di hatimu, kan, Mas. Bisa bertemu kamu, adalah kebahagiaan yang tidak bisa aku definisikan dengan kata-kata. Aku bersyukur, karena aku bisa menemukan laki-laki sebaik dan sehebat kmau, Mas. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.”
“Akulah lelaki yang paling beruntung karena bisa mengenal kamu, Ambar. Kalau aku dikasih kesempatan untuk memutar waktuku membali, aku akan tetap bertemu kamu dan mencari kamu, Ambar. Bisakah kamu tidak usah pergi saja? Aku ingin kamu tetap ada di sisiku, Ambar. Aku mohon.” Pada akhirnya air mata Digta pun tumpah dia tidak bisa menahan kesedihan ini.
Begitupula dengan Ambar. Akhirnya mereka saling menangis satu sama lain. Membuat suasana ruangan ini menjadi tempat paling mengarukan di dunia.
Meskipun sulit menerima kenyataan untuk berpisah. Tapi, itu akan tetap menjadi konsekuensi disetiap pertemuan.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
HIKSSS, sedih yaaa.
Jangan lupa vote ya teman.