
Ketika Zeya membuka mata di pagi hari, Digta masih tidur dengan posisi yang sama seperti kemarin. Memeluk pinggang Zeya dari belakang, herannya pelukan tersebut tidak juga terlepas dari tubuh Zeya.
Meski rasanya sesak napas, tapi entah mengapa Zeya bisa merasakan kehangatan di peluk seperti itu oleh Digta.
Suara bell rumahnya berdering nyaring. Zeya berusaha melepaskan diri dari Digta. Sampai tidak sengaja mendorong tubuh Digta terlalu keras, hingga membuat lelaki itu terjatuh dari kasur.
GEDEBUK!
“Aw!” Digta meringis dan terbangun dari tidurnya.
“Mas Digta, maaf.” Zeya berusaha membantu Digta.
Tapi, Digta menepis sentuhan perempuan itu.
“Saya bisa bangkit sendiri.” Digta menarik pakaiannya yang kusut dan mengusap wajah. “Apa saya tidur di sini semalaman?” Dia menunjuk kasur Zeya tidak percaya.
Zeya menganggukkan kepala. “He’eh.”
Ting-Tong.
Bell rumah kembali berbunyi. Membuat perhatian Zeya teralihkan.
“Ada tamu, Mas. Aku buka pintu dulu.” Sambil lari terbirit-birit, Zeya keluar dari kamarnya dan menuju ruang depan untuk membuka pintu.
“Selamat pagi, Bu, saya Mbo Inah. Asisten Rumah Tangga yang akan bekerja di rumah ini,” ucap seorang perempuan berusia lima puluhan yang kini telah berdiri di hadapan Zeya.
“Perkenalkan, saya Zeya. Silakan masuk, Mbo.” Zeya menggeser posisi tubuhnya untuk mempersilakan Mbo Inah masuk lebih dulu ke dalam rumahnya. “Ayo silakan duduk dulu di ruang tamu Mbo, aku panggilkan dulu yang punya rumah ya.”
Belum sempat menghampiri Digta, lelaki itu sudah muncul duluan ke ruang tamu. Ia memperhatikan Mbo Inah dengan kening mengkerut.
“Ini Mbo Inah, yang akan menjadi asisten rumah tangga di rumah ini,” jelas Zeya saat melihat raut wajah Digta yang kelihatan bingung
“Ooh iya-iya, ini ART baru kita. Nah, karena mulai sekarang Mbo Inah akan tinggal di rumah ini. Mbo Inah bisa tidur di kamar itu.” Digta menunjuk kamar Zeya.
Membuat Zeya melotot. “Terus, aku tidur di mana?”
“Loh, kamu ya tidur dengan saya, lah. Kamu kan, istri saya. Toh, di rumah ini cuma ada tiga kamar, Zey,” jelas Digta dengan santai.
Membuat Mbo Inah kebingungan sendiri.
“Kamu beresin semua pakaian kamu dan dibawa pindah ke kamar saya.” Begitu perintah terakhir dari Digta sebelum masuk ke dalam kamarnya
Zeya cemberut sambil mengerang kesal. Padahal, dia sudah senang bukan main saat Mami dan Papi pulang. Itu artinya, dia tidak perlu harus sekamar dengan Digta lagi. Tapi, sekarang? Kenapa dia kembali terjebak di kamar Digta.
“Kalau terlalu merepotkan, saya bisa tidur di ruang tamu saja kok, Mba,” ujar Mbo Inah tidak enak hati.
Tapi mana mungkin Mbo Inah harus tidur di ruang tamu setiap hari.
“Enggak kok, Mbo. Nggak apa-apa. Aku mau beresin barang-barang di kamar dulu.”
“Tapi, Mba Zeya mau tidur di kamar Mas-nya? Apa nggak apa-apa? Nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, loh.” Mbo Inah tampak panik.
Zeya tertawa geli. “Mbo tenang saja, kami sudah menikah, kok. Karena satu dan lain hal, jadi selama ini kami terpaksa harus pisah kamar.”
“Ooh begitu toh.”
