
Zeya terus bersembunyi di belakang punggung Ambar karena takut harus menghadapi titisan Jin itu.
Ambar melangkah menuju ruang televisi. Dimana Digta tengah menonton berita di televisi dengan wajah yang super serius.
“Mas….” Ambar duduk di sebelah Digta. Perempuan itu menyentuh paha Digta sambil menggesek paha suaminya penuh kelembutan. “Itu Zeya sudah ada di sini,” kata Ambar lagi.
Digta tidak memberi tanggapan apapun selain menopang kaki kirinya di paha kanan.
Ambar menatap Zeya, sambil memberi kode agar Zeya segera bicara.
Zeya menelan ludah, lalu berdehem. Ia bingung harus memanggil Digta dengan sebutan Pak, atau Mas?
“Mas….” Akhirnya Zeya memutuskan untuk memanggil “Mas” saja, karena mereka sedang ada di rumah. “Aku mau minta bantuan Mas Digta untuk menandatangani KRS-ku. Karena pengumpulan terakhir harus besok, Mas. Kalau enggak, aku nggak bisa ikut kuliah.” Zeya melengkungkan bibir ke bawah.
Digta menarik napas panjang. “Bukannya saya sudah bilang ya, kalau urusan kampus hanya bisa dilakukan di kampus. Bukan di rumah.”
“Tapi ini urusannya mendadak, Mas. Kalau bukan karena mendadak juga, aku nggak bakalan mau mohon-mohon begini!” Zeya keceplosan bicara dengan nada tinggi.
Membuat Ambar dan Digta jadi memelototinya. Terutama Digta, matanya begitu tajam seolah hendak menusuk pupil mata Zeya hanya dengan sekali tatap saja.
“Mas, jangan terlalu keras begitu dengan Zeya. Bagaimana pun juga, dia adik aku.” Ambar bicara selembut mungkin.
Digta menegakkan punggunnya sambil mengambil KRS milik Zeya dan menandatanganinya. “Ini.” Digta memberikan lembar KRS tersebut pada Zeya.
Bibir Zeya langsung melengkung sempurna. “Makasih banyak, Mas.” Lalu ia teringat dengan KRS Jerry. “Satu lagi, Mas,” kata Zeya hati-hati.
Digta mengerutkan dahi sembari menatap KRS Jerry lekat-lekat. “Ini punya siapa?”
“Temen aku, Mas. Dia bener-bener minta tolong dengan aku. Karena dia sudah trauma lihat Mas Digta. Dia takut banget sampe kebawa mimpi.” Zeya mulai mengarang.
Digta geleng-geleng kepala. “Temen yang aneh bisa membawa dampak buruk untuk kamu. Ini bukan mengejar S1 lagi yang bisa digunakan untuk main-main. Melanjutkan ke jenjang magister lebih sulit dan banyak saingan. Jangan terlalu menyepelekan kuliahmu,” ucap Digta dengan tegas dan sedikit garang.
“Iya, Mas. Baik.”
Meskipun bawel dan galak, Digta tetap menandatangani KRS milik Jerry. Mungkin karena pawang Digta duduk di sebelahnya. Sehingga Digta mudah luluh.
Aneh sekali memang, kalau Digta hanya bisa nurut dan lembut degan Ambar. Tapi, yah, nggak aneh juga. Karena Ambar kan, istri Digta.
Setelah selesai berurusan dengan Digta, Zeya pun segera melipir ke kamarnya dan mengunci pintu. Dia tidak akan keluar, kecuali dalam keadaan mendesak.
Malam ini, Zeya harus menyetel alarm di setiap menit agar tidak telat bangun seperti tadi pagi—yang menyebabkan keributan.
06.00
06.01
06.02
06.03
__ADS_1
06.04
Dan seterusnya.
***
Keesokan harinya, alarm Zeya terus menyala tanpa henti. Baik itu alarm di jam weker dan alarm ponsel.
Zeya meraba nakas dan mengambil jam weker, lalu melempar weker tersebut hingga hancur. Tapi alarm di ponselnya masih berbunyi tanpa henti, ia juga mengambil ponselnya dan melempar ke arah jendela kamarnya yang ternyata terbuka.
Zeya membuka matanya lebar dan tersadar kalau ponselnya telah jatuh ke lantai bawah.
Zeya pun bangkit dari kasur dan melihat ke arah jendela.
Ponselnya telah menyentuh lantai halaman depan rumah.
“Shit!” Zeya mengumpat dan segera keluar kamar.
Ambar kaget melihat Zeya berlari sambil menuruni anak tangga.
“Kamu kenapa, Zey?”
“Siapa yang buka jendela kamarku, Mba?” Tanya Zeya buru-buru.
“Aku. Karena sudah pagi. Memangnya kenapa, sih?”
