
“Barangnya sudah disiapin semua, kan?” Tanya Digta dengan wajah datar ketika melihat Zeya berusaha bangkit dari kasur rumah sakit.
“Sudah, Mas.”
“Ayaaaah, kita mau ke tempat Ibu yaa?” Tanya Ciya dengan mata membulat sempurna.
“Iya, Nak,” jawab Digta sambil senyum. “Yasudah, ayo pulang. Kita langsung menyusul Ambar saja ke rumah sakit.” Pintah Digta sambil membawa beberapa tas dan melangkah menuju luar pintu.
Lelaki itu melihat adik iparnya sejenak yang berusaha berjalan sendirian.
“Kamu bisa jalan sendiri, kan?” Lagi-lagi, nada Digta dingin.
Zeya menganggukkan kepala. “Bisa kok, Mas.”
“Oke.”
Digta dan Ciya melangkah lebih dulu keluar dari ruang rawat inap. Mereka masuk ke dalam lift bersama. Digta meletak tas di lantai sambil menekan tombol agar pintu lift tidak tertutup sampai Zeya berhasil masuk ke dalam lift.
“Makasih, Mas,” ucap Zeya sungkan setelah berhasil masuk ke dalam lift.
Dan pintu lift tertutup, membawa mereka sampai ke lobby. Ketika berjalan melewati lobby, Digta berhenti melangkah sejenak saat melihat seorang Bapak-Bapak berwajah familier sedang menangis melihat keranda istrinya di dorong menuju kamar mayat.
Bapak-Bapak tersebut yang dia temui di depan rumah sakit saat membeli sarapan, dan memberikannya sebatang rokok. Lelaki itu bilang kalau istrinya koma karena kecelakaan. Apakah, hari ini adalah hari kepergian istrinya sampai membuat lelaki itu menangis?
Padahal kemarin, lelaki itu sendiri yang meminta Dipta untuk tenang menghadapi situasi seperti ini. Tapi pada akhirnya, lelaki itu pula yang menangis paling kencang.
Entah mengapa, hati Dipta teriris. Karena Dipta pasti akan merasakan hal yang sama. Menangis histeris ketika istrinya dipanggil oleh Tuhan.
Dipta hanya menunggu waktu saja.
“Mas….” Panggil Zeya. “Ada apa?”
Dipta tersadar dari lamunan panjang. “Tidak ada.” Lalu lelaki itu kembali melangkah lebih dulu melewati tubuh Zeya.
Mobil mereka pun melesat meninggalkan rumah sakit. Dipta menghubungi Mama mertuanya.
“Ma, mama sudah ada di rumah sakit bersama Ambar, kan?” Tanya Digta ketika panggilan mereka telah terhubung.
“Mama sudah sampai dari pagi, Digta.”
Jawaban Mama bikin Digta merasa lega.
“Zeya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Sekarang, kami sudah dalam perjalanan mau ke Jakarta. Kami akan langsung menyusul Ambar. Gimana kondisi Ambar, Ma?”
Yang terdengar pertama kali adalah isakan tangis dari Mama. Membuat Digta semakin khawatir dan cemas.
“Kondisinya kritis, tapi Ambar masih sadarkan diri.“
Hati Digta pedih mendengar kabar tersebut.
“Bisa aku bicara dengan Ambar, Ma?”
“Bisa. Sebentar ya…” lalu terdengar suara Mama bicara pada Ambar. “Mbaar, suamimu ingin bicara.”
Tak lama, suara Ambar di telepon pun terdengar. “Mas….” Suaranya begitu lirih dan parau.
__ADS_1
“Mbar….” Digta menahan tangisnya, dia tidak ingin terdengar begitu lemah di hadapan sang istri. “Tunggu aku di sana. Aku, Zeya dan Ciya sedang dalam perjalanan menuju ke sana, Sayang. Plis, aku yakin kamu pasti kuat.”
“Mas…. Aku minta maaf, jika aku punya banyak salah dengan kamu.”
“Enggak, Ambar. Aku nggak ingin mendengar permintaan maafmu sekarang. Aku hanya ingin kamu menunggu kehadiran aku dan anak kamu. Aku yakin, kamu kuat sayang. Ambarku, Ambar yang kuat, kan?”
