
Akhirnya, lamaran ala-ala yang dulakukan Zega tidak berhasil. Zeya meminta lelaki itu untuk pulang saja ke rumah. Karena ada yang lebih penting lagi daripada masalah pernikahan saat ini. Nggak apa-apa, deh, jika akhirnya Zeya harus hidup sebagai perawan tua. Asalkan, Ambar bisa hidup lebih lama.
Sedangkan Digta, memilih untuk pergi setelah mengetahui kabar tersebut. Entah kemana. Tapi, Digta memberi pesan pada Zeya, untuk menjaga Ambar sebentar. Digta ingin mencari udara segar.
“Mba …..” Zeya tidak berhenti mengeluarkan air mata. Entah mengapa, air matanya nggak bisa berhenti.
“Bisa tolong ambilkan minum nggak?” Ambar tersenyum kecut.
Zeya mengangguk. Lantas mengambil gelas air minum di atas nakas. “Ini Mba.” Tangan Zeya bergetar hebat. Kenyataan ini bikin hatinya terluka.
“Makasih, Zey.” Ambar tersenyum getir.
“Sudah berapa lama Mba mengidap penyakit ini?” Tanya Zeya.
“Hmmm, aku sih tahu beberapa bulan ini karena selama ini, aku merasa baik-baik aja. Justru nggak kelihatan seperti lagi sakit.”
“Iya, aku sampai terkecoh dan nggak tahu kalau Mba Ambar lagi sakit.” Zeya menatap Ambar yang tengah meminum obat-obatnya.
“Aku sudah menjalankan beberapa terapi, tapi ternyata nggak berhasil di aku,” kata Ambar lagi. “Aku nggak mau kamu dan Mas Digta bertengkar lagi, Zey. Aku hanya mau kalian akur, paling enggak bikin aku bahagia melihat keakuran kalian.”
Zeya mengusap air matanya. “Aku janji Mba, nggak akan membantah omongan Mas Digta lagi. Asal, Mba harus cepat sembuh ya.”
Ambar tersenum tenang. “Kalian yang bikin Mba sembuh.”
“Aku nggak mau kehilangan Mba Ambar.” Zeya memeluk erat kakaknya. “Aku janji akan selalu temani Mba Ambar terapi, aku ingin ada selalu di samping Mba Ambar.”
“Makasih ya, Zey.”
Zeya keluar dari kamar Ambar setelah memastikan kakaknya itu tertidur lelap. Zeya melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tapi, sampai saat ini Digta belum juga pulang.
Zeya mengintip dari jendela rumah, tidak melihat keberadaan mobil Digta.
Zeya menarik napas dalam-dalam. Merasa cemas.
Saat hendak ingin kembali ke kamar, akhirnya mobil Digta pun terdengar terparkir di pelataran rumah.
Digta masuk dalam kondisi wajah dan rambut yang acak-acakan.
Dan tercium bau alkohol dari mulut Digta.
“Mas ….” desis Zeya yang tampak cemas dengan kondisi Digta.
“Hai.” Sapa Digta, tidak galak seperti biasanya.
“Mba Ambar sudah tidur,” ucap Zeya hati-hati. Ia juga melihat mata Digta yang sembab seperti habis menangis. “Mas mabuk ya?”
__ADS_1
“Sedikit saja, kok.” Digta berjalan pelan menuju sofa, lelaki itu duduk di sofa sambil membuka sepatu dan kaus kakinya.
“Aku ambilkan minum ya.” Entah angin apa yang bikin Zeya harus memperlakukan Digta dengan baik.
Zeya hanya mikir, Digta pasti merasa patah hati luar biasa mendengar tentang kesehatan Ambar. Mengingat, Digta begitu mencintai istrinya.
Zeya duduk di sebelah Digta setelah membawa segelas air putih. “Ini Mas, minum dulu.”
“Makasih.” Digta mengambil gelas dari Zeya dan meneguk airnya hingga habis.
“Mba Ambar ingin kita nggak berantem dan ribut lagi. Jadi, aku sedang berusaha untuk mengontrol emosi dan nggak membantah ucapan Mas Digta lagi.” Suara Zeya bergetar hebat.
“Sama. Saya pun begitu. Akan bersikap lebih baik kepada kamu, demi melihat Ambar bahagia.” Digta tertekuk lesu, merasa tak berdaya.
“Aku tahu betapa Mas mencintai Mba Ambar. Pasti berat menerima kenyataan ini.” Dengan berani Zeye mengusap pundak Digta pelan.
Digta menunduk, mengusap sudut matanya dengan dua jari. Tubuhnya membungkuk ketika bahunya bergetar hebat menahan tangis.
Ini pertama kalinya Zeya melihat seorang Dosen sekiller Digta menangis.
“Gimana hidup saya tanpa Mba kamu ya, Zey?” Suara Digta bergetar hebat. “Saya nggak akan sanggup mengurus Ciya sendirian. Saya orangnya kurang sabar.”
“Iya, aku tahu,” jawab Zeya.
“Eits, nggak boleh galak-galak loh, Mas.”
Digta menarik napas panjang dan mengusap wajah. “Okay, maaf ya. Saya bener-bener sedih, nggak tahu harus melakukan apa. Saya nggak punya kekuatan lagi.”
“Mas harus sabar ya. Aku juga nggak punya kekuatan sama seperti Mas Digta.”
Digta dan Zeya menangis, tanpa menyadari kalau kepala Digta telah bersandar di bahu Zeya.