“Iya, Mbo. Sebentar ya….” Zeya mendengus sebelum masuk ke kamarnya untuk membereskan barang-barang yang akan di bawa ke kamar Digta.
Setelah memakan waktu cukup lama, akhirnya Zeya berhasil mengangkut barang-barangnya menuju kamar Digta.
Baru saja membuka pintu, ia dikejutkan dengan sosok Digta yang sedang bertelanjang tanpa menggunakan sehelai benangpun.
Refleks, Zeya segera menutup pintu kamar Digta kembali.
“Maaf, Mas!” Zeya merasa bodoh sendiri.
Sedangkan Digta buru-buru melilitkan handuk di pinggangnya. “Masuk saja.” Pintah lelaki itu.
Zeya pun masuk meski masih dalam keadaan mata terpejam.
“Mas, aku mau pindahin barang ke kamar Mas Digta.”
“Ya, silakan.”
__ADS_1
“Oke, Mas.”
Zeya melangkah sambil meraba-raba
“Lebay sekali kamu. Buka saja matamu, saya sudah pake baju.”
Zeya membuka matanya perlahan dan benar sekali, Digta sudah menggunakan pakaian lengkap. Membuat Zeya mengelus dada, ia sudah bisa bernapas dengan lega sekarang.
“Kamu kenapa belum mandi? Nggak ke kampus?”
Zeya menggeleng. “Hari ini nggak ada jadwal.”
“Oh, sama saya juga ambil libur beberapa hari.”
“Loh, kenapa, Mas?”
“Karena kasus kemarin, jadi saya memutuskan untuk off dulu. Daripada nanti ada gossip yang aneh-aneh tentang saya.”
“Ooh begitu.”
“Yasudah, kamu bantu Ciya beres-beres untuk ke sekolah, gih. Karena saya akan mengantar Ciya ke sekolah.”
“Okay, Mas.”
Setelah meletakan barang-barangnya di kamar Digta, Zeya segera keluar kamar Digta dan pergi ke kamar Ciya untuk membantu anaknya bersiap-siap.
***
“Tante Zeya, aku mau di kepang dua aja yah.” Pintah Ciya setelah selesai mandi dan mengganti pakaian menggunakan seragam sekolah.
“Siappp! Kepang dua biar keliatan makin cantik dan imuttt.”
“Ciya mau cerita, tapi jangan bilang Ayah ya.” Ciya melihat Zeya dari cermin di depannya
“Apaan tuh?”
“Di sekolah ada yang suka gangguin Ciya, jail deh, anaknya. Namanya Imran.”
“Ho-oh!” Ciya mengangguk polos.
“Mungkin dia suka dengan kamu kali, heheh.”
“Ih, anak kecil kan, nggak boleh pacaran.”
“Siapa yang suruh Ciya pacaran, temenan aja kan, nggak masalah? Asal jangan tahu Ayah. Nanti Ayah berubah jadi monster lagi.”
“Hahaha iyaaah!”
“Tante Zeya juga jangan pacaran yaa, Ciya nggak suka Tante pacaran dengan Om Zega.”
Ucapan Ciya bikin Zeya kaget. “Loh, kenapa memangnya?”
“Karena—“ Ciya berbalik badan dan berbisik di telinga Zeya. “Agar Tante dan Ayah bisa pacaran.”
“He?” Zeya tercengang sampai memundurkan kepalanya untuk melihat Ciya lekat-lekat.
“Emangnya, Tante Zeya nggak suka dengan Ayah? Ayah kan, cakepp.”
“Hehehe.” Zeya menggaruk tengkuknya. Bingung harus mengatakan apa lagi.
“Yaudah, yuk. Kita sarapan pagi.” Zeya berusaha mengalihkan pembicaraan dan membawa Ciya menuju ruang makan.
Mbo Inah sudah mempersiapkan sarapan pagi untuk keluarga mereka.
“Tante Zeya, itu siapa?” Ciya menunjuk Mbo Inah.
“Itu, Mbo Inah. Yang akan membantu mengurus rumah mulai hari ini,” jelas Zeya.
