
Zeya mencuci wajahnya di wastafel toilet rumah sakit sambil menatap bayangannya di cermin.
Ambar pasti kebanyakan makan obat yang bikin pikirannya jadi kacau.
Bagaimana mungkin Ambar meminta Zeya untuk menjadi penggantinya. Dan menikahi Digta?
Sekarang Zeya mengerti, mengapa sikap Digta aneh sekali padanya tadi. Padahal, mereka sudah sepakat untuk akur. Tapi, tiba-tiba Digta mengabaikan Zeya dan enggan bertatapan mata dengan Zeya.
Digta pasti sudah mengetahui hal ini.
“Aisssh!” Zeya menendang wastafel saking kesalnya. Tapi, kakinya yang nggak seberapa kuat itu malah kesakitan. “Aduhhh…aduhhh.” Belum lagi ada orang-orang di dalam toilet memperhatikan Zeya dengan tatapan aneh.
Zeya jadi salah tingkah. Dia pun buru-buru keluar dan menyusul Ambar di rungan khusus kemoterapi.
Zeya melihat dari jendela kaca, menyaksikan Ambar dengan tatapan sedih. Tanpa sadar air matanya berlinang. Zeya belum siap jika Ambar meninggalkannya secepat itu.
Ponsel Zeya berdering. Nomor tidak dikenal berkelap-kelip di layar ponselnya.
Zeya mengernyit, tapi tetap menerima panggilan tersebut.
“Ha—“
“Di mana Ambar?” Suara di seberang sana langsung memotong ucapan Zeya.
“Siapa ini?”
“Ambar di mana? Ambar ada bersama kamu?”
“Mas Digta?”
“Kamu jangan salah paham dulu. Saya terpaksa minta nomor kamu dengan teman kamu dan menghubungi kamu karena Ambar nggak angkat telepon saya. Saya sudah di rumah, tapi nggak melihat keberadaan Ambar. Tetangga bilang, dia melihat Ambar pergi bersama kamu naik taxi. Ambar di mana sekarang?” Digta bicara panjang-lebar. Nadanya begitu mencemaskan Ambar. Membuat Zeya merenung, bagaimana mungkin Zeya bisa menikah dengan Digta, di saat Digta begitu mencintai Ambar. Dan juga, Zeya hanya ingin menikah dengan lelaki yang dia cintai.
Pernikahan indah dan bahagia adalah mimpi Zeya.
“Zeya! Kamu denger saya, nggak?!” Bentak Digta yang membuat Zeya terperanjat.
“Eh, iya, Mas. Aku lagi di rumah sakit dengan Mba Ambar.”
“Ngapain?”
“Lagi temani Mba Ambar kemoterapi.”
Digta diam sejenak. “Yasudah, saya susul ke sana.”
“Iya, Mas.”
Sambungan pun terputus.
***
Digta melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Digta tidak ingin melewatkan moment bersama Ambar, sekalipun harus menemani Ambar kemoterapi.
__ADS_1
Sekaligus, Digta ingin membicarakan tentang keberangkatan dia dan Ambar ke Malaysia untuk pengobatan. Karena Digta sudah mengajukan cuti di kampusnya.
Setelah sampai dan memarkirkan mobil di basemant rumah sakit, Digta segera masuk ke dalam rumah sakit. Menuju lantai tempat Ambar kemoterapi.
Di lorong, Digta melihat Zeya sedang duduk di kursi tinggu sendirian. Perempuan itu mendongakan kepala sambil menyandarkan kepalanya ke dinding. Sedangkan matanya terpejam damai.
Digta menjadi kikuk harus berada di dekat Zeya, karena dia tidak mungkin menikah dengan bocah ingusan ini.
“Ambar mana?” Digta duduk di sebelah Zeya. Tapi matanya menatap lurus ke depan.
Mendengar suara Digta, lantas Zeya membuka mata dan menoleh kaget. “Eh, Mas sudah datang.” Zeya memberi jarak di antara mereka.
“Ambar mana?” Tanya Digta lagi.
“Di ruangan itu.” Zeya menunjuk ke arah kanan.
Digta tidak bicara apapun selain bangkit dan mendekati ruangan Ambar. Dia hanya bisa menatap Ambar dari jendela kaca, perempuan yang sangat dia cintai terbaring lemah.
Digta tidak sanggup melihat hal ini. Jadi, dia kembali duduk di kursi tunggu.
“Aku sudah tahu,” ucap Zeya tiba-tiba.
Membuat Digta menoleh.
“Mba Ambar menjodohkan kita, kan,” kata Zeya lagi.
Digta mengernyit. “Siapa yang memberitahumu?”
Digta menyeringai. “Jangan pernah bermimpi, Zeya.”