Zeya meneteskan air mata saat melihat ekspresi kesedihan dari Digta.
“Iya, Mas. Aku sayang kamu.”
“Aku juga sayang dan cinta dengan kamu, Ambar. Aku rela menghabiskan hidupku hanya untuk kamu, Ambar. Kita belum jalan-jalan, kan? Ingat nggak, kamu ingin hadiah ulang tahun pernikahan kita jalan-jalan ke Swiss? Minggu depan adalah annivesary pernikahan kita, Sayang. Dan aku janji akan membawa kamu ke Swiss.”
Ambar menyeringai. “Iya, Mas. Aku tunggu janji kamu ya……”
“Iya, sayang.”
Digta akhirnya memutuskan sambungan, karena dia sudah tidak sanggup lagi untuk mendengar suara Ambar. Digta menghantukkan kepalanya ke stir kemudi berulang kali. Dia mengepalkan tangan kanan, dan menempatkan tangannya ke mulut. Dia tidak bisa menahan tangis di kondisi seperti ini.
Zeya pun melepaskan tangisannya penuh dengan rasa sakit yang tertanam di hati ketika melihat Ambar berjuang sendirian. Sedangkan Ciya—yang tidak tahu mengapa Ayah dan Tantenya menangis—hanya bisa menatap dengan heran.
***
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Digta berusaha untuk tetap hidup saat dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Untunglah, mereka tiba di rumah sakit dengan selamat.
Mereka segera keluar dari mobil setelah mobil terparkir di pelataran rumah sakit, dan berjalan cepat menuju ruang rawat inap Ambar.
Hancur. Satu kata yang menggerogoti perasaan Digta ketika melihat Ambar terbaring lemah bersama alat-alat yang membantu dirinya untuk tetap hidup.
Kemudian Ambar terbatuk, batuk yang mengeluarkan banyak darah. Digta langsung berlari menghampiri istrinya.
“Mas, kamu sudah datang?” Ambar tersenyum pada Digta.
Sedangkan Digta, berusaha keras menahan air matanya agar tidak terjatuh. “Aku pasti datang, Sayang.”
“Ibuu kenapa….” Ciya melengkungkan bibir ke bawah ketika melihat kondisi sang Ibu yang terlihat menyedihkan.
“Sini, Nak.” Ambar melambai untuk memanggil Ciya.
Ciya pun melangkah mendekati sang Ayah. Digta menggendong Ciya agar bisa memeluk Ambar.
“Sebentar lagi, Ibu akan pergi jauhhh sekali. Ibu mau Ciya jadi anak baik ya.”
“Kenapa Ibu harus pergi jauh?”
“Karena setiap manusia, sudah waktunya untuk pergi jauh. Nanti, ada Ayah dan Tante Zeya yang menjaga Ciya.”
Ciya menatap Digta dan Zeya bergantian. “Tapi, Ayah tidak pandai membacakan dongeng untukku, Ibu.”
“Tante Zeya pinter loh, baca dongeng. Tante Zeya juga jago nyanyi.”
“Beneran, Bu?”
Ambar mengangguk. “Jadi, Ciya nggak boleh nakal ya. Harus menjadi anak yang baik dan pinter.”
“Iya, Ibuuu…”
__ADS_1
“Ciya janji?” Ambar mengulurkan kelingking.
“Janji, Ibu.” Dan Ciya membalas kelingking Ambar.
“Ma, sudah waktunya untuk memanggil Pak Anto.” Ambar menatap mamanya penuh mohon.
Mama mengangguk. “Baik, Mama panggil dulu.”
Lalu, Ambar menatap papanya. “Papa sudah siap, kan?”
Papa tidak menjawab. Lelaki yang selama ini selalu kuat di depan keluarganya—hanya bisa menunduk lemah sambil mengusap ujung mata yang sudah dibasahi oleh air mata.
“Pak Anto siapa, sayang?” Tanya Digta heran.
“Nanti, kamu akan tahu.” Ambar hanya senyum.
Tak lama kemudian, Mama kembali muncul ke dalam ruangan sambil membawa lelaki yang bernama Pak Anto tersebut.
