
Akhirnya Zeya dan Digta tiba di rumah ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Ketika mereka masuk ke dalam rumah, Tina masih duduk di sofa sambil bersedekap dan melotot menatap keduanya.
“Kalian ini seperti nggak punya anak saja, nggak pulang-pulang sejak siang. Anak kalian juga di jemput dengan tetangga sebelah.” Tina mulai mengumandangkan ultimatum yang akan membuat telinga Zeya panas. Sedangkan telinga Digta mungkin sudah terbiasa dengan panasnya lahar dari ucapan Tina.
“Mi, hal itu biasa kami lakukan sejak dulu. Semasa Ambar hidup, Ciya juga sering pulang bareng tetangga. Karena terkadang, aku nggak punya waktu untuk menjemput Ciya.” Digta mulai menjelaskan.
“Nggak punya waktu untuk menjemput anak, tapi punya banyak waktu untuk bersenang-senang.” Tina bangkit dari sofa, matanya menatap penampilan Zeya dari atas kepala hingga ujung kaki. “Lihat pakaian yang dikenakan istrimu itu. Apa pantas seorang istri menggunakan gaun terbuka begini? Nggak baik dilihat lelaki lain.”
Zeya menelan ludah dan sedikit menunduk. “Maaf, Mi. Tadi aku dan Mas Digta habis dari pesta.”
“Pesta apa yang bikin kamu berpakaian sexy begini?”
“Mami….” Digta memelas, berharap Tina berhenti bicara sarkas.
“Ambar tidak pernah berpakaian seperti ini, dia selalu sopan dan santun. Sedangkan kamu? Bersikap semau kamu, seolah kamu masih gadis saja!”
Zeya ingin melangkah maju untuk melawan ucapan Tina. Tapi, Digta langsung menahan tangan perempuan itu. Dan mencoba untuk mengalihkan suasana. “Mi, aku dan Zeya ke kamar dulu ya. Selamat malam.”
Digta membawa Zeya dengan paksa masuk ke dalam kamar, meski sejujurnya Zeya ingin sekali merobek mulut mertuanya hingga Tina memohon-mohon agar mulutnya dijahit kembali!
“Sudah, jangan dimasukkan ke dalam hati. Mami memang begitu.” Digta berusaha membujuk Zeya sambil membawa wanita itu masuk ke dalam kamar.
“Aku juga punya hati, Mas! Aku nggak bisa dikata-katain terus begini!” Zeya menyingkirkan tanyan Digta dari tubuhnya. Lalu, Zeya duduk di sudut kasur. “Semua yang aku lakukan di rumah ini selalu salah di mata Mami! Dia selalu saja membandingkan aku dengan Mba Ambar dan Mba Ambar.”
Digta menarik napas panjang. “Sudahlah, jangan terlalu berlebihan.”
Zeya tidak menyangka kalau Digta akan bersikap seperti itu. “Berlebihan Mas Digta bilang?” Zeya menatap suaminya tak percaya. “Aku marah, aku nangis karena ucapan Mami, Mas bilang berlebihan? Aku juga punya hati! Tapi Mas dan Mami nggak punya hati! Kalian terlalu mengekang hidupku, kalian selalu memaksa aku harus menjadi seperti yang kalian inginkan, apakah kalian tahu apa yang aku ingingkan? Enggak, kan? Egois!“
Zeya masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintu. Ia berdiri di depan kaca wastafel sambil menangis. Tangisan histeris sampai bahunya bergetar.
“Kenapa sih, Mba harus maksa aku menikah dengan Mas Digta? Apa ini semua adalah rencana Mba Ambar untuk membuat aku hidup menderita.” Zeya menatap bayangannya di cermin.
Lalu Zeya menyeka air matanya dengan kuat dan mencuci wajah sampai makeup di wajahnya pun luntur. Zeya tidak peduli maskaranya jadi belepotan dan membuatnya kelihatan seperti hantu.
Zeya mengarahkan kedua tangannya ke belakang punggung untuk meraih resleting gaunnya. Tapi ternyata, dia kesulitan. Zeya sudah berusaha semaksimal mungkin, tetap saja dia tidak bisa membuka gaunnya sendiri.
“Hufft!” Zeya merasa lelah.
__ADS_1
Dia tidak mungkin minta bantuan Digta. Tidak! Tidak mungkin!
Tapi, nggak ada pilihan lain sama sekali. Akhirnya Zeya membuang harga dirinya demi meminta pertolongan Digta. Zeya membuka pintu kamar mandi, melihat Digta sedang membuka kancing kemejanya, dan memperlihatkan dadanya yang ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus.
