Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang
11. Zeya Menghilang!


__ADS_3

“Ayah jahat, kenapa Tante Zeya dibiarkan pergi.”


Kalimat ngambek Ciya terngiang jelas di kepala Digta. Bikin fokus Digta buyar saat menyalakan mesin mobil.


Tiba-tiba wajah Ambar muncul di kepalanya, sedang ngomel-ngomel, atau lebih parahnya lagi nangis brutal karena kehilangan Adiknya. Mengingat, Digta paling nggak bisa lihat istrinya menangis.


Tapi, Adik iparnya ini sungguh kekanak-kanakan sekali, dan suka ngambekan. Digta paling males menghadapi sikap-sikap wanita childish seperti itu.


Mengapa Ambar dan Zeya itu bagai langit dan Bumi ya.


“Ayo kita cari Tante Zeya lagi,” ucap Digta akhirnya. Mau nggak mau, Digta harus bisa membujuk Zeya untuk nggak ngambek lagi dan mau balik ke rumah.


Semua ini Digta lakukan hanya demi Ambar. Jika tidak, sekalipun Zeya diculik, dimutilasi, dan mayatnya di buang ke septi tank. Digta nggak peduli.


Karena ngurusin perempuan seperti Zeya, sama saja dengan buang-buang waktu.


Diga dan Ciya kembali turun dari mobil, balik lagi masuk ke dalam mall dan mengelilingi Mall untuk mencari Zeya.


Tapi, hampir lelah mereka mencari, Zeya tidak kelihatan batang hidungnya.


Apa Zeya hilang ya?


Mereka sampai mendatangi meja informasi agar ciri-ciri Zeya diumumkan.


“Umurnya berapa, Pak?” Tanya si costumer service.


“Hmm….” Digta coba mengingat-ingat. “Sekitar dua puluh tiga-dua puluh empat tahun, Mba.”


Costumer service bernama Dita itu menaikan alis. “Dua puluh empat tahun? Sudah dewasa yah. Harusnya sih, nggak hilang. Mungkin melipir ke toko kosmetik atau pakaian wanita kali, Pak.”


Digta memelototi Dita. Memangnya perempuan berusia dua puluh empat tahun nggak bisa hilang? Dan kehilangannya nggak boleh diumumkan, kah?


“Dia sedikit autis, Mba. Makanya mudah hilang.” Digta coba menjelaskan agar mba-mba costumer service mengerti bahwa Digta nggak punya waktu!


Tinggal ngomong di mic aja, apa susahnya, sih? Apa harus Digta yang ngomong? Dan teriak-teriak agar satu mall tahu kalau Digta kehilangan Zeya?


“Oh, begitu, Pak. Baik, Pak.” Akhirnya Dita paham dan mulai mengumumkan kehilangan Zeya.


“Perhatian, bagi yang melihat atau menemukan seorang gadis berusia dua puluh empat tahun bernama Zeya. Dengan ciri-ciri rambut panjang, menggunakan kaus warna pink, dan celana jeans robek bagian lutut, dan memiliki keterbelakangan mental mohon untuk melapor ke meja informasi lantai satu. Saat ini sedang ditunggu oleh Abang Iparnya bernama Pak Digta.


Sekali lagi….


bagi yang melihat atau menemukan seorang gadis berusia dua puluh empat tahun bernama Zeya. Dengan ciri-ciri rambut panjang, menggunakan kaus warna pink, dan celana jeans robek bagian lutut, dan memiliki keterbelakangan mental mohon untuk melapor ke meja informasi lantai satu. Saat ini sedang ditunggu oleh Abang Iparnya bernama Pak Digta. Sekian dan terima kasih.”


“Sudah, Pak,” ucap Costumer service Dita kepada Digta.


“Biasanya nunggu berapa lama, Mba?”


“Paling salam sejaman sih, Pak.”


“Oke, terima kasih.”


Sambil menunggu kemunculan Zeya, Digta membawa Ciya duduk di kursi tunggu dan menikmati eskrim.


Yah, pada akhirnya Digta terpaksa juga membelikan Ciya eskrim agar anaknya betah menunggu.


***


Ambar pernah bilang, kalau di Jakarta itu rawan jambret dan juga banyak orang jahat. Itulah sebabnya, Ambar selalu melarang Zeya bepergian sendiri.


Tapi, kali ini Zeya nekat karena sudah muak dengan sikap Abang Iparnya itu.

__ADS_1


Zeya terus berjalan di sepanjang trotoar, jaraknya dari mall sudah cukup jauh. Dan sekarang, Zeya bingung harus kemana. Sedangkan paperbag berisi ponsel barunya dipeluk erat-erat agar tidak mudah dijambret. Zeya belum bisa menggunakan ponselnya karena ponselnya masih disegel.


TINNN!


Sebuah motor tiba-tiba mengikuti langkah Zeya. Pemilik Honda CBR250RR tersebut membuka helm-nya.


“Zeya….”


Mendengar namanya disebut. Zeya jadi berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah si pemilik motor itu.


Zeya mengernyit karena tidak mengenal wajah si pemilik motor dengan baik. Sampai lelaki itu membuka helmnya.


“Masih ingat, nggak?” Tanya lelaki itu.


Zeya langsung tergelak. Bagaimana mungkin Zeya lupa dengan si ganteng yang ada di kampusnya. “Zega?”


“Haha, iya.” Zeya nyengir. “Kamu ngapain sendirian jalan di sini? Hati-hati, loh. Di sini rawan jambret.”


Zeya menatap kesekelilingnya. “Ng—iya. Sebenarnya, aku juga takut ada di sini.”


“Mau nebeng nggak?” Zega mengedik ke arah kursi belakang motornya. “Biar aku anterin kamu pulang sekalian,” kata Zega lagi dengan gantlemant.