“Dih, siapa juga yang bermimpi menikah dengan Mas Digta. Jadi, Mas Digta jangan geer ya! Karena sampai kapan pun, aku nggak sudi jadi istrinya Mas Digta.”
Digta tertawa. Sebuah tawa yang sangat mengerikan jika didengar. “Kamu pikir saya mau?” Suara tawa itu hilang. “Ambar akan tetap hidup, aku akan membawanya ke Malaysia besok.”
“Apa?” Zeya tercengang.
Digta tidak perlu menjawab keterkejutan Zeya. Karena tak lama kemudian, Ambar sudah selesai melakukan kemoterapi dan keluar dari ruangan.
“Loh, Ms Digta ada di sini juga?” Tanya Ambar kaget.
Digta langsung bangkit dari kursi. “Kamu sudah selesai?” Digta merangkul Ambar untuk segera pergi. Meninggalkan Zeya sendiri yang masih duduk di kursi.
Ambar berhenti melangkah, lalu menoleh ke belakang. “Zey, ayuk.”
Zeya pun bangkit dan mengikuti langkah mereka dari belakang.
****
Zeya duduk di kursi belakang mobil sambil memperhatikan Digta yang terus menggenggam tangan Ambar dan mencium punggung tangan Ambar.
Digta begitu mencintai Ambar, jadi kalau pun Zeya tidak sudih menikah dengannya, Zeya yakin kalau Digta pasti lebih memilih jadi duda seumur hidup.
__ADS_1
“Mbar, ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu.” Digta memulai percakapan di mobil.
“Kenapa, Mas?” Tanya Ambar penasaran.
“Aku sudah mengajukan cuti untuk seminggu ke depan.”
“Untuk apa kamu ajuin cuti, Mas? Perasaan, kita nggak ada merencanakan liburan, deh.”
“Aku akan bawa kamu ke Malayasia, Mbar.”
Seketika Ambar terdiam membeku.
“Aku akan menemani kamu melakukan tranpaltasi sumsum tulang belakang di Malaysia.”
“Mas…..” napas Ambar berat. “Aku nggak akan melakukan hal itu.”
“Kenapa, Ambar? Kenapa kamu menolak?”
“Untuk apa, Mas? Sudah aku bilang, semuanya akan percuma saja.”
“Tidak ada yang percuma di dunia ini, Ambar. Itulah sebabnya kita harus berusaha dulu.”
“Aku cuma nggak mau nanti kamu jadi kecewa, Mas.”
“Aku nggak akan kecewa, apapun hasilnya aku akan terima dengan lapang dada, Ambar.”
“Mas….” Ambar memelas, menyentuh tangan suaminya. “Cukup, aku nggak mau melakukan apapun. Aku hanya ingin hidup tenang, sampai waktunya tiba Tuhan memanggilku, Mas.”
“Omong kosong, Ambar! Aku tidak akan siap kehilanganmu. Dan aku tidak sudi, jika ada yang menggantikan sosok kamu di dalam hidupku.”
“Mas….”
“Aku nggak mau, Ambar. Jangan jodoh-jodohkan aku dengan adikmu. Kalaupun nanti kamu pergi, aku lebih baik hidup melajang seumur hidup.” Digta mencekram erat stir kemudi sampai buku-buku jarinya memutih.
Ambar menangis. Dan Zeya sendiri tidak bisa berbuat banyak selain diam menyaksikan pertikaian mereka. Zeya juga tidak akan menyetujui keputusan Ambar.
Akhirnya mobil Digta terparkir di pelataran rumah. Digta keluar mobil lebih dulu dan membanting pintu.
Membuat Ambat dan Zeya terkejut.
“Mba, aku setuju dengan perkataan Mas Digta. Aku juga nggak ingin menggantikan posisi Mba Ambar. Dan aku juga mggak akan menikah dengan Mas Digta.”
Ambar menoleh ke belakang. “Zey, Mba mohon. Kamu harus menjaga Mas Digta dan juga Ciya.”
“Aku yakin Mas Digta nggak perlu dijaga, dia sudah besar. Dan Ciya? Jika Mas Digta nggak sangggup membesarkan Ciya sendirian, dia bisa memberikan Ciya kepada Mama dan aku. Kami akan menjaga Ciya di rumah.”
“Mba percaya, kalau takdir kalian memang untuk bersama.”
Zeya menyeringai hambar. “Memangnya Mba ini Tuhan? Yang bisa menentukan takdir manusia. Ini semua hanya akal-akalan Mba Ambar saja.”
“Zey, ini permintaan terakhir dari Mba. Dan Mba mau kamu mengabulkan pernintaan terakhir Mba. Ini semua demi Mba, Zey. Agar Mba tenang di alam sana nanti.”
__ADS_1