“Pagi Mbo Inah.” Ciya menyapa sambil duduk di kursi makan.”
“Pagi Non cilik.” Mbo Inah terkekeh.
Zeya ikut membantu Mbo Inah di dapur. “Mbo Inah masak apa?”
__ADS_1
“Masak nasi goreng saja mba, karena nggak ada bahan makanan di kulkas,” jawab Mbo Inah.
“Oh iya, ntar kita belanja ya, Mbo.”
“Itu, anaknya Mba Zeya paling besar ya?” Tanya Mbo Inah sambil menunjuk Ciya.
Zeya menatap Ciya sekilas. “Kenapa memangnya? Mirip ya?”
“Mirip banget dengan Mba Zeya.”
Zeya dibuatnya tersenyum. Tak lama kemudia, Digta muncul. Kali ini dia tidak menggunakan kemeja, melainkan kaus oblong dan celana pendek. Meskipun begitu penampilannya tetap rapi dan ganteng.
“Mbo, boleh bikinkan teh hangat nggak?” Ucap Digta dari arah ruang makan.
“Baik, Mas Digta,” jawab Mbo Inah.
“Biar aku saja yang bikin ya, Mbo.” Sambar Zeya.
Zeya pun langsung menyedukan teh untuk Digta. Sampai-sampai, Diga menatap tingkah Zeya dengan bingung.
“Tumben,” celetuk Digta saat Zeya menyeduh teh di meja hadapannya.
“Kenapa sih?”
“Yah, nggak apa-apa. Tumben saja.”
Digta menyesap teh hangatnya pelan-pelan. Kemudian menatap jam tangan. “Ciya, ayo kita berangkat.”
“Oke Ayah.” Ciya bangkit dari kursi setelah menyelesaikan sarapannya.
“Mas, aku boleh ikut nggak? Habisnya, suntuk di rumah.” Zeya mengajukan diri.
“Terserah,” jawab Digta singkat.
Lantas mereka pun keluar bersama dari rumah dan masuk ke dalam mobil.
Selama di perjalanan, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka. Sampai akhirnya, Ciya mulai memecahkan keheningan.
“Oh iya, Ayah… besok ada acara di sekolahku,” kata Ciya.
Membuat Zeya memutar kepalanya ke belakang. “Ada acara apaan?”
“Merayakan hari Ibu.” Ciya tersenyum. “Karena Ibu sudah pergi jauh, jadi yang menggantikan Ibu sekarang adalah Tante Zeya. Besok, Ayah dan Tante Zeya harus datang ya.”
“Loh, kenapa Ayah juga harus datang?” Digta mengerutkan dahi.
“Untuk mendampingi Ciya dan menjadi pasangan Tante Zeya.”
Digta dan Zeya saling bertatapan bengong.
***
Selesai mengantar Ciya ke sekolah, mobil Digta kembali melesat membelah jalan raya.
“Aku nggak pernah ke sekolah Ciya untuk datang ke acara-acara gitu,” komentar Zeya saat dalam perjalanan.
“Ya harus di coba. Sekarang, kamu sudah menjadi ibunya, Ciya,” balas Digta. Tatapan matanya fokus menatap jalanan di depannya.
Zeya merosotkan tubuh di kursi sambil bersedekap ketika mobil berhenti di lampu merah. Digta mengetuk-ketuk jarinya di stir kemudi sambil mengikuti akunan musik yang ada di stereo mobil. Lalu pandangannya menatap ke arah kanan, sebuah motor familier berhenti di sebelah mobilnya.
Digta melihat dengan saksama seeorang lelaki yang telah membawa motor tersebut.
Bukankah itu Zega?
Lalu, Digta fokus pada seorang perempuan yang ada di belakang Zega. Perempuan itu memeluk erat pinggang Zega.
“Zey, kamu sudah putus dengan pacarmu itu?” Tanya Digta mendadak.
“Belum. Kenapa?” Zeya menjawab santai.
“Tuh, kenapa dia bersama perempuan lain?”
Zeya menatap Digta dengan kening mengekerut. “Maksud Mas Digta?”
__ADS_1