***
“Zey, kenapa kamu hubungi Mama tadi malam? Mama sudah tidur.” Pagi ini, Mama menghubungi Zeya kembali setelah tadi malam Mama tidak menerima panggilan dari Zeya.
Air mata Zeya sudah terkuras habis tadi malam. Dan pagi ini, setelah mamanya menghubungi, Zeya kembali menangis.
“Ma… Mba Ambar ….” Suara Zeya tercekat di tenggorokan. “Mba Ambar sakit Leukimia.” Tangis Zeya pecah.
“Kamu tahu dari mana, Zey?”
“Loh, Mama sudah tahu?”
Mama diam, tidak langsung menjawab.
__ADS_1
“Mama sudah tahu tentang penyakit Mba Ambar?” Tanya Zeya lagi sambil menghapus air matanya. “Mama merahasiakan semua ini dari aku? Itulah sebabnya Mama maksa aku buat tinggal di sini? Bareng Mba Ambar? Pantesan selama ini aku merasa ada yang aneh, karena Mama nggak mungkin nggak ada uang untuk ngebiayain kostan aku. Ternyata, Mama dan Mba Ambar sudah bersekongkol.”
“Zey, Mama dan Ambar tidak bersekongkol. Tapi, kami hanya nggak ingin kamu jadi nggak fokus kuliahnya karena mengetahui hal ini. Dan Mba Ambar nggak mau kalau ini akan membebani pikiran kamu.”
“Tapi, aku merasa sangat dikhianati dan dibohongi. Gimana pun juga, aku sayang banget dengan Mba Ambar. Kalau Mba Ambar pergi, siapa yang akan membela aku, Ma….” Zeya menangis lagi dengan kencang. “Aku nggak mau Mba Ambar pergi, Ma. Kasihan, Ciya masih kecil.”
Mama juga ikut menangis di seberang sana. “Kamu pikir, Mama ingin Mba Ambar pergi? Enggak, Zey. Mama juga sedih saat mengetahui hal itu, bahkan Mama sampai nggak bisa tidur tiap malam. Mba kamu itu perempuan yang baik, kakak yang hebat, dan anak yang patuh. Bagaimana mungkin orang sebaik Mba Ambar cepat dipanggil Tuhan.”
Pembicaraan antara Zeya dan Mama pun seketika berubah menjadi isakan tangis.
***
Digta belum mau bicara sedikitpun sejak tadi malam. Bahkan, Digta sampai cuekin Ambar. Ketika Ambar sudah mempersiapkan pakaian untuk Digta seperti biasa, lelaki itu justru mengambil pakaian lain di lemari.
“Kenapa kamu cuekin aku, Mas.” Ambar merasa sedih. Sambil duduk di sudut kasur. “Apa hal ini bikin kamu marah dan kecewa?” Tanya Ambar lagi.
Tapi, Digta masih enggan bicara.
“Kamu tadi malam mabuk ya? Aku mencium aroma alkohol di pakaian kotor kamu.”
“Aku cuma minum satu gelas,” jawab Digta singkat.
“Mas …. Aku sama sekali nggak bermaksud untuk membohongi kamu selama ini. Aku cuma ingin, kamu nggak terlalu khawatir perihal kesehatan aku,” kata Ambar lirih.
Digta memelototinya dengan tajam. “Tidak ingin mengkhawatirkan kamu? bagaimana maksudmu!” Intonasi Digta meninggi. “Kamu sedang sekarat Ambar! Dan kamu menyembunyikan penyakitmu dari aku. Sudah berapa lama, ha? Kenapa kamu nggak mengizinkan aku buat fight dengan penyakitmu bersama-sama. Kalau saja aku tahu dari awal, aku pasti akan lebih banyak menghabiskan waktu bareng kamu. Karena aku nggak rela waktuku bersama kamu terbuang, barang sedetik pun!”
Suasana pagi ini terasa begitu empsional. Sampai-sampai, Digta nggak bisa tidur semalaman.
“Kamu tahu betapa begonya aku mencintai kamu kan, Ambar! Jika kamu pergi nanti, bagaimana nasibku? Aku bahkan, nggak ingin hidup lagi, Ambar. Aku hampa tanpa kamu. Aku bukan apa-apa.”
“Kamu harus tetap kuat dan semangat demi Ciya, Mas.”
“Mana bisa, Ambar. Mana bisa.” Digta ikut duduk di sudut sofa sambil mengusap wajah dengan frustrasi. “Aku nggak mau kehilangan kamu, Ambar. Aku nggak mau!” Digta menatap Ambar, menyentuh kedua tangan istrinya. “Pasti ada cara lain untuk kamu tetap sembuh, kan?”
Ambar menarik napas dalam-dalam. “Dokter aku bilang, ada cara tranpaltasi sumsum tulang belakang di Malaysia.”
“Ayo kita ke sana besok.”
“Tapi, Mas…. Keberhasilannya sangat kecil karena aku sudah stadium empat akhir. Dan aku nggak mau, semua ini jadi sia-sia.”
“Aku rela menghabiskan uang berapapun demi kesembuhan kamu. Sekalipun nantinya aku akan jatuh miskin.”
“Mas….” Wajah Ambar memelas. “Aku cuma mau satu hal aja dari kamu, Mas. Aku ingin kamu memperlakukan Zeya, adikku dengan baik. Karena, hanya Zeya yang aku percayakan untuk menjaga kamu dan Ciya.”
Digta mengerutkan dahi sangat dalam. “Apa maksudmu?”
__ADS_1