Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang
23. Bukan Terjebak Dalam “CINTA”


__ADS_3

“Aduhh….”


Zeya tidak berhenti meringis karena kakinya terasa begitu menyakitkan. Luka robek di lututnya cukup lebar, hingga darah tidak berhenti mengalir.


Bagaimana pun juga, Digta juga punya belas kasihan. Dia menghidupkan senter di ponselnya untuk menerangi mereka di tempat yang gelap ini.


Lalu, Digta membuka jaket kulit, dan merobek kain kemejanya di bagian bawah.


Membuat Zeya terkejut. “Eh, Mas Digta mau ngapainnnn!”


“Berisik kamu.”


“Mas, aku masih perawan….” Zeya merengek seperti bayi.


Digta enggan menanggapi sikap kekanak-kanakkan adik iparnya dan langsung membersihkan luka di lutut Zeya pelan-pelan, kemudian mengikat lutut Zeya dengan kain di kemeja yang barusan dia sobek.


Digta mengikat kain tersebut dengan kuat agar darahnya tidak mengalir lagi.


“Aduh duhhh.” Zeya menjambak rambur Digta tanpa sengaja.


“Aduh, sakit!” Keluh Digta.


“Sorry, Mas. Tapi lututku lebih sakit lagi!” Seru Zeya masih meringis kesakitan.


“Tahanlah sebentar lagi. Kalau hujan sudah reda, saya akan membawamu keluar dari sini,” ucap Digta menjauh dari Zeya setelah selesai mebaluti luka perempuan itu.


Lalu Digta mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Ambar. Agar istrinya itu tidak begitu khawatir.


“****!” Digta mengumpat.


“Kenapa, Mas?” Zeya melihat wajah panik Digta.


“Nggak ada sinya di sini.”


“Apa?”


Digta naik ke atas meja dan mengangkat tinggi-tinggi ponselnya sampai ke atap. Tapi sinyal di ponsel tidak juga muncul.


“Gimana? Sinyalnya dapet?” Zeya penasaran.


Digta menggeleng dan turun dari meja.


Zeya melenguh kecewa. Memikirkan harus berada di dalam gudang ini bersama kakak ipar yang nyebelin, bikin kepala Zeya mumet.


Apalagi, Digta ini laki-laki normal. Bisa saja Digta bersikap cabul pada Zeya, kan?


Sedangkan Digta memutuskan untuk duduk di atas meja sambil bersedekap. Kadang dia melamun, kadang dia memejamkan mata sampai menunggu hujan reda.


Ketika dia merasa suara hujan sudah tidak terdengar lagi dari luar. Digta lompat dari meja.


“Hujannnya sudah berhenti. Kita langsung balik aja ke Villa.” Digta melangkah menuju pintu dan hendak membukanya.


Tapi, Digta justru kesulitan membuka pintu. Digta berusaha membuka pintunya kembali dengan cara mendorong ataupun mendobrak. Tetapi tidak berhasil.


“****! ****! ****! Semua ini karena kamu, saya jadi ikutan sial. Kalau saja kamu tuh diem aja di villa dan nurut dengan Mbak kamu. Maka semua ini tidak akan terjadi!” Digta langsung memborbardir Zeya dengan amarah.


“Kenapa Mas Digta jadi nyalahin aku, sih?”


“Terus saya harus nyalahin siapa? Dinding? Meja? Hujan? Siapa, ha?!” Bentak Digta. Emosi lelaki itu tampak begitu kalut. Zeya selalu bikin hidupnya susah, dan hal itu membuat Digta benar-benar muak!


Zeya mengunci mulutnya. Dia enggan berkomentar lagi karena takut.

__ADS_1


“Haaah!” Digta melenguh panjang sambil menarik rambutnya ke belakang, dengan frustrasi.


Lalu, lelaki itu duduk di lantai, di sudut dinding, sambil menekuk kedua lututnya, dan kepalanya bersandar pada dinding.


Tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Mereka saling diam, dan suasana mendadak begitu mencekam, hening, senyap, sunyi. Hanya ada suara jangkrik dan tetesan hujan yang terdengar.


Lalu tiba-tiba Zeya berteriak kencang. “Tolooongggg!!! TOLOONGGGGG!! TOLOONNGGGGGGGGGG!!!”


Digta hanya memperhatikan perempuan itu. “Percuma. Pemilik gudang baru datang besok pagi. Tunggu saja sampai besok,” kata Digta.


Zeya mengernyit. “Darimana Mas tahu?”


“Saya dan Ambar sering menginap di villa ini. Dan gudang ini memang sudah ada sejak lama, ini gudang-gudang kayu bakar. Dan setiap subuh orangnya akan mencari kayu dan mengumpulkannya di gudang ini,” jelas Digta.


Meskipun begitu, tetap saja Zeya merasa hidupnya tidak tenang jika ia harus terjebak bersama kakak Iparnya di dalam gudang ini.


Ah, sialan!


Zeya melipat tangan di dada, memeluk dirinya sendiri karena tubuhnya mulai menggigil. Melihat hal itu, Digta langsung melemparkan jaket ke arah Zeya.


“Pake itu.”


“Makasih,” ketus Zeya sambil menggunakan jaketnya.


Tapi, hal itu justru tidak membantu Zeya. Perempuan itu begitu ringkih dan masih kedinginan. Belum lagi luka di lututnya membuat tubuh Zeya semakin menggigil.


Digta melihat bibir Zeya mulai membiru dan membeku.


“Zey, kamu baik-baik saja?”


Zeya hanya mampu menggeleng.


“Zey, tubuhmu dingin sekali.”


“A-ku memang kedinginan, Mas.”


Digta menggesek kedua telapak tangannya hingga terasa panas dan menempelkan telapak tangan Digta ke wajah Zeya. Dia melakukan hal itu berulang kali.


“Mas, k-kalau seandainya, aku mati—“


Digta langsung menutup mulut Zeya dengan telapak tangannya. “Jangan drama kamu, ini bukan sinetron. Malaikat aja bingung mau cabut nyawa kamu, karena kamu suka melawan. Takutnya, kamu malah melawan dengan malaikat.”


“Is!” Zeya memonyongkan bibir.


Lalu, Digta membuka kemejanya.


“Ih, Mas mau ngapain?”


“Asal kamu tahu, suhu tubuh saya ini hangat, bahkan tubuh saya bisa lebih panas di bandingkan individu lain, kemungkinan dapat disebabkan oleh proses metabolisme tubuh. Pada saat saya beraktivitas,bekerja, atau setelah makan, suhu tubuh saya dapat meningkat satu derajat celsius atau lebih tinggi dari individu lainnya, sehingga orang lain dapat merasakan kulit saya lebih hangat daripada orang lain. Dan dalam kondisi seperti ini, Saat berpelukan, tubuh mengeluarkan hormon oksitosin yang menciptakan rasa hangat.” Penjelasan Digta yang panjang lebar sulit dimengerti.


Entah karena Zeya terlalu bodoh, atau terlalu terpesona ketika melihat dada telanjang Digta yang ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus.


“M-maksud Mas Digta apa?”


Digta tidak banyak omong, dia menarik kepala dan telapak tangan Zeya ke dadanya. Lalu sebelah tangan Digta merangkul bahu Zeya, mendekap wanita itu lebih dekat.


Ternyata benar apa yang dikatakan Digta, subuh tubuhnya jauh lebih hangat. Dan Zeya merasa lebih baik. Sampai akhirnya, mereka ketiduran di gudang dalam kondisi masih berpelukan.


***


Bias cahaya yang masuk melalui ventilasi gudang membuat pandangan Digta silau. Lelaki itu lebih dulu membuka mata, dan melihat Zeya masih tidur dengan nyenyak di atas dadanya.