“Mas….” Zeya memanggil lelaki itu dengan nada minta dikasihani.
Yang dipanggil menoleh. Digta tidak langsung menjawab, tapi dia berusaha menahan tawanya ketika melihat kondisi wajah Zeya yang berantakan.
“K-kenapa wajah kamu begitu?” Tanya Dipta berusaha bersikap tenang dan santai.
“Kenapa memangnya?” Tanya Zeya polos.
“Mirip kuntilanak kecebur got.”
Zeya memonyongkan bibir sebal. “Bisa tolong aku nggak? Aku nggak bisa buka resleting gaunku sendiri.”
Digta menatap Zeya dengan saksama, membuat Zeya curiga dengan tatapan Digta yang penuh arti itu.
“Mas jangan mikir yang macem-macem ya!”
Digta menyeringai hambar, kemudian melangkah mendekati Zeya dalam keadaan bertelanjang dada. Karena takut dan panik, Zeya mundur, masuk ke dalam kamar mandi sampai punggungnya menabrak wastafel.
Digta tidak banyak bicara. Lelaki itu memegang kedua pundak Zeya, dan membuat tubuh Zeya berputar sehingga kini perempuan itu bersitatap dengan bayangannya sendiri di cermin. Sedangkan punggungnya berada di hadapan Digta.
Zeya tak bisa berkutik. Sampai akhirnya Digta menarik resleting gaun Zeya ke bawah. Digta sempat menelan ludah, ketika untuk pertama kalinya—ia melihat punggung Zeya yang terbuka.
Zeya buru-buru memutar tubuhnya lagi dan kembali berhadapan dengan Digta. “Makasih. Keluar sana!”
Zeya hendak mendorong tubuh Digta, tapi lelaki itu berhasil menangkap kedua tangan Zeya. Kedua mata mereka saling berserobok, dan entah mengapa suasana mendadak jadi tegang. Bahkan, ketika Digta menatap wajah Zeya lekat-lekat, dari alis, mata, hidung, bibir, dan dagu. Sebenarnya kemiripan Zeya dan Ambar sekitar delapan puluh persen. Mereka hampir samgat mirip. Hanya sifat saja yang bertolak belakang. Dan melihat Zeya sedekat ini, jadi mengingatkan Digta pada sosok Ambar.
Ah! Gila! Betapa rindunya Digta dengan Ambar saat ini. Bahkan, saking rindunya, Digta bisa-bisa jadi gila.
“Mas, lepasin nggak!” Sedangkan Zeya masih berusaha keras untuk melepaskan diri dari sentuhan Digta.
Digta masih saja diam, menatap Zeya sampai lupa berkedip. Membuat jantung Zeya terpompa sangat cepat.
Tidak biasanya Digta menatapnya se-intens ini.
Apa-apaan ini?
__ADS_1
“Mas….” Panggil Zeya lagi.
Telinga Digta seolah tuli dan tidak menghiraukan teriakan-teriakan Zeya yang sebenarnya bisa bikin gendang telinganya pecah.
Digta tak peduli! Karena yang di depannya saat ini adalah Ambar, bukan Zeya.
Saat Digta perlahan-lahan mendekatkan wajahnya, Zeya justru memundurkan kepalanya dan berusaha menjauh. Tangannya masih dicekram erat oleh kakak iparnya yang mendadak berubah menjadi mesum.
“Mas Digta mau ngapain?!”
Digta masih tuli dan terus mendekatkan bibirnya ke bibir Zeya. Hendak mencium Zeya.
Apa? Mencium?
Ah, tidak-tidak! Ini tidak boleh terjadi.
Demi keselamatan Zeya, akhirnya Zeya harus melakukan hal ini.
BUKKKK!
Zeya menendang ******** Digta dengan lututnya. Membuat Digta melotot dan berteriak kencang
“AAAWWWW!”
Digta menjauh dari Zeya sambil menyentuh daerah *********** dan melompat-lompat.
“Dasar kakak ipar mesum! Keluar dari sini! Pergi sana!!!!” Zeya langsung mendorong tubuh Digta secara paksa keluar dari kamar mandi dan menutup pintu.
Zeya masih syok dengan yang baru saja terjadi.
Apa-apaan itu? Digta ingin mencium bibir Zeya? Digta sudah berani melakukan tindakan tak senonoh kepada Zeya?
Aaaahhh….
Zeya mengacak wajahnya dengan frustrasi.
Tidak, ini tidak boleh terjadi! Zeya tidak akan membenarkan tindakan mesum Kakak iparnya! Ralat, Digta bukan lagi kakak iparnya. Melainkan …..
Suaminya.
__ADS_1