“Apa nggak ngerepotin?” Zeya merasa mggak enak hati.


“Menurutmu? Kalau ngerepotin, kenapa aku kasih tumpangan.”


Zeya diam sejenak sambil berpikir.


“Gimana? Mau nggak?” Tanya Zega lagi memastikan.


Akhirnya Zeya mengangguk. “Yaudah, deh. Lagipula aku juga bingung harus kemana.”


Zega pun memberikan satu helm kepada Zeya—yang memang selalu Zega disediakan di motor.


“Jadi sekarang, mau dianternya kemana, nih?” Zega menoleh ke belakang sejenak setelah menggunakan helm-nya kembali.


“Ng—“ Zeya bingung lagi. Lebih baik nge-kost? Atau balik ke rumah Ambar ya. Kalau nge-kost, Zeya harus punya uang banyak. Sedangkan uangnya saat ini sisa pas-pas makan saja. “Ke rumah aja, lah,” kata Zeya akhirnya.


“Oke, di mana alamatnya?”


“Hm….” Zeya berpikir lagi. Di mana ya, alamat rumah Digta.


“Kamu nggak tahu?”


“Enggak, hehe. Aku bukan asli orang ini, jadi aku juga nggak tahu jalan.”


“Ya ampun, Zey.” Zega pun mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


“Kamu mau cari di mana alamat rumahnya?” Zeya melongokan kepala penasaran saat Zega mengotak-atik ponselnya.


“Tanya temen kampus. Salah satu dari mereka, ada yang fans berat Pak Digta. Dia pasti tahu informasi tentag Pak Digta. Terutama alamat rumah.”


Zeya tercengang luar biasa. Sebegitunya dia ngefans dengan Digta. Sampai-sampai mengetahui alamat si Jin Tomang itu.


“Masih ada aja ya, orang yang ngefans dengan Pak Digta.” Zeya memberi komentar.


“Memangnya kamu nggak ngefans?“


“Ihhh, masih mending aku fans garis kerasnya Jimin. Daripada si Jin.”


Zega tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan polos Zeya.

__ADS_1


“‘Sepertinya, kamu nggak akrab dengan Abang Iparmu sendiri?”


“Nggak lah. Ngapain harus akrab sama dia. Aku salah satu haters-nya Pak Digta.”


Tawa Zega kembali pecah. Tak lama kemudian, akhirnya Zega berhasil mendapatkan alamat rumah Digta.


“Zey, sudah ketemu alamatnya. Jaraknya nggak jauh dari sini, kok,” jelas Zega. “Gimana kalau sebelum pulang, kita keliling dulu?” Penawaran Zega tidak boleh ditolak. Karena bagi Zeya, ini kesempatan bagus untuk bisa lebih dekat dengan Zega.


“Hayuk!”


Zega mulai menyalakan mesin motornya. “Pegangan, Zey.”


“Pegangan di mana?”


“Pinggang aku saja,” ucap Zega asal.


Zeya menelan ludah, tapi tetap memeluk pinggang Zega. Lalu motor pun melesat peegi.


Entah ketiban apa Zeya tadi malam sampai-sampai, dia bisa jalan-jalan mengelilingi Jakarta bersama cowok terganteng di kampusnya. Dan naik motor ala-ala anak geng pula! Bener-bener novel banget kehidupan Zeya. Penuh dramatis.


“Zey, rumahku nggak jauh jaraknya dari rumah Pak Digta.” Zega sengaja bicara berteriak agar Zeya kedengaran. “Kalau kamu nggak keberatan, kita bisa pergi ke kampus barengan.”


Zeya melotot kaget. Di balik punggung Zega bersembunyi, Zeya masih sempat-sempatnya tersenyum malu-malu tai ayan.


Ternyata, Zega gercep!


Tapi tunggu dulu ….


“Kamu nawarin aku tebengan ini, bukan karena Pak Digta, kan? Kamu ingin aku masih mau membujuk Pak Digta agar bisa mengubah nilaimu dari E ke A, kan?”


“Bukan gitu maksudnya, Zeya. Aku beneran tulus mau bantu kamu, kok. Kalau kamu nolak nggak masalah.”


Wah, kesempatan emas jangan ditolak. Katanya, nggak bakal datang dua kali.


“Nggak kok, aku mau,” kata Zeya akhirnya. Bikin senyuman Zega mengembang.


Setelah selesai jalan-jalan, akhirnya sampai juga Zega mengantar Zeya ke rumahnya.


Zeya turun pelan-pelan dari motor Zega.


“Aku boleh minta nomor kamu?” Tanya Zega langsung sat set sat set.


“Boleh. 08158762519.”


Zega mengetik nomor ponsel Zeya dan menyimpannya.


“Tapi, jangan si chat sekarang Ya. Karena ponselku rusak. Dan ini belum dibuka, mungkin nanti akan dibuka.” Zeya menunjukan paperbag berisi ponsel barunya.


“Okay.” Zega menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celana. “Kalau begitu, aku pamit dulu ya.”


“Makasih banyak, Zega.”


“Sama-sama.”


Setelah meninggalkan seulas senyuman manis, Zega pun melesat pergi mengendarai motornya.


Mobil Digta tidak ada di pelataran rumah, mungkin saja Digta belum tiba si rumah. Atau, Digta masih sibuk mencari keberadaan Zeya?


Masa bodo, lah.


“Assalamualaikumm, aku pulang.” Zeya membuka pintu rumah.

__ADS_1


Ambar menatap Zeya—yang masuk ke dalam rumah sndiri. sedangkan mobil Digta tidak ada di luar rumah.


“Loh, Mas Digta mana?”


__ADS_2