__ADS_1


Membuat dada Digta menjadi basah. What? Basah? ****!


Digta mendorong kepala Zeya menjauh, membuat perempuan itu terbangun.


“Aw!” Zeya meringis.


“Kamu ngences di dada saya!” Seru Digta dengan kesal, lalu mengambil kain untuk membersihkan dadanya yang basah.


“Sorry.” Zeya menjadi kikuk. Dia tidak mungkin bilang kalau dada Digta terlalu nyaman seperti tidur di springbed.


Lalu Digta bangkit dan menggunakan kemejanya kembali. “Siap-siap, sebentar lagi, gudang akan dibuka.”


“I-iya.” Zeya cemberut. Tapi dia masih tetap tidak bisa bergerak karena kakinya sakit.


Tepat pukul tujuh lewat sepuluh menit, terdengar suara seseorang membuka pintu gudang dengan susah payah. Lelaki tua berumur enam puluh tahun tersebut kaget ketika melihat ada orang di dalam gudangnya. Dan lelaki itu mengenali Digta dengan baik.


“Mas Digta?”


“Pak Slamet. Tadi malam, saya dan Adik ipar saya terjebak di dalam gudang ini. Tapi, gudangnya tidak bisa terbuka.” Digta langsung menjelaskn agar tidak terjadi salah paham.


“Waduh, Pak. Ini gudang sudah tua. Pintu besinya juga sudah berkarat. Makanya kalau mau masuk gudang, saya tidak pernah menutup pintu dan mengganjal pintunya. Karena kalau tertutup, pintu tidak akan bisa terbuka dari dalam, harus dibuka paksa dari luar.” Jelas Pak Slamet panjang lebar. “Tapi, Bapak tidak apa-apa, kan?”


“Saya baik-baik saja. Tapi, kondisi Adik ipar saya cukup kacau. Bapak bisa membantu saya dan Adik ipar saya untuk naik ke bukit?”


“Bisa, Pak. Aman.”


Digta membantu Zeya berdiri dengan susah payah, tapi Zeya sulit berpijak pada kakinya sendiri.


Akhirnya, Digta menggendong Zeya. Dan Pak Slamet membantu Digta untuk mengangkut Zeya naik ke atas bukit. Setelah menguras energi cukup banyak, akhirnya Digta dan Zeya berhasil naik ke atas bukit.


“Makasih ya, Pak,” ucap Digta pada Pak Slamet yang lebih memilih untuk tetap berada di bawah bukit.


“Sama-sama, Mas Digta.”


Lalu, Digta kembali menggendong tubuh Zeya dan membawanya kembali ke villa.


“Kelihatannya Pak Slamet kenal banget dengan Mas Digta ya.” Zeya membuka pembicaraan saat mereka masih di jalan.


“Kan, sudah saya bilang kalau saya dan Ambar sering ke villa ini. Jadi, mereka sudah hafal dengan saya.”


“Oh, begitu.”


Lalu, Zeya melihat ada darah di dahi Digta. Entah kapan luka itu muncul.


“Mas, dahi Mas Digta berdarah.” Zeya hendak menyentuh.


“Jangan sentuh!” Seru Digta cepat, dengan kalimatnya yang dingin.


Zeya tidak jadi menyentuh. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Digta yang ketus dan dingin. Hal ini bikin jantung Zeya berdebar.


“Makasih ya, Mas,” ucap Zeya sungguh-sungguh.


Digta tidak menjawab. Mereka hanya diam sampai akhirnya, mereka tiba di villa.


Ternyata, Ambar sudah menunggu kehadiran mereka dengan cemas bersama penjaga villa, dan dua warga di sekitar villa.


“Mas Digta…. Zeya….” Mengetahui kemunculan suami dan adik iparnya, Ambar sampai bangkit dari sofa. Ia melotot kaget, ketika melihat Digta menggendong tubuh Zeya.



**Bantu vote-nya ya, teman-teman**

__ADS_1


__ADS_2