“Sudah siap, Bu? Mana yang mau dinikahkan?” Tanya Pak Anto sambil menatap satu per satu di antara mereka.
Digta mengerutkan dahi. “Nikah? Siapa yang mau menikah?”
“Mas….” Ambar senyum lagi. “Aku ingin melihat kamu dan Zeya menikah, sebelum aku pergi.”
“Apa?” Zeya terpekik kaget.
“Kamu sudah gila ya, Ambar!” Seru Digta dengan nada berapi-api. “Tidak, aku tidak setuju! Bagaimana mungkin, kamu minta aku dan adikmu nikah di saat kondisimu seperti ini! Tidak!” Tegas Digta. “Tidak ada pernikahan hari ini!” Digta pun keluar dari ruang rawat inap Ambar.
“Aku juga nggak mau, Mba! Ini namanya pemaksaan!” Zeya ikut menolak.
“Bukannya kamu sudah berjanji untuk menuruti permintaan terakhir Mba, kan? Mba ingin menjadi saksi pernikahan kalian.”
“Enggak mungkin, Mba Ambar! Apa sih yang ada di dalam pikiran Mba Ambar!” Zeya duduk di sofa sambil mengusap wajahnya furstrasi. “Mama dan Papa kenapa diam saja? Jangan-jangan, kalian juga sudah tahu tentang rencana Mba Ambar? Itulah alasannya kalian paksa aku tinggal serumah dengan Mba Ambar? Kenapa sih, kalian jahat banget denganku! Aku hanya ingin menikah dengan lelaki yang aku cintai. Bukan dengan kakak iparku sendiri!”
“Zeya, andai Ambar punya pilihan lain. Mama dan Papa tidak akan menyetujui keputusan Ambar. Tapi, pada kenyataannya, Ambar juga tidak punya pilihan lain, Zeyaa. Mama hanya ingin kamu mengerti.” Mama mulai emosional.
“Papa akan menyusul Digta.”
Papa keluar dari kamar dan melihat Digta duduk di kursi tunggu—depan ruang rawat inap Ambar.
“Digta….” Papa duduk di sebelah Digta. “Seseorang yang pertama kali merasa kehilangan ketika anaknya pergi adalah orangtuanya. Karena kami melahirkannya, kami membesarkannya, kami menyekolahkannya, dan kami pula yang melepaskannya ketika dia menikah dengan orang lain. Tapi, kami nggak siap, ketika melepaskannya harus pergi kembali kepada yang Kuasa. Kami belum siap, Digta.”
Papa membungkuk dan menangis. “Bisa kamu tanyakan dengan Mamamu. Apa aku pernah menangis selama berpuluh-puluh tahun menikah dan menjalani rumah tangga?” Papa menggeleng. “Bahkan, saat aku melepaskan Ambar kepadamu. Aku tidak menangis, karena aku percaya denganmu. Tapi ketika aku mengetahui Ambar punya penyakit yang mematikan, ayah siapa yang tidak terluka hatinya? Anakku Ambar adalah anak yang paling baik, anak yang paling pintar, dan juga cantik. Aku bangga dengan Ambar. Ambar tidak pernah menuntut, tidak pernah banyak minta kepada kami. Sekarang, ketika Ambar banyak permintaan. Bagaimana mungkin kami tidak menurutinyanya. Ambar ingin, papa dan mama tidak menemuinya di saat dia sakit, sebagai permintaannya, kami menyutujuinya. Dan Ambar meminta Zeya agar tinggal di rumahnya, kami menyetujuinya. sekarang Ambar ingin kamu dan Zeya menikah karena Ambar tidak ingin ada wanita lain yang menjagamu dan membesarkan Zeya. Kita lalukan semua ini demi kebaikan, dan kebahagiaan Ambar di detik-detik kepergianya.”
Lalu, tiba-tiba Papa menjatuhkan lutut di lantai. “Aku mohon, sebagai seorang Ayah… kabulkanlah permintaan anakku.” Papa mengatupkan kedua telapak tangannya. Tetes demi teres air mata jatuh membasahi wajah Papa. “Aku mohon, Digta….”
.
.
.
BERSAMBUNG
Teman-teman, bantu vote ceritaku yaaa🥹🥹🥹🥹🥹🥹
__ADS_1