
Setelah Kiara pulang, Digta memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya.
Zeya yang saat itu sedang asyik bermain games di ponselnya—menatap kehadiran Digta dengan kening berkerut.
“Loh, Bu Kiara sudah pulang? Cepat amat.” Komentar Zeya.
“Bu Kiara sudah tahu.” Digta ikut bergabung di kasur.
“Tentang?” Zeya menoleh.
“Tentang hubungan kita.”
“Apa?” Zeya syok. Perempuan itu merubah posisi tubuhnya menjadi menghadap Digta. “Mas memberitahu Bu Kiara kalau kita sudah menikah?”
Digta mengangguk mantap.
“Kenapa, Mas?”
“Saya tidak mau Bu Kiara mendekati saya terus. Saya takut dia akan kecewa nantinya karena terlanjur menyukai saya. Jadi, lebih baik saya beritahu sekarang, agar Bu Kiara berhenti berharap kepada saya.” Jeda sejenak, Digta mengambil napas. “Dan lagi, saya ingin fokus kepada pernikahan kita saja.”
Sontak, kedua alis mata Zeya naik. “Maksud Mas Digta?”
“Iya, saya ingin fokus dengan hubungan kita. Saya berharap, kita tidak melakukan hal bodoh lagi seperti berpacaran dengan orang lain. Meskipun awalnya saya tidak bisa menerima pernikahan ini, tapi pernikahan ini sudah terlanjur di bentuk. Kenapa kita tidak coba untuk saling mencintai satu sama lain?”
Zeya menelan ludah kelat. Benarkah seorang Digta bicara seperti itu?
“Kamu mau mencobanya?” Tanya Digta lagi dengan wajah datar dan dingin.
“Ng—bukankah harusnya kita bercerai saja untuk membuat diri kita berdua bahagia?”
“Apa dengan bercerai, kamu yakin akan bahagia? Kamu tidak takut dengan statusmu yang berubah jadi janda?”
“T-tapi, aku takut hubungan ini tidak akan berhasil, Mas. Bagaimana mungkin kita bisa saling mencintai satu sama lain. Sedangkan kita hidup sebagai tom and jerry setiap harinya.”
“Itulah mengapa kita harus mencobanya.”
“Dengan cara apa, Mas?”
“Bersikap seperti pasangan suami-istri pada umumnya.”
“Maksudnya?”
“Jika kamu memberikan seluruh jiwa dan ragamu untuk saya, maka saya akan melakukan hal sebaliknya. Maybe, kita coba dengan first kiss dulu?”
“Apa?”
“Ng—ya.”
Zeya menarik napas dalam-dalam lagi. Entah mengapa, Zeya menjadi gugup harus bertatapan dengan Digta sedekat ini.
“T-tapi waktu itu Mas sudah pernah mencium saya.”
“Waktu itu ciuman tanpa perasaan. Kali ini, kita akan coba dengan menggunakan perasaan.”
Jeda, Zeya kembali menarik napas.
“Okay,” kata Zeya akhirnya.
“Okay?” Digta mengangkat setengah alis.
“Kita coba ciuman saja agar nggak canggung.”
“Okay,” jawab Digta. Lalu, lelaki itu mendorong tubuhnya mendekat. Membuat Zeya kaget dan berusaha untuk mundur. Tapi, Digta menahan pergerakannya.
__ADS_1
“Kamu majuan dikit.” Perintah Digta.
Zeya pun berusaha untuk duduk lebih maju.
“T-terus gimana?” Zeya benar-benar merasa canggung. Karena ciuman kali ini rasanya pasti berbeda.
“Kamu diam saja, biar saya yang mulai.”
“Okay.”
Digta menangkup wajah Zeya menggunakan telapak tangannya. Wajah Zeya benar-benar mirip Ambar jika dilihat dari jarak sedekat ini. Lalu, perlahan demi perlahan Digta mendekatkan bibirnya dan membuat bibirnya menempel di bibir Zeya.
Zeya kaget dan refleks mendorong Digta.
“Kenapa?” Digta ikutan kaget.
“S-sorry, aku canggung.”
“Santai saja.”
Digta mengulang ciuman mereka. Lelaki itu menempelkan bibirnya dan tidak hanya mengecupnya saja. Tapi, juga ******* bibir Zeya.
Zeya melotot, berusaha mendorong Digta lagi, tapi Digta menahan tubuh Zeya dan semakin memperdalam ciuman mereka.
Digta mengarahkan tangan Zeya untuk menyentuh wajahnya.
Ciuman mereka semakin dalam dan intim. Sampai Digta mendorong Zeya baring di tempat tidur.
Digta berhenti sejenak sambil mencari napas.
Wajah Zeya sudah bersemu merah menahan malu.
“Kamu pernah berbubungan intim dengan Zega?” Tanya Digta tiba-tiba.
“Ha? Gimamana?“
Zeya menggeleng. “Aku masih perawan, Mas.”
“Benar kah?”
“Iya.”
“Okay.”
“Okay?”
“Kita suami-istri, bukan?”
“I-iya, sih. Tapi, maksudnya apa? Bukankah, kita cuma ciuman saja?”
“Kita coba hubungan yang lebih jauh dan intim lagi untuk memperbaiki keadaan agar kita menjadi lebih dekat. Saya akan melakukannya dengan lemah lembut.”
Zeya mengerti maksud dari perkataan Digta. Tapi, entah mengapa Zeya menjadi orang tolol yang tidak bisa melakukan apapun selain diam.
Ketika Digta mulai mencium bibirnya kembali dengan dalam, sambil memasukkan tangannya ke dalam pakaian Zeya. Membuat Zeya melengkungkan punggung karena merasa geli. Sentuhan Digta di tubuh Zeya membuat Zeya bergetar.
Digta mengelus perut Zeya.
Lalu, pelan-pelan Digta membuka pakaian Zeya.
Zeya menyentuh tangan Digta dan menghentikan pergerakan lelaki itu.
“M-mas, a-aku belum siap. A-aku takuut.”
__ADS_1
“Saya akan melakukannya dengan pelan dan penuh perasaan. Saya janji, bahwa ini akan menjadi pengalaman terbaik kamu yang tidak akan kamu lupakan.”
Tiba-tiba, Digta sudah membuka seluruh pakaian Zeya. Zeya menyilangkan tangan di dada karena merasa malu.
Digta tak mampu berkedip saat pertama kali melihat tubuh Zeya yang putih dan mulus.
“M-mas, saya malu.” Zeya memejamkan mata, bahkan ia tidak sanggup menatap manik mata Digta.
Digta justru tersenyum. “Kamu merona.”
Digta juga ikut membuka pakaiannya dan kembali menindih Zeya. Digta mencium Zeya lagi, mengecup pelan tubuh Zeya dari atas kepala hingga ujung kaki.
Sampai moment ini pun akhirnya dimulai.
Ketika untuk pertama kalinya, Digta memasukkan miliknya ke dalam tubuh Zeya.
Membuat Zeya berteriak karena merasakan sakit. Meski hal itu sulit dilakukan, karena Zeya memang masih perawan. Digta berusaha mendorong tubuhnya lagi dan lagi sampai berhasil menembus diri Zeya lebih dalam lagi.
Zeya kembali berteriak. “Ah.”
Digta menutup mulut Zeya dengan ciumannya. Setelah berhasil masuk ke dalam tubuh Digta. Lelaki itu mulai goyang dengan irama. Naik-turun, penuh kelembutan.
Sampai Zeya terbuai dan melupakan semua rasa bencinya kepada Digta.
Mengapa rasanya bisa senikmat ini?
Maafkan aku Mba Ambar, tapi Mas Digta sudah menjadi milikku. Dan akan menjadi milikku selamanya.
Siang itu, Digta akhirnya berhasil menebus benteng pertahanan Zeya.
Tidak ada lagi Zega, dan Kiara di dalam hidup mereka. Karena sekarang, mereka akan fokus kepada hubungan pernikahan mereka.
***
Zeya melotot saat menatap langit-langit di kamarnya.
Tadi itu apa?
Zeya mengintip tubuh telanjangnya di balik selimut.
Tadi itu apa?
Zeya menghadap ke samping, menatap Digta yang tertidur lelap di sebelahnya dengan kondisi yang sama pula.
Zeya menitikkan air mata.
Kenapa dia harus menangis? Entahlah. Zeya merasa sedih, kacau dan gila.
Bagaimana mungkin dia bisa berhubungan intim dengan Kakak iparnya sendiri?
Ralat, kini Digta telah sah menjadi suaminya. Lalu, apa yang harus dia sesalkan.
Zeya menutup wajah dengan telapak tangan dan menangis lagi.
Suara tangisan itu didengar oleh Digta, dan membuat lelaki itu membuka mata. Ia melihat tubuh Zeya bergetar hebat saat menangis. Lantas, Digta menggeser posisinya lebih dekat dengan Zeya.
“Hei, kenapa?” Tanya Digta dengan suara lembut.
Zeya tidak langsung bicara. Perempuan itu terus menangis di dada Digta.
“Sssttt….” Digta berusaha menenangkan Zeya dan mengusap-usap pundak perempuan itu. “Apa saya melakukannya dengan kasar? Apa kamu merasa sakit?”
Zeya tidak langsung bicara, dan hanya mampu menggelengkan kepala.
__ADS_1
Perasaan wanita memang susah ditebak. Tapi, Digta hanya mampu menenangkannya.
“It’s okay, Zeya. Dan sorry.”