Zeya memelas, dan keluar dari rumah tanpa menggunakan sendal. Saat baru mengejar ponselnya yang masih tergeletak di lantai, tiba-tiba mobil Digta keluar dari garasi dan langsung melindas ponsel Zeya.
“Aaaahhhh!!!” Zeya berteriak kencang.
Membuat Digta rem mendadak.
“Kenapa?” Tanya Digta panik, karena teriakan Zeya begitu kencang. Digta pikir, Zeya terlindas atau tertabrak dengan mobilnya.
“Handphone-ku hancurr!” Zeya histeris sambil menatap ponselnya yang malang.
Ambar yang panik mendengar suara teriakan Zeya juga ikut keluar dari rumah. “Zeya, kamu kenapa?”
“Handphone-ku.” Zeya masih menangis sedih meratapi nasibnya yang begitu malang.
Digta keluar dari mobil dan memperhatikan ban belakang mobilnya. “Untung ban mobil saya nggak bocor.”
“What?” Zeya menatap Abang Iparnya tak percaya. Bisa-bisanya, Digta memikirkan ban mobilnya yang kokoh ketika dengan mudah melindas ponsel Zeya.
Digta menatap jam di pergelangan tangannya. “Kenapa kamu belum mandi? Saya nggak mau telat seperti kemarin lagi.” Begitu ujar Digta dengan wajah tanpa dosa sambil masuk ke dalam rumah kembali.
Zeya menatap Abang iparnya penuh kebencian. “Gimana bisa Mba Ambar menikah dengan titisan Jin Tomang seperti dia?”
“Hush!” Ambar menyikut lengan Zeya.
__ADS_1
“Mba Ambar nggak lihat handphone-ku dalam kondisi mengenaskan? Mba Ambar tahu nggak, aku menabung berapa lama demi beli handphone itu. Aaaah, mana lagi miskin, nggak punya handphone lagi. Kesel!” Zeya menghentakkan kakinya sebal sambil masuk ke dalam rumah.
“Tante Zeya!” Ciya memanggilnya saat Zeya melintasi ruang makan.
Zeya berhenti sejenak sambil menatap Ciya yang sudah duduk di kursi makan dan sudah menggunakan seragam sekolah.
“Ayo sini makan!” Ciya melambaikan tangan untuk memanggil Zeya.
“Tante mandi dulu ya, baby!” Zeya melakukan flying kissing sebelum menaiki anak tangga menuju kamarnya.
“Ayah….” Kini Ciya menatap Digta yang duduk di seberangnya. “Kenapa Tante Zeya kalau bangun tidur seperti monster? Rambutnya kribo!”
“Ciya juga begitu kalau bangun tidur,” jawab Digta sambil terkekeh geli.
“Uh, Ayah! Tapi, rambut Ciya lurus seperti Ibu!”
“Ada yang bicarain Ibu ya.” Ambar datang menghampiri mereka di ruang makan.
“Ciya bilang, rambut Tante Zeya kribo, dan rambut Ibu lurus!” Ucap Ciya lagi sambil menyantap sarapannya.
Ambar tersenyum dan menarik kursi di sebelah Digta. “Menurut Ciya, cantikan Ibu atau Tante Zeya?”
“Cantikan Ibu, dong!”
“Tapi, Tante Zeya juga cantik, kan?”
“He’eh!” Ciya hanya mengangguk-anggukan kepala.
“Oh iya, Mas, ngomong-ngomong, ponselnya Zeya beneran hancur karena kelindas mobil kamu.” Ambar memulai percakapan dengan suaminya.
Digta fokus membaca berita di ponselnya sambil menyantap sarapan. “Salah dia sendiri. Gimana bisa hp-nya ada di luar?”
“Aku juga nggak tahu. Tapi, sepertinya Zeya nggak sengaja melempar hp-nya ke luar jendela.”
Digta mengerutkan dahi. “Memangnya dia ngapain, sih? Kenapa main-main di dekat jendela. Untung hanya hp-nya yang terlempar, kalau dia sampai terlempar, bagaimana?”
“Mas, Digta….” Ambar menegur. “Nanti, kalau bisa, ponselnya Zeya diganti dengan yang baru. Karena dia sudah nggak punya uang untuk beli hp baru, Mas.”
“Iya, nanti,” jawab Digta singkat.
Lantas lelaki itu segera bangkit dari kursi ketika melihat Zeya baru saja muncul di ruang makan.
“Ciya, ayo berangkat,” kata Digta pada anaknya.
Ciya pun melompat dari kursi. “Ayo Tante Zeya, kita pergi bareng.”
“Ih, aku belum sempat sarapan….” Zeya menggerutu kesal.
Tapi Digta pergi begitu saja tanpa menghiraukan Zeya.
